
"Tentu saja enggak mungkin. Enggak mungkin nyonya sebaik Anda punya keliru."
"Benarkah? Bik Sumi pandai merayu juga. Ha.. ha.." Nyonya Wardah tertawa renyah. Lalu melepaskan pegangannya pada bahu pelayannya yang sudah bagai saudara ini.
"Ada apa ini? Kok tumben suaranya sampai di luar?" tanya tuan Hendarto yang muncul dengan kedua tangannya memakai sarung tangan. Bik Sumi membungkuk pelan. Nyonya Wardah menoleh dan tersenyum.
"Bik Sumi sedang bikin lawak, Yah..." Tuan Hendarto menuju pintu belakang yang menuju area penjemuran. "Ayah mau ngapain?" tanya nyonya Wardah heran.
"Ayah ingin berkebun di taman belakang."
"Tumben?" Alis nyonya Wardah berkerut.
"Iya. Ayah ingin punya banyak tanaman daun-daunan di belakang. Sudah lama Ayah tidak menengok taman belakang."
"Yah... memang Ayah lebih memperhatikan taman depan." Nyonya Wardah mengangguk. Lalu membiarkan suaminya berjalan ke pintu belakang. Orang rumah ini memang jarang kebelakang karena tidak banyak urusan penting di sana. "Ngomong-ngomong, karena jarang kebelakang itu, makanya saya enggak tahu kalau Arga suka mendekati Asha di belakang ya, Bik?"
"Sepertinya begitu.." Bik Sumi tersenyum. Nyonya Wardah jadi paham kenapa Arga bisa menyembunyikan hubungannya sama Asha. Karena taman belakang adalah area yang jarang terjamah oleh penghuni rumah ini kecuali, para pegawai.
......................
......................
Sarapan pagi seperti biasa terlaksana bersama. Ini seperti rutinitas wajib untuk keluarga Hendarto. Karena semakin bertambah usia seseorang, semakin banyak kegiatan yang akan di jalaninya. Seiring dengan itu, kebersamaan antar keluarga juga akan menipis, karena kesibukan masing-masing. Dimana yang akhirnya akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam sebuah keluarga.
Tuan Hendarto memberlakukan sarapan pagi sudah sejak lama. Walaupun beliau memang tidak terlalu banyak bicara seperti istrinya, dari pertemuan setiap pagi di meja makan, beliau bisa tahu suasana apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Kurang lebih beliau bisa membaca ada apa dengan masing-masing anggota keluarga.
Saat Arga dekat dengan seorang perempuan, beliau tahu. Karena gelagat setiap pagi putra pertamanya itu nampak berbeda. Seorang pria juga mirip dengan perempuan. Dia akan berusaha tetap tampil baik, bagus dan menawan saat hatinya sedang tertarik pada lawan jenisnya. Itu terjadi pada Arga.
Ayah juga paham kalau Paris tidak betah sekolah di sekolah putrinya. Hanya karena menurut istrinya itu adalah sekolah terbaik untuk putrinya, beliau setuju.
Seperti kali ini. Ada yang kurang pagi ini di meja makan.
__ADS_1
"Dimana Arga dan istrinya? Kenapa pagi ini tidak kuncul di.meja makan?" tanya beliau dengan ekor mata melihat ke arah kursi yang kosong.
"Asha tidak bisa ikut makan karena tadi pagi mual dan muntah lebih parah daripada biasanya." Nyonya Wardah memberi penjelasan.
"Parah?" Mendengar ini kening beliau mengernyit.
"Arga bilang begitu. Saat aku lihat keadaannya tidak separah itu walau memang kelihatan menganggu."
"Jadi bunda sudah melihat keadaannya?" tanya tuan Hendarto.
"Sudah ayah... "
"Walau begitu, jika itu mengganggu, bukankah lebih baik di bawa ke dokter untuk di periksa?"
"Iya. Tanpa bundanya yang menyuruh, Arga tahu betul apa yang harus di lakukan. Dia justru sangat sensitif soal ini."
"Bagus. Memang seharusnya begitu." Tuan Hendarto terlihat lega. Setelah itu beliau mulai memakan sarapannya.
"Lihatlah Paris. Jika kamu sudah jadi istri nanti, hamil itu menyenangkan. Suami semakin sayang dan perhatian sama kita. Juga sangat menggemaskan saat melihat para suami overprotected sama kita. Seperti ayahmu dulu." Nyonya Wardah mengedikkan dagunya untuk menunjuk suaminya sambil tersenyum.
"Ih, kamu itu. Bunda enggak paham sama jalan pikiran kamu." Nyonya Wardah tampak gemas mendengar bantahan putrinya. Paris manyun.
......................
......................
Setelah Asha merasa perutnya membaik, dia segera menuju ke kamar mandi. Arga juga sudah selesai mandi dan berpakaian bersih sejak tadi.
"Jangan berendam. Mandi seperlunya saja. Rasa dingin bisa membuat perutmu tidak nyaman. Handuk sudah ada di sana." Arga memberitahu saat Asha hendak membuka pintu kamar mandi. Mendengar itu Asha melongok ke dalam kamar mandi sebelum memasukinya. Sudah ada handuk dengan rapi ada di rak kecil dalam kamar mandi.
"Terima kasih, suamiku."
"Jangan lupa pakai air hangat," ingat Arga dari luar kamar mandi.
__ADS_1
"Ya."
Setelah selesai mandi keduanya bersiap berangkat ke dokter. Arga dan Asha berada di dalam mobil menuju dokter Murad. Arga sudah membuat janji temu tadi hingga saat datang, petugas segera memberitahu beliau dan mereka berdua bisa langsung konsultasi. Kebetulan memang waktunya Asha memeriksakan kandungan.
"Janin sehat. Ibu juga sehat." Penjelasan ringkas, singkat dari dokter Murad tidak membuat Arga puas.
"Kalau sehat kenapa istri saya mual dan muntah lebih hebat dari biasanya, dok? Apa karena saya memperbolehkannya mengerjakan pekerjaan rumah?"
"Pekerjaan rumah?"
"Ya. Istri saya ini tidak bisa diam. Dia selalu ingim membantu memasak, mencuci piring."
"Memasak dan mencuci piring?" Setahu dokter Murad, keluarga Arga ini keluarga kaya yang punya pelayan dan pegawai di rumahnya. Mendengar ini kening beliau mengerut.
"Ya. Istri saya suka melakukannya." Arga melihat Asha yang duduk di sampingnya dengan kesal, tapi juga rasa sayang. Sebuah bentuk protes bahwa dia memang harus tidak memperbolehkan Asha mengerjakan pekerjaan rumah. Karena perempuan ini sedang hamil. Di tatap seperti itu Asha hanya tersenyum santai. Dia tahu betul suaminya sedang merasa benar kali ini. "Melakukan itu sangat mengganggu kehamilan istri saya kan dokter?" tanya Arga merasa dokter Murad sependapat dengannya. Melihat ekspresi raut wajah itu, Arga tahu bahwa dia benar.
"Bukan, bukan itu. Janin dan tubuh istri Anda sehat. Pekerjaan mencuci piring dan memasak itu masih tergolong wajar dan ringan."
"Saya tahu Anda tadi terkejut mendengar bahwa istri saya melakukan pekerjaan itu dirumah. Itu menandakan bahwa seorang ibu hamil tidak.harus melakukannya. Anda ingin berkata demikian bukan?" desak Arga. Tangan Asha mengelus punggung suaminya.
"Maaf, Tuan Arga. Bukan itu maksud saya."
"Lalu? Arti dari raut wajah terkejut tadi apa?"
"Ih, apaan sih ini." Asha memprotes suaminya. "Maaf." Asha mengangguk pelan merasa tidak enak sama dokter Murad.
"Maksud saya, saya heran mengapa istri Anda mengerjakan pekerjaan itu, sementara di rumah anda sudah ada pelayannya. Istri Anda termasuk orang yang sangat rajin. Itu sangat jarang." Dokter Murad memberikan penjelasan soal wajah terkejutnya tadi. Kali ini wajah beliau tersenyum kebapakan. "Istri Anda hebat."
Asha tertawa dalam hati.
Memang sangat jarang. Karena sangatlah langka seorang majikan memperistri pelayannya, ujar Asha dalam hati.
Tanpa sadar sebuah dengusan kecil terdengar dari arah kanan Arga. Mendengar itu Arga melirik ke arah istrinya. Perempuan itu tengah menertawakan kalimat dokter Murad yang terasa menggelikan soal dirinya. Dia tidak hebat. Hanya beruntung saja.
"Ya. Dia melakukannya dengan senang hati. Istri saya memang hebat." Tangan Arga melingkar di punggung istrinya dengan bangga. Senyuman erulas pada bibirnya, untuk mengakui kehebatan perempuan bebal di sebelahnya. Asha melirik ke arah suaminya dan tersenyum sambil geleng-geleng kepala pelan.
__ADS_1