
Pagi hari Nyonya Wardah keluar dari kamar tidurnya setelah membersihkan diri. Ayah Hendarto sudah sejak tadi jalan pagi dengan Pak Sunjaya. Saat melihat dari jendela besar ruang tengah ada mobil berwarna silver di halaman depan. Nyonya Wardah membuka pintu ruang tengah dan memanggil Pak Yus yang kebetulan melintas.
"Pak Yus!" panggil Nyonya Wardah. Pak Yus berhenti dan menengok. Nyonya Wardah melambai. Bapak yang punya dua anak itu menghampiri majikannya.
"Ada apa Nyonya?"
"Memangnya Arga sudah pulang, ya... Kok ada mobil kantor yang sering di bawa Rendra, sekretarisnya?" tanya Nyonya Wardah seraya menunjuk ke mobil tipe minivan yang serbaguna berwarna silver. Pak Yus juga menoleh ke mobil itu sebentar.
"Iya. Tadi malam Tuan Muda sudah datang," jawab Pak Yus.
"Katanya baru pulang nanti sore, tapi sekarang sudah ada di sini..." gumam Nyonya Wardah. "Ya sudah, Pak." lalu Nyonya Wardah menuju ke dapur. Disana beliau di kejutkan oleh keberadaan Paris. Gadis itu sudah ada di dapur membantu Buk Sumi memotong sayuran.
"Ada apa ini? Kenapa anak gadis bunda sudah ada di dapur sebelum bunda?" tanya Nyonya Wardah mengangkat alis terpana dengan putrinya. Bik Sumi tersenyum sambil merasa aneh dengan adanya nona muda. Nyonya Wardah bisa melihat dari kedua bola mata itu.
"Bantuin Bik Sumi," jawab Paris sambil mendongak dan melihat ke arah bundanya lalu menunduk melanjutkan memotong sayuran. Nyonya Wardah menipiskan bibir menerima jawaban putrinya. Menatap heran sambil terus berjalan menuju Bik Sumi yang sudah mulai memasak.
"Kakakmu sudah pulang dari luar kota, ya?" tanya Nyonya Wardah. Paris langsung tersentak kaget dan matanya melebar mendengar pertanyaan itu.
"I-iya Bun," jawab Paris terbata. Nyonya Wardah dan Bik Sumi melirik heran. Dagu Nyonya Wardah terangkat menanyakan perihal kelakuan aneh putrinya ke Bik Sumi. Kepala Bik Sumi menggeleng tidak tahu.
Sejak tadi malam, Paris belum bertemu dengan kakaknya lagi. Karena pulang dengan mobil terpisah, dia tidak tahu kelanjutannya. Arga masih belum menyelesaikan marahnya soal kejadian tadi malam. Kakak laki-lakinya itu masih menyimpan rasa marahnya yang entah kapan akan meledak.
Paris terus membantu tanpa bicara dan selalu menunduk. Dia mengeluarkan suara hanya saat ingin bertanya dan menjawab pertanyaan Bunda. Paris sedang menunggu bom atom meledak. Dia terus menerus was-was dengan kejadian semalam. Dia harus bisa mengambil hati Bunda kalau tidak mau Bundanya menjadi monster seram yang dingin dan kejam saat mendengar cerita itu.
__ADS_1
Melihat ekspresi Bunda, Paris merasa kakaknya belum memberitahu. Apalagi pagi ini dia belum bertemu sama sekali dengan pelayan setia yang menemaninya tadi malam. Kepala Paris lihat ke kanan kiri mungkin saja kelihatan batang hidungnya kakak pelayan yang menjadi gila seperti dirinya saat di klub malam itu.
"Pesta ulang tahunnya meriah tadi malam Paris?" tanya Nyonya Wardah membuat Paris membeliak lagi. Sekujur tubuhnya tegang.
"I-iya Bun." Lagi-lagi Paris terbata.
"Kamu kenapa sih Paris?" tanya Nyonya Wardah akhirnya.
"Tidak. Tidak apa-apa," Paris menggeleng kuat yang justru mencurigakan.
"Kamu sangat aneh," Nyonya Wardah yang mulai meracik bumbu untuk masakannya menatap Paris lurus. Ini membuat gadis ini merasa semakin terdesak. Akhirnya menunduk dan semakin giat memotong. Pesta tadi malam sangat meriah. Justru Lebih heboh dan meriah daripada sebuah pesta. tadi malam itu adalah drama action yang menyuguhkan keterampilan berkelahi yang lumayan. Paris bergedek mengingat kejadian yang super duper memalukan itu.
Sandra tidak bisa di percaya nih...
Awas kau Sandraaa.....
Di depan pintu kamar pelayan Asha menguap. Sesungguhnya dia juga masih sangat sangat mengantuk. Hanya berapa jam saja dia bisa tidur. Itu sangat tidak cukup. Namun sebagai pekerja di rumah ini tidak mungkin pagi ini dia masih berada di bawah selimut. Menekuk tubuhnya melawan hawa dingin yang masih terasa pagi ini dan mengistirahatkan tubuhnya setelah berkelahi tadi malam.
Asha mendongak ke atas. Di jendela besar kamar tidur milik Tuan Muda. Kelambu berwarna mint green itu masih tertutup. Sepertinya Tuan Muda belum bangun dari tidurnya. Dia pasti sangat lelah. Setelah perjalanan dari luar kotanya dia masih harus datang ke kantor polisi pada tengah malam.
Dia pasti masih tertidur, gumam Asha dalam hati.
Kakinya masuk ke ruang laundry. Rike sudah ada di sana mencuci pakaian. Jangan membayangkan seorang pelayan yang mencuci dengan memakai tangan di papan pencuci. Ini jaman modern yang kebanyakan memakai mesin cuci. Apalagi keluarga kaya seperti keluarga Hendarto. Di ruangan ini ada dua mesin cuci front loading berwarna putih bersih. Rike menggiling pakaian kotor yang di serahkan tadi sama Bik Sumi.
Hanya saja untuk mengeringkan masih memakai cara tradisional. Yaitu menjemur di tempat penjemuran agar terkena sinar matahari yang cukup. Jadi tidak perlu memakai pengering yang ada di mesin cuci. Terkena sengatan matahari juga bisa membunuh kuman-kuman yang bersarang.
__ADS_1
"Mbak Asha pulang jam berapa tadi malam? Saat aku terbangun lalu ke kamar kecil, kasur kakak masih kosong," tanya Rike yang melihat kemunculan Asha. Wajah Asha masih lesu.
"Malam. Lupa jam berapa," jawab Asha mendekat ke mesin cuci. Lalu mengambil cucian yang sudah di giling dalam tabung mesin cuci. Rike meletakkan timba di dekat kaki Asha agar lebih mudah menempatkan cucian yang akan di jemur.
"Kok malam? Bukannya harus jam sepuluh sudah dirumah, mbak?" Rike curiga.
"Aku nemenin nona muda. Jadi terpaksa pulang malam," Rike mengangguk paham.
"Tuan Muda memangnya sudah datang mbak?" tanya Rike.
"Sepertinya.." Asha menjawab dengan tidak jelas. Dia ingin orang-orang tidak tahu soal kejadian paling memalukan sepanjang hidupnya. Itu Aib! Masalah berbahaya yang bisa memudarkan karirnya kelak. Juga sangat menyakitkan bila Bapak mendengar putrinya berada di kantor polisi karena tertangkap sedang membuat kerusuhan. Sekalipun itu bareng majikan. Bapak dirumah tidak tahu pekerjaan Asha. Perempuan muda ini menyembunyikannya.
"Tapi sepertinya belum bangun ya... Gorden kamarnya belum terbuka. Tumben sekali ya, mbak.." Rike berkomentar. Asha hanya manggut-manggut sambil sesekali membungkuk meletakkan cucian pada timba warna cokelat itu. Setelah di lihat sudah tidak ada lagi cucian di dalam tabung mesin cuci, Asha menutup mesin cuci dari plastik itu. Lalu membawa timba berisi cucian ke luar.
Kepala Asha mendongak lagi ke atas. Ke arah lantai dua. Tirai itu masih tertutup dengan rapat. Masih belum ada pergerakan sama sekali di sana. Masih sama seperti Asha masuk ke dalam ruang cuci. Mungkin karena dari luar kota Tuan mudanya tidak berangkat kerja.
Asha membawa timba yang berat itu sendirian. Karena Rike menyelesaikan cucian sesion duanya. Karena tubuhnya masih lelah dan terasa sakit semua, dia berjalan dengan sedikit lesu. Kadang sandal jepitnya terlepas dari kakinya. Membuat dia harus berhenti sejenak sambil membawa timba berat itu, untuk memasukkan lagi kaki pada tali sandal jepitnya lalu berjalan lagi.
Akhirnya Asha berhasil membawa timba berisi cucian basah itu pada tempat tujuan. Meletakkan di tanah dan menghempas napas. Berkacak pinggang dan melakukan peregangan sebentar. Terdengar bunyi-bunyian yang berasal dari tulang-tulangnya. Lalu meluruskan kedua tangannya ke atas. Menarik sekuat-kuatnya tangannya yang membuat tubuhnya terasa lumayan enak.
Seperti biasa Asha mengikat rambutnya ke atas semua dengan asal agar tidak mengganggu pekerjaan sehingga membentuk cepolan lucu. Karena banyak anak rambut yang keluar. Asha mesingsingkan lengan kaos warna putihnya. Sehingga memperlihatkan lengannya yang walaupun kecil tapi padat yang membentuk sebuah cekungan pada lengannya. Kedua lengannya nampak seperti sebuah gundukan. Terlihat sangat kuat dan keren. Itu karena Asha sering melakukan push-up. Tubuh kecil tapi padat milik Asha, memang terlihat bugar.
Setelah itu baru Asha mengambil cucian dan menjemurnya satu persatu. Kepalanya kembali melihat ke jendela besar itu. Dia masih ingin tahu apa tirai itu masih tertutup atau tidak. Ternyata tirai itu sudah terbuka yang memperlihatkan seorang laki-laki sedang berdiri di sana. Dengan kaos warna hitam dan celana pendek di bawah lutut berwarna navy dia bersandar pada pilar di yang ada di sebelah kanan.
__ADS_1