Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Cerita bunda


__ADS_3


Saat ada kesempatan, Arga mulai mendekati bundanya lagi. Kali ini saat bundanya sedang bersantai menonton sinetron di ruang tengah sendirian. Kebetulan istrinya sedang memilih tidur terlebih dahulu meskipun belum terlalu malam.


Arga duduk dengan santai di samping beliau.


"Kamu masih ingat, ingin tanya sesuatu pada bunda ya?" Bunda bisa menebak kedatangan putranya.


"Tentu saja."


"Tanya apa, soal kehamilan Asha?" Beliau siap menjawab pertanyaan putranya yang sangat heboh menyangkut kehamilan pertama istrinya.


"Menurut banyak orang, ibu hamil itu akan mengalami yang namanya ngidam." Arga menjeda kalimatnya. Sementara bunda memperhatikan putranya dengan seksama sambil sedikit tersenyum sambil memeluk bantal kursi. "Entah kenapa, istriku tidak pernah mengalami yang namanya ngidam."


"Benarkah?" tanya bunda sedikit ingin meledek putranya.


"Ya. Asha tidak pernah menginginkan sesuatu selayaknya orang ngidam. Dia terlihat menyukai apa saja tanpa menolaknya." Ditanya seperti itu, Arga sangat antusias menjawab.


"Memangnya ada apa dengan Asha yang begitu?" Kali ini bunda membuat Arga mengerutkan dahi.


"Bukannya itu terasa kurang wajar, Bun?" Nyonya Wardah tidak sanggup untuk tidak tertawa dengan geli mendengar pendapat putranya.


"Kamu ini, Ga..." Tangan beliau memijit lengan putranya dengan gemas. "Kamu jadi suami kok gemesin banget." Beliau masih menyisakan ketawa geli di bibirnya. Arga tidak paham, hanya tersenyum sedikit.


"Arga hanya ingin tahu, soal ngidam itu bun..." Nyonya Wardah mengangguk paham.


"Ibu hamil memang identik dengan ngidam. Namun setahu bunda, mungkin saja tidak semua ibu hamil itu mengalami yang namanya ngidam."


"Benarkah? Apakah dulu bunda juga enggak ngidam?"


"Bunda ngidam kok. Malah nyusahin kata ayah. Ha.. ha.. " Beliau tertawa senang.

__ADS_1


"Lalu kenapa Asha enggak?"


"Begini, yang kamu inginkan dari istrimu yang sedang mengidam sesuatu itu sebenarnya apa?" tanya bunda membuat Arga berpikir sejenak.


"Emm..."


"Jangan hanya karena penasaran ya. Kamu jadi merasa istri yang tidak ngidam saat hamil itu tidak wajar." Kurang lebih mungkin pendapat bunda benar. Kemungkinan besar, Arga sangat penasaran bagaimana jika istrinya ngidam karena sedikit terprovokasi oleh perkataan Evan. Arga jadi tidak bisa menjawab. Jari-jarinya sibuk menggaruk tengkuk belakang. Sedikit salah tingkah karena dugaan bundanya tepat.


Nyonya Wardah memiringkan kepala. Mencoba menyelidiki raut wajah putranya.


"Jika Asha benar-benar punya banyak permintaan saat dalam kehamilan, bunda yakin kamu bakal kerepotan."


"Bukannya nanti kalau istri kita meminta sesuatu, sebagai suaminya kita pasti berusaha keras untuk mewujudkannya?" bantah Arga soal suami yang merasa kerepotan dengan permintaan istri.


"Teorinya seperti itu. Ada kebanggaan tersendiri saat kamu sebagai suami mampu mewujudkan setiap keinginan aneh istrimu saat hamil. Namun kamu enggak pernah tahu, keinginan ekstrem seorang ibu hamil." Mendengar kata ekstrem, Arga menatap bundanya serius. Kedua alisnya menyatu.


"Ekstrem? Benarkah?"


Dahi Arga mengerut. Membentuk kerutan samar mendengar cerita bunda. "Serius, bun?" Arga merasa bundanya sedang bercanda.


"Serius, Ga. Ibu-ibu arisan kan banyak yang cerita pas hamil gitu."


"Masa sampai seperti itu?" Arga memicingkan matanya tidak percaya. Bunda mengangguk meyakinkan. "Bukannya yang seperti itu bukan ngidam?"


"Bunda enggak paham. Bunda hanya kasih contoh seorang ibu hamil yang punya cerita aneh saat kehamilannya. Anggap saja itu ngidam. Kata mereka itu kan bawaan bayi. Ngidam kan bawaan bayi katanya."


"Bukankah sangat aneh jika istri bisa mual dan muntah saat melihat atau mencium aroma suaminya. Mungkin saja karena si suami enggak mandi yang bersih." Mendengar ini bunda tertawa renyah. Merasa lucu mendengar pendapat putranya.


"Benar-benar." Nyonya Wardah masih belum bisa menghentikan tertawanya. Sementara Arga mengerutkan kening untuk berpikir. "Logikanya begitu ya, Ga. Mungkin saja si suami mandi enggak bersih ya. Namun pada kasus ini, si suami itu sudah bersih, harum dan mewangi karena habis mandi. Ini nyata Ga. Kamu pasti enggak bakal percaya memang kalau hanya mendengar cerita seperti ini." Bunda membenarkan posisi duduknya.


Paris muncul dan melintasi mereka berdua. Sedikit melirik sambil menguping pembicaraan bunda dan kakaknya itu. Dia penasaran juga apa yang membuat tawa bunda terdengar dari kamarnya. Namun, Arga segera mengibaskan tangannya untuk mengusir Paris. Bibir Paris manyun. Lalu segera ke dapur karena ingin mengambil air minum.

__ADS_1


"Ini kisah bunda sendiri ya?" tebak Arga. Kali ini bunda tertawa lagi. Rupanya bunda sengaja mengaburkan cerita seperti kejadiannya milik orang lain. Airmata bunda sampai keluar karena geli. Arga geleng-geleng kepala.


"Bunda begitu saat hamil kamu, lho." Arga segera menghentikan gelengan kepalanya saat bunda mengatakan kebenarannya. "Bunda cerita itu, ingin kasih tahu kamu. Bahwa Asha tidak punya banyak permintaan saat hamil atau ngidam itu lebih baik. Bisa dibilang itu sangat baik. Kamu tidak perlu kerepotan dengan banyak permintaannya. Ya, tapi mungkin saja itu karena sifat Asha yang memang tidak ingin merepotkan orang itu. Coba saja tanya apa dia enggak punya permintaan?"


"Kalau itu sudah Arga tanya. Asha jawab tidak ada."


"Ya sudah, beres. Lalu apalagi? Jangan terlalu mendengarkan semua cerita orang, Ga. Tidak setiap istri itu sama. Kali ini kamu anggap saja suatu rejeki karena istrimu hamil, tapi tidak punya keinginan macam-macam. Bersyukur saja." Nyonya Wardah menepuk-nepuk punggung putranya. Kemudian tubuh Arga berdiri hendak beranjak pergi. Sudah merasa mendapat jawaban dari keraguannya.


"Ayah hebat juga bisa sanggup menghadapi bunda yang seperti itu," puji Arga sambil membalikkan badannya.


"Namanya juga sayang. Kamu juga hebat kok, bisa jadi menggemaskan begitu jadi suami. Bunda bangga kamu bisa jadi suami yang baik. Ya... walaupun sedikit berlebihan soal istrimu yang hamil."


"Khawatir soal kesehatan istri saat hamil bukan berlebihan. Menurut ayah bagus." Tiba-tiba saja muncul tuan Hendarto dari belakang mereka. Bersamaan, kepala Arga dan nyonya Wardah menoleh. "Ayah dengar sedikit pembicaraan kalian berdua," ujar ayah memberitahu. Nyonya Wardah tersenyum. Tangan beliau menepuk pundak putra pertamanya sebentar sebelum kemudian ikut duduk di sebelah bunda.


"Ayah, bunda, Arga pergi dulu. Ngobrolnya sudah terlalu lama." Arga pamit.


"Ya." Tuan Hendarto dan nyonya Wardah mengangguk.


......................



......................


Setelah beberapa hari yang lalu Arga dan Asha mendatangi acara syukuran di rumah Chelsea dan Evan, sekarang giliran Asha sendiri sedang merayakan syukuran tiga bulanan kehamilannya di kampungnya.


Perut Asha sudah berusia tiga bulan. Bagi keluarga Asha di kampung, tiga bulan kehamilan di rayakan dengan selamatan. Bukan perayaan besar-besaran, tapi harus di lakukan demi keselamatan bayi dan ibunya.


Meskipun dari keluarga Arga sangat banyak sumbangan kue untuk acara syukuran ini, tapi sebagai orang yang masih memegang adat yang kental, ibu Asha tetap berusaha membuat kue dengan bantuan ibu-ibu tetangga sekitar. Tidak baik jika perayaan tidak ada acara bikin kue sendiri di rumah. Jadi Ibu Asha menutuskan membuat jajan pasar nagasari. Jajan yang terbuat dari tepung beras berisi pisang dan di bungkus dengan daun pisang.


__ADS_1


__ADS_2