Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Jalan yang di pilih


__ADS_3


Arga tertegun dengan kemunculan pria ini. Baru saja dia membuat masalah yang akarnya berasal dari pria ini. Sekarang dia justru muncul sekarang.


Namun, sepertinya Reksa bukan bermaksud bunuh diri dengan datang sendirian kesini. Reksa merasa tidak perlu senekat itu datang sendiri untuk menjenguk Asha. Dia datang bersama trio geblek. Cakra, Andre dan Deni.


"Hai, Ga," sapa Cakra yang ternyata ada di sebelah Reksa. Setelah suara Cakra, kini suara Deni dan Andre. Juga tak lupa Hanny. Mantan jodohnya Arga. Ternyata dia jadi kekasih Andre setelah kejadian di lapangan basket waktu itu.


Wajah beku Arga tadi perlahan mencair. Dia mencoba membuka hatinya untuk menerima tamu ini dengan baik.


"Mereka teman-temanmu," ujar Arga menjawab pertanyaan Asha yang sempat di biarkan tanpa jawaban tadi. "Masuklah."


Asha melongok dan sumringah melihat tampang-tampang jadul kesayangannya.


"Halo, Sha..." sapa Andre duluan. Tentu saja dia juga ikut menyeret Hanny agar segera mendekat ke ranjang. Meskipun Reksa yang mengetuk pintu dan mengucap sapaan untuk Arga, pria itu memilih muncul belakangan untuk mendekat ke ranjang Asha.


"Kamu ngapain pakai di infus segala. Udah tua ya, jadi kesehatan menurun," ejek Cakra.


"Dulu aja kepala kena bola basket berkali-kali enggak ada kata ambruk tuh. Malah dengan semangat balas Andre dengan melemparkan bola ke arahnya," sambar Deni.


"Eh, iya pas itu. Aku sudah bilang enggak sengaja dia malah tetap melemparkan bola dengan marah. Karena disitu kan ada Reksa yang ngeliatin," ujar Andre membuat seseorang sempat berjingkat.


Asha menoleh ke Arga yang berdiri di belakang yang lain demi membiarkan kawan lamanya untuk berbincang dengan dirinya. Pria ini tersenyum membalas tatapan Asha yang mencemaskannya saat nama Reksa di sebut.


"Sudah berapa bulan ini, Sha?" tanya Hanny selaku satu-satunya tamu perempuan yang berada di sana.


"Empat bulan lebih."


"Senangnya. Sebentar lagi kamu jadi seorang ibu." Asha memamerkan deretan giginya. Tersenyum senang dengan kehadiran kawanan laki-laki pengacau. Asha masih tampak cemas dengan keberadaan Reksa di belakang.


Pria itu datang, tapi enggan muncul di depan Asha. Dia sedang kebingungan dengan situasinya yang selalu saja tegang dengan Arga.


Karena kedatangan mereka yang mendadak, Arga tidak punya sesuatu untuk di suguhkan.


"Santai saja, Ga. Kita enggak mengharap apa-apa kok. Asha ternyata sudah sehat saja kita senang," ujar Cakra.


"Kita datang untuk menjenguk Asha. Setelah sekian lama enggak bertemu, ini bisa jadi momen reuni kita. Kalau Asha enggak sakit, mana berani kita datangi Asha seperti ini," ujar Andre lalu tertawa terbahak-bahak. Di ikuti Deni. Cakra juga tersenyum geli. Reksa masih tenang tidak menunjukkan banyak aksi. Dia tahu posisi.

__ADS_1


Arga tersenyum juga mendengar lawakan Andre. "Aku keluar sebentar deh. Kalian tolong jaga Asha dulu, yah...."


"Serius nih, enggak takut Asha kita culik lalu paksa dia untuk tanding basket sama kita?" tanya Andre sengaja menggoda.


"Coba saja kalau berani."


"Wooo... pria ini memang keren." Andre berseru gembira. Paling rame memang dia.


"Aku keluar dulu, Ca," pamit Arga. Cakra mengangguk. "Gabung saja sama mereka di depan. Menyendiri disini, enggak akan tahu dia baik-baik saja atau enggak." Arga memberikan jalan bagi Reksa untuk tidak canggung. Rupanya Arga mencoba melapangkan dada untuk bersikap baik. Walau bagaimanapun dia juga rekan kerja. Pegawai dari kantor pajak yang memungkinkan akan bertemu lagi nantinya.


"Ya. Aku harus mengalah terlebih dahulu untuk mereka...," ujar Reksa sambil menggerakkan dagunya ke arah trio geblek itu. Pria ini akhirnya membuka suara karena tahu, direktur ini berusaha membawa bendera kedamaian. Arga menoleh pada Asha di atas ranjang dan mengangguk. Lalu pergi keluar.


"Sha, kamu dapat pria posesif nih sepertinya," ujar Deni setelah Arga pergi.


"Hanya dari kalimat itu enggak bisa langsung di hakimi begitu, Den." Asha mengelak.


"Enggak. Arga memang posesif ke Asha," imbuh Cakra yang dasarnya adalah teman kecil Arga, membuat lainnya ber-koor bareng seperti paduan suara. Kompak banget. Asha hanya meringis mendengar keriuhan yang muncul setelah sekian lama.


"Reksa sengaja kasih tahu kita untuk jenguk kamu. Dia khawatir," ujar Cakra mewakili. "Enggak terjadi apa-apa dengan kalian berdua kan?" bisik Cakra. Asha tahu maksud Cakra adalah dia dan Arga.


"Sedikit," Asha mengaku.


Cakra juga paham. Dia membicarakan ini dengan pelan dan hati-hati. Memilih berbicara di saat mereka tengah sibuk sendiri sambil duduk disofa.


"Dia sudah mengira bakal seperti itu, makanya dia memilih menjengukmu. Ingin membuat kesalahpahaman ini bersih." Mendengar ini Asha menoleh sebentar ke Reksa yang tengah tertawa kecil saat ngomong sama Andre.


"Dia nekat juga," gumam Asha.


"Ya. Aku akui keberaniannya. Kenapa? Kamu jadi kagum lagi sama dia?" ledek Cakra.


"Tentu saja tidak. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang," gerutu Asha. Cakra tersenyum. "Ya sudah kalau kamu dan Arga aman. Kenapa juga Arga itu cemburu. Kamunya kan sudah jadi istrinya."


"Namanya juga cinta."


"Begitu, ya... Yakin benar si Arga cinta."


"Kalau enggak cinta mana mau menikah denganku, geblek."

__ADS_1


"Jadi kangen sebutan itu." Cakra ketawa. "Walaupun begitu sebenarnya Reksa takut. Buktinya ngajak kita rame-rame," bisik Cakra.


"Ya. Aku kan sudah bersuami. Dia merasa berhak menjaga jarak."


"Bukan. Karena kalian pernah dekat dengan arti lain. Beda dengan kami." Asha mencibir mendengar penuturan Cakra.


Setelah hampir 20 menit, Arga muncul membawa kresek berisi makanan. Meskipun sudah usia menikah, melihat makanan mereka tetap heboh juga.


"Wah... Arga sudah repot-repot nih...." Deni berwajah malu-malu mau.


"Halahh... sok malu, tapi malu-maluin," ejek Andre yang langsung di tegur Hanny dengan pukulan pelan di lengannya. Andre tersenyum.


......................



......................


Makanan telah habis. Obrolan kesana-kemari juga sudah terjadi. Asha bisa di pastikan sudah sangat sehat. .Kini saatnya bagi mereka untuk pulang.


"Ca, datang ke rumah saja kalau memang mau ngobrol sama Asha. Bunda juga pasti senang." Arga memberikan undangan tidak tertulis bahwa dia di perbolehkan menemui Asha.


"Ya. Terima kasih atas undangannya. Pulang ya, Ga." Cakra menepuk bahu Arga.


"Ya," sahut Arga. Saat itu melintas Reksa di depannya. "Rek," panggil Arga yang membuat langkah kaki semua orang berhenti dan menoleh ke belakang. Jarang sekali Arga mau menyebut nama ini bahkan memanggilnya.


Asha yang berada di atas ranjang terkejut mendengar Arga memanggil Reksa. Ada apa? Wajah Asha menegang. Berbeda dengan raut wajah Reksa yang tenang.


"Ada apa?" tanya Reksa.


"Terima kasih sudah menolong Asha waktu siang itu. Sepertinya lebih baik di tolong oleh kamu yang dikenalnya, daripada di tolong oleh orang lain." Arga mengulurkan tangan. Semua melongok. Ingin menyaksikan Arga melakukan perdamaian.


"Oh, itu. Sama-sama." Reksa tersenyum sambil mendengkus. Tangannya menerima uluran tangan Arga untuk berjabat tangan. "Semoga Asha selalu sehat. Aku mendoakannya sebagai teman dia sekolah dulu, juga sebagai rekanan antar kita."


"Ya. Pasti setiap tahunnya aku akan bertemu denganmu, wahai petugas pajak." Nada bicara Arga terdengar lebih santai dan bersahabat.


"Benar. Direktur muda," sahut Reksa. Akhirnya mereka mendengkus bersamaan. Merasa lucu dengan tingkah mereka sendiri. Semua lega melihatnya. Asha tersenyum melihat itu. Mungkin Arga sudah sangat berusaha untuk bersikap bijak dalam menyikapi ini. Dia sudah bisa keluar dari kungkungan rasa cemburu yang menyelimutinya. Arga memilih pertemanan.

__ADS_1



__ADS_2