
"Selamat pagi," ujar orang yang datang di depan pintu. Tubuh Sandra segera bergeser dan mendekati Paris. Berdiri di samping Paris. Asha mengkerjapkan mata melihat tamu yang sedang memasuki kamar pasien. Walaupun begitu, bibir Asha tersenyum menyambut. Berbeda dengan Paris yang berdiri kaku di sampingnya. Sandra juga begitu. Matanya tak lepas dari orang yang memasuki ruangan barusan.
"Silakan masuk, Chelsea." Sebenarnya bukan perempuan ini yang bikin Asha mengkerjapkan mata terkejut. Namun pemuda yang ikut di belakang Chelsea, keponakannya. Lei. Asha mendongakkan kepala sejenak. Ingin tahu reaksi apa yang di tunjukkan adik iparnya. Dari mata Paris kelihatan kalau dia mencoba tenang. Mata Sandra juga melirik.
Mereka baru putus. Yang menjadi penyebabnya adalah perempuan yang sedang mendekati bibir ranjang, Chelsea. Saudara Lei yang termasuk musuh bebuyutan. Alasan yang Paris sendiri bilang tidak masuk akal dan konyol, tapi nyatanya membuatnya sanggup tetap berkata putus pada Lei.
"Letakkan di meja," ujar Chelsea memberi perintah kepada Lei. Suasana agak tegang karena meja yang di maksud adalah nakas di dekat Paris. Bola mata Lei melihat Paris. Begitu juga Paris. Sandra dan Asha juga melihat secara bersamaan.
Tidak mungkin Paris menutup mata atau bahkan langsung kabur melihat kemunculan mantannya. Dengan ragu Lei mendekat. Dia tahu Paris tidak akan menyapanya.
"Berikan padaku," pinta Paris tiba-tiba. Lei memberikan parcel buah di tangannya.
"Terima kasih," ucap Lei sambil tak lepas menatap gadis itu. Lei terlihat juga merindukan Paris. Kepala Paris mengangguk. Dia tidak baik-baik saja. Hanya berusaha terlihat baik. Dirinya bukan bersikap dingin. Untuk berbicara beberapa kata tadi saja, dia sudah merasa lututnya lemas. Kata putus yang di ucapnya beberapa waktu lalu masih mempengaruhinya. Lei masih membuatnya berdebar.
Paris menyeret Sandra menuju sofa di dekat jendela. Tepat di belakang Chelsea dan Lei. Tempat ini lebih baik daripada harus berhadapan dengan Lei.
"Duduklah," pinta Asha pada Chelsea dan Lei. Untuk Chelsea, dia duduk di kursi yang tadinya di pakai Paris duduk. Lei memutar tubuhnya kebelakang dimana ada sofa, matanya menemukan Paris disana. Awalnya dia akan memilih berdiri di dekat jendela di dekat Chelsea, tapi tidak jadi. Kakinya melangkah mendekat ke Paris dan Sandra.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Lei hati-hati.
Paris melirik tempat kosong di sampingnya. Lalu mendongak sebentar. "Ya. Silakan." Sandra hanya melongok dari tempat duduknya interaksi mereka barusan. Bibirnya mencibir. Paris sadar temannya sedang mengejek. Matanya melotot ke Sandra.
"Perutmu semakin besar." Asha memulai perbincangan.
Chelsea mengangguk. Setelah tujuh bulan, perut semakin terlihat. Chelsea mengusap perutnya lembut.
"Benar. Punggungku juga semakin sakit," keluh Chelsea.
"Tidak apa-apa selama tubuh kamu tetap sehat. Tidak sepertiku." Asha mengejek dirinya sendiri.
"Fisik seseorang berbeda-beda."
"Benar." Asha tergelak. Dia sendiri heran, untuk tubuhnya yang sering di latih karate, entah kenapa tubuhnya ternyata sangat lemah.
Kalau dua calon ibu ini berbicara banyak hal, berbeda dengan suasana di antara kedua remaja di sofa. Mereka banyak diam.
"Kamu sehat?" tanya Lei.
"Ya," jawab Paris.
"Paris tetap bisa menghancurkan balok saat latihan karate kok," imbuh Sandra bangga. Paris menoleh ke Sandra dengan cepat sambil mendelik menahan geram. Sandra menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Evan tidak mengantar?" tanya Asha.
"Dia masih bekerja. Karena ada Lei yang pulang pagi, aku memintanya mengantarkanku menjenguk. Takutnya kamu sudah pulang, kami belum bisa membesuk."
...----------------...
...----------------...
Chelsea dan Lei sudah pulang. Menyisakan rasa sesak di dada Paris.
"Aarggg! Menyebalkan!" pekik Paris. Sandra dan Asha tahu penyebab Paris seperti itu. Mereka membiarkan Paris uring-uringan seperti itu. "Oke. Kita makan saja buah yang ada," ujar Paris tiba-tiba.
"Buah yang mana?" tanya Sandra. Telunjuk Paris menunjuk ke arah parcel buah yang di bawa Chelsea tadi. "Bukannya itu buat Kak Asha?"
"Aku mau makan itu." Paris memaksa. Asha memberi kode Sandra untuk mengiyakan.
"Mau makan itu apa mau makan kak Lei..." gumam Sandra.
"Apa?" tegur Paris.
"Enggak. Memang pisaunya ada?" Sandra bingung.
Arga muncul dengan wajah terkejut dengan banyaknya orang di kamar pasien. Biasanya jam makan siang ini dia hanya menemukan bundanya, atau bik Sumi yang menemani istrinya tertidur setelah makan. Namun kali ini suasana kamar dimana istrinya di rawat terlihat berbeda.
Ada si sableng Paris dan kawannya Sandra. Mereka tengah berkumpul bersama dengan Asha yang juga ikut terlibat obrolan dengan mereka.
"Kakak..." Sandra menyenggol lengan Paris yang ketawa kencang di sebelahnya.
"Apaan?"
"Ada kak Arga," bisik Sandra. Paris noleh. Asha yang mendengar nama suaminya disebut juga menolehkan kepala ke arah pintu. Di sana ada Arga yang masih memakai jas kerjanya muncul.
"Hai, kak," sapa Paris.
"Selamat siang kak Arga." Sandra ikut menyapa. Wajah Asha terlihat begitu bahagia melihat kemunculan suaminya. Namun bibirnya bungkam mengingat ada kemungkinan jika Arga sedang marah.
"Ya. Selamat siang. Dimana bik Sumi atau bunda?" tanya Arga yang mencoba mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Raut wajahnya datar.
"Bunda dan Bik Sumi absen jagain kak Asha karena ada kita," jelas Paris. Mata Paris tertuju pada bungkusan yang dibawa Arga. "Bawa apaan, kak?" tanya Paris penasaran. Arga mendekat ke sofa seraya meletakkan bungkusan di sampingnya.
"Tidak ada. Kamu pulang sekolah langsung kesini?" tanya Arga yang sudah meletakkan punggungnya untuk bersandar. Mimik wajahnya masih tetap sama, tidak berekspresi. Bola matanya juga tidak mencoba melihat ke arah istrinya. Asha tahu itu.
__ADS_1
Tangan Arga terangkat untuk melihat pukul berapa sekarang di arlojinya. Dua bocah cilik ini sudah bikin keributan di kamar pasien. Itu menandakan mereka bukan barusan datang. Bahkan bungkus snack kosong teronggok dari tempat sampah.
Tidak mungkin orang sakit makan snack.
"Tidak. Aku sudah sejak pagi tadi ada disini."
"Bolos?" tanya Arga langsung tanpa basa basi.
"Enggak. Sekolah ada rapat. Pulang pagi."
"Sekeranjang buah dari siapa? Kamu yang bawa?"
"Itu dari Chelsea." Asha membantu menjawab. Karena Paris pasti enggan menjawab. Arga menoleh sekilas dan kembali melihat adiknya.
"Kalian sudah makan apa belum? Ini sudah siang. Sudah masuk jam makan." Wajah Arga tidak melunak, tapi kata-katanya masih terdengar lembut.
"Tentu saja belum. Pesen, ya?" Paris meminta.
"Keluar saja. Makan saja di luar."
"Sekitar sini di mana ya?" Paris mikir.
"Cari saja. Terserah kalian. Pakai kartuku," ujar Arga menyerahkan kartu kreditnya. Mata Paris berbinar. Jika seperti ini, itu artinya kakaknya sedang mengusirnya baik-baik. Ekor mata Paris melirik kakak iparnya yang terus saja di anggap tidak ada sejak tadi.
Mereka memang perlu berbicara berdua.
"Baiklah. Aku boleh beli apa saja, kan? Berdua sama Sandra..."
"Ya," sahut Arga cepat.
"Okkke! Aku memang lagi ingin makan besar. Ayo, Sandra. Kita naik mobil online saja," ajak Paris dengan semangat tinggi. Sandra mengangguk pasti. Para bocil keluar hingga suasana kamar pasien tenang kembali.
Hening. Asha menatap suaminya. Dia belum berani mengeluarkan kata-kata. Berusaha hati-hati. Asha menghela napas.
"Dari kantor?" tanya Asha mendahului. Tidak akan ada percakapan jika keduanya menutup mulut masing-masing.
"Ya." Arga menarik kursi dan duduk di dekat ranjang.
"Istirahat saja dulu jika lelah," usul Asha.
"Tidak." Jawaban-jawaban singkat Arga membuat Asha menghela napas lagi.
__ADS_1