Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Hilang pertahanan


__ADS_3


"Dulu-dulunya kemana kok baru-baru sekarang enggak sanggup lihat...," gumam Asha mencibir. Arga mendengar gumaman itu. Lalu menarik lengan Asha dan mendekatkan tubuh itu ke tubuhnya sendiri. Menyatukan kedua tangan Asha pada dadanya.


"Kamu bicara apa?" tanya Arga memainkan alisnya sambil menahan tubuh Asha agar tidak kabur dari dirinya. Asha mendelik.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Asha panik dan gugup. Tangannya berusaha mendorong tubuh itu menjauh. Tubuh mereka terlalu dekat. Namun Arga sudah mengunci tubuh Asha agar tidak bisa keluar dari lingkaran pelukannya. Asha menjauhkan kepalanya dari Arga karena wajah itu juga terlalu dekat. Namun tubuhnya masih mendekat pada tubuh Arga.


"Kenapa?" tanya Arga tenang.


"Lepaskan tanganmu." Asha berusaha mendorong tubuh tegap nan berotot milik Arga tapi tidak bisa. Asha merasa tangan itu semakin mendekapnya dengan erat.


"Kamu mau menghajarku?" tanya Arga mendekatkan wajahnya.


"Iya. Aku ingin menghajarmu," pekik Asha kesal. "Jangan terus bermain-main seenaknya denganku. Ini tidak nyaman. Ini tidak lucu. Hentikan leluconmu," ujar Asha yang meronta. Sekejap pelukan Arga terlepas. Arga melepaskan pelukannya hingga Asha lega tuan muda tidak memeluknya lagi. Namun tangan Arga ternyata masih mencekal pergelangan tangan Asha. Sepertinya Arga belum sepenuhnya melepaskan Asha. Kelegaan Asha lenyap.


"Kenapa kamu menganggap semua yang aku lakukan padamu adalah lelucon?" tanya Arga yang mulai serius. Asha diam sejenak merasakan rasa lega yang berubah saat melihat raut wajah Arga menjadi keras dengan tatapan mata yang tajam.


"Jangan mempertanyakan hal konyol Arga. Kita berdua berbeda. Kamu tahu akan hal itu. Kamu seorang majikan dan seorang tuan muda kaya. Bagaimana bisa aku yang hanya bekerja sebagai tukang cuci, berpikir hal lain tentang perlakuanmu padaku selain itu adalah lelucon. Terlalu naif bagiku kalau aku berpikir ke hal lain," jelas Asha. Tubuhnya tidak memberontak, hanya melihat sekilas ke arah pergelangan tangannya yang masih di cekal Arga. Lalu menarik dagunya lagi untuk menatap ke arah lelaki di depannya.


"Otakmu hanya berpikiran seperti itu?" tanya Arga dengan mata menyipit yang sepertinya berubah menjadi dingin.


"Iya. Dan bukannya aku memang harus berpikir hanya seperti itu. Ini kenyataan yang tidak bisa di pungkiri..," kata Asha yang suaranya menjadi seperti akan tenggelam. Asha menelan ludah. Entah kenapa kenyataan ini membuatnya menunduk. Arga diam.


"Hanya itu? Hanya lelucon yang ada dalam benakmu?" tanya Arga lagi lebih dingin dari tadi yang akhirnya memaksa Asha mendongak. Pegangan tangan Arga mengetat yang membuat Asha mengernyit merasa kesakitan. Wajah laki-laki itu tiba-tiba menunjukkan semua kekecewaan yang dalam atas penuturan Asha barusan. Untuk ekspresi dari wajah Arga kali ini, belum bisa dipahami Asha sepenuhnya.


Mengapa Arga terlihat terpukul akan perkataannya?

__ADS_1


"Kamu bodoh!"teriak Arga sambil melepas tangan Asha dengan marah hingga membuat tubuh Asha mundur. Lalu gadis itu memegangi pergelangannya dengan tangan yang lain. Memijit pelan karena terasa sedikit ngilu di pergelangan tangannya. "Jalankan otakmu untuk lebih berpikir kreatif lagi, Sha! Berimajinasilah! Jangan hanya terpaku dalam hal-hal yang baku. Di dalam kehidupan ini banyak hal yang  bisa terpikirkan selain hal yang baku dan monoton. Di dalam dunia ini bisa juga ada keajaiban dan sebagainya. Aku tidak menyangka kamu berpikiran sempit dan sebodoh itu!" tukas Arga geram dan pergi. Laki-laki itu marah.


Asha mengerjapkan mata pelan. Dia tertegun, tidak menyangka Arga semarah itu karena perkataanya yang memang benar adanya. Dia dan Arga hanyalah majikan dan pembantu. Kenapa marah karena itu adalah kenyataan. Asha tidak pernah memungkiri kenyataan itu. Tidak pernah menyangkalnya sama sekali.


"Iya, aku memang bodoh.." gumam Asha setelah kepergian Arga dengan kepala menunduk. Mendesah lelah karena sekejap saja suasana berubah aneh. Ada pilu dan sakit menyelimuti. 


Aku tidak suka suasana hati seperti ini. Sedih dan pedih, tapi kurang paham apa yang membuatnya seperti itu. Perasaan tidak jelas ini sungguh menyebalkan, dengus Asha kesal.


Apakah aku menjadi seperti ini karena dia. Lelaki yang bersikap berlebihan padaku?


Sebagai seorang pelayan, apa yang perlu dipikirkan Asha soal perlakuan Tuan Mudanya yang berlebihan? Tidak pantas rasanya harus memikirkan hal lain. Juga, tidak ada gunanya berpikir tentang hal lain. Semuanya tidak mungkin.


Ini bukan dunia dongeng, ini dunia nyata. Bukankah begitu, Ga?


Namun tiba-tiba Arga memutar tubuhnya dan kembali menghampiri Asha. Sementara Asha yang tidak menduga Arga muncul lagi hanya menatapnya dengan penuh selidik. Dengan penuh amarah yang terlihat dari raut wajah Arga, lelaki itu melangkah dengan tegas. Seakan-akan hendak menerkam dan menerjang tubuh Asha pada saat itu juga. Mata Asha nanar.


Apa yang akan di lakukannya?


Asha berontak karena keterkejutannya, tapi Arga tidak menyerah begitu saja. Dia terus mendesak bibir Asha dengan **********. Memaksakan kehendaknya untuk mencicipi bibir ranum itu dengan puas hingga Asha akhirnya menyerah untuk berontak. Tubuhnya melemas yang memerlukan sanggahan lengan Arga pada punggungnya. Tangan Arga sigap menangkap punggung itu dengan lengannya.


Dengan lambat Arga melepas bibirnya dari bibir ranum milik Asha. Lalu mengecup lagi dengan pelan, sebelum benar-benar terlepas dari kulit bibir Asha yang memanas. Napas Asha tersengal-sengal karena Arga menciumnya tanpa memberinya ruang sejenak. Lelaki itu tidak ingin memberi kelonggaran sedikitpun pada Asha untuk menghindar. Tidak lagi.


Lalu Arga menunduk untuk menyentuh dahi Asha dengan dahinya. Meski Arga sudah selesai mencumbu, lengannya tidak melepaskan tubuh Asha begitu saja.


"Aku mencintaimu, Sha.." bisik Arga parau. Walaupun Asha sedang sibuk berusaha mengatur napas, dia masih mampu mendengarkan kalimat hangat itu. Hanya saja bibirnya masih terdiam karena napanya masih ridak beraturan. Meskipun tidak berontak dia masih menunduk. Asha tidak berani mendongak ataupun memaksa menatap Arga tajam. Dia tidak ingin Arga mengulang lagi cumbuan panasnya.


"Aku tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mengungkapkan ini padamu, Sha. Aku tidak bisa menunggu sampai aku yakin kau  benar-benar punya perasaan padaku," ujar Arga yang semakin memeluk Asha dengan posesif. Menggosok-gossokkan ujung dagunya ke pucuk kepala Asha dengan lembut.

__ADS_1


Asha masih terdiam. Tidak di sangka dirinya saat ini sudah berada dalam dada bidang dan bahu lebar yang sempat membuatnya merona. Membayangkan perempuan-perempuan yang pernah di peluk Arga. Saat ini justru dirinya berada pada tubuh itu. Dipeluk erat oleh dada bidang dan bahu lebar milik Arga.


"Lalu apa yang kau lakukan saat ini? jika memang kau sendiri tidak yakin aku juga punya perasaan yang sama denganmu, kenapa kau melakukan ini?" tanya Asha dengan kesal yang sangat terasa. Bibir Arga tersenyum. Lalu memegang dagu Asha dan mendongakkan kepala gadis itu kepadanya. Menatapnya dalam-dalam dan berkata,


"Karena aku yakin dengan ketulusanku mencintaimu. Dengan itu aku yakin kamu akan mengerti ketulusanku," Arga mencium bibir Asha lagi tapi bukan dengan sikap seperti tadi, kali ini dia mencium bibir Asha dengan pelan dan lembut. Entah kenapa Asha justru diam dan pasrah. Menutup mata pada akhirnya.


Setelah selesai menciumnya, Arga menenggelamkan kepala Asha dalam dadanya. Memeluk Asha dengan erat. Merasakan kehangatan dalam pelukannya.


"Aku bodoh. Aku tidak akan mengerti ketulusanmu," ujar Asha masih dalam pelukan Arga.


"Hmmm... Aku tahu. Aku bisa mengajarimu agar kamu paham apa itu ketulusan," ucap Arga sambil memejamkan mata.


"Otakku bebal dan malas belajar. Aku peringkat terbawah dalam sekolah," ujar Asha masih meracau.


"Iya, ngerti." Arga mulai gusar tapi ditahannya.


"Aku juga..."


"Hentikan ocehanmu kalau tidak mau aku anggap itu sebagai sikap memancingku untuk kembali mencicipi bibirmu. Karena aku bisa terus menciummu sebanyak yang aku mau," potong Arga yang sudah kesal mendengar Asha meracau dengan setengah mengancam. Matanya yang tadi menutup sekarang terbuka karena dongkol. Asha langsung menutup mulut rapat-rapat. Tidak jadi meneruskan kalimatnya. Dirasa tidak ada lagi cicit suara Asha, Arga memejamkan mata lagi.


"Ga..." sebut Asha pelan. Takut membangunkan macan tidur.


"Hmm?"


"Sepertinya terlalu lama kau memeluk tubuhku," ujar Asha mengingatkan. Arga mengangguk.


"Aku tahu. Tidak apa-apa. Aku tidak ingin kehilangan waktu untuk memaksamu mendengarkan pengakuanku. Aku juga tidak ingin melenyapkan momen ini begitu cepat." Asha mendengkus. Arga menyadari hembusan napas yang menerpa dadanya. Dia tersenyum.

__ADS_1




__ADS_2