
Asha mengehela napas berat. Ada lagi yang membuat hatinya tidak tenang. Perjuangan masih harus berlanjut. Hidup memang penuh dengan perjuangan. Sambil membantu mertuanya menyiapkan sarapan buat seluruh keluarga, Asha berpikir panjang. Sesekali menelan salivanya sendiri.
"Pagi, Bunda," sapa Arga yang sesuai janjinya segera turun untuk menemani istrinya memasak.
"Pagi. Adikmu belum bangun?"
"Sudah. Dia sedang bersih-bersih lorong kamar. Ayah tidak muncul?"
"Ayahmu pasti di halaman depan berbincang dengan Pak Yus." Kaki Arga mendekati Asha. Mengecup pelan pipi istrinya tanpa ketahuan nyonya Wardah. Meskipun begitu, Asha tetap mendelik. Dia meminta Arga tidak sembarang menciumnya. Meskipun itu di depan keluarga. Asha tidak nyaman. Namun Arga hanya mengangkat bahu tidak mau tahu.
"Aku juga membantu?" tanya Arga sambil melongok ke tangan Asha yang sedang memotong ayam mentah.
"Tidak. Duduk saja. Mau teh lagi?" Arga menggeleng.
"Kenapa tubuhmu tidak lemas setelah tadi malam berkali-kali aku me ...." bisik Arga yang tertahan saat Asha menoleh dan mendelik ke arahnya dengan cepat. Suaminya memang masih di sampingnya. Bibir Asha komat-kamit memprotes suaminya. Pembicaraan ini tidak harus di bicarakan disini. Asha tidak bisa mengeluarkan semua gerutuannya saat ada nyonya Wardah di sini.
"Duduk," bisik Asha geram. Arga tersenyum dan akhirnya menurut sambil terkekeh. Mendengar ini nyonya Wardah menoleh karena penasaran. Arga sudah berjalan ke tempat duduk di depan meja makan. Asha kembali melakukan tugasnya.
"Bik Sumi kemana, Bun?" tanya Arga.
"Saudaranya ada yang sakit. Jadi Bik Sumi pulang kampung." Arga mengambil buah apel di meja dan memakannya. Dia duduk dengan tenang sambil memperhatikan istri dan bundanya memasak. Dari tempat duduknya Arga tersadar bahwa sejak tadi, kedua orang ini tidak terlibat dalam suatu obrolan apapun. Mereka berdua sama-sama diam.
Arga memperhatikan, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia sedang berpikir.
"Kapan-kapan ajak Asha belanja, Bun," usul Arga.
"Tanpa di suruh, Bunda sama istrimu sudah pernah ke pasar bareng. Saat mau ada arisan kemarin. Ya kan, Sha?" Nyonya Wardah meminta konfirmasi Asha untuk memberikan bukti bahwa mereka memang sudah pernah melakukannya.
"Iya. Kita kemarin belanja bersama," sahut Asha memberi kesaksian.
"Kalau belanja ke mall belum pernah, kan..," usul Arga lagi. Dia memang memaksa memberi mereka usulan. Arga ingin memberi mereka ide untuk menghabiskan banyak waktu bersama. Mereka berdua. Istri dan Bundanya.
"Memangnya Asha mau beli baju, Ga?" tanya Bunda heran. Asha melebarkan mata. Menoleh ke arah suaminya dengan heran. Dia tidak pernah membahas akan membeli pakaian.
"Ya. Aku menyuruhnya beli. Bukankah Bunda juga akan ke butik untuk mencari baju untuk pembukaan mall baru seminggu lagi? Bisa juga sekalian belanja di supermarket. Sepertinya Asha juga butuh kosmetik baru," jawab Arga sambil menatap istrinya yang melirik bingung. Jelas ini hanya rencana Arga sendiri. Asha tidak tahu menahu soal beli baju dan ke supermarket. Arga tidak peduli dengan tatapan istrinya yang penuh tanya. Dia hanya tersenyum.
"Bahas apa ini?" tanya Ayah yang sudah datang. "Asha tolong buatkan Ayah teh hijau." Asha yang sudah selesai memotong, mengangguk. "Gulanya sedikit saja, seperti biasa..." Ada rasa haru saat tuan Hendarto menyebut kata Ayah untuk membiasakan dirinya memanggil seperti itu.
"Aku minta Asha menemani Bunda belanja, Ayah...," jawab Arga.
"Ya. Daripada di rumah saja. Asha tidak perlu banyak bekerja tidak apa-apa." Tuan Hendarto menyarankan. Beliau tahu, menantunya itu masih saja bekerja seperti saat dia masih bekerja di rumah ini. Asha yang sudah membuatkan teh, tersenyum. Lalu membawanya ke meja makan.
"Soal itu tidak apa-apa, Ayah. Biar tubuh Asha tidak jadi melebar." Arga bercanda sambil tersenyum lucu ke Asha. Bermaksud meledek. Asha tertawa kecil merespon ledekan Arga. Tuan hendarto ikut tersenyum.
Paris muncul setelah mandi.
"Kamu masih melakukan perjanjian dengan Bunda, kan?" tanya nyonya Wardah.
__ADS_1
"Tentu saja." Arga berdiri dan menghampiri istrinya.
"Aku bersiap-siap ke kantor." Arga mengucapnya pelan. Asha mengangguk. Asha meletakkan makanan yang sudah di letakkan dalam piring besar ke meja makan. Nyonya Wardah sudah membuka celemeknya. Itu menandakan masak telah usai.
Tanpa menunggu perintah, Asha membersihkan meja dapur hingga bersih. Lalu mencuci perabot yang sudah di pakai.
"Ayo, kita sarapan pagi bersama," ajak ayah mertua. Tak lama Arga yang sudah memakai setelan kerjanya turun dan bergabung.
***
Pulang kerja, Arga sengaja segera mandi lalu merangsek ke tubuh istrinya yang sedang duduk di depan cermin. Memeluk dan mengecup tengkuk yang terbuka. Asha menggumam sambil menikmati gelenyar yang di kirimkan suaminya lewat sentuhan bibir pada kulitnya.
"Ajaklah Bunda mencari pakaian baru untukmu." Arga menempelkan dagu di pundak Asha.
"Bunda? Kenapa tidak mengajak kamu saja?" tanya Asha sambil mengusap rambut Arga. Mata mereka masih melihat ke arah cermin.
"Iya lain kali. Saat ini lebih baik mengajak bunda dulu. Beliau setuju berdua denganmu ke butik." Arga mengecup cuping telinga lalu beranjak ke ranjang. Merebahkan tubuhnya di sana. Kepala Asha menoleh ke belakang.
"Jadi aku harus berdua dengan Bunda?" Arga mengangguk. "Bolehkah aku juga mengajak Paris?"
"Iya. Kamu bisa mengajak Paris."
Namun saat Asha mengutarakan maksudnya, gadis itu menolak.
"Aku mau kencan," kata Paris saat Asha menawarkan untuk pergi.
Senyum Paris melebar "Iya. Aku akan kencan dengan kak Lei." Asha menelan kecewa. "Kakak mau pergi keluar menemani Bunda?" tanya Paris yang sepertinya sudah tahu soal acara keluar ini.
"Ya."
"Hei... kenapa Kakak jadi muram begitu?" Paris dengan mudah menemukan kecemasan Asha.
"Wajarlah. Ini hal pertama. Semua menakutkan jika itu menjadi yang pertama." Asha melebarkan mata sekilas.
"Jadi diri Kak Asha seperti biasanya saja. Daripada berusaha terlihat bagus di depan Bunda. Aku rasa Kak Asha sudah cukup baik menjadi diri sendiri." Asha melihat ke arah Paris yang tersenyum. Arga muncul dari bawah.
"Aku tahu itu. Teori tidak semudah prakteknya."
"Belum bersiap? Bunda sebentar lagi sudah selesai bersiap. Kamu juga harus bergegas. Paris, aku ajak Kakakmu ini untuk pergi."
"Silahkan..." Tangan Arga mendorong tubuh istrinya segera kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Paris tidak bisa ikut." Asha mengungkapkannya dengan nada kecewa yang kentara saat sudah sampai di dalam kamar tidur.
"Berarti itu lebih baik. Kamu bisa lebih dekat dengan Bunda."
"Begitu, ya...."
__ADS_1
"Tidak ada yang membahagiakan aku saat ini, ketika melihat kamu terlihat dekat dengan orang yang sudah melahirkanku." Arga mengucapkan harapan itu sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang. Asha mengusap pelan pipi suaminya. Dia juga tahu. Karena dia sendiri merasa senang saat Arga dekat dengan keluarganya. Asha mengangguk mengerti.
***
Asha sengaja menuju halaman depan terlebih dahulu. Keberuntungan memihaknya. Ibu mertua belum muncul disana. Dia tidak ingin mertuanya yang harus menunggu dirinya.
"Kamu sudah di sini?" tanya nyonya Wardah yang sudah muncul. Beliau bersama Arga
"Iya."
"Angga sudah siap?"
"Sudah. Dia sudah ada di mobil."
"Bunda masuk ke mobil dulu." Asha mengangguk. Setelah tersenyum ke bunda, bola matanya menuju ke arah tubuh istrinya yang berdiri tidak tenang.
"Tenanglah. Bunda tidak menggigit," canda Arga pelan.
"Ih... bukan begitu," gerutu Asha. Arga terkekeh. "Sudah, aku berangkat ya?" Arga mengangguk sambil mengusap rambut istrinya. Asha suka usapan ini. Usapan yang membuatnya tenang.
"Hati-hati!" teriak Arga.
"Ya!" Lalu Asha menuju mobil. Arga melepas kepergian dua perempuan itu dengan senyum dan harapan baik.
Mobil berhenti di Mall keluarga Hendarto. Kaki mereka langsung menuju butik.
"Kamu ingin pakai baju apa untuk pembukaan mall baru itu?" tanya nyonya Wardah seraya menyentuh satu persatu baju di tempat gantungan.
"Saya masih belum tahu."
"Cobalah memilih." Nyonya Wardah menunjuk ke arah deretan baju yang di gantung. Asha menuruti dan melihat satu persatu. Karena ini butik, baju-baju ini berlabel mahal. Asha yang memang tidak pernah menyentuh baju mahal, terkejut.
"Anda pasti istri tuan Arga, bukan?" sapa salah satu karyawan. Sepertinya dia mengenal dirinya. Bibir Asha tersenyum. Dia tidak ingat sama sekali tapi berusaha tersenyum ramah.
"Iya." Mendengar Asha disapa, nyonya Wardah menoleh.
"Sedang berbelanja?" tanya karyawan butik yang pasti hanya basa-basi.
"Iya. Saya sedang bersama dengan beliau..." Asha menunjuk ke arah nyonya Wardah. Bermaksud supaya karyawan itu mendekati mertuanya daripada dirinya. Kalau memang dia paham, dia pasti tahu siapa nyonya Wardah.
"Emm ... beliau Ibu, Anda?" Rupanya dia belum mengenal nyonya Wardah. Ini pertanyaan biasa tapi membuat Asha tersentak sebentar. Apakah yang di maksud manager ini adalah ibu kandung? atau ibu mertua? Di saat ini Asha bimbang. Akankan dia menjawab, benar dia ibuku. Apa itu tidak terlalu sok?
Dia yang hanya orang biasa mungkin terlihat sangat menyukai jika banyak orang berpikir nyonya Wardah yang cantik itu adalah ibunya. Namun, apa itu membuat beliau nyaman? Jika bibirnya mengatakan bahwa nyonya Wardah adalah mertuanya, akan terlihat sangat jelas bahwa dirinya masih membedakan bahwa ibu yang melahirkannya, tidak sama dengan ibu mertua.
Kenyataan di benak Asha mengatakan iya, tapi ... Dia mungkin bisa cuek dan tidak peduli saat bersama Cakra dan teman-temannya, tapi sikap itu sungguh tidak di perlukan saat menghadapi Nyonya Wardah yang jadi mertuanya.
"Benar. Beliau adalah ibu saya. Mertua itu disebut ibu kita juga kan ...," ujar Asha sambil tersenyum ramah seraya menyentuh lengan karyawan itu.
__ADS_1