Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Mengaku


__ADS_3



"Dia adikku." Asha akhirnya mengaku, karena takut Arga akan berniat menghajarnya lagi karena perkataan adik laki-lakinya yang tidak jelas. Arga menatap pemuda itu dengan mata menyelidik. Asha menipiskan bibir kesal dengan sikap adiknya.


"Iya. Aku saudaranya Asha. Kenapa?" tanya Juna dengan kaku dan masih salah sangka. Mengira Arga adalah orang yang sedang berkencan dengan kakaknya.


Mungkin karena tubuh Arga yang tegap dan tinggi. Jadi terlihat lebih dewasa dan mungkin Juna berpikir Arga sudah beristri.


"Hei, berhentilah bersikap seperti itu. Dia bukan seperti yang kau pikirkan!" ujar Asha kesal.


"Lalu? Itu apa?" tanya Juna sambil menunjuk Asha yang memeluk lengan Arga. Asha melirik tangannya. Kemudian segera melepaskan tangannya dari lengan Arga dengan pelan. Sebenarnya Arga tadi senang Asha tidak menyadari tingkahnya. Tapi sekarang gadis itu jadi melepaskan lengannya. Asha tidak menjawab.


"Maafkan dia, Ga," Asha langsung membungkuk meminta maaf. Juna tidak suka itu.


"Ayo, kau minta maaf juga," Asha mendekat dan langsung merangkul pundak adiknya dan memaksa Juna membungkuk untuk meminta maaf. Tapi Juna tidak mau.


"Apa sih?!" gerutu Juna tidak suka sambil melepaskan lengan Asha dari bahunya.


"Dia itu majikanku. Direktur perusahaan ini," Asha berbisik sambil menggertakkan giginya. Juna melihat ke arah Arga yang masih melihatnya dengan diam dan tegang. Merasa ada lawan muncul di hadapannya. "Cepatlah ... sebelum semuanya tidak terkendali," gertak Asha sambil berbisik.


"Tidak perlu meminta maaf, Sha ...," ujar Arga mengerti. Namun Asha tetap memaksa Juna membungkuk untuk meminta maaf.


"Maaf," ucap Juna sekenanya saja. Tidak tulus. Karena dia sedikit tidak suka dengan pria yang bersama kakaknya. Arga diam. Dia tidak menanggapi hanya melihat mereka berdua. Juga tidak bergerak dari tempatnya. Hanya memandang ke arah Juna yang berkali-kali melepaskan lengan kakaknya dengan kesal.


Tak lama kemudian terdengar deheman dari bibirnya, "Arga." tiba-tiba Arga menyebut nama dan mengulurkan tangan ke arah Juna. Mata Juna melihat kearah tangan yang terulur itu dan menatap Arga. Diam sejenak. Asha mendesis. Kesal dan tidak sabar melihat Juna masih bersikap angkuh padahal sudah di bilang laki-laki di depannya adalah majikannya. Tapi kemudian Juna mengulurkan tangannya juga.


"Juna."


"Berhenti bersikap seperti itu." Asha geram. Juna enggak ambil pusing.


"Kamu masih sekolah?" tanya Arga berusaha membuat suasana akrab. Juna mengangguk.


"Om ini ... benar majikan Kakakku, ya?" tanya Juna yang membuat mata Arga melebar. Mata Asha juga melihat Juna.


"Iya," jawab Arga. Juna manggut-manggut sambil memperhatikan Arga.


"Anaknya berapa, Om?" tanya Juna membuat Arga membeliak terkejut. Arga melihat ke arah Asha dengan mata ingin bertanya. Mata Asha tidak tertuju padanya. Gadis itu sedang melihat ke arah lain seraya menahan senyum, "Apa aku terlihat seperti itu?"


"Memangnya bukan?" tanya Juna membuat Asha semakin tersenyum. "Sudah menikah dan sudah punya anak, kan?" Juna justru semakin menambah panjangnya kelucuan pada kalimatnya. Geraham Arga mengeras. Juna mengangkat dagunya meminta pendapat Asha, apakah perkiraannya benar.

__ADS_1


Asha menepuk lengan Juna sambil tergelak untuk menghentikan tebakan-tebakannya yang salah. "Dia belum menikah," jelas Asha sambil senyum.


"Masa?" tanya Juna terkejut. Mata Juna memindai Arga tanpa takut. Arga menahan diri tidak berkomentar.


"Dia masih muda, Jun ...," kata Asha.


"Kok Mbak tahu? Kok yakin?" tanya Juna justru curiga ke Asha karena penjelasannya. Mata Asha melirik Arga sebentar yang ternyata sedang melihatnya juga.


"Aihh ... Sebentar, Ga. Ikut aku," ajak Asha menyeret adiknya agak menjauh dari tempat Arga berdiri. Asha ingin membicarakan sesuatu.


"Disini saja kenapa sih?!" tanya Juna tidak mau.


"Tidak. Ayo," ajak Asha menggelandang adiknya supaya ikut. Arga hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri.


"Pelayan?!" teriak Juna keras dan terkejut. Arga menoleh. Dia merasa Asha sedang berbicara jujur pada adiknya. "Pembantu maksudnya?!" tanya Juna tidak percaya.


"Ih, ni anak. Dibilangain jangan keras-keras masih saja berteriak." Asha menjitak kepala Juna dengan gemas. Juna meringis dan menggerutu.


"Bagaimana bisa aku tidak terkejut dengan ucapannya Mbak? Sekolah Mbak kan bukan tingakt SD atau SMP. Walupun bukan sarjana bukankah masih ada pekerjaan lain selain pembantu?" Asha garuk-garuk pelipisnya dengan pelan. Adiknya sudah menjadi-jadi. Juna tidak terima.


"Gajinya mahal ...," bisik Asha mengungkap alasan memilih pekerjaan ini dengan mata melebar senang. Juna menatap wajah kakaknya dengan bibir tertarik sedikit keatas. Dia berpikir lagi. "Kamu pikir darimana aku dapat uang banyak kalau tidak dari gajiku itu," Asha melepas tangannya dari pundak Juna.


"Kau pikir aku siapa, hingga otakmu berpikir aku harus jadi simpanan orang kaya jika ingin punya uang banyak?! Kamu ini seenaknya saja kalau berpikir aku seperti itu. Aku ini saudaramu, bodoh!" Asha menggertakkan gigi dengan kesal. Juna tidak peduli meringis sambil mengusap kepalanya. "Sedang apa kau disini malam hari? Pasti kau kabur dan ingin balapan, ya?" selidik Asha. Arga masih mengawasi dari tempatnya bersandar.


"Enggak. Aku ini sudah ijin Bapak."


"Jun!" panggil teman Juna yang muncul di area parkir. Asha terkejut.


"Kau bersama mereka?" tanya Asha melihat segerombolan teman-teman adiknya. Asha sudah menggeser tubuhnya bersembunyi di balik tubuh Juna. Sebagian dari mereka sepertinya mengenali Asha. Kepala mereka terjulur untuk bisa melihat siapa yang sedang bersama Juna.


"Hei, sepertinya kau sedang bersama cewek ya, Jun?" tanya teman-teman Juna. Arga mengawasi.


"Aku seperti kenal sama cewek itu," tunjuk salah satu teman Juna yang sepertinya mengenali Asha. Juna tidak menjawab. Dia sedang melihat keadaan kakaknya yang sedang bersembunyi. Jadi dia mengerti kakaknya tidak ingin orang lain tahu siapa dirinya.


"Bukan," jawab Juna akhirnya.


"Masak sih? Kayak ...," Tiba-tiba Arga mendekat ke Asha dan menarik tubuh itu untuk bersembunyi pada tubuhnya. Menempatkan Asha di depan dadanya dengan tubuh membelakangi mereka. Asha mendongak dengan raut wajah terkejut. Juna melirik cepat melihat ini. Kejadian langka dan mustahil.


"Ada perlu apa?" tanya Arga sambil tersenyum ramah ke arah teman-teman Juna.


"Oh, enggak Om. Kirain itu kakaknya dia," kata salah satu dari mereka dengan tersenyum manis gelagapan sambil menunjuk Asha. Mereka merasa tertekan dengan kemunculan lelaki tinggi dan berbadan besar. Apalagi dengan setelan jas yang membuat Arga semakin bersahaja.

__ADS_1


"Iya, Om. Soalnya seperti mirip kakaknya ni orang." Kali ini teman satunya yang membela. Mereka gentar juga karena Arga memasang tampang mengintimidasi.


"Oh...," sahut Arga pendek dan tersenyum.


"Jun, ayo!" ajak yang lain untuk masuk. Juna mengangguk.


"Sebentar, kalian masuk dulu. Aku menyusul," ujar Juna yang akhirnya ditinggal oleh teman-temannya. Mata Juna memperhatikan Asha yang masih di


Asha menghela napas.


"Kenapa bersembunyi?" tanya Arga pelan sambil menurunkan pandangan melihat wajah Asha. Juga merapikan rambut gadisnya.


"Ada tetangga kita diantara mereka. Dia takut mereka tahu kalau dia memakai pakaian seperti itu. Mereka jelas terkejut saat lihat kakakku muncul dengan tampilan ini. Tampilan yang tidak biasa," Juna memberi penjelasan tanpa di minta. Arga menolehkan kepalanya ke Juna untuk mendengarkan penjelasan lalu melihat Asha.


"Begitu?" tanya Arga memastikan. Asha mengangguk.


"Aku enggak tahu apa yang Mbak lakukan, tapi jangan buat Bapak sedih," nasehat Juna seperti dirinya sudah dewasa saja.


"Ih, siapa yang mau buat bapak sedih. Lagian aku juga tidak sedang melakukan hal-hal aneh," protes Asha sambil melepaskan tangan Arga dari tubuhnya.


"Aku mau pergi," pamit Juna.


"Ya udah. Sana!" usir Asha. Juna diam saja. "Kenapa diam saja? Katanya mau pergi?" seru Asha.


"Lama enggak ketemu, setidaknya kasih kenang-kenangan atau apa kek..." kata Juna merajuk.


"Apaan sih, Jun?" tanya Asha enggak paham. Jadi kesal dan sebal lihat Juna masih saja berdiri di sana.


"Ih, gak peka banget. Kasih aku uang saku, Mbak..." desis Juna.


"Ih," Asha mencebik sambil membuka tas yang di bawanya. Tiba-tiba Arga membuka dompetnya sndiri. "Sedang apa kamu?" tanya Asha sambil menyentuh punggung tangan Arga. Tangan Arga hendak mengambil lembaran uang dari dompetnya. "Dia adikku, jadi biar aku yang mengurusnya. Kau tidak harus memberinya sesuatu," jelas Asha. Arga menatap gadis di depannya. Tangan Asha menepuk-nepuk punggung tangan Arga pelan. "Terima kasih," ujar Asha sambil memberi tanda dengan tangannya, bahwa jangan memberi apapun pada adiknya. Lalu memberi lembaran uang pada adiknya.


"Terima kasih. Juga ... terima kasih Kak Arga," ujar Juna di luar dugaan. "Aku pergi," ujar Juna lalu berlari menyusul teman-temannya. Sebutan 'Kak' barusan terdengar sangat menyenangkan di telinga Arga, karena itu dari adik kekasihnya.


"Dia seperti kamu. Keras kepala, kaku dan dingin. Dia adalah kamu versi cowok," ujar Arga berpendapat.


"Maka dari itu, sudah tahu aku seperti itu kenapa kamu justru suka? Bukankah itu mengherankan?" Kedua alis Asha tertarik ke atas saat mengatakannya.


"Aku juga heran. Kenapa aku sangat menginginkanmu, ya?" Ujar Arga sambil mengusap rambut Asha. Lalu tersenyum.


__ADS_1


__ADS_2