Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Aku


__ADS_3



Evan tertegun. Dia tidak menduga hal ini. Saat ini dirinya sedang mendengar seorang perempuan tengah meremehkan Chelsea istrinya. Suatu hal yang sangat wajar jika Evan yang marah dan sedih, ketika istrinya di cemooh orang. Namun, entah kenapa justru perempuan itu sendiri yang terdengar sangat marah dan sedih.


Bukankah dia yang mencemooh Chelsea? Ada apa ini?


"Aku paham apa yang kau maksud. Aku paham apa yang kau rasakan. Aku mengerti. Tenanglah... Aku di sini," ucap Arga pelan dan setengah berbisik di telinga Asha.


Evan dan Rendra sama-sama tertegun. Gadis itu menangis dalam pelukan Arga. Tangan Arga memberi tanda kepada Rendra, untuk masuk dalam ruang kerjanya karena lorong mulai di padati karyawan yang usai istirahat. Sementara Arga menghela tubuh Asha -masih dalam pelukannya dan menangis- untuk masuk ruang kerjanya sendiri.


Arga segera menutup pintu dan menyandarkan punggungnya di balik pintu. Menahan tubuhnya yang tengah menjadi tumpuan untuk tubuh Asha. Memeluk dan mengusap rambut gadis ini.


"Aku mengerti. Tenanglah..." ucap Arga sekali lagi dengan pelan dan lembut di telinga Asha. Memeluknya erat dan semakin erat.


"Aku mengerti. Aku paham..." bisik Arga berulang kali untuk memberi ketenangan Asha, bahwa ada orang yang paham tentang kemarahan Asha.


Menciumi pucuk kepala Asha yang masih menangis di balik dadanya seraya menepuk pelan punggung Asha.


Mendengar Chelsea harus mendapat simpati, Asha marah. Simpati apa yang harus di berikan pada Chelsea? Kenapa wanita seperti Chelsea masih harus memerlukan simpati? Dia tidak kekurangan apapun. Dia bisa mendapatkan Arga-Arga yang lain. Asha gusar mendengar tingkah perempuan yang manja itu.


Bagaimana bisa seorang Chelsea yang tidak kekurangan dalam hal apapun, masih harus merasa kalah saat orang tua Arga menekannya? Asha menganggap Chelsea terlalu berlebihan dalam menangani hal ini.


Itu menyinggung dirinya dan keadaannya sekarang. Jika Chelsea saja kalah dan mundur, bagaimana dengan dirinya? Ketakutannya semakin membesar.


Dia yang hanya seorang pelayan di kediaman Keluarga Hendarto, terlihat sangat lancang sudah berani menjalin hubungan dengan pewaris tahta perusahaan keluarga Hendarto. Dia sedang marah pada dirinya sendiri. Marah pada egonya yang tinggi. Egonya yang semakin lama semakin ingin memiliki Arga seutuhnya.


Sejak awal dirinya sudah paham dengan benar ini keadaan yang mustahil. Bagaimana bisa dirinya memaksakan diri?


Dia sangat kesal kenapa Chelsea harus menjadi orang yang sangat payah. Di dalam kehidupannya, dia sudah punya banyak hal yang bisa di jadikan kekuatan untuknya bisa mempertahankan Arga, kenapa memilih pergi? Asha kesal mendengar itu.


Bukankah itu menunjukkan bahwa dirinya yang tidak punya apa-apa juga harus berhenti di awal? Berhenti menginginkan Arga tanpa harus melawan. Itu sangat menyakitkan.


Asha kesal kenapa Chelsea tidak bisa memanfaatkan dirinya demi kebahagiaannya sendiri. Chelsea justru lari menghindar. Asha seperti sudah mendapatkan gambaran tentang dirinya dan Arga. Kesenjangan ini mulai menghancurkan cerita dongengnya yang semakin manis. Dongeng ini sungguh mulai terasa pahit.


Disini bukankah seharusnya Asha yang patut mendapatkan simpati? Orang miskin yang mengharap cinta dan hidup dengan orang kaya. Namun siapa yang akan bersimpati dengan hal ini?


Asha kesal karena dia mengerti, tidak akan ada orang yang bersimpati padanya. Bukan simpati yang muncul jika ada yang mengetahui kisahnya, tapi cemoohan. Tingkahnya akan dianggap tidak tahu diri, karena berani mencintai lelaki dari keluarga terpandang.


"Aku tahu kau sedang membicarakan dirimu sendiri...," bisik Arga. Asha menjauhkan kepalanya dari dada Arga. Tangan Arga mengendurkan pelukannya dan hendak mengusap buliran airmata Asha, tapi Asha dengan cepat mengusap airmata yang tersisa dari matanya yang memerah dan berkaca-kaca dengan punggung tangannya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri. Ini menyebalkan," ujar Asha parau sembari berdecak kesal. Juga sesekali menggigit bibir, menahan tangis yang sepertinya akan meledak lagi.


"Tidak apa-apa."


"Aku ingin minum," ujar Asha seraya memutar kepala melihat ke arah dispenser air. Arga melepaskan pelukannya.


"Duduklah, aku akan mengambilkan untukmu,"


"Tidak perlu. Aku..."


"Duduk." sergah Arga tegas sambil menarik tangan Asha untuk menghentikannya agar berhenti melangkah. Menatap Asha dengan tajam. Bibir Asha menipis dan membuang muka. Tanpa menunggu jawaban Asha, Arga melepaskan tangan Asha dan menuju ke dispenser air yang berada di sudut.


Asha mengajak tubuhnya berjalan ke arah sofa. Lalu menghempaskan punggungnya disana.


Arga yang membawa segelas air dari belakang Asha, menemukan gadis itu memejamkan mata dan mendengkus sebal. Asha masih kesal.


"Minumlah," Arga menyodorkan gelas berisi air dan Asha meminumnya sekaligus.


"Kau sudah tenang?" tanya Arga yang sudah duduk di sebelahnya.


"Lumayan," jawab Asha masih dengan memegang gelas di atas pangkuannya.


"Kalau seperti ini, aku akan selalu cemas membiarkanmu sendiri." Tangan Arga menyentuh kepala Asha dan mengusapnya, "Pasti kamu selalu saja berpikir keras tentang hal ini."


"Aku akan membuatkan alasan untukmu, jadi kau bisa lama berada disini. Aku tidak meminta pendapatmu soal ini," ujar Arga yang melihat Asha sudah membuka mulutnya untuk membantah. Asha mengatupkan rahang untuk diam. Arga sedang mengetikkan sesuatu pada handphone-nya.


"Aku tidak perlu bertanya banyak hal padamu, kamu pasti lelah. Istirahatkan dulu otakmu, hingga isi dalam kepala ini kembali normal," tunjuk Arga gemas pada kepala Asha. "Mau menjadikan ini bantal?" tawar Arga sambil menepuk pahanya. Asha melihat ke sekeliling. "Tidak ada yang berani masuk. Rendra akan memberitaku dulu sebelum mereka memaksa masuk," Arga tahu apa yang di takutkan Asha.


Kemudian Asha mengangguk setuju. Arga melepas kancing jasnya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Arga mengambil gelas di tangan Asha, lalu meletakkannya di meja. Dengan pelan, Asha meletakkan kepalanya pada pangkuan Arga.


"Kau tidak punya pekerjaan?" tanya Asha.


"Banyak." Asha langsung bangkit dari tidurnya dan melebarkan mata terkejut. Kepalanya menoleh ke Arga.


"Kenapa menyuruhku bersantai di sini?" tanya Asha geram. Tangan Arga terulur untuk memaksa tubuh Asha kembali tidur dan berbantalkan pangkuannya.


"Jangan di pikirkan. Aku punya cara sendiri untuk menyelesaikannya. Kamu hanya perlu memikirkan dirimu sendiri saat ini," ujar Arga menenangkan. Mengusap rambut Asha yang tergerai dengan lembut.


"Bagaimana dengan Evan? Dia pasti menunggumu," tanya Asha tanpa merasa canggung menyebut nama itu.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya soal dia?" Wajah Arga mengeras mengingat tingkah Evan tadi.


"Dia rekan bisnis.."


"Dan kamu adalah kekasihku. Biarkan saja dia dulu. Tanda tangan kerjasama sudah di lakukan, kita hanya tinggal membahas hal-hal kcil. Jangan khawatir," Tangan Asha menangkap tangan Arga.


"Tangan ini berhasil memukul Evan tadi. Hebat," ujar Asha sambil menepuk punggung tangan Arga seraya tersenyum bangga. Bola mata Arga memandang Asha yang sedang tersenyum seperti kesenangan mengingat sepotong adegan dia memukul Evan.


"Kau terlihat senang aku berhasil memukul dia."


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku bisa memukulnya sendiri," kata Asha dengan menipiskan bibir dan mengangkat kedua alisnya. Arga terkekeh.


"Aku sudah pernah dengar kau menghajar seseorang, tapi aku belum pernah melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri. Aku belum bisa membayangkan, tangan kecil ini memukul seseorang," tangan Arga satunya menyentuh punggung tangan Asha.


"Kau tidak perlu tahu soal itu," ujar Asha dengan suara yang terdengar tenggelam.


"Kenapa begitu?"


"Itu bukan suatu hal yang membanggakan. Jadi kamu tidak perlu tahu." Asha mengibaskan tangannya. Wajahnya kembali tenang. Upaya Arga membuahkan hasil. "Bagaimana rasanya?" tanya Asha.


"Tentang apa?"


"Soal kau yang sudah memukul Evan."


"Hmmm.. Puas," jawab Arga dengan yakin.


"Kau puas karena sudah bisa menjernihkan masalah antara kalian bertiga?" tanya Asha sambil memainkan tangan Arga yang besar dan kuat.


"Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian masa lalu. Aku bisa memukulnya dari dulu, kalau memang mau memukulnya karena soal Chelsea. Aku memang tidak melakukannya karena merasa itu tidak perlu dilakukan. Mereka terlalu tidak penting sampai perlu aku menggunakan pukulanku untuk marah," jelas Arga panjang.


"Pada akhirnya kau memukulnya juga."


"Itu karena dirimu. Aku puas karena telah menghentikan dia terus berbicara."


"Soal aku yang seorang pelayan?" tanya Asha tanpa melihat raut wajah Arga yang mengeras. "Kau tidak perlu marah soal itu. Apa yang dia katakan itu benar. Aku hanya seorang pelayan di rumahmu. Aku tidak bermasalah soal itu. Aku tidak apa-apa," ujar Asha bermaksud bergurau. Namun yang dilihatnya kali ini adalah wajah dingin Arga. Asha menghentikan senyumnya.


"Kau pikir aku bermasalah dengan dirimu sebagai seorang pelayan dirumahku? Aku tidak akan bertindak sejauh ini kalau terganggu denganmu yang jadi pelayan, Sha." Arga menunduk dan mendekatkan wajahnya. Asha diam. "Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Aku juga bisa melakukan apa saja untukmu, paham? Aku ini mencintaimu, Sha."

__ADS_1



__ADS_2