Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Terima kasih Bunda


__ADS_3



.


.


"Apa maksud kamu, Ga?" tanya Nyonya Wardah heran dan terkejut.


"Apakah Bunda melakukan sesuatu sebelum kita melakukan pertunangan?" Arga mulai menanyakan masalah di masa itu. Tentang hal yang menyebabkan pertunangannya dengsn Chelsea gagal.


Selama ini Arga tidak pernah membahas apapun yang menyangkut hal itu. Arga nampak menguburnya sendiri dalam hati. Walaupun sepertinya dia ingin mengungkapkannya. Arga memilih diam.


Hingga pembicaraa ini mencuat lagi ke permukaan, membuat Nyonya Wardah tersentak kaget.


Nyonya Wardah membetulkan cara duduknya. Pembicaraan terdengar mulai serius. Nyonya Wardah meneguk air dari gelas di sebelahnya terlebih dahulu sebelum mulai bicara. "Benar. Hanya pembicaraan singkat," ujar Nyonya Wardah tanpa mengelak. "Kamu ingin tahu apa yang di bicarakan Bunda dengan perempuan itu?" tanya Nyonya Wardah siap menjawab dan bercerita.


"Tidak," jawab Arga tersenyum. Ini membingungkan Nyonya Wardah. Tadi Arga bertanya, sekarang saat Beliau sudah siap bercerita, kenapa justru putranya itu malah tidak berminat? "Aku tidak perlu mendengar cerita Bunda soal itu. Aku tidak apa-apa. Aku sudah tidak peduli dengan semua itu. Bunda sudah menjawab, aku lega." Nyonya masih tidak paham. "Aku yakin, apapun pembicaraan itu, Bunda melakukannya karena tidak ingin melihatku menderita atau sedih atau semacamnya. Bunda pasti melakukannya karena ingin membuatku bahagia," lanjut Arga lega. Setelah meminum air putih, Arga berdiri, kakinya memutar menuju ke arah bundanya dan mengecup pipi Bunda. "Terima kasih. Jadi ijinkan aku mengajak Asha. Aku sudah selesai makan. Terima kasih sudah membuatkan makanan," ujar Arga yang menuntaskan makan dan perbincangan panjang ini secara bersamaan.


"Ba-baiklah...," Nyonya Wardah terkejut dengan perlakuan manis putranya yang entah sejak kapan tidak lagi bersikap seperti hari ini. Bik Sumi yang sedang mencuci perabot juga terkejut. "Dia kenapa ya, Bi?"tanya Nyonya Wardah terheran-heran. "Saya jadi tidak bisa berkata-kata lainnya lagi. Ini indah, mengejutkan, juga mengherankan." Bik Inah tersenyum melihat majikannya termangu karena perlakuan manis putranya.


***


Sekitar jam 10-an Asha ikut berangkat bersama Arga menuju kantor. Asha diam saja tidak bertanya apa-apa soal rencana yang di buat Arga dan Rendra. Setelah masuk area lantai paling bawah, Arga tidak segera menuju ruangannya, melainkan berbelok pada area outlet. Dimana banyak butik dari brand-brand ternama ada di sana.


"Kau suka outlet ini?" tanya Arga.


"Emmm ... suka. Ada hubungan apa denganku?" tanya Asha heran.


"Kau akan menjaga butik ini sementara selama orangtuamu datang. Pemilik butik ini setuju menerimamu hanya beberapa jam saja. Karyawan mereka akan membantumu."


"A-aku berpura-pura bekerja di sini?"

__ADS_1


"Bukankah kau bilang ingin menunjukkan bahwa kau kerja pada Mall ini? Butik ini sangat terkenal yang memungkinkan kau bisa dapat gaji lumayan hingga sesuai dengan pendapatanmu. Jadi peran ini juga pas dengan apa yang kau ceritakan padaku." Asha mendengarkan rencana Arga dengan baik. Rendra berada disana untuk menginformasikan lagi soal Asha yang jadi karyawan mereka.


Asha harus berbohong lagi. Kenapa tidak jujur saja? Terkadang jujur itu pilihan paling sulit untuk di lakukan meskipun itu untuk hal yang baik, karena setiap manusia punya ketakutan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Satu persatu manusia akan punya rasa takut yang tidak sama pada diri mereka.


Maafkan Asha belum bisa jujur...


Seragam kerja di butik ini lebih mirip karyawan bank. Memakai jas dan rok pendek di bawah lutut. Dengan bawahan dan jas berwarna hitam dengan kombinasi garis berwarna merah.


Sesuai apa yang di bicarakan kemarin di telepon, Bapak Asha menelepon di ponsel.


Asha ijin keluar pada salah satu karyawan untuk menemui Bapaknya. "Bapak ada di mana?" tanya Asha saat menerima panggilan. Kepala Asha lihat kanan dan kiri.


"Di pintu masuk. Kamu ada di sebelah mana, Nduk?" tanya Bapak dengan suara berat seperti biasanya.


"Bapak lurus saja mengikuti jalan. Nanti aku yang menghampiri ... Ah, aku bisa lihat Bapak lewat. Bapak jalan lurus saja nanti ketemu sama Asha," ujar Asha memberi tahu. Dari butik tempat Asha berdiri dia bisa melihat Bapaknya jalan. Masih memakai seragam safari berwarna coklat kantor pemerintahan.


"Kalau orangtuamu sudah datang, hubungi aku." begitu kata Arga saat meninggalkan Asha di butik ini. Namun Asha tahu apa yang harus di lakukan. Dia tidak harus memberitahu Arga untuk hal itu. Ini kesempatan dia untuk tidak memberitahu Bapak soal Arga. Biar dia melakukan kebohongan ini sendirian saja.


"Akhirnya Bapak bisa melihat putri Bapak yang rajin," puji Bapak tulus. Asha menyalami tangan Bapak dan mencium punggung tangan beliau. "Jadi kamu kerja di sini, Nduk?"


"Iya, Pak."


"Mall ini besar ya ... Jadi seneng liatnya. Bapak seneng lihat kamu bisa kerja di tempat seperti ini," ujar Bapak bangga yang membuat Asha terenyuh. Dalam hati Asha menjerit karena telah membohongi Bapak.


Maafkan Asha, Pak ....


"Selamat siang, Pak ..." sapa Arga yang muncul tanpa di sangka. Mata Asha membeliak melihat lelaki ini muncul. Dia tidak bersama Rendra. Arga muncul di depan butik sendirian.


Bagaimana dia tahu kalau Bapak sudah datang? Kepala Asha melihat ke atas. Aku lupa, ada cctv di atas sana. Pasti Rendra sedang memata-mataiku di sana.


Rencana mengaburkan kedatangan Bapak dari Arga, gagal.


"Selamat siang. Anda siapa ya?" tanya Bapak sopan seraya melihat ke Arga yang tinggi, lalu ganti pindah ke Asha yang sedikit menunduk. Merasa ketahuan kalau dia akan menyembunyikan kedatangan Bapak.

__ADS_1


"Saya Arga. Direktur perusahaan ini. Saya Atasan putri Bapak ..." ucap Arga segera memperkenalkan diri, karena Bapak Asha bingung melihat kedatangannya.


"Oh ... Bosnya Asha, toh," ujar Bapak tersenyum seraya menunduk memberi hormat.


"Bapak tidak perlu memberi hormat pada saya. Itu tidak perlu. Saya yang harusnya memberi hormat pada Anda," tolak Arga pada sikap hormat Bapak kekasihnya. Lalu dia menundukkan kepala memberi hormat.


Asha terdiam sambil melihat tubuh Arga yang tinggi tertunduk hormat. Ada rasa haru melihat orang yang berada pada tingkat yang lebih tinggi darinya itu, menundukkan kepala demi dirinya. Asha menggigit bibir bawahnya yang mencoba menahan buliran airmata yang hendak jatuh karena terharu melihat Bapaknya yang tua di beri penghormatan oleh Arga.


"Sudah, sudah jangan hormat terus. Saya juga tidak perlu di beri penghormatan yang berlebihan." Tangan Bapak menepuk lengan Arga pelan dan hangat. Lalu Arga mengangkat kepala. "Terima kasih, Bapak ...."


"Tidak perlu memanggil saya dengan formal begitu, Pak. Anda bisa memanggil saya hanya dengan nama saja," potong Arga saat Bapak Asha memanggilnya dengan sebutan 'Bapak' dengan sopan.


"Kalau begitu saya yang ndak enak. Anda ini kan atasan anak saya ..."


"Tidak apa-apa. Saya sebenarnya masih muda, Pak ..." ujar Arga mencairkan suasana dengan sedikit gurauan. Bapak tertawa dengan sikap wibawanya.


"Begitu ya... Ehmm ... Terima kasih Nak Arga ... " kata Bapak dengan ragu. Namun karena Arga seperti setuju, Bapak meneruskan. "Terima kasih, Anak saya sudah di terima kerja di tempat ini. Saya sangat bersyukur," ucap Bapak tulus.


Mendengar Bapak menyebut Tuan Mudanya dengan sebutan 'Nak', Asha ingin tersenyum geli.


Dasar Arga, membuat Bapak mengucapkannya dengan lucu. Nak Arga? Bapak bisa aja.


"Saya juga berterima kasih sudah di beri kesempatan menerima pegawai yang rajin dan pandai seperti Asha .... Tempat ini beruntung mendapat pegawai seperti anak Bapak," puji Arga yang terdengar dalam artian lain di telinga Asha. Membuat bibir Asha menipis mendengar kalimat barusan.


"Ya sudah...  Bapak sudah bisa bertemu dengan putri Bapak. Terlebih lagi, bisa bertemu Nak Arga yang baik dan sopan, terima kasih. Lain kali, bisa menyapa Bapak kalau bertemu di jalan. Bisa nambah teman lebih baik, bukan? Yah ... meskipun temannya adalah orang tua seperti saya," Bapak mulai bisa juga mengeluarkan bercandaannya. Arga tersenyum menanggapi candaan Bapaknya Asha.


"Teman itu tidak ada namanya tua atau muda, Pak. Yang namanya teman nanti tetap bisa menolong kita, kalau kita dalam kesulitan. Lebih baik menambah teman daripada menambah musuh," ujar Arga yang terdengar bijak. Asha mendengkus pelan.


"Benar, benar. Itu gunanya teman," ujar Bapak senang sambil menepuk pelan lengan Arga berkali-kali. Asha bisa melihat rona bahagia di wajah Bapak dan Arga. Pasti Arga kegirangan saat keinginannya tercapai. Ah ... mereka berdua.



__ADS_1


__ADS_2