Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Sakit


__ADS_3


Setelah gagal ke rumah bapak, Asha dan Arga akhirnya hari ini berangkat ke rumah beliau. Karena Arga sudah kembali kerja, jadi nunggu hari minggu berangkat. Bapak waktunya libur juga. Dikampung, Asha dan suaminya di sambut bapak dengan rasa haru. Kangen mungkin sama anak sulungnya.


Bapak dan Arga berbincang di ruang tamu. Asha di dapur nungguin ibu menyiapkan makanan.


"Katanya pergi bulan madu?" tanya ibu.


"Iya. Sudah seminggu yang lalu. Kesininya baru sempat sekarang. Nunggu Arga libur, Bu."


"Bapak dan ibu itu disini selalu doain kamu yang baik-baik, jadi jangan khawatir akan banyak hal. Tenangkan pikiran. Jangan berpikiran macam-macam."


"Iya." Mungkin ibu paham mengenai masalah hamil yang tertunda ini. Beliau menangkap kegelisahan yang muncul di raut wajahnya.


"Dulu itu, ibu juga tidak langsung hamil. Kalian juga masih pengantin baru. Jadi banyak waktu buat kalian berdua. Tidak perlu cemas ada apa-apa sama tubuh kamu. Hanya belum saja."


Benarkan...


Ibu mungkin sudah mengira soal ini saat dengar kata bulan madu. Kepala Asha melihat ke depan. Ke arah ruang tamu. Bapak masih bercerita dengan menantunya. Wajah bapak senang sekali. Asha ikut bahagia.


"Juna mana, bu?"


"Adikmu itu ya main. Apalagi sekarang hari minggu."


"Ada oleh-oleh untuk Juna. Aku letakkan di atas kasurnya ya, Bu?"


"Sudah taruh disini saja. Nanti ibu yang kasih. Ayo, kamu dan suamimu makan dulu. Panggil sana." Asha mengangguk. Bergegas ke depan dan mengajak dua laki-laki yang di sayanginya untuk makan.


***



Asha sudah kembali tadi malam dari rumah bapak. Tidak menginap karena Arga harus bekerja pagi ini. Tangan Asha membuka tirai kamar agar matahari masuk dengan cepat, untuk menghangati kamar tidurnya. Suaminya masih tertidur.


Sementara dia merasa ingin segera ke kamar mandi. Tenggorokannya terasa pahit. Kalau biasanya dia sudah bergegas untuk mandi, kali ini hangatnya mentari tidak mampu menghangatkan hawa dingin yang tiba-tiba saja menyerang tubuhnya.


Bukan hanya hari ini, bahkan saat di tempat penginapan juga. Asha merasa tidak beres pada perutnya. Perutnya terasa tidak nyaman yang menimbulkan mual yang bertubi-tubi. Di tempat mereka berlibur, Asha menganggap karena tidak cocok sama menu makanannya. Jadi habis makan selalu menyisakan rasa mual.

__ADS_1


Tangan Asha menyalakan keran air panas dalam bak mandi. Dia ingin mandi dengan air hangat, karena tubuhnya menolak saat tangannya terkena air dingin kala menggosok gigi tadi. Tubuhnya menggigil hebat. Hingga perut seperti di kocok. Perasaan mabuk kendaraan menderanya. Sangat tidak nyaman pada perutnya.


Setelah menyelesaikan mandi air hangatnya, Asha segera turun. Kakinya menuju dapur dan menyapa Bik Sumi. Mengambil cangkir teh dan menyeduh teh dengan tambahan rasa lemon di dalamnya.


"Tumben pagi-pagi ngeteh, Sha?" tanya Bik Sumi heran. Dia tahu kebiasaan anak didiknya ini. Asha tidak memfavoritkan teh sebagai minuman.


"Sejak tadi pagi aku merasa tidak nyaman pada perutku. Mungkin minum teh hangat membuat perut sedikit enak." Bik Sumi mengangguk. "Bunda kemana, Bi?"


"Ada. Sedang lihat tanaman bunganya yang baru di depan."


***


Di ruang tengah, nyonya Wardah melihat putranya masih berdiri di balkon dengan piyama tidurnya. Beliau teringat akan sesuatu jadi niat banget menaiki tangga untuk mendekati putranya.


"Asha mana?" tanya nyonya Wardah melongok ke dalam kamar karena pintu kamar terbuka sedikit.


"Mungkin sudah turun. Aku lagi sendiri, Bun."


"Bunda mau tanya. Apa sekarang kamu itu sedang mengadakan kerja sama dengan mantan tunanganmu itu?" tanya Bunda tanpa basa-basi. Arga menoleh. Akhirnya soal ini sampai juga pada telinga orangtuanya.


"Ya. Itu benar." Arga menjawab lantang. Tidak ada yang perlu di sembunyikan. Dia tidak ada hubungan lagi dengan wanita itu.


"Bunda ini terlalu berprasangka buruk pada putranya. Aku dan Chelsea hanya bekerja sama. Tidak ada hal lain selain soal pekerjaan."


"Itu bagus. Jangan macam-macam Arga."


"Lagipula aku bekerja sama dengan Chelsea saat aku belum menikah. Asha tahu itu."


"Sebelum menikah? Kamu ini memang bikin gemas, Bunda." Bunda memukul lengan putranya geregetan.


"Aku tidak akan macam-macam, Bunda. Apalagi sekarang Chelsea hamil. Evan tidak akan membiarkan interaksi kita berdua ...." Arga menghentikan kalimatnya saat melihat raut wajah bunda curiga.


"Chelsea hamil? Jangan-jangan kamu merasa terburu-buru agar istrimu cepat hamil, karena cemburu mantan tunanganmu itu bisa hamil duluan dari istrimu?" tuduh bunda galak. Arga tidak menyangka bundanya mampu membuat kesimpulan begitu cepat dan tepat. Tidak seratus persen sih.


"Sudahlah Bunda. Sekarang istriku Asha. Aku tidak ada urusan dengan wanita lain manapun." Arga harus menghentikan ini. "Aku mau mandi dulu dan sarapan. Asha pasti sudah menunggu di ruang makan." Setelah mengatakan itu, Arga segera masuk kamar untuk mandi.


Paris yang sebenarnya mau membuka pintu untuk keluar, tidak jadi. Dia memilih menguping dari balik pintu. Semuanya teedengar dengan jelas. Makanya tiba-tiba saja ada bulan madu yang sebenarnya sudah terlewat.

__ADS_1


***


Di dapur Tangan Asha yang mulai terampil membantu seniornya itu. Melanjutkan masak walaupun sebenarnya sudah hampir selesai. Tiba-tiba Asha menuju bak cuci piring dengan cepat. Menyalakan keran air dan meludah di sana. Asha menyalakan keran agak lama.


"Kenapa, Sha?"


"Di tenggorokan ini rasanya banyak ludah kental. Membuat aku ingin muntah." Tunjuk Asha pada tenggorolannya. Asha kembali mendekat ke Bik Sumi. Hal tadi terulang lagi. Ini berkali-kali terjadi hingga membuat bik Sumi heran.


"Ada apa, Sha?" tanya nyonya Wardah yang muncul dari pintu belakang.


"Hanya sedikit tidak enak badan." Asha memberi jawaban. Beliau mengamati menantunya. Wajah Asha pucat. Kelihatan lagi sakit.


"Kamu terlihat pucat." Tangan nyonya Wardah terulur untuk menyentuh pipi Asha. Memeriksa kening juga.


"Iya, saya sepertinya masuk angin. Tadi pagi muntah-muntah." Kedua alis beliau terangkat. Muntah? Nyonya Wardah dan Bik Sumi saling berpandangan. Sepertinya pemikiran mereka sama.


"Sejak kapan?" tanya nyonya Wardah sangat antusias. Asha mengedip-kedipkan mata. Ibu mertuanya sangat perhatian. "Setelah pulang dari liburan?"


"Tidak. Saat sudah sampai di penginapan, Asha sering merasa perut tidak nyaman. Karena air keran sangat dingin, Asha tidak betah, Bun. Dinginnya membuat perut mual dan ingin muntah. Yah, masuk angin gitu."


"Asha, lebih baik duduk saja. Bik Sumi juga sudah hampir selesai. Sebentar lagi suamimu juga turun." Tiba-tiba nyonya Wardah membimbing menantunya untuk duduk di kursi ruang makan. Asha bingung. Namun dia menurut.


"Ada apa?" tanya Arga melihat bundanya mendekati istrinya dengan antusias.


"Dia agak sakit. Lihatlah wajahnya pucat. Sebaiknya kamu segera membawa Asha ke dokter." Nyonya wardah menunjuk menantunya.


"Benarkah?" Arga terkejut dan langsung menghampiri Asha. Nyonya Wardah yang sudah berdiri di samping Bik Sumi melongok. Tangan Arga menangkup kedua pipi istrinya setelah memeriksa keningnya. "Tubuhnya tidak panas, Bun." Arga heran.


"Benarkah? Asha nampak pucat tadi karena muntah-muntah." Arga menarik kursi dan duduk di depan Asha. Memeriksa lagi lening istrinya.


"Aku memang tidak sakit. Hanya sedikit tidak nyaman pada pencernaan. Perut sejak tadi sakit. Mungkin aku telat makan, jadi perut melilit sakit. Bahkan mual. Aku sempat muntah tadi. Mungkin masuk angin." Asha memberi penjelasan.


"Apapun itu sebaiknya di bawa ke dokter saja, Ga," desak nyonya Wardah.


"Ada apa?" tanya tuan hendarto yang muncul di ruang makan dan menyaksikan Asha sedang di periksa putranya.


"Asha pucat, Ayah. Pusing dan mual. Bunda menyarankan untuk segera membawanya ke dokter." Nyonya Wardah memberi penjelasan pada suaminya. Juga kedipan mata sebagai semacam buat suaminya. Kening tuan Hendarto mengernyit karena harus berpikir.

__ADS_1


"Oh, iya. Cepat bawa ke dokter saja, Ga. Kamu tidak perlu berangkat ke kantor." Akhirnya ayah paham dan mengatakan perintah ini. Arga menurut. Walaupun sebenarnya tubuh istrinya tidak apa-apa, tapi bunda tadi melihat wajah istrinya pucat, dia harus membawa istrinya untuk periksa.



__ADS_2