
"Aku Milan. Putri Sanjaya. Aku rasa kamu sudah tahu," jawabnya. Ternyata perempuan itu bersedia menjawab pertanyaan Asha dengan dan baik. Sanjaya? Orang yang selalu menemani ayah mertua? "Tenang saja, aku tidak sedang menguntitmu, Ga. Aku hanya lelah dalam perjalanan pulang sehabis bekerja. Walaupun tampak seperti pengangguran, aku juga bekerja. Kau juga tahu aku punya gerai makanan di mall barumu, bukan?" Milan menepis tatapan Arga kepadanya. Arga hanya melihat sebentar ke arah Milan.
"Untuk Tuan Sanjaya, aku memang sudah tahu dan pernah bertemu dengan beliau. Namun... aku belum pernah bertemu sama sekali dengan putrinya. Maaf aku tidak mengenal Anda." Asha mengubah sapaannya menjadi sedikit formal.
"Tidak perlu terlalu formal. Disini, aku termasuk orang yang berada di bawah kalian. Bukannya ayahku adalah bawahan ayahnya Arga," jelasnya sambil mengibaskan tangannya dan tertawa pelan.
"Kita teman," jelas Arga tanpa di minta. Asha dan Milan mengalihkan pandangan ke arah Arga. "Karena pekerjaan ayahnya, kita memang sudah lama kenal. Jadi bisa di anggap sebagai teman." Asha menyeruput jus sirsak di tangan kirinya sambil mendengarkan suaminya berkata.
"Mungkin kita bukan belum bertemu. Hanya saja mungkin kamu tidak terlalu memperhatikan keberadaanku." Perempuan itu melahap roti di tangannya. Milan berbicara dengan nada lebih bersahabat. Dia tidak ingin mengikuti keformalan Asha tadi. Arga hanya melirik kedua perempuan ini. "Aku datang ke acara pesta pernikahan kalian."
"Benarkah? Maaf. Aku tidak tahu. Terima kasih sudah datang ke acara pernikahan kami." Asha merasa benar-benar seperti tuan rumah yang tidak sopan.
"Tidak masalah. Itu wajar. Dengan tamu undangan sebanyak itu, tentu kamu tidak akan dengan mudah menghapal wajah satu persatu tamu undangan. Aku rasa wajar." Asha tersenyum tipis mendengar Milan memakluminya. "Sebenarnya aku yang seharusnya berterima kasih padamu," ujarnya sambil mengedipkan mata. Lalu tersenyum. Arga mendesah.
"Apakah kau sengaja datang kesini hanya untuk mengobrol dengan istriku?" tanya Arga kemudian.
"Kenapa? Kau juga ingin ngobrol denganku?" tanya perempuan bernama Milan itu sambil mengangkat dagunya. Bola mata Arga menatap malas. Asha melihat suaminya dan putri sekretaris ayah mertua itu. Milan mengangkat bahu.
"Kenapa kamu ingin berterima kasih pada ku? Aku rasa ... aku tidak pernah memberi kebaikan padamu," tanya Asha melanjutkan pernyataan perempuan ini yang penuh dengan sebuah arti tadi. Arga menoleh cepat. Tidak menduga Asha akan terus mengejar kalimat Milan.
"Mungkin tanpa sengaja kamu melakukannya. Suatu kebaikan yang hanya bisa karena itu kamu, orang yang dicintai Arga ini." Mata Milan melihat ke arah Arga sebentar.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Asha.
"Ha ...ha... kamu sangat penasaran. Entah kamu lupa atau tidak tahu. Aku yakin kamu pasti sempat mendengar."
"Kenapa memperpanjang obrolan dengannya?" tanya Arga. "Dia hanya lewat."
"Ya. Itu benar. Aku hanya lewat dan kebetulan saja menemukan kalian berdua." Milan tertawa sambil memainkan kopi dinginnya.
"Putri tuan Sanjaya juga bisa dianggap kerabat. Berbasa-basi juga perlu," bisik Asha.
__ADS_1
"Terima kasih sudah membuat Arga segera menikahimu. Karena jika tidak, aku bisa jadi orang yang akan berdiri disana. Sebuah perjodohan bisa membuat hidup kita berdua akan terkekang. Jadi kamu sangat berjasa bagiku. Kamu pahlawanku." Setelah mengatakan itu, perhatian Milan teralihkan oleh ponselnya yang berdering. Kemudian perempuan itu menerima panggilan ponsel itu. "Aku pergi. Terima kasih atas bersedianya kamu mengobrol hal tidak penting denganku, Asha." Milan tersenyum dan pergi.
......................
Setelah kepergian Milan, Arga terus saja menatap ke arah istrinya. Memperhatikan perempuan itu yang sedang menikmati makan muffin yang di pesannya. Kemudian menancapkan garpunya ke buah semangka dan melahapnya.
"Kamu enggak minta?" tanya Asha tiba-tiba. Membuat Arga tergugup dan mendesah. "Kenapa?" tanya Asha yang melihat Arga seperti mempunyai beban berat.
"Enggak. Aku hanya merasa ... tidak perlu rasanya Milan berkata soal perjodohan kita berdua sebelumnya itu sekarang."
"Oh, itu. Jadi lebih baik dia bilang soal ini dulu ... saat kalian benar-benar di jodohkan itu?"
"Bukan begitu ..." Arga jadi tidak nyaman.
"Kamu enggak berbohong. Kamu hanya tidak pernah mengatakannya. Tenang saja. Jika sekarang kamu bertanya apa aku terkejut? Iya. Aku terkejut, tapi hanya sebatas itu. Jangan khawatir. Aku mengerti."
"Terima kasih sudah mengerti."
"Ini bentuk kemarahanmu?" selidik Arga.
"Tidak mungkin. Meja ini pasti sudah terbalik sejak tadi jika aku memang benar-benar marah," ujar Asha membuat Arga tersenyum geli.
"Maaf, jika tadi dia mengagetkanmu."
"Belikan aku es krim. Aku ingin makan es krim," pinta Asha tiba-tiba.
"Siap komandan." Arga menyentil hidung istrinya pelan. Asha menggeser wajahnya. Berusaha menghindari sentilan jari suaminya. Namun, Arga menambahi lagi dengan usapan di kepala. Kali ini dia tidak menghindar. Asha membiarkan tangan suaminya mengusap kepalanya dengan sayang.
......................
Arga sudah pulang dari rumah mertuanya. Pagi ini dia berkunjung ke mall baru bersama Evan. Pekerjaan Arga memang tidak jauh dari seputar kehidupan istrinya.
__ADS_1
Di mall baru ini juga merupakan kampung halaman istrinya. Selain soal pekerjaannya sendiri, Evan juga akan mengunjungi butik Chelsea di mall baru milik keluarga Arga.
"Terima kasih ya, kado buah sekeranjang besar itu," ujar Evan memulai obrolan.
"Sepertinya terlambat mengatakannya sekarang."
"Hei... aku terlalu senang melihat kedatanganmu di acara syukuran kehamilan istriku. Jadi ucapan terima kasih sampai lupa aku ucapkan." Arga hanya mendengus mendengar jawaban Evan. "Istriku masih sempat ucapkan terima kasih bukan?" tanya Evan setengah bercanda. Arga tidak menjawab hanya melirik sebentar. Lalu melihat ke arah ponselnya. Dia sedang chat sama istrinya. "Siapa? Asha?" tanya Evan melihat teman di sampingnya senyum-senyum sendiri.
"Ya," jawab Arga singkat.
"Masih seperti biasa?"
"Apa?" tanya Arga tanpa menoleh.
"Kamu masih belum paham istrimu ngidam apa?"
"Itu enggak penting."
"Enggak penting, tapi lumayan seru."
"Terserahlah. Beda yang hamil, beda pula keinginan-keinginan yang di rasakan. Asha dan istrimu jelas dua orang berbeda. Jadi mungkin tidak sama kejadian yang di alami mereka meskipun kedua-duanya hamil."
"Ya benar. Kamu benar juga." Evan menjentikkan jarinya. Menurutnya Arga sudah menemukan jawaban atas ledekannya kali ini. Dia tidak bisa membantah lagi. Evan hanya menepuk-nepuk bahu temannya.
Rendra mendengar obrolan dua pria ini dengan damai. Telinganya mulai di biasakan dengan suasana yang tenang dan damai.
Meskipun Arga terkesan tidak peduli, tapi Rendra tahu. Sejak muncul nama Asha, tuan muda yang seringkali menjadi dingin kini mulai terasa hangat. Bahkan pada karyawannya. Juga, cerita dengan Evan dulu tidak lagi membuatnya sakit hati. Tuannya tidak lagi menganggap cerita itu sebuah kisah sedih.
Dulu, sebagai sekretaris yang acapkali mendampingi direktur muda itu, Rendra seringkali terpaksa pada situasi yang tidak mengenakkan. Dimana ada Chelsea dan Evan. Kini dia bisa bernapas lega soal itu. Tuannya sudah bisa berdamai dengan mereka.
Damainya mereka, juga merupakan kedamaian bagi Rendra.
__ADS_1