Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kedamaian sesungguhnya


__ADS_3


Keadaan kembali seperti semula. Setelah makan beberapa kali, tubuh Asha kembali pulih. Dia tidak menyempatkan sarapan mie instan tadi. Jadinya perutnya kosong tanpa terisi apapun. Apalagi dia juga kurang tidur karena di tanya ini-itu oleh petugas kepolisian yang terkait dengan keonaran di klub malam. Juga kegiatan naik turun tangga karena kejahilan Tuan Muda, membuat Asha yang sudah kurang tidur, terforsir tenaganya dengan sempurna.


Tidak ada kejadian lain yang membahayakan dirinya di dalam kamar tidur pelayan saat itu. Tuan muda hanya melontarkan kata-kata mesumnya tanpa meakukan tindakan apa-apa. Dia hanya ingin menggoda Asha pelayannya dengan bermain kata-kata yang sepertinya selalu menjurus ke arah hal yang sensual.


Asha jadi mengerti Tuan muda memang sedang bermain-main. Semua perkataan mesumnya memang tidak ada arti apa-apa. Hingga Asha tidak perlu mengkhawatirkan lagi bila lelaki itu dengan sengaja mengatakan hal-hal sensual dan sebagainya. Asha hanya perlu cuek tanpa melupakan perlindungan bagi dirinya. Karena bagaimanapun Arga adalah lelaki.


Hari ini Asha bisa lega, Tuan muda mesum itu juga sudah mulai beraktifitas. Dia sudah selesai liburannya, dia akan aktif lagi untuk bekerja.. Seperti pagi ini. Sengaja dia menelepon Asha pagi-pagi hanya untuk memberikan nasehat.


"Sebelum bekerja, makanlah," ujar Arga di pagi hari. Dan itu sangat mustahil. Dapur di pakai Bik Sumi dan Nyonya Wardah. Paling banter pelayan yang tinggal di sini makan mie dulu. Walaupun enggan, Asha terpaksa menerima panggilan telepon dari tuannya.


"Ya," jawab Asha malas.


"Hari ini aku mulai bekerja. Jadi aku tidak selalu ada di dekatmu. Jangan pingsan lagi," ujar Arga yang terdengar sungguh khawatir saat mengatakan kalimat terakhir. Asha mendengkus tanpa sadar. Menurut Asha, perlakuan Tuan Muda sangat berlebihan padanya hingga rasanya seperti kebohongan. Seperti hanya sebuah mimpi yang jika dia terbangun semua akan kembali seperti pada seharusnya. Kembali sebagai seorang pelayan dan majikan.


"Ya," jawab Asha dengan singkat lagi.


"Hari ini kau tidak ke dapur?" tanya Arga sambil mengancingkan kemejanya dan merapikan celananya hingga nampak rapi. Dia meletakkan handphone pada bibir jendela yang lebar. Lalu berbicara dalam mode loud speaker.


"Tidak."


"Keluarlah sebentar dari sarang pekerjaanmu. Aku ingin melihatmu," pinta Arga sambil melihat ke bawah mencari sosok gadis yang sering membuatnya ingin bertemu.


"Aku sibuk mencuci. Belum waktunya keluar untuk menjemur. Mungkin nanti, masih lama," tolak Asha malas. Buat apa dia perlu setor wajah ke Tuan mudanya.


"Bukankah aku sudah menolongmu saat pingsan. Kau sudah lupa?" tanya Arga seperti meminta balas budi dari kejadian kemarin. Arga tidak suka memakai video call karena jarak dia dan Asha sudah terasa dekat yang tidak memerlukan video call. Dia ingin melihat sendiri tubuh Asha dari dalam kamar tidurnya. Asha mendengkus lagi.


"Kau ingin aku membalas budimu dengan mematuhi perintah anehmu itu?" tanya Asha kadang memonyongkan mulutnya untuk Tuan Muda karena sebal.


"Ini tidak aneh. Ini tidak sulit. Lakukan saja apa yang aku suruh. Atau kau ingin aku menghampirimu?" tawar Arga yang membuat tubuh Asha yang awalnya sedang bertumpu pada mesin cuci kali ini memaksanya tegak.


"Baiklah, baik. Aku keluar." Asha memilih mengabulkan permintaan Tuan mudanya daripada manusia itu menghampirinya sendiri.


"Mbak Asha mau kemana?" tanya Rike heran.


"Keluar sebentar," jawab Asha dan melangkah keluar ruangan dan menuju area penjemuran. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Asha tanpa melihat ke arah jendela kamar Tuan Mudanya.


"Aku heran. Entah kenapa dengan tubuh kecilmu itu, saat mengangkatmu terasa sangat berat. Lenganku masih sakit sampai sekarang," Mendengar ini spontan Asha mendongak ke atas dengan geram. "Akhirnya kau mau juga melihat ke arahku," kata Arga dengan kekehan kecil di sana. Ingin rasanya Asha menjitak kepala Tuannya.

__ADS_1


"Jangan sakit, Sha. Meskipun aku bisa leluasa berbuat sesuka hatiku saat kamu lemah, tapi aku lebih tenang saat kamu sehat," ucap Arga. Untuk yang ini Asha tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun berlebihan karena yang mengatakan ini adalah seorang Tuan muda sementara dia hanya seorang pelayan dirumah ini, kalimat ini sampai juga pada hatinya. Sedikit terasa menyenangkan di sana.


"Ya. Aku juga lebih suka sehat, daripada sakit," gumam Asha pelan.


"Hari ini Paris juga mulai berangkat ke sekolah barunya. Jadi mungkin terasa sepi di rumah. Kau bisa menghubungiku jika mau," Tawaran menarik tapi tidak mungkin di lakukan. Asha tidak menjawab. "Kamu bisa kembali melakukan pekerjaanmu," Asha mengangguk tanpa sadar dan memutus sambungan telepon tanpa suara.


Arga yang bisa melihat dari balik jendelanya membiarkan Asha yang diam tidak menjawab dan memperhatikan gadis itu melangkah menghilang dari jangkauan pandangan matanya.



.


Setelah berhari-hari di rumah selalu di dampingi Paris -yang menyebalkan, tukang maksa dan sableng tapi juga baik hati- hari ini rumah jadi sangat sepi saat nona muda itu kembali beraktifitas dengan sekolah.


Asha sedang makan pagi bareng Rike di sebelahnya. Mereka makan di tempat pencucian tanpa memakai sendok. Hanya menggunakan tangan. Karena jika memakan yang ada sambal-sambal seperti ini lebih mantap langsung menyuapkan nasi memakai tangan tanpa media perantara sendok.


Rike dan Asha adalah pecinta makanan pedas. Walaupun kadang mulut terasa panas akibat cabe rawit yang di uleg dengan halus itu, mereka enggak pernah kapok makan dengan menu itu. Justru nafsu makannya bertambah.


Rike dan Asha seperti adu makan. Mereka makan tanpa bicara sama sekali. Hanya terpaku pada piring masing-masing. Namun sepertinya Asha lebih kuat menahan pedasnya sambal uleg itu. Karena Rike harus segera menyambar gelas berisi air es yang dimintanya dari Bik Sumi.


Asha terkekeh melihat Rike berkeringat dan wajahnya merah karena kepedesan.


"Mbak, Tuan Muda kemarin nungguin mbak terus lho, saat mbak Asha pingsan," jelas Rike setelah menghilangkan rasa pedas di lidah dan mulutnya.


"Oh ya?" Rike mengangguk.


"Sepertinya tuan muda itu menjadi sering terlihat di area penjemuran. Tempat ini jadi tidak aman kalau tuan muda memang sering muncul di sini. Iya kan, mbak?" Rike mengangkat dagunya meminta dukungan Asha. Kepala Asha mengangguk. Dia juga sebenarnya was-was kalau lelaki itu sering muncul di sini.


Tempat aman ini akan lenyap. Kedamaian di ruang mencuci karena jarang di sentuh majikan akan hilang. Mereka berdua akan terus saja tidak tenang. Sekarang saja dengan adanya tuan muda yang sering memantau dari jendela kamarnya yang besar, Asha sudah merasa di awasi. Apalagi kalau Tuan dan juga Nyonya Wardah bakal mengikuti jejak putranya.


"Sebenarnya Tuan muda tidak menakutkan seperti yang terlihat," ujar Asha menyimpulkan. Rike mendongak.


"Iya tah, mbak?" tanya Rike dengan mata polosnya tidak percaya. "Dulu kan dia sering diam saja. Hanya mengangguk tanpa tersenyum kalau kita sapa."


"Memangnya kamu pernah menyapa Tuan Muda?" Rike mengangguk.


"Aku belum pernah. Hanya melihat saja dan segera pergi kalau dia muncul," ungkap Asha yang baru sadar kalau dia tidak pernah menyapa Tuan Muda sebagaimana mestinya dulu. Dia hanya coba menghindari hal-hal yang mengancam pekerjaannya hilang.


Dia merasa jangan sampai berurusan dengan Tuan Muda rumah ini! Nyatanya dia malah bertemu dengan Tuan Muda di luar rumah. Di salah satu tempat paling nyaman buatnya, yaitu lapangan basket. Tuan Muda justru menemukannya di zona yang paling ingin di sembunyikan dari kehidupannya menjadi pelayan di rumah majikan.

__ADS_1


Seperti timah panas yang memaksa masuk kedalam kulit untuk merobek dan memporak-poranda kan susunan jaringan tubuh manusia, Arga tiba-tiba mendesak masuk begitu saja dalam kehidupan Asha lainnya.



Handphone Asha berdering lagi. Tubuhnya berjingkat kaget saat melihat siapa yang menelepon, Bapak! Dengan tangan kirinya Asha menerima telepon itu. Karena tangan kanannya masih kotor dengan sisa makanan. Untung saja sudah habis dan selesai meminum air.


"Iya, Bapak," jawab Asha menjauh dari Rike sambil tetap menempelkan benda itu di dekat telinganya.


"Bagaimana kabar kamu?" suara Bapak terdengar penuh perhatian seperti biasanya. Asha jadi kangen ingin pulang.


"Asha baik, pak. Bagaimana keadaan Bapak? Sehat?"


"Iya. Bapak sehat. Ibumu juga sehat."


"Juna juga sehat?" tanya Asha menanyakan adik laki-lakinya.


"Iya juna juga sehat. Benar ini anak Bapak sehat? Kok Bapak merasa kamu disana sedang sakit," duga Bapak benar. Asha terkejut.


"Ah, tidak. Mana bisa Asha sakit. Aku disini sehat-sehat selalu," kilah Asha tidak ingin memberitahu keadaanya yang sempat sakit kemarin. Kasih sayang orang tua terhadap anaknya memang tidak terbantahkan. Dalam rentangan jarak yang tidak bisa di anggap dekat, Bapak bisa merasakan kalau putrinya sedang tidak sehat. Itupun bisa dirasakan tanpa ada pemberitahuan dari siapapun.


Sesungguhnya dugaan bapak tidak keliru. Asha memang pingsan kemarin. Walaupun menurut Asha itu hanya karena kelaparan tidak bisa disebut sakit, tapi tetap saja itu di anggap sakit.


"Bagaimana kiriman dari Asha seminggu yang lalu? Sudah di pakai bangun warung ibu belum?" tanya Asha gembira.


"Bapak senang kamu sudah mulai bisa mengirimkan uang, tapi lebih baik di tabung saja buat keperluanmu nantinya. Misalkan mau mengambil kredit sepeda motor yang lebih bagus daripada motor butut bapak atau mengambil kredit rumah. Bapak masih bisa kok menyisihkan uang untuk membangun warung Ibu," kata Bapak yang membuat mata Asha mulai berkaca-kaca lalu menitikkan airmata. Padahal ini bukan kesedihan. Bapak hanya menasehati yang memang benar adanya.


"Gaji Asha itu banyak, Pak. Jadi Bapak tidak perlu khawatir," ujar Asha membesarkan hati Bapaknya. Sekarang memang uang Asha banyak Dibandingkan saat bekerja di tempat lain. Dengan punggung tangan Asha menyeka air matanya.


"Kamu masih kerja di toko itu kan?" tanya Bapak membuat Asha mengangkat alis bingung.


"I, iya Pak," jawab Asha berbohong. Maafkan Asha Bapak. Asha sudah berbohong...


"Oh... iya, ya. Kerjanya enak ya, nduk? Sepertinya kamu kali ini kerasan, gak pindah-pindah. Biasanya bekerja sebentar, lalu berhenti. Bapak khawatir itu," kata Bapak lagi-lagi membuat Asha harus menitikkan airmata terharu. Uwaaaa!! Bapakkkk!!


"Iya Pak, doakan Asha tetap kerasan disini. Biar dapat uang banyak dan bisa beli sepeda motor dan beli rumah seperti Bapak bilang," Sebenarnya dia sudah bisa mengambil kredit sepeda motor. Hanya saja dia ingin merenovasi rumah atau warung Ibu. Dia masih ingin menggunakan uang untuk orang tuanya. Dia bisa bertahan untuk dirinya dengan seadanya saja. Asha menahan diri untuk tidak memperdengarkan isakannya. Tenggorokannya jadi terasa sakit saat harus menahan tangis juga harus berbicara dengan wajar.



Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.

__ADS_1


Selamat membaca!


__ADS_2