
Kaki Asha di paksa terangkat dan bersila di atas kursi. Dia duduk di ujung sofa. Arga yang menghempaskan tubuh di sofa sambil bersandar pada istrinya dan berbisik. "Ibu marah?" tanya Arga panik sambil berbisik.
"Enggak. Hanya geregetan mungkin, melihat kita berdebat." Asha terkikik. Dia menjawab dengan bercanda. Asha melirik ke suaminya. Arga melebarkan mata tidak puas mendengar penjelasan istrinya. Bibir Arga berdecih karena cemas. "Kenapa gelisah?" tanya Asha melihat reaksi suaminya.
"Jelas saja. Ini tidak nyaman. Aku seperti sedang melakukan kesalahan," ujar Arga berbisik. Asha tersenyum lagi.
"Hanya pikiranmu saja."
Bapak yang sudah selesai mengobrol dengan pak RT di luar, berjalan masuk ke dalam rumah. Arga membetulkan duduknya yang sedikit ndelosor pada lengan istrinya. Melihat meja makan yang sudah siap dengan makanan, beliau menoleh ke sofa ruang tamu.
"Makan malam sudah siap. Ayo Arga dan Asha makan juga." Beliau mengajak menantu dan putrinya.
"Ya, Pak," jawab Arga dan Asha bersamaan. Ibu yang sedang menyiapkan makanan di meja makan, mendongak.
"Ya. Makan malam sudah siap." Ibu mengiyakan.
Mereka bangkit dari sofa dan beranjak ke meja makan. Ibu juga sudah selesai menyiapkan semua. Lalu mereka semua makan dengan Arga yang mendengarkan bapak bercerita soal pemilihan bupati yang sebentar lagi akan di gelar. Arga juga tak kalah dalam menyahuti dan memberi pendapat. Mereka berdua cocok. Bapak begitu senang menantu dan putrinya datang.
"Jun, sampai mana?" Asha menanyakan kabar adiknya lewat ponsel.
"Ini dah sampai daerah kita. Bentar lagi sampai," balas Juna lewat chat.
Asha dan ibu tidak banyak bicara. Sesungguhnya Asha tidak menyukai obrolan berat ini, tapi karena mereka makan dalam satu meja, terpaksa mendengarkan juga.
Arga sudah mempersiapkan jadwal off tidak bekerja. Dia sudah mendiskusikan dengan Rendra. Juga sudah memberitahu ayah, bahwa akan menginap di rumah mertua beberapa hari.
Makan pagi di lakukan bersama karena ada menantu tampan mereka. Itu mereka lakukan untuk menghormati menantunya.
Ayah berangkat kerja dan juna berangkat sekolah. Rumah mulai sepi. Hanya tinggal ibu yang belum berangkat ke warung. Mbak Sri sudah ada di sana.
Setelah selesai makan, Asha kembali membantu membereskan piring. Arga menoleh dengan cepat saat tahu Asha membawa piring dan lainnya yang kotor ke bak cuci piring. Dari kursi makan di mana Arga masih meneguk segelas teh hangat, dia melihat dengan jelas istrinya mengangkat perabot dan meletakkan di bak cuci.
__ADS_1
"Sini aku yang bawakan. Jangan melakukan banyak pekerjaan. Aku kan sudah bilang." Arga menyambar tumpukan piring kotor di atas tangan Asha. Bahu Asha mengedik. Membiarkan Arga membantunya. Ibu melirik. Hanya melihat sedikit lebih lama tanpa mengatakan apa-apa.
Kemudian ibu berpamitan berangkat ke warung.
"Ibu ke warung dulu. Baik-baiklah di rumah. Kalau mau keluar rumah, pintu di kunci saja. Ibu sudah bawa kunci rumah." Ibu memberi tahu. Asha dan Arga mengangguk.
"Kamu duduk saja. Biar aku yang mencuci piring dan lainnya ini." Arga memberi perintah. Dengan gerakan canggung dan kaku, Arga mencuci piring. Sesekali Asha tersenyum geli melihat lagak suaminya. Pria kaya itu mencoba masuk dunia baru. Karena sudah ada bunda dan bik Sumi, Arga memang tidak perlu mencuci piring sama sekali.
Kegiatan mencuci piring selesai sekitar dua puluh menit. Arga tampak menghela napas lega. Asha berdiri sambil terkikik.
"Capek?" tanya Asha langsung meletakkan jari-jarinya di bahu suaminya. "Ayo duduk. Aku pijat sebentar." Arga menurut.
"Hanya karena tidak terbiasa. Aku sedikit lelah." Asha terus memijat bahu itu. Arga memejamkan mata sebentar di atas kursi makan.
Siang ini dalam rangka cuti suaminya, Asha berinisiatif mengajak pria ini kepasar tradisional. Mumpung masih pagi. Masih jam tujuh.
"Ke pasar? Pasar tradisional?" ulang Arga. Asha menganggukkan kepala. Mata Arga mengerjap. Dia belum pernah sama sekali ke pasar.
Dengan bimbingan tukang parkir, Arga bisa menemukan tempat parkir bagi mobilnya. Asha keluar dari mobil terlebih dahulu. Di ikuti suaminya dari sisi mobil lainnya.
"Aku yakin kamu belum pernah datang ke pasar tradisional seperti ini," ujar Asha sambil menaikkan alisnya saat suaminya berdiri di sampingnya.
Arga tersenyum. "Sepertinya. Karena enggak mungkin aku kesini untuk beli sayuran." Ada tawa geli disana. Asha juga tertawa pelan membayangkan Arga membeli sayuran sendirian di pasar. Tangan Asha meraih lengan Arga untuk membimbingnya masuk ke dalam pasar.
Jujur, ini baru pertama kali Arga masuk dalam pasar yang sesak dan padat ini. Bau aroma pasar yang khas tercium di indera penciumannya. Bau ikan, bau sayuran mentah juga bau dari orang-orang pekerja kasar yang mengangkat sak-sak besar berisi buah kelapa, beras dan belanjaan yang membutuhkan sak besar.
Awal masuk dan menyadari aroma ini, Arga menelan salivanya sendiri sambil memicingkan mata. Mencoba menetralkan indra penciumannya yang terdesak dengan pengenalan aroma baru.
"Awal-awal mungkin seperti itu. Pasar itukan berisi bermacam orang dan bahan mentah yang di jual. Jadi aromanya campur aduk." Asha memberi pengertian.
"Ya. Ini sangat baru bagiku."
"Bagaimana kalau setiap hari libur aku ajak kamu ke pasar, ya. Biar kamu terbiasa." Kepala Asha mendongak. Ide baru dari Asha membuat bibirnya tersenyum.
Arga menoleh dan menundukkan kepala melihat ke arah istrinya. "Mungkin bagus. Aku jadi tahu bagaimana bunda repotnya ke pasar seperti ini." Asha tersenyum senang. Sepertinya Asha sedikit lebih ceria. Pulang ke kampung memang pilihan tepat. Bagaimanapun rumah sendiri adalah yang terbaik.
__ADS_1
Asha mencoba mengingat lagi list yang akan di beli untuk camilan ibu hamil adalah buah alpukat. "Kita cari buah alpukat dulu." Asha memimpin. Arga mengangguk. Di sini Asha bertemu dengan para tetangga.
"Aduh, Asha ke pasar sama suami, ya..." Seorang ibu yang menggendong anaknya menepuk lengannya pelan. Asha tersenyum. Arga mengikuti. Ibu itu tersenyum malu-malu sambil melihat Arga. Ini sedikit membuat canggung. Namun Arga mencoba tetap mendengarkan dan sopan. Tak lama akhirnya ibu-ibu itu menyelesaikan obrolan dan pergi. Arga terlepas dari pandangan kagum mereka.
"Mereka sangat menyukaimu." Asha tersenyum meledek.
"Mata mereka lebih menakutkan."
"Hahaha ... mereka kagum sama suamiku yang tampan. Jadi di mata mereka kamu itu layaknya idola yang ingin di pandang terus."
"Kamu enggak khawatir, jika ada orang yang memandangku kagum seperti itu? Apalagi itu perempuan," tanya Arga sambil menggandeng tangan Asha. Mereka berjalan lagi sambil mencari buah alpukat.
"Bukan mereka yang bikin aku khawatir, tapi kamu. Selama kamu enggak merespon setiap pandangan kagum seorang wanita, aku yakin aku tidak apa-apa." Asha mengatakannya sambil masih mencari buah alpukat. "Namun itu akan berubah jadi perang, saat kamulah yang memandangi mereka dengan mata kagum." Saat kalimat terakhir ini terucap, Asha menolehkan kepalanya menghadap Arga. Tegas.
"Enggakk ... aku mencoba untuk enggak begitu. Tidak akan." Arga melingkarkan lengannya ke bahu Asha. Mengusap kepala Asha lembut.
"Harus," sahut Asha tegas.
"Ada. Buah alpukat," tunjuk Arga semangat. Asha mengikuti arah yang di tunjuk suaminya. Mereka berhenti tepat pada pedagang buah alpukat.
"Berapa bang, sekilonya?" tanya Asha.
"Tujuh belas ribu."
"Mahal bang. Sepuluh ribu ya...," ujar Asha sambil menimang-nimang buah alpukat yang nampak bagus itu.
"Gak bisa Neng. Ini alpukat bagus. Alpukat mentega. Lihat aja buahnya bagus." Abang pedagang buah itu menunjukkan buah alpukatnya dengan bangga. Memang bagus.
Arga tidak berkata-kata. Dia hanya menyaksikan aksi tawar menawar ini. Buat dia, harga tujuh belas ribu sudah murah. Karena di freshfood supermarket harga alpukat seperti itu berkisar sekitar tiga puluhan. Namun melihat istrinya yang gigih dalam tawar menawar, Arga mencoba membiarkan.
Setelah tawar menawar usai karena sudah dapat harga yang di sepakati bersama, Asha mulai memilih buah alpukat. Harga jatuh ke harga lima belas ribu perkilo.
Asha mencoba mencari buah yang bagus dengan pengetahuan bagaimana ciri-ciri buah alpukat yang bagus.
"Kamu tahu buah alpukat yang bagus yang seperti apa?" tanya Arga penasaran.
__ADS_1