Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Inilah waktunya


__ADS_3



Asha tersenyum saat Arga mengatakan kalimat itu dengan sungguh-sungguh. Hanya anggukan kepala yang bisa Asha lakukan untuk merespon pernyataan Arga. Dia merona mendengar pernyataan ini.


"Hari minggu orangtuaku akan kerumahmu."


"Minggu? Jadi orangtuamu akan kesini dua hari lagi?" tanya Asha terkejut.


"Kenapa?"


"Secepat itu?"


"Lebih cepat lebih baik bukan? Aku tidak bisa membiarkanmu berlama-lama tanpa status resmi. Aku ingin segera menikahimu, Sha..." bisik Arga sambil mencium pelipis Asha. Mereka masih di dapur.


"Aku perlu rembug dengan keluarga lebih dulu."


"Iya paham. Ayah sama bunda nanti juga akan membicarakan itu dengan orangtuamu. Mereka kesini hanya ingin meminta kamu secara resmi." Arga mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Asha. Hanya sebentar karena tiba-tiba pintu terbuka. Mereka berdua langsung berjingkat kaget melihat pintu terbuka. Bapak muncul kembali. Rona malu langsung menyerbu wajah keduanya.


"Ponsel bapak ketinggalan," ujar Bapak kemudian berjalan menuju ke kamar beliau. Hanya sebentar, lalu keluar lagi. "Nak Arga pulangnya agak sorean ya, nunggu bapak pulang. Bapak sama Ibu ingin berbicara."


"Iya, Pak."


"Asha ndak perlu ke warung, nanti Nak Arga ikut-ikutan bekerja di warung. Kata Ibu di sini saja. Disana sudah ada mbak Sri." Pasti mereka tambah kerepotan jika Arga ikut membantu di warung. Bukan semakin beres, malah semakin ribet karena kekikukan Arga. "Sudah, bapak berangkat dulu."


"Iya Pak. Hati-hati..." Arga menunduk. Lalu keduanya saling berpandangan dan ketawa. Merasa malu sendiri karena mereka berciuman tadi. Arga menarik tangan Asha untuk duduk di sofa. "Bagaimana kalau semua pernikahan di jadikan satu dengan keluargaku?"


"Jangan, tidak enak Ga."


"Aku juga punya gaji untuk membiayai pernikahan kita, Sha," tukas Arga tidak mau di remehkan.


"Paham. Bukan itu maksudku. Aku tidak enak sama keluargaku. Mereka juga ingin melihat pernikahan putrinya di rumah mereka sendiri."


"Iya sudah... Itu terserah kamu. Aku hanya mengusulkan jalan termudah. Kalau tidak berkenan, bisa kamu abaikan. Aku tidak memaksa." Arga mengusap belakang kepala Asha lembut. "Eh, tetanggamu pada mengintip." Arga menemukan ada tetangga Asha yang sengaja melongok melihat ke arah rumah keluarga Asha karena mobil bagus milik Arga masih ada di halaman.


"Kita jalan-jalan saja yuk. Ada pantai di daerah selatan. Sangat dekat dari sini."


"Boleh. Pantai selatan yang terkenal itu ya, tapi..." Arga berdiri dan menarik tangan Asha. Mengajak Asha untuk mengikutinya.


"Ada apa?" tanya Asha penasaran. Arga menarik tangan Asha dan menempelkan punggung Asha di dinding di belakang pintu. Sambil memegangi gagang pintu Arga mendekatkan wajahnya. "Kita melanjutkan apa yang kita lakukan tadi," kata Arga menggoda. Asha tersenyum sambil menahan tubuh Arga.


"Tidak. Kita harus segera ke pantai. Bisa saja Ibu pulang atau siapa saja bakal masuk rumah." Arga mendesah kecewa. Namun Asha segera menghadiahi ciuman di pipinya. "Cukup itu dulu dariku." Arga tersenyum akhirnya.


"Baiklah. Sebentar lagi aku bisa memilikimu seutuhnya."


***


Setelah perbincangan antara Arga dengan kedua orangtua Asha, dimana tanpa melibatkan dirinya selesai, Arga pulang. Ibu terlihat memasak untuk makan malam.


"Orangtuanya Arga itu orangnya bagaimana, Sha?" tanya ibu memulai perbincangan.


"Ayah Arga jarang bicara. Beliau punya wibawa yang tidak main-main. Membuat kita otomatis tunduk dan hormat."


"Berarti dia orang yang hebat."

__ADS_1


"Ya. Tuan Hendarto orang yang hebat."


"Kalau Ibunya?"


"Nyonya Wardah orang yang ceria. Beliau selalu jadi koki meskipun ada Bik Sumi yang bertugas memasak. Nyonya Wardah sangat menyukai memasak."


"Ibunya Arga suka memasak?" tanya Ibu sangat terkejut.


"I-iya, Bu." Asha jadi gugup melihat Ibunya terkejut.


"Apa benar Ibunya Arga menerimamu?" Kali ini Asha mengerutkan keningnya. Heran dengan ibu yang tiba-tiba meragu. "Bagaimana bisa ibu Arga yang suka memasak menerimamu? Kamu kan tidak bisa memasak. Kadang ibu sendiri saja suka geregetan, karena ibu ini punya warung nasi yang artinya ibu bisa memasak tapi anak perempuannya malah pintar karate bukan pintar memasak."


"Benar, Bu. Aku itu sudah mengalami banyak hal dan akhirnya bisa di terima keluarga Arga. Ibu bisa percaya."


"Awas ya, kalau ternyata keluarga Arga tidak benar-benar menerimamu."


"Iya... Bukannya besok orangtua Arga akan datang ke sini..." gerutu Asha. Ibu menatap Asha gemas. Juna yang belum mandi lewat. Dia barusan mencuci sepeda motornya.


"Hei, kemari kamu," panggil Asha.


"Apa?"


"Aku tahu kemarin Arga memanggilmu untuk mendekat. Ayo, kembalikan uang Arga." Asha tahu Juna pasti di kasih uang saku oleh Arga.


"Apa sih. Dia sendiri yang ngasih, bukan aku yang minta. Kenapa aku harus mengembalikannya," protes Juna.


"Jangan Jun. Aku enggak enak."


"Kenapa? Karena dia orang kaya dan kita orang gak punya? Karena kita terkesan meminta-minta kalau menerima pemberian dari dia yang jadi orang kaya? Lalu, kalau dia orang biasa seperti kita, kamu akan merasa biasa-biasa saja, begitu?"


"Entah dia kaya atau enggak, kalau dia jadi nikah sama kamu, berarti dia juga harus menganggap aku adik dong."


"Itu memang benar, tapi kamu berlagak seperti itu juga karena dia ngasih kamu uang kan?" ejek Asha.


"Tidak tahu. Aku mau mandi," kata Juna lalu melangkah menuju ke kamar mandi. Asha menggeram. Ibu hanya melihat. Warung ibu tidak buka. Ayah juga libur.


***


Sesuai yang di janjikan keluarga Arga datang di rumah keluarga Asha. Saat mobil mewah milik keluarga Hendarto di depan halaman, semua tetangga yang melihat adanya isu soal lamaran Asha pada berebut ingin lihat. Apalagi setelah menyaksikan sendiri sosok calon suami Asha tempo hari.


Mereka ketagihan ingin melihat calon menantu keluarga Bapak Asha. Acara perkenalan dua keluarga ini sungguh melegakan, tapi juga menimbulkan ketegangan. Apalagi di saat mulai membahas tanggal pernikahan. Arga tidak tahu soal perhitungan jawa yang Bapak Asha bicarakan. Dia menyusul Asha ke dapur dimana dia sedang menyiapkan makanan bersama Juna dan Mbak Sri.


"Mereka sedang membicarakan tanggal pernikahan kita," ujar Arga. Asha ikut melihat ke ruang tamu. Juna yang berada di dapur juga mengikuti untuk melihat kedua orangtua.


"Kenapa kesini?"


"Aku tidak paham. Itu hanya di mengerti oleh orangtua. Aku bantu?" tawar Arga manis.


"Tidak perlu, duduk saja. Ada Juna yang membantu juga Mbak Sri." Juna menggerutu. Arga tersenyum. Tanpa permisi Juna menyingkir. Asha hendak memanggil adiknya tidak jadi.


"Biarin Juna pergi. Kasihan. Anak muda di penjara di dapur," kata Arga. Mbak Sri tersenyum.


"Berarti aku sudah boleh kembai kerumahmu lagi?" tanya Asha tanpa menoleh.


Arga berdiri dan mendekat ke Asha yang memotong buah bersama Mbak Sri.

__ADS_1


"Di sini saja dulu sampai semuanya beres," ujar Arga sambil mengusap kepala Asha. Wajah perempuan di depannya tiba-tiba murung. Mbak Sri mengambil alih memotong buah karena Asha sibuk memperhatikan Arga. Lalu menjauh dari mereka. Membuang sampah dari potongan semangka keluar. "Kenapa murung? Karena berpisah dariku?" Arga menangkup dua sisi pipi Asha. Bibir itu mendengkus merasa lucu.


"Mungkin ... aku sudah terbiasa satu atap denganmu."


"Aku pasti akan merasa sedih juga, saat kamu tidak ada di rumah keluarga Hendarto. Jangan khawatir, ini hanya sebentar. Aku akan mewujudkan keinginanmu untuk selalu tinggal satu atap, bahkan satu ranjang denganku...." bisik Arga kemudian. Asha langsung merah padam malu. Matanya lalu melihat ke ruang tamu takut para orangtua mendengar. Arga menyeringai. "Tinggallah dengan baik di sini sampai aku datang menjemputmu sendiri." Asha mengangguk.


***


Perasaan cinta Asha ke Arga semakin besar, seiring terbukanya jalan mereka untuk menyatukan hati dengan ikatan suci. Pagi pertama setelah penetapan tanggal pernikahan, Asha sudah merindu. Rasa rindu ini di sambut oleh Arga, lelaki itu meneleponnya.


"Sudah bangun?"


"Iya."


"Kok suaramu serak? Sakit?"


"Tidak."


"Ada yang jadi beban pikiranmu?"


"Iya."


"Ada apa? Ada sesuatu yang mengganjal lagi soal pernikahan kita?Bagaimana keadan Bapak, Ibu dan Juna, sehat? Mereka tidak apa-apa kan?" tanya Arga mempertanyakan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Mereka semua tidak apa-apa. Sehat. Bukan itu."


"Lalu?"


"Aku rindu kamu..." Mendengar kalimat ini dada Arga mulai turun merasa lega. Dia menghela napas panjang. Sepertinya ini pertama kalinya Asha mengucapkan kata menyenangkan itu. Lalu bibirnya tersenyum.


"Sepertinya, aku tidak bisa kosentrasi saat bekerja. Ada seseorang yang sangat merindukanku. Aku jadi ingin segera bertemu, Sha."


"Jangan. Jangan tidak fokus. Itu berbahaya. Ayahmu akan marah. Abaikan. Abaikan saja apa yang aku bilang barusan. Benar. Kamu tidak harus mendengarkanku. Aku baik-baik saja." Asha panik. Itu sangat menakutkan. Kalau Arga melakukan kesalahan saat bekerja hanya karena dia merindu, itu akan tidak menyenangkan. Tuan Hendarto akan marah besar.


Terdengar gelak tawa disana. "Iya... Aku paham. Aku juga rindu, Sha.  Aku berjuang di sini. Kita harus sabar menunggu." Sebenarnya dia yang lebih ingin bertemu. Hanya saja dia mencoba menahan diri.


***


Setelah bersabar menunggu, menanti dan memendam rindu ingin bertemu, akhirnya hari yang dinantikan tiba. Pernikahan Arga dan Asha. Waktu dimana dua insan manusia yang menjalin cinta, menyatukan dua kehidupan berbeda mereka dengan ikatan suci. Hari dimana mereka menuju ke pelaminan.


Seperti halnya pernikahan pada umumnya. Pernikahan mereka di adakan di dua tempat. Masing-masing dua keluarga punya cara tersendiri dalam melaksanakan pernikahan anak-anak mereka.


Asha mengenakan kebaya penuh payet berwarna putih. Menatap dirinya di depan cermin agak lama. Memejamkan mata sejenak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa ini bukan dongeng atau mimpi. Ini sebuah kenyataan indah yang sengaja di gariskan takdir untuknya.


Dongeng manis terwujud bukan tanpa perjuangan. Pergolakan hati juga terjadi, antara memilih maju dan menerobos dinding hal-hal yang biasa terjadi diantara dua kehidupan berbeda, atau memilih lari menjauh setelah mencoba bermain hati dengan dia.


Saat dua pengantin di pertemukan untuk pertama kalinya setelah masa pingit Asha yang lumayan lama yaitu hampir satu bulan, akhirnya mereka bertemu.


Bapak tetap pada prinsip kuno yang mengharuskan calon pengantin di pingit dulu sebelum menuju pelaminan. Sebenarnya masa pingit di lakukan juga karena sedang menunggu hari baik bagi keduanya, untuk mengesahkan jalinan cinta manis mereka. Juga sengaja meliburkan Asha dari pekerjaannya sebagai pelayan rumah keluarga Hendarto. Kalau ini tidak di lakukan, Asha akan terus saja bekerja seperti biasanya. Arga melarang dia melakukan itu.


Asha menggigit bibirnya. Meredam degup jantungnya yang berdetak hebat. Takjub, haru, dan bahagia. Menahan rasa senang membuncah karena bisa melihat wajah Arga. Disana, Arga juga merasakan hal yang sama.


Aku rindu.


Kedua mata mereka saling menatap dan mengatakan itu tanpa harus bicara dengan suara. Mereka sama-sama mengerti bahwa saat ini mereka sangat bahagia. Mereka berdua saling tersenyum. Paris, Rike dan juga Bik Sumi terabaikan. Sepertinya di mata Asha hanya ada Arga, Arga dan Arga. Begitu juga sebaliknya.

__ADS_1



__ADS_2