Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Arga vs Asha


__ADS_3


Tiba-tiba kepala tuan muda menoleh ke pinggir lapangan. Memandang serius seperti akan langsung menerkam dari jauh. Paris melihat pandangan mata itu dengan setengah bergumam pelan, "Ada apa sama pandangan mata itu?"


Arga berjalan sambil membawa bola basket ke pinggir lapangan. Datang dan menghampiri Asha.


"Berdiri!" Paris dan Asha mendongak. Melihat tatapan itu Paris sadar diri kalau itu bukan dia. Tangannya menowel pundak Asha dan menyuruhnya berdiri. Dengan banyak pertanyaan di matanya, Asha berdiri. Paris masih duduk di bawah. Membiarkan Asha berdiri sendiri dan sesekali melihat ke bawah, ke arah Paris. Seperti meminta tolong.


Tiba-tiba Arga melempar bola basket ke arah Asha yang berdiri di samping Paris. Tangannya yang cekatan mampu menangkap bola itu dengan baik. Mata Asha mengikuti bola basket yang di lempar lalu melihat ke Arga dengan mata terkejut yang kentara.


"Sebaiknya kamu ikut main," kata Arga.


Asha masih berdiri sambil menatap Arga dengan menaikkan alis. Bola basket juga masih di tangannya. Tuan Muda memang usil banget.


"Aku sudah lelah habis bekerja. Jadi maaf aku tidak mau ikutan main," kilah Asha. Sebenarnya itu hanya alasan.


"Aku yakin sore hari tadi pekerjaan sudah selesai jadi sepertinya kamu bisa bersantai di dalam kamar," tebak Arga tepat. Namun jadi menakutkan karena kenapa tuan muda bisa tahu bahwa Asha sedang berada di dalam kamarnya sore tadi.


"Kakak tahu Kak Asha ada di dalam kamarnya?" tanya Paris takjub. Matanya mengerjap.


"Memangnya kemana lagi dia saat sore tidak ada di semua tempat di dalam rumah?" jawab Arga sambil menunjuk Asha dengan dagunya. Paris menganggukkan kepala sambil berpikir. Kesimpulan yang bisa di ambil adalah... Arga sempat mencari pelayan itu ke semua penjuru rumah. Entah karena ada keperluan apa.


Mencari Asha kah?


Deni yang datang ke pinggir lapangan juga tidak luput dari sasaran mata Asha yang menatap tajam seperti ada laser yang keluar dari sana. Karena gara-gara Deni berhenti, tuan muda yang budiman yang tidak sombong tapi menyebalkan itu memaksa dirinya bisa menggantikan posisinya. Untuk menghindari tatapan laser milik Asha, Deni langsung rebahan di atas tanah. Paris yang lihat melempari Deni dengan sampah-sampah dari dedaunan yang berjatuhan. Deni langsung bangun lagi menghindari serangan itu.


"Mereka seperti mau battle nihh...," ujar Paris yang gembira lihat Arga seperti lagi menantang Asha. Mereka berdua kan sama-sama jago main basketnya.


"Bagaimana kalau taruhan? Tim mana yang menang punya wewenang penuh untuk kasih hukuman buat yang kalah!" Paris mencoba mencetuskan ide. Asha melirik nona muda lalu memutar mata dengan kesal.


Mendengar ini dua cowok di lapangan basket tersenyum senang karena ide cemerlang. Para lelaki ini setuju sama permainan ini.


Aku enggak! Aku enggak mau! jerit Asha dalam hati.


"Aku enggak mau," tolak Asha pasti. Dia tidak mau mengikuti dua majikan sableng itu. Arga noleh. Paris melirik mendengar penolakan Asha. Tumben-tumbenya Asha berani menolak

__ADS_1


"Untuk kamu tidak ada kata tidak. Harus ikut," ancam Arga. Aaarggghh!!! Paris tersenyum geli lihat Arga sangat kentara ingin mengajak Asha main basket. Semakin terkekeh saat Asha enggan ikutan main tapi di paksa. Tim terbagi dua. Arga dan Cakra. Asha dan Andre.


"Kenapa aku harus satu tim sama kamu sih?" gerutu Asha. Lagi-lagi Asha harus berpasangan sama Andre yang banyak ngomong. Andre senyum-senyum saja.


"Kamu mau ganti partner? Sama Arga saja. Ga! Asha ganti partner sama kamu!" teriak Andre memberi usul. Arga yang ada di sebelah Cakra mendongak. Lalu melihat ke Asha dengan tatapan yang menyetujui usul dari Andre. Tak pelak lagi Andre langsung dapat tepukan keras pada lengannya dari Asha. Tidak lupa Asha menggertakkan giginya agar Andre mengenyahkan ide buruknya. Andre meringis.


"Boleh kalau Asha mau," kata Arga langsung oke.


"Tidak, tidak perlu. Terima kasih," Asha menggoyangkan kesepuluh jarinya di depan dada. Menolak mentah-mentah ide itu. Andre malah mau jalan menuju ke Cakra.


"Mau kemana?" tahan Asha sambil menarik kaos Andre.


"Tukar tempat," jawab Andre polos.


"Tidak. Tetap disini." seru Asha geregetan.


"Kamu plin-plan nih," Andre sekarang yang jadi sewot. Andre gak peka banget sih.


"Sudah, sudah. Ya, ya maaf. Tutup mulut dan kita main," Asha mencoba membuat Andre berhenti ngomel sambil tangannya menepuk-nepuk punggung Andre. Layaknya seorang ibu membujuk putranya.


Permainan di mulai.


"Asha setengah hati mainnya. Gak seru," celetuk Deni. Paris noleh.


"Bukannya kakakku lebih oke?" Namanya saudara pasti memuji kakaknya kan? Deni mengangkat bahu.


"Aku baru lihat Arga main basket hari ini sih, tapi gerakan Asha kelihatan asal. Biasanya dia mampu bermain lebih baik dari ini," kata Deni menjelaskan. Paris yang enggak paham ya hanya bisa manggut-manggut merespon penjelasan Deni.


"Ya... masuk deh." Lagi-lagi Andre mengutarakan kekecewaannya. Asha cuma melihat saja tidak berkomentar. Arga memutar tubuhnya dan melihat ke Asha.


"Hanya seperti itu kemampuanmu? Aku rasa Cakra pernah bilang kamu sangat jago memainkan ini." Arga menunjuk ke arah bola basket yang di pegangnya seraya melihat ke arah Asha." Namun sepertinya itu hanya ucapan saja," Tuan muda senang sekali mencemooh pelayannya. Cakra ketawa.


Asha menipiskan bibir mendengar ejekan yang mulia Arga. Berpura-pura mengkorek kuping karena tidak mau mendengar ejekan lelaki di depannya yang terkadang angkuh, buas dan menyebalkan sambil menunduk.


"Sha, kok jadi lemot sih? Kita bisa kalah nih..." Andre sangat berisik. Asha hanya bisa mendelik saja.

__ADS_1


"Biasanya juga dia jago, Ga. Mungkin karena lawannya kamu yang jadi majikannya, dia menahan diri. Mana boleh bawahan membuat Tuannya kalah...," tebak Cakra yang seratus persen benar. Arga menengok ke arah Asha. Bola mata Asha mengerjap.


"Kamu bisa lebih serius kalau aku bukan majikanmu?" tanya Arga sambil menarik tubuhnya dan memasang wajah ingin tahu. Asha hanya diam. Bisa tidak bagus jadinya kalau suasana hati Tuan Muda buruk. Dia malas membahas permainan ini. Dia pada posisi sulit. Bagaimana bisa dia bertingkah seperti biasanya. Ini saja sudah terpaksa dia ikut main. Arga masih memandang wajah pelayannya. Dia mendekat sambil berkata,


"Kamu bisa bermain sesuka hatimu tanpa menganggapku majikanmu kalau kamu mau," Arga memberi tawaran. Asha melirik karena tertarik, "Ya... itu kalau memang masih bisa main sih," kata Arga sambil berlalu dengan ekspresi wajah menyebalkan itu.


"Kamu serius?" tanya Asha akhirnya. Arga berhenti dan noleh. Lalu gadis itu menghampiri Arga. Tiba-tiba saja tubuh itu mendekat. Bola mata Arga melebar. Dia tidak menyangka Asha berani mendekatkan tubuh ke arahnya. Karena biasanya tubuh itu melindungi diri darinya. Kemudian gadis ini berbisik dengan lirih, "Jangan salahkan aku kalau kamu kalah ya..." ujar Asha dengan mata memprovokasinya.


Dia berlalu dari Tuan muda yang masih membeku. Walau sekilas saja tubuh itu mendekat, dia yakin merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat tadi. Bibir Arga menyunggingkan senyum menyadari itu. Dia merasa semakin tertarik dengan perempuan muda yang berjalan pelan di depannya itu.


"Pastikan kamu benar-benar menang dariku," kata Arga menunjuk ke Asha seraya tersenyum. Matanya yang berbinar juga dengan nada bicara yang terlihat malah senang membuat Asha langsung buang muka. Sadar sudah membangunkan iblis yang tidur.


Payah. Kenapa aku melakukan itu?Mendekatkan tubuh pada iblis? Dasar tuan muda gila itu. Dia benar-benar memancingku, jadinya kebablasan. Semoga dia enggak berpikir macam-macam.


Asha menyesal dalam hati.


Permainan di mulai lagi. Karena di hadang Cakra, Andre passing balik ke Asha. Di depan Asha, sudah muncul Arga. Untuk kategori cewek, dia memang terlihat seimbang lawan cowok-cowok itu. Tapi... karena lawannya juga bukan abal-abal, bola yang di pegang Asha berhasil di rebut oleh Arga. Lagi. Mata Andre melebar melihat bolanya masuk ke dalam keranjang.


"Yaa...Masuk dah. Mereka dapat poin dah," teriak Andre kecewa.


"Arga kan memang jago," kata Cakra mengacungkan jempol ke Arga yang melintas menjauhi ring.


"Sha! Jangan kendorin penjagaan si Arga! Pepet terus biar gak bisa shoot!" Si Andre kasih komando dengan berteriak ke Asha yang berlari menghadang Arga. Entah kenapa ini cowok larinya di sekitar Asha terus. Masih terngiang-ngiang kata-kata tuan mudanya untuk lebih serius.


"Sha! Denger gak?!" Andre sudah gak sabar. Asha melihat Andre dengan raut wajah kesal.


"Iya, cerewet. Telingaku masih bekerja dengan baik!" jawab Asha sambil menipiskan bibir geram dengar Andre kayak pelatih. Arga yang mendengar perdebatan mereka tersenyum geli. Dia melihat sisi lain dari pelayannya itu. Arga menikmati melihat tingkah Asha di luar pekerjaannya.


Asha memang jago memainkan bola itu. Dengan ketangkasan dan kemampuannya yang terus saja di asah membuat Arga yang lama tidak main basket menjadi kewalahan juga. Karena Asha memilih lebih serius melawan tuan mudanya, kepiawaiannya nampak juga.


Andre berkali-kali mendekat untuk merayakan kemenangan sambil melingkarkan lengannya di leher Asha. Indera penglihatan Arga melihat dengan serius saat tangan itu berada pada pundak Asha. Ada rasa tidak senang saat melihatnya.


"Ca! Hentikan saja permainannya," tiba-tiba Arga menghentikan permainan secara sepihak.


"Asha masih berjuang, lho," kata Cakra mengingatkan sambil menunjuk ke Asha dan Andre.

__ADS_1


"Aku lelah. Biarkan mereka saja yang menang, aku tidak mau meneruskan permainan ini," kata Arga lalu menuju ke pinggir lapangan. Cakra termangu heran. Namun dia segera memberitahu Asha dan Andre bahwa mereka menjadi pemenang dengan tiba-tiba.



__ADS_2