
Setelah nyonya wardah dan bik Sumi menguasai dapur, sekarang Asha mencoba menguasai tempat ini sendirian. Ini bukan kudeta, melainkan Asha yang sedang ingin berkreasi dengan bahan-bahan dapur.
Pagi tadi mual muntah terjadi seperti biasa. Hanya saja tidak sehebat itu. Jadi keadaan Asha bisa di anggap baik hari ini.
"Sedang apa?" tanya Bik Sumi yang melihat Asha terlihat sibuk sendiri di dapur.
"Membuat bekal."
"Buat tuan Arga?" Asha mengangguk pasti. "Wahh... beliau pasti sangat senang."
"Ya. Aku akan makan siang disana dengannya hari ini," ujar Asha senang.
"Sudah ijin nyonya Wardah?"
"Sudah. Aku di ijinkan kesana. Nanti aku berangkat sama Angga."
"Ya sudah. Nanti hati-hati." Asha mengangguk sambil menoleh ke arah bik Sumi sambil tersenyum.
Hari ini Asha berkeinginan membawa bekal makan siang ke tempat kerja suaminya. Karena ingin membuat kejutan, Asha tidak memberitahu suaminya.
Tangannya membuka pintu lemari pendingin dan mengambil buah semangka yang di beli dari rumah ibu. Dipotong dan di wrapping layaknya di mini market. Tangannya tak luput berkali mencomot buah itu.
"Mmm..." Rasa segar memenuhi seluruh mulut area dalam. Setelah membuat bekal dan di tata secantik mungkin, Angga mengantarnya.
Sejak menjadi istri Arga, Asha memang jarang keluar tanpa suaminya. Juga jarang bersama Angga sebagai sopir. Baru kali ini mereka berdua dalam satu mobil. Angga sedikit canggung. Sejak tadi membungkuk memberi hormat berkali-kali.
"Angga, berhenti membungkuk terus. Kamu kenapa sih?"
"I, iya non. Eh, nyonya. Eh..." Angga jadi kebingungan sendiri. Asha ketawa.
"Kamu jadi orang gagu. Jangan terlalu kaku dong. Ini masih sama dalamnya. Tetap orang yang dulu. Santai saja, Ga."
"Maaf."
__ADS_1
"Sudah di bilangin enggak perlu formal."
"Saya enggak bisa."
"Ya sudah, terserah deh." Asha tertawa geli.
Angga menunggu di lahan parkir. Tidak mungkin Asha mengajak Angga karena dia akan makan bekal dengan suaminya. Hanya berdua.
Kaki Asha melangkah memasuki lantai mall dengan tenang. Kepalanya menoleh kanan dan kiri. Melihat-lihat outlet-outlet yang berjajar rapi sepanjang lorong.
Tidak banyak yang tahu jika dirinya adalah menantu pemilik mall ini. Jadi saat bertemu dengan orang-orang mall pun, Asha bisa berjalan bebas tanpa terjeda oleh sapaan mereka.
Sungguh tidak di sangka, dirinya adalah istri direktur mall ini. Senyumnya mengembang tipis menyadari posisinya ternyata sangatlah tinggi disini.
Menurut suaminya tadi, jadwal hari ini tidak ada kunjungan ke mall baru. Jadi kemungkinan siang ini Arga ada di ruangannya. Asha sudah bisa membayangkan raut wajah suaminya saat mendapati dirinya muncul di depan pintu kantor.
Ini bukan pertemuan yang sudah di rencanakan. Asha sengaja datang tanpa memberitahu suaminya terlebih dahulu. Dia ingin memberi kejutan pada suaminya.
Saat mengatakan keinginannya, bunda memberi ijin. Beliau juga mendukung menantunya memberikan kejutan bagi putranya.
Pusing tiba-tiba menyerang kepala Asha. Tubuh Asha sedikit limbung. Pergerakan tubuhnya goyah. Kakinya berhenti melangkah. Meemjamkan mata sebentar untuk menyeimbangkan tubuh.
Kaki Asha berjalan agak cepat. Mencari tempat duduk untuk meringankan pusingnya. Ada. Ada tempat duduk berbahan stainless yang di khususkan bagi pengunjung. Asha hendak duduk disana. Tiba-tiba seorang anak muda sudah tiba di sana terlebih dahulu.
Bibir Asha menggerutu pelan. Namun saat ada seorang ibu tua menghampiri anak muda itu, bibir Asha berhenti menggerutu. Rupanya anak muda itu mencari bangku kosong untuk ibu tua itu duduk, bukan untuk dirinya sendiri. Asha mendesah. Pusingnya masih terasa.
Tap! Sebuah tangan menyentuh bahunya. Menahan tubuh Asha yang terasa ringan hingga terlihat akan ambruk. Kepala Asha menoleh karena kaget. Reksa. Muncul pria ini di dekatnya.
"Aku tidak tahu kamu kenapa. Namun aku melihatmu tidak sehat dari balik dinding kaca. Tubuhmu seperti limbung akan ambruk." Tanpa di tanya Reksa menjabarkan alasan kemunculannya. Asha hanya memandangi sambil tetap menahan rasa pusing di kepalanya. "Sebaiknya aku membawamu kesana. Wajahmu pucat. Kamu butuh duduk, Sha." Tubuh Asha memang terasa agak lemas. Tangan Reksa menyambar tas yang berisikan bekal di tangan Asha.
Kini, perut Asha juga terasa bergolak. Secepatnya Asha menjulurkan tangan menutup mulut untuk menahan rasa mualnya. Reksa menemukan gelagat Asha ini.
Tangannya yang masih memegangi bahu membimbing tubuh Asha menuju ke dalam outlet makanan dimana dia tadi duduk bersama dua temannya.
Asha tidak menolak. Dia butuh tempat duduk dan juga toilet. Dua teman Reksa terkejut saat melihat Reksa masuk dengan seorang perempuan. Dagu mereka terangkat mempertanyakan siapa yang sedang di bersamanya.
__ADS_1
Reksa tidak menjawab. Dia hanya memberi kode pada dua temannya bahwa dia akan menempati tempat duduk lain. Mereka mengangguk sambil sedikit tersenyum. Rupanya Reksa ingin hanya berdua saja. Dua orang pria itu beranggapan demikian.
Saat memasuki outlet, melalui bimbingan Reksa, Asha hanya berpikir satu. Dia butuh toilet untuk muntah. Dia yakin akan muntah.
Asha sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk tidak muntah. Melihat reaksi Asha yang mual, Reksa paham. Pria ini segera membimbing Asha menuju kamar kecil. Dugaan Reksa benar. Di dalam toilet, Asha langsung memuntahkan semua isi perutnya. Hoek! Karena sudah tidak lagi menutup mulut, rasa ingin muntah semakin menggebu-gebu. Dinding perut terasa sakit. Asha merintih.
"Sha, kamu enggak apa-apa?" tanya Reksa panik dan cemas di luar pintu. Tidak ada jawaban. Karena Asha sibuk merintih. "Sha. Kamu baik-baik saja? Aku boleh masuk?" Suara Reksa terdengar sangat cemas.
"Ja..." Tangan Asha terangkat untuk menahan masuknya Reksa ke dalam toilet dengan lemah.
Reksa memaksa masuk ke dalam toilet. Karena dia yakin Asha tidak baik-baik saja. Pintu toilet yang tidak di tutup dengan sempurna membuatnya mudah membuka pintu.
Nampak Asha bersandar dengan lemas di dinding toilet bagian dalam.
"Sha!" pekik Reksa cemas. Dia langsung menghampiri dan merengkuh bahu Asha. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Reksa sambil menelisik ke wajah perempuan ini. Dengan anggukan kepala yang ringan, Asha memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. "Kamu muntah-muntah rupanya."
Dengan cekatan, Reksa memijit tengkuk Asha pelan. Menurut informasi yang di ketahui Reksa, pijitan seperti ini membantu meringankan saat muntah. Asha memejamkan mata sebentar.
"Sudah mendingan, Sha?" tanya Reksa sambil memiringkan kepala memeriksa apakah pijitannya bekerja. Kepala Asha mengangguk lagi.
Tubuh Asha melemah karena pergolakan di perutnya. Rasa tidak nyaman masih saja terasa di perut dan mulutnya. "Sebaiknya kamu segera duduk. Ayo kita duduk di luar." Asha hanya bisa mengiyakan. Dia tidak bisa membuat banyak penolakan.
...----------------...
...----------------...
Saat itu Arga tengah berjalan beriringan dengan orang-orang perusahaan Evan yang bergerak di bidang desain di selasar mall. Ada pak Tinus juga di sana. Evan kini memegang desain interior dari perusahaan pak Tinus.
Langkah kaki mereka pelan dan pasti sambil bercengkerama. Gelak tawa ringan juga terdengar dari bibir mereka. Arga hanya tersenyum simpul menanggapi.
Rendra juga berada di tengah-tengah mereka dengan berjalan di belakang tuannya. Ponselnya berdering. Nama ibu muncul disana. Ekor mata Rendra melihat kanan dan kiri. Karena pertemuan ini lebih casual, Rendra berani menerima telepon.
__ADS_1