Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Lelaki tampan di pasar


__ADS_3

Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Selamat membaca❤


.


.



Asha dan Paris jadi berangkat ke pasar pagi ini. Mereka enggak mengajak Anggi, sopir yang biasanya mengantar keluar rumah. Paris mengajak Asha untuk naik motor matic. Karena Paris belum pernah ke pasar sama sekali, urusan yang joki motor di serahkan ke Asha.


Ini pertama kali bagi Paris menginjakkan kaki di pasar tradisional. Dia hanya tengok kanan, tengok kiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku jaket. Sementara Asha walaupun tidak serajin ibunya ke pasar, tapi dia pernah beberapa kali ke pasar.


Sebagai orang kalangan bawah sungguh mustahil tidak pernah berangkat ke pasar tradisional, tapi beda kasus kalau bisa beli di warung-warung terdekat. Atau kalau enggak biasa beli pada bakul sayur yang biasa berkeliling, yang biasa orang jawa sebut mlijo. Karena Asha saat kost ya belinya di mlijo itu.


Asha melihat-lihat sayur mayur yang di jajakan di bawah dengan beralaskan plastik atau bekas sak beras. Sementara nona mudanya berdiam diri. Kedua Tangannya masih di masukkan kedalam saku dan hanya melihat Asha yang sedang menawar sayuran dengan memegangnya. Paris menyerahkan semua urusan ke pasar ini kepada Asha.


Walaupun enggak bisa memasak, bukan berarti dia tidak pernah ke pasar. Dia dan ibunya sering di ajak ke pasar dulu. Jadi setidaknya pernah tahu bagaimana berbelanja di pasar tradisional.


Handphone Paris berdering. Ada nama Arga di layar. Paris menekan tombol terima.


"Halo. Ada apa?"


"Sedang apa? Kok rame?"


"Lagi di pasar."


"Pasar? Kamu lagi kesasar?" tanya Arga bukan meledek. Karena dia tahu adiknya itu tidak akan pernah kesana. Dia berpikir adiknya memang sedang salah jalan.


"Ihh, bukan. Aku memang lagi berada di pasar," gerutu Paris.


"Sungguh aneh." Klik! Paris langsung menekan tombol menghentikan obrolan. Dan berganti ke video call. Arga menerima video call itu.


"Kenapa video call? Aku tidak butuh melihat wajahmu," kali ini Arga yang menggerutu.


"Aku mau pamer lagi ada di mana," kata Paris bangga. Arga mencoba mengamati susana di belakang Paris. Lalu Paris mengubah mode kamera depan dengan kamera belakang. Hingga Paris bisa menunjukkan suasana pasar yang ramai.


"Kamu benar-benar berada di pasar ya... Tumben," ucap Arga takjub.


"Iya. Aku lagi di kasih tugas sama bunda," jawab Paris tanpa mengubah mode kamera. Masih memakai mode kamera belakang yang membuat Paris tidak kelihatan dari sudut pandang Arga, kamera handphone Paris menyuguhkan pemandangan pasar tradisional yang padat dan memperdengarkan suara-suara pedagang dan pembeli yang bersahutan soal tawar menawar. 

__ADS_1


Kamera berputar dari arah yang berlawanan, menuju ke belakang punggung Paris. Memperlihatkan sisi lain pasar dan juga... Dia! Retina Arga menemukan perempuan yang masih setia memakai celana di bawah lutut yang nyaman sedang duduk memegang ikan sambil menunjukkan ke pedagang. Perempuan itu sedang tawar menawar juga.


"Kamu sedang bersama Asha juga?" tanya Arga sambil tersenyum


"Iya," Lalu Paris mengubah kamera menjadi kamera depan. Jadi kini Arga hanya bisa melihat wajah adiknya.


"Kenapa kamu pindah ke wajahmu?" tanya Arga kecewa.


"Kenapa?" tanya Paris menantang. Dia lagi usil.


"Sudahlah.." Arga tidak jadi bahas karena bisa panjang bahasnya.


"Asha," tegur seseorang dengan perawakan tubuh agak tambun. Lebih pantes di sebut bahenol. Namun karena dia adalah laki-laki tidak mungkin disebut bahenol bukan? Ada yang menyebut namanya, Asha menoleh.


"Siapa, Paris?" tanya Arga yang sedang sarapan menanyakan suara barusan. Dari sana dia juga bisa mendengar ada suara orang lain. Ternyata ada seorang perempuan juga yang kali ini lebih pantas di sebut bahenol. Lalu mereka berdua berpelukan. Seperti sudah lama tidak bertemu. Paris yang tadi lagi video call sama kakaknya jadi melihat ke Asha terus karena interaksi barusan.


"Aku mendengar suara laki-laki di sana," ujar Arga penasaran.


"Di pasar kan memang banyak orang, kak Argaa...," Paris menjawab dengan nada gemas.


"Memangnya di pasar semua akan memanggil nama Asha dengan mudah?" Kalimat ini ciri khas Arga dalam pendesakan. Dia jelas sedang tidak suka dengan jawaban Paris karena dia yakin mendengar suara Asha dengan jelas. Lelaki ini sangat yakin gendang telinganya dalam keadaan yang sangat baik. Jadi tidak mungkin kalau salah mendengar.


"Oh, yang manggil nama kak Asha barusan?" Paris melihat ke arah Mas Sumar pemilik tempat kost Asha dulu. Yang bantu Asha dapat pekerjaan ini, "Iya, seorang laki-laki. Orangnya tinggi, rambutnya jabrik seger, kulitnya sawo matang dan matanya tajam. Keren," ucap Paris mendeskripsikan Mas Sumar secara mendetail. Yang bahkan detail itu tidak menunjukkan itu Mas Sumar sama sekali. Karena mas Sumar itu pendek, gemuk chubby, rambutnya tipis dan matanya belo. Sangat bertolak belakang dengan visual yang di utarakan Paris.


"Siapa?" tanya Arga menyipitkan mata sambil memakan sarapannya.


"Tidak tahu. Aku hanya bisa memberitahumu itu. Aku kan gak kenal."


"Aku ingin lihat orangnya." Arga masih penasaran. Paris bingung mau menunjukkan orang yang di maksud. Karena itu hanya khayalan Paris saja. Dia tidak mungkin menemukan orang seperti itu. Dia hanya asal ngomong tadi.


"Sebentar," Kala itu seseorang melewatinya dengan pelan. Retina Paris melebar saat melihat sosok lelaki itu sesuai dengan penjelasan detail barusan. Ternyata benar-benar ada cowok seperti itu.


"Dia." Paris mengganti kamera depan menjadi kamera belakang, yang memungkinkan Arga dapat melihat lelaki yang di maksud Paris. Karena di sapa seseorang, lelaki itu menoleh ke samping. Sisi bagus untuk dilihat. Sambil memposisikan handphone tetap dalam keadaan aman, Paris berusaha menangkap gambar lelaki itu. Dia juga mencoba agar lelaki itu tidak tahu kalau sedang ikut dalam obrolan video call.


Indra penglihatan Paris menatap kagum lewat kamera handphone yang di pegangnya. Matanya berbinar. Bibirnya tersenyum kagum. Pendeskripsian yang di jelaskan dengan asal dari mulutnya benar-benar terwujud menjadi nyata.


Arga di seberang sana juga merasa terguncang melihat ketampanan dan bagusnya tubuh itu. Lelaki itu jelas memikat banyak perempuan yang melihatnya.


"Sudah. Tutup handpdone mu. Aku akan bersiap-siap berangkat kerja," kata Arga seketika. Namun Paris masih terpukau sama sosok lelaki itu hingga suara kakaknya tidak dapat di dengarnya. "Paris. Paris." Karena tidak mendapat jawaban dari adik perempuannya, Arga mengambil inisiatif untuk mematikan sambungan video call.

__ADS_1


Selera Asha lumayan juga. Dia lelaki tampan dan keren. Siapa dia?


Arga meneruskan sarapan pagi dengan pikiran melayang ke Asha dan lelaki tampan tadi.


***


Di pasar,


Karena Arga memutus sambungan video call, Paris yang sedang memandang laki-laki itu terkejut. Karena otomatis gambar lelaki itu lenyap. Paris mendengus sebal karena Arga memutus sepihak. Padahal dia sendiri yang terlena sampai-sampai tidak mendengar suara kakaknya yang memberitahu untuk memutus sambungan video call.


Saat Paris mendongak, netranya bersirobok dengan mata tajam lelaki itu. Ya, mata itu sedang memandang ke arah Paris juga. Lalu matanya tertuju ke handhpone yang di pegang Paris. Bagaimanapun gerakan tubuh gadis ini menunjukkan seperti sedang memotret seseorang, jadi laki-laki itu merasa terusik. Paris seperti gadis penguntit yang sedang mengikuti idolanya.


Dengan gerakan cepat Paris menarik handphone di tangannya itu dan segera memasukkannya ke dalam saku jaket. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Karena lihat Asha masih di situ kakinya melangkah menuju karah pelayannya itu. Sekedar menetralkan rasa canggunganya karena tertangkap basah sedang mengarahkan kamera handphone ke laki-laki yang tidak di kenalnya.


Mata laki-laki itu tidak berhenti melihat Paris begitu saja. Saat Paris pindah ke tempat Asha berdiri saja, mata itu masih mengikuti.


Asha yang sedari tadi di tinggal sendirian berbelanja, sekarang kaget saat Paris sudah ada di sebelahnya. Asha pikir nona mudanya itu hendak membantu menawar atau membawakan belanjaan. Ternyata bukan. Paris hanya diam dengan wajah paniknya.


"Tetap lihat ke sana kakak," kata Paris menunjuk sayuran di bawah. Kening Asha berkerut. Memangnya kenapa harus melihat ke sayuran terus. Asha sudah tidak punya urusan dengan sayuran atau ikan yang di jual di sebelahnya.


"Tahan dulu kak, bentar..." pinta Paris aneh.


"Kenapa sih?" tanya Asha yang menangkap gelagat aneh. Paris mencoba melirik ke belakangnya apa seseorang itu sudah tidak ada di situ. Karena tidak sepenuhnya memutar tubuh, Paris tidak bisa dengan leluasa melihat apakah laki-laki itu masih ada atau tidak.


"Laki-laki bermata tajam, rambutnya jabrik seger dan tinggi apakah masih ada di belakang kita, kak?" tanya Paris akhirnya tanpa melihat ke belakang. Asha mencoba mencari sosok yang di utarakan Paris secara fasih itu, "Dia memakai kaos merah," imbuh Paris.


"Tidak ada. Kenapa sih?" tanya Asha masih belum dapat jawaban yang pasti dari nona mudanya. Paris akhirnya berani memutar tubuhnya. Setelah di periksa lagi memang laki-laki itu sudah tidak ada.


"Aku ketangkap basah mengarahkan kameraku ke dia. Aku ketahuan. Terlalu malu harus bertatap muka," Asha menipiskan bibir.


Jadi dari tadi nona ini sibuk memandangi laki-laki sementara dia berbelanja sendiri. Hh.... nona ini memang sableng.



.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah vote, like, favorit dan kasih komentar 💚


__ADS_2