
Setelah sekian lama tidak berkomunikasi dengan Kiran, tiba-tiba malam ini Kiran menelpon dan marah-marah.
"Hei! Kamu pikir dunia ini sangat sempit, hah? Jadi kamu seenaknya saja tidak menghubungiku karena kita pasti akan bertemu suatu saat nanti? Begitu?!" racau Kiran tanpa peduli bahwa ini adalah pertama kali mereka mengobrol setelah sekian lama tidak bertemu.
"Diam, bawel! Seharusnya kamu lebih bisa baik saat pertama kali menelepon!" teriak Asha saat dia sedang berada di area mencuci.
"Aku marah tahu! Nomor kamu gak aktif!" rengek Kiran.
"Iya, maaf,"
"Besok kita keluar ya? Harus!!"
"Oke. Ee... aku harus minta ijin dulu," kata Asha ingat. Dia harus dapat ijin dari Arga. Sebenarnya bisa saja dia pergi tanpa memberitahu, tapi itu tidak mungkin. Karena Arga bisa memantau semua pergerakannya di rumah ini.
"Ibu? Bapak? Kamu bukan lagi ngekost?" tanya Kiran heran.
"Aku punya banyak cerita aneh," jawab Asha dengan penuh arti.
***
Seijin Arga, Asha bisa sampai di tempat Kiran menunggu. Awalnya Asha mengira sahabatnya itu sendirian, tapi dia bersama beberapa teman SMA dulu. Kiran tidak hanya mengundang Asha, tapi juga teman yang lain.
"Hai, Sha!" sapa Kiran sangat gembira. Asha menyambut dengan senyuman. Kiran membooking sebuah satu sudut cafe yang cukup untuk menampung teman-temannya.
Namun Asha tidak segera mendekat. Kaki Asha berhenti seketika. Dia mampu menemukan sosok tidak asing dalam beberapa orang yang berkumpul di tempat Kiran memesan. Lelaki itu masih berdiri disana bersama dengan yang lain. Berdiri tegak dan menjulang tinggi seperti biasanya. Ya, Asha yakin itu dia, Reksa.
Matanya menatap rindu dan bahagia bisa melihat lagi sosok yang begitu membahagiakan hatinya. Pada detik ini, retina Asha masih memandangnya. Tidak berpindah memandang yang lain kecuali mengarah ke arahnya. Lelaki itu sedang tersenyum menanggapi seseorang yang berbicara di depannya.
Kiran tidak paham saat Asha hanya berdiri saja, tapi saat melihat ke arah lain dia paham ada Reksa di sana.
"Sha!" teriak Cakra. Panggilan Cakra hanya membuat Asha merespon dengan bola matanya yang bergerak ke arah sahabatnya itu. Tubuhnya masih terdiam di tempatnya tadi. Mendengar nama ini di sebut Cakra, lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah tempat Asha berdiri.
Indra penglihatannya menangkap diri Asha dan membuatnya bertahan untuk tetap menghujamkan mata memandang ke arah Asha. Reksa sedang memandangnya di saat dia juga mengarahkan pandangan ke arah dia. Perlahan bibir Reksa melengkung membuat senyuman yang indah.
Asha merasa harus menarik napas mencari oksigen sebanyak-banyaknya karena rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerangnya. Suara detak jantung yang berdetak menjadi lebih keras membuat kebisingan yang mendebarkan.
Reksa melambaikan tangan untuk menyapa. Raut wajah itu samar, tidak dingin ataupun terlalu senang. Seperti Reksa yang di kenalnya dulu. Asha tidak bisa membaca apa yang sedang di pikirkan lelaki itu saat ini.
Dengan langkah yang terasa berat, Asha akhirnya bisa sampai di depan mereka.
Semua bersalaman karena memang sudah lama tidak berjumpa.
"Wahh... ada ratu basket sama raja basket, nih..." ledek mereka sambil melihat ke arah Asha dan Reksa yang entah kenapa seperti sedang berjauh-jauhan. Bukan Reksa, tapi Asha yang menjauh.
"Sha, makin indah saja nih..." ujar Pandu takjub. Asha hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Pandu itu seperti Andre, banyak ngomong.
"Benar memang, si dekil ini sekarang jadi perempuan oke," sahut yang lain.
"Hai, Sha. Kita bertemu lagi," kata Reksa yang sedikit mendekat ke Asha dengan senyuman masih menghiasi wajahnya.
"Benar. Aku tidak menyangka" kata Asha yang bisa berbicara dengan baik saat gemuruh detak jantungnya bersuara keras. Gadis ini memang selalu sanggup tampil tenang di depan Reksa.
"Aku juga tidak menyangka."
"Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Kamu selalu menanyakan kabarku." Reksa nampak senang. "Seperti yang kamu lihat di depanmu. Aku baik-baik saja." Tangan Reksa melebar mempersembahkan dirinya yang memang semakin menarik.
"Ya. Aku bisa melihatnya," jawab Asha seraya mengangguk pelan.
"Kalian ini ... Masih saja tidak bisa bersikap biasa saja. Masih saja seperti perang dingin. Memangnya sampai kapan perang dingin ini berlangsung?" tegur Kiran.
"Kenapa perang dingin? Aku dan Asha tidak pernah terjadi perang dingin," bantah Reksa sambil tersenyum.
"Jadi Asha dong yang selalu selalu jadi sedingin es." Asha paham itu sindiran dari Baim buatnya. Mata Asha menatap tajam ke arah Baim saat melintas.
"Mata itu selalu tampak tajam seperti dulu," ujar Reksa yang membuat Asha berpura-pura tidak mendengar. Dia tidak bisa melihat ke arah Reksa saat ini. Detak jantungnya berdetak hebat. Napasnya masih tidak bisa di atur dengan normal. Kiran Mendorong tubuh Reksa pelan agar segera duduk. Lalu mengajak Asha duduk bersamanya.
"Rek, sekarang Asha bisa jadi seorang wanita, lho," kata Baim sangat terkejut dengan perubahan Asha. Dia memakai make-up. Sedikit blush on di kedua tulang pipinya agar nampak segar. Kiran akan heboh kalau dia tampil asal kalau keluar dengan sahabatnya itu.
"Memangnya aku laki-laki? Yang benar saja kalau ngomong...," sungut Asha.
"Dari dulu aku sudah menganggap Asha itu wanita kok," ujar Reksa yang langsung di sorak sama yang lain.
Wanita? Aku memang wanita bukan pria.
***
Bagaimanapun acaranya, semuanya akan berakhir di lapangan basket.
"Main basket yok!" ajak Denis. Yang lain langsung berdiri. Kiran yang sejak tadi menempel pada Rezky melepaskan pelukannya. Ternyata Kiran jadian sama Rezky. Mereka semua langsung terjun ke tengah lapangan menerima ajakan Denis.
"Tidak ikut main, Sha?" tanya Reksa.
"Enggak. Kamu sendiri?"
"Kalau kamu ikut main, aku juga ikut. Kalau tidak, aku harus duduk di sini menemanimu," ujar Reksa sambil tersenyum. Lengkungan senyum itu masih sama, masih menarik dan indah. Asha mendengkus sendiri.dengan pemikirannya. Kenapa semuanya masih terasa sama. Masih seperti dahulu. Dia tetap bersikap seperti itu.
"Ayo ikut main," ajak Asha tiba-tiba. Reksa terkejut melihat perubahan mood Asha yang tiba-tiba.
"Benarkah? Kamu lagi bersemangat untuk main basket?" tanya Reksa merasa tertarik. Asha mengangguk. Dia tidak bisa terus saja di dekati oleh Reksa seperti ini. Dadanya tidak bisa tenang. Degup jantungnya berdebar tidak karuan.
Dia tidak bisa untuk jatuh cinta lagi dan lagi. Ini membahayakan. Asha harus bisa melakukan segala cara untuk bisa lepas dari rasa cintanya kepada Reksa. Harus. Jika itu terjadi akan ada hati yang terluka tapi... tidak ada juga jaminan bahwa dirinya akan bahagia bersama Arga.
"Ran, minta ikat rambutmu!" pinta Asha ke Kiran yang tengah berduaan dengan Rezky.
Kiran membuka ikat rambutnya dan melempar ke Asha. Mata Asha mengikuti arah ikat rambut itu. Karena terlalu jauh, Reksa yang bisa menangkapnya.
"Mau aku yang mengikatkan rambutmu?" tawar Reksa bersungguh-sungguh. Ini membuat Asha menghela napas berat. Kalau Reksa hanya bercanda, mungkin itu lebih baik.
"Tidak, terima kasih."
"Hei! Cepatt!" teriak mereka yang sudah ada di lapangan.
"Tunggu, kenapa sih?!" ujar Asha hendak melangkah menuju mereka.
"Sebentar! Tunggu, Sha!" teriak Reksa menghentikan tubuh Asha, karena tangannya meraih lengan Asha.
"Kenapa?" tanya Asha heran juga berusaha mengelak. Tiba-tiba tubuh Reksa merunduk dan jongkok.
"Diam. Tali sepatumu lepas. Kamu ini ceroboh banget. Nanti pas lari pakai sepatu begini, bisa berbahaya," ujar Reksa membetulkan tali sepatu Asha.
Mata Asha membeliak.
"Mereka itu jadian, ya?" tanya Baim.
__ADS_1
"Iya kali. Lama tidak pernah bertemu mereka jadi naksir mungkin," imbuh Rezky.
Jangan. Asha tidak bisa lagi menjalin hubungan lain. Dia punya Arga, kata Cakra cemas.
Mereka berempat main basket di lapangan. Asha kesini sebenarnya bukan untuk main basket, melainkan ingin berkumpul bersama teman SMA.
***
Pesta basket buyar. Asha keliru laki-laki ini tidak sama seperti dulu.
"Pulangnya aku antar, Sha!" kata Cakra yang masih ngobrol bareng Rezky dan Kiran. Dia tahu sahabatnya itu naik taksi online.
"Oke," jawab Asha.
"Sha, lupa. Aku kan ikut Baim," ujar Cakra yang tidak bermaksud menipunya. Bibir Asha menipis geram.
"Gak pa-pa. Aku naik taksi online aja seperti berangkat tadi." Cakra meringis tidak enak.
"Bisa aku anterin. Aku pulang sendiri," tawar Reksa. Mendengar ini Cakra menoleh, mencoba memperhatikan Asha yang juga sedang menoleh ke arah Reksa.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolak Asha.
Cakra cemas. Dia yang sedang ikut Baim tidak mungkin memaksa itu anak menunggu Asha pulang. Jadi dia pulang terlebih dahulu sebelum Asha pulang. Rezky harus segera mengantar Kiran pulang, karena rumahnya lumayan jauh dari tempat mereka main basket.
Setelah semua pulang tinggal Asha dan Reksa yang berdiri di pinggir jalan besar. Ternyata Asha tetap tidak mau di antar oleh Reksa.
"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini. Aku bisa menemanimu menunggu taksi online datang," ujar Reksa akhirnya.
"Baiklah ..." ujar Asha memperbolehkan lelaki itu menungguinya. Udara sangat dingin malam ini. Asha melebarkan mata karena menahan rasa dingin yang di sebabkan angin malam.
"Aku bisa menemuimu setelah reuni ini?" tanya Reksa yang tiba-tiba menatapnya lama dan lekat.
"Ah, iya. Bisa," jawab Asha yang jadi seperti tersihir dan lupa kalau dia tidak boleh membuat celah untuk seorang pria lagi. "Oh, mungkin tidak bisa, karena aku tidak akan memberikan nomor kontakku," tolak Asha.
"Tidak perlu. Aku sudah punya nomormu."
"Tidak mungkin..." kalimat Asha berhenti. Pikirannya teringat ke arah panggilan tidak terjawab beberapa hari yang lalu.
"Aku masih menyimpan nomormu, Sha."
Benar! Itu nomor dia!
"Nomorku sengaja di hapus ya, Sha?" tanya Reksa.
"Bukan. Semua nomor hilang karena aku ganti handphone."
"Tapi Cakra masih bisa menghubungimu." Asha merasa telinganya salah dengar. Dia menangkap nada iri atau yang lain? Asha mengernyitkan dahi. Lalu berusaha menepisnya.
"Karena aku sering bertemu dia saat sudah lulus," jawab Asha masih datar.
Tiba-tiba Reksa membuka jaket kulitnya yang besar dan memberikan pada tubuh Asha yang menggigil karena dingin. Asha terkejut dan menoleh cepat ke arah Reksa.
"Ini apa?"
"Udara sangat dingin. Aku tidak mungkin membiarkan tubuhmu kedinginan karena hanya memakai kaos saja," ujar Reksa yang terlihat lebih hati-hati saat sedang berdua saja, tapi lebih berani menunjukkan perhatian. "Aku ingin menyudahi sikap dinginmu dengan selalu memberikan perhatian yang hangat padamu..."
Mata Asha masih menatap Reksa yang saat ini juga sedang menatapnya. Dia tidak menduga saat dirinya sudah mencoba menyingkirkan semua perasaannya yang dulu ada, Reksa justru memberikan perhatiannya.
Mereka tidak tahu ada sepasang mata sedang menyaksikan mereka berdua.
__ADS_1