Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Rindu rumah


__ADS_3


Perjalanan ke tempat ini memang adalah langkah yang baik dan tepat. Sepanjang hari Asha selalu berseri-seri. Siapa saja memang butuh penghilang penat, walaupun bukan harus dengan liburan seperti ini. Berhubung Arga mampu, bukan hal mustahil baginya untuk mewujudkannya.


Sudah empat hari mereka berdua berada disini. Tiada hentinya Asha terus saja merasa takjub dengan liburan yang membawa misi bulan madu ini. Semuanya tampak mewah dan istimewa baginya.


Semua pemandangan laut yang indah membuat hatinya gembira.


Tidak lupa dengan tujuan awal berlibur adalah bulan madu. Sebagaimana yang telah di usulkan dokter Murad bahwa, berhubungan badan suami istri pada pagi hari adalah resep baik untuk mendapatkan buah hati. Arga tentu saja menerapkannya. Resep dari dokter menang baik adanya.


Arga berusaha melakukan penyatuan di pagi hari, setelah tubuh mereka berdua sudah segar berendam dalam air hangat di jacuzzi tadi. Asha tidak menolak. Apalagi disini mereka hanya berdua. Tidak akan ada yang mengganggu mereka. Arga menuntaskan hasratnya hingga pada titik tubuhnya sangat lelah dan tidak mampu lagi. Semua hasrat tuntas.


Bibirnya mengecup kening istrinya yang terbaring di sampingnya. Kelelahan membuat mereka tidak bisa beranjak bangun. Keduanya masih berbaring di atas ranjang dengan berselimut tebal warna putih milik tempat ini.


Punggung Asha berkeringat. Arga menaikkan selimut yang melorot dan menampakkan punggung telanjang itu.


"Mau tidur lagi?" tanya Arga. Kepala Asha mengangguk. "Tidak jadi jalan-jalan?"


"Biarkan aku mengistirahatkan mataku sebentar. Lalu kita akan keluar," jawab Asha tanpa membuka matanya.



Layanan kamar datang membawakan sarapan pagi tadi, Arga menggoyangkan tubuh istrinya pelan. Perut Asha pasti lapar, setelah bangun tidur dan membersihkan diri, dia meminta di layani istrinya di atas ranjang padahal perut masih kosong.


Yah, mereka sempat mengisi perut dengan sandwich keju dan susu tadi. Namun itu akan cepat terkuras habis saat Arga meminta menuntaskan hasratnya di atas ranjang tadi.


"Ayo kita sarapan. Perutmu pasti keroncongan," pinta Arga lembut. Tubuh Asha menggeliat dan membuka mata. "Sarapan pagi sudah datang." Tangan Asha mengucek matanya yang berkabut. Lalu beranjak duduk dari berbaringnya. Selimut itu melorot dan memperlihatkan tubuh telanjangnya.


Arga mendekat dan mulai membungkus tubuh istrinya dengan selimut yang ada di kakinya. Bola mata Asha hanya bisa melihat ke bawah saat memperhatikan suaminya membungkus dirinya. Dia lupa bahwa tubuhnya masih telanjang.


"Dasar, istriku ini...." Arga mengecup dahi istrinya. "Duduk di sini biar aku bawakan nampan makanan ke atas tempat tidur."


"Terima kasih," kata Asha yag masih menguap. Arga menuju meja dan membawa nampan berisi makanan ke arah ranjang. Meletakkannya tepat di depan Asha.


"Makan dulu. Lalu setelah itu kita bisa lanjut jalan-jalan." Asha mengangguk sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Aku suka disini, tapi aku sudah rindu orang rumah. Bunda juga Paris," kata Asha tiba-tiba. Arga menatap Asha dengan sedikit terkejut. Ada pemikiran baru dalam benak istrinya. Itu membuat bibirnya melengkung indah. Istrinya mulai merasa rindu keluarga barunya. Itu menggembirakan baginya.


"Apa kau sudah ingin pulang?" tanya Arga sambil menemani istrinya makan. Kepala Asha mengangguk. "Baiklah, besok kita bisa pulang. Sekarang beli oleh-oleh dulu untuk keluarga di rumah dan kampung." Asha mengangguk. "Aku pikir kamu akan terus tinggal di sini...," selidik Arga dengan setengah menggoda.


"Disini memang menyenangkan, tapi bagaimanapun sepertinya lebih enak kalau beramai-ramai bareng keluarga. Lebih seru," ujar Asha sambil memainkan sendoknya di udara.


Berdua seperti ini terasa istimewa bagi Asha. Namun, ternyata keberadaan keluarga juga lebih menghidupkan suasana. Tak di pungkiri Asha, dia jadi rindu rumah keluarga Hendarto yang sudah lama di tinggalinya.

__ADS_1


Paris yang selalu curhat soal cowok. Rike, rekan kerja yang polos. Bik Sumi yang sempat jadi walinya. Mertua, yang ternyata berhati malaikat dan enjoy aja dengan keberadaan dirinya sebagai menantu. Semuanya membuatnya rindu.


Mungkin dia lebih rindu daripada di rumah orangtuanya sendiri. Karena memang jarang pulang. Setelah dewasa ini kakinya justru lebih sering melangkah di atas lantai rumah keluarga Hendarto daripada rumahnya sendiri.


"Aku juga ingin mampir dulu ke ibu dan bapak. Kangen mereka juga. Bapak pasti senang dengar cerita kamu sudah membawaku datang ke tempat indah ini." Asha bisa membayangkan raut wajah bahagia bapak. Pasti bola mata beliau berkaca-kaca. Tak terasa matanya buram karena ada genangan airmata yang menggenang.


"Kenapa berwajah sedih?" Arga memeluk tubuh istrinya.


"Ingat bapak."


"Kita pulang langsung ke rumah bapak, besok," janji Arga pada istrinya. Asha mengusap matanya untuk menghilangkan airmata.


"Juna juga pasti ingin dapat oleh-oleh dariku." Asha ingat dengan adik laki-lakinya. Setelah Asha menelepon Juna untuk memberi kabar bahwa dia akan berangkat berlibur, bocah itu meminta di belikan kaos iconic yang di jual khusus di daerah sana. Kaos dengan banyak tulisan unik dan aneh yang menghiasi bagian depan dan belakangnya.


"Waahhh ... istriku jadi kangen semua orang, tapi sama suami sendiri biasa aja," goda Arga lagi. Asha menjauhkan tubuhnya dari suaminya.


"Gimana mau kangen kalau sama suami, kan tiap hari juga ketemu. Enggak tahu lagi kalau sudah kembali dari sini. Kamu kan kerja terus." Wajah Asha jadi sedikit muram.


"Kamu bisa telepon aku atau video call. Jadi kita bisa bertatap muka seharian."


"Aku enggak mau jadi istri manja. Aku memang kangen saat kamu kerja, tapi tidak mungkin aku mengganggu waktu bekerjamu yang berharga kan..."


"Kamu memang istri yang mandiri." Arga mengelus kepala istrinya.


Namun rencana pulang besok di majukan, karena Asha sudah merasa sudah lama berada disini. Kangen masakan rumahan juga.


***



Nyonya Wardah menyambut kedatangan dua pasangan muda ini di ruang tamu. Deru mobil yang dipakai Rendra untuk menjemput tuannya memasuki halaman depan. Dari balik jendela, beliau tahu itu pasti Arga dan istrinya.


Kaki nyonya Wardah melangkah keluar dan berdiri di depan pintu. Paris dari lantai atas langsung turun ikut menyambut kakaknya. Bibir Asha tersenyum ceria saat melihat dua orang perempuan penting di rumah ini menyambutnya.


"Aku pulang," kata Asha saat sudah keluar dari mobil. Paris menghambur ke arah kakak iparnya. Memeluk lengan Asha dengan gemas.


"Ih, kelamaan tahu bulan madunya. Di rumah enggak ada tempat buat cerita. Curhat. Aku kebingungan dengan banyak cerita." Paris langsung melampiaskan uneg-uneg pada benaknya.


"Telepon kan bisa."


"Mana boleh. Bunda melarang aku nelponin kak Asha. Ganggu katanya. Karena ini progam hamil ya?" Kali ini suara Paris pelan. Bibir Asha tersenyum. Karena tiba-tiba saja wajah adik iparnya terlihat sedih.


"Kenapa pasang wajah seperti itu, hei?" tanya Asha sambil berjalan mendekat ke arah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali." Bunda menepuk bahu menantunya. Asha tersenyum. Tangan Paris masih bergelayut pada lengannya. Arga yang ditinggal dengan oleh-oleh dari liburan jadi menipiskan bibir.


"Saya bawa masuk ke dalam, Tuan," ujar Rendra segera tanggap.


"Iya. Terima kasih." Rendra membawa tas oleh-oleh itu masuk kedalam rumah. Arga mengikutinya.


"Paris, kak Asha itu capek jangan di gelendotin terus," ujar bunda mengingatkan.


"Iyaa...." Paris hanya menjawab tapi tidak melepaskan pegangannya. Nyonya Wardah menghela napas.


"Kenapa tiba-tiba kak Arga pengen punya bayi?" bisik Paris.


"Kan dia sudah menikah. Wajarlah..." Asha memberi alasan.


"Karena seseorang?" selidik Paris. Sepertinya dia sempat mendengar sesuatu. Apakah Paris mendengar soal Chelsea yang hamil?


"Ya. Karena aku. Karena sekarang ada aku yang jadi istrinya, dia jadi ngebet pengen punya bayi." Asha tersenyum. Paris memperhatikan.


"Bukan karena kak Asha masih ingin main basket terus dengan teman-teman?"


"Hei... Bukaaann. Kamu ini ngaco, deh. Basket kan bisa tetap bisa di lakukan walaupun sudah menikah. Asal mainnya juga dengan ijin suami." Asha lega.


"Gitu ya." Paris mencebik merasa salah tebakan. Asha sudah berpikir soal Chelsea. Ini anak apa masih gemas sama mantan tunangan kakaknya, ya? Langkah mereka sampai di ruang makan.


"Rendra, ayo kita makan malam dulu. Sekalian barengan sama semua." Nyonya Wardah melayangkan undangan makan malam untuk Rendra.


"Maaf, saya ...."


"Iya saja. Jangan menolak," ucap tuan Hendarto yang tidak bisa lagi di tolak oleh Rendra. Kepala sekretaris ini langsung mengangguk setuju. Ternyata nyonya Wardah sengaja menunggu kedatangan Arga dan Asha untuk bisa makan malam bersama.


Enam jam perjalanan pulang dari waktu keberangkatan di tempat liburan ke rumah ini, sudah di perkirakan nyonya Wardah. Jadi beliau mempersiapkan semua makanan dengan sedikit berlebihan.


Maka tidak salah jika beliau juga mengajak Rendra makan malam disini.


"Seperti akan ada hal spesial. Masakannya lebih terlihat banyak menunya," celetuk Arga yang melihat sajian kali ini terlihat berbeda.


Sebenarnya nyonya Wardah dapat telepon dari putranya bahwa dia dan Asha akan pulang hari ini. Di karenakan istrinya sudah rindu rumah dan juga masakan bundanya. Itu termasuk kebahagiaan sendiri bagi nyonya Wardah.


Setelah kecanggungan antara beliau dan menantu perempuannya berakhir, hubungan mereka terlihat semakin dekat. Beliau berharap itu akan membangun suatu hubungan antara menantu dan mertua yang harmonis. Mungkin itu akan menambah suasana kejiwaan Asha menjadi damai. Hingga tidak menimbulkan hal tidak baik seperti pada umumnya.


Saat menantu perempuan tinggal dalam satu rumah dengan mertua, tidak sedikit menantu perempuan itu mengeluh bahwa sangat tertekan dengan mertuanya. Terutama mertua perempuan.


Sengaja atau tidak sengaja, keberadaan mertua perempuan yang terlihat tidak enjoy akan menekan menantu perempuannya. Maka dari itu nyonya Wardah berusaha bersikap tenang dan santai. Juga menunjukkan bahwa dia bersikap welcome dengan menantunya, walaupun dia adalah orang biasa.

__ADS_1



__ADS_2