
Sejak kejadian di mall itu, Asha mengurangi makan buah favoritnya, semangka. Asha terkena anemia. Jadi semua hal yang memicu anemia di kurangi. Pekerjaan Asha di rumah juga di batasi. Kali ini dia menurut.
Beberapa bulan sudah berlalu. Kini perut Asha mulai terlihat. Janin di dalam kandungan berumur sekitar enam bulanan. Sore hari sepulang kantor, Arga langsung mengajak istrinya untuk melihat kelahiran anaknya Evan. Ternyata Chelsea sudah melahirkan.
Arga dan Asha menuju kamar pasien ibu bersalin. Disana, Evan tengah memeluk bayinya dengan sayang. Sementara Chelsea tersenyum puas melihat bayinya sehat.
"Kami datang," ujar Asha di pintu.
"Kalian datang secepat ini ternyata." Evan menoleh ke belakang. Chelsea menyambut baik kedatangan mereka dengan senyuman. Wajah lelah saat melahirkan tadi masih tersisa, tapi sepertinya mulai terkikis karena rasa bahagia yang luar biasa. "Lihatlah Ga. Bidadari cantikku." Evan menunjukkan bayi berkulit kemerahan itu pada temannya.
"Perempuan ya... Sesuai keinginanmu," ujar Arga yang tahu keinginan Evan mempunyai bayi berjenis kelamin perempuan. Itu karena seringkali Evan selalu mengatakannya. Bibir Evan tersenyum bangga.
"Ya. Evan terus saja berkata kalau bayi kita perempuan. Saat USG juga beruntung saja sesuai dengan perkataanya, yaitu bayi perempuan." Chelsea menambahi.
"Lalu bagaimana jika bayi itu bukan perempuan?" tanya Arga ke Evan.
"Aku tidak tahu. Karena bayiku sekarang adalah perempuan," ujar Evan sambil terus saja menatap bayinya dengan gembira.
"Tingkahnya malah mirip dengan anak kecil," gerutu Chelsea tapi tersenyum geli. Asha ikut tersenyum. "Bagaimana denganmu? Apakah bayimu laki-laki atau perempuan?" tanya Chelsea.
"Kita sepakat tidak ingin tahu jenis kelamin bayi kita. Laki-laki atau perempuan kita terima." Asha mengatakannya sambil menoleh pada Arga.
"Kenapa?" tanya Chelsea. Evan juga mendekat. Menurutnya mengetahui jenis kelamin bayi, adalah hal menyenangkan.
"Tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja aku ingin fokus pada kesehatannya saja. Ibu dan bayinya. Asha yang terlihat kuat tapi justru malah lemah saat hamil, membuatku sangat khawatir." Arga meletakkan tangannya di bahu istrinya. Asha hanya meringis saja.
"Hubungannya sama mengetahui jenis kelamin apa?" tanya Chelsea yang merasa ini aneh. Asha terkikik pelan.
"Sebenarnya aku ingin anak pertama laki-laki. Jadi Arga melarang dokter buat kasih tahu jenis kelamin bayi kita apa, karena ..."
"Aku takut dia terobsesi sama bayi laki-laki. Jika di ketahui ternyata bayi kita perempuan, aku takut dia terus saja berpikir banyak hal. Itu bisa mengganggu kesehatannya." Arga menyerobot untuk menyelesaikan kalimat istrinya.
"Alasannya begitu, ya...." Chelsea tersenyum sambil sedikit mencibir Arga.
__ADS_1
"Suami siaga ya, Ga?" Evan meledek.
"Di saat seperti ini, bukannya itu yang perlu di lakukan?" Arga membalas cibiran Chelsea dan ledekan Arga. Menurutnya sikapnya adalah tepat.
"Benar, benar. Itu memang di harapkan dari seorang suami. Benar kan, Sha?" Chelsea mendukung.
"Benar. Beruntung dia punya sifat seperti itu," sahut Asha sambil mengelus lengan Arga yang berdiri di sampingnya. Tiba-tiba bayi dalam pelukan Evan menangis. Semua menoleh ke arah bayi mereka.
"Aduh, kenapa menangis sayang.... Papamu ini enggak ngapa-ngapain...," seru Evan terkejut.
"Dia haus. Sini biar mama yang gendong." Evan mendekat dan menyerahkan putri mereka dengan hati-hati. Arga memilih mundur sedikit dan menoleh ke istrinya sebelum Chelsea akan menyusui putri mereka. Dia mencoba menghindari pandangannya. ."Aku menyusui disini, ya?" ujar Chelsea meminta ijin.
"Silakan." Asha memersilakan.
"Ayo, Ga. Kita keluar dulu. Kita minum di luar," ajak Evan. "Sepertinya putriku ingin ikut arisan ibu-ibu dulu." Evan bermaksud bercanda. Karena setelah disusui sebentar oleh Chelsea, bayi itu kembali tenang. Itu berarti, bayi mereka ingin ikut gabung sama dua perempuan ini.
Asha dan Chelsea tersenyum.
"Aku keluar dulu, Ma." Chelsea mengangguk untuk mengijinkan. "Sha, aku ajak Arga dulu. Tidak aku culik, kok. Hanya mengajaknya minum di kantin rumah sakit."
"Sha, aku keluar dulu ya...," pamit Arga. Asha mengangguk dan tersenyum. Setelah dua laki-laki itu pergi, Asha dan Chelsea mulai terlibat dalam obrolan yang seru saat melahirkan. Chelsea dengan semangat menceritakan pengalamannya. Asha juga mendengarkan dengan antusias.
"Syukurlah, bisa normal," ujar Asha.
"Benar. Walaupun mungkin aku di kasih pilihan cesar dengan maksud meringankanku, aku menolak. Apalagi aku sedang tidak dalam kondisi tidak sehat yang mengharuskan lahir cesar. Tentu saja aku berupaya untuk melahirkan normal lewat jalan lahir. Melahirkan normal membuat kita semakin tahu bagaimana jadinya menjadi seorang ibu."
"Benar. Aku juga ingin melahirkam normal. Doakan ya.."
"Iya. Aku doakan semoga proses melahirkanmu nanti lancar." Chelsea mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Asha tersenyum kemudian.
Hubungan mereka berdua yang sebenarnya di awali oleh rasa persaingan dan iri dari Chelsea, berubah menjadi berbeda. Asha dan Chelsea tumbuh sebagai seorang teman tanpa di sadari. Mereka saling bercerita dan berbagi pengalaman. Saling peduli dan memperhatikan meskipun awalnya bisa di anggap mereka jauh dari kata dekat.
Arga dan Evan juga kembali sebagai seorang teman sebagaimana hubungan mereka di awal. Meskipun sempat ada marah dan benci, Arga memilih membuang hal itu demi kedamaian pada hatinya sendiri.
Perdamaian yang dibawa Asha dan Arga untuk mereka, memberi dampak baik dan positif bagi hubungan Chelsea dan Evan. Mereka juga telah tertulari ingin membentuk rasa damai di antara mereka. Membuka hati untuk menjadi lebih baik daripada yang kemarin. Saling memaafkan untuk hal yang sudah terlewati dengan sikap tidak peduli dan bodoh.
__ADS_1
Damai bisa ada jika hati kita sendiri menginginkannya. Bagaimanapun kejadiannya, jika kita membuka hati untuk memilih damai, akan banyak jalan untuk mewujudkannya.
...----------------...
Tingkeban adalah salah satu tradisi daur kehidupan manusia dalam selametan kehamilan anak pertama yang menginjak usia kandungan tujuh bulan.
Mitoni, tingkeban, atau Tujuh bulanan merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh.
Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, dimana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada si bunda yang sedang mengandung.
Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mendoakan bayi yang dikandung agar terlahir dengan normal, lancar, dan dijauhkan dari berbagai kekurangan dan berbagai bahaya.
Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti.
Kali ini peringatan tujuh bulanan di lakukan di kediaman keluarga Hendarto. Ibu Asha berniat datang kerumah sebelum acaranya. Namun nyonya Wardah mengatakan agar ibu Asha datang pada acaranya saja.
Tidak banyak yang di lakukan, karena nyonya Wardah sudah memesan makanan untuk acara itu. Nyonya Wardah tetap mempersilakan datang jika ibu Asha tetap ingin datang. Namun beliau menyarankan besok saja.
"Enggak apa-apa, Bu. Saya sudah pesan makanan buat besok. Ibu Asha bisa istirahat dulu saja di rumah untuk datang ke sini besok. Tidak perlu repot datang ke sini sekarang," ujar nyonya Wardah saat ibu Asha menelepon.
"Saya enggak enak kalau datang pas acaranya saja, Bu," ujar ibu Asha.
"Aduh itu jangan di pikirin Bu. Saya enggak sedang repot kok. Saya juga masih bersantai. Karena hampir semuanya saya pesan, tidak banyak kerjaan di sini."
"Begitu ya. Terima kasih, Bu."
"Inggih... sama-sama. Besok di jemput sama Angga sopir rumah ya, Bu?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu tidak."
"Baiklah. Sekali lagi saya terima kasih..."
Akhirnya pagi ini ibu tetap akan membuka warungnya karena tidak jadi kesana.
__ADS_1