
"Rupanya kalian," desah Evan.
"Sepertinya kita tidak di harapkan disini, Asha," ujar Arga melihat respon Evan.
"Terlanjur. Kita sudah ada disini," jawab Asha yang membuat Evan tersenyum geli. Chelsea mengambil minuman kemasan di meja sudut.
"Duduklah...." Evan mempersilakan.
"Kau mengalami patah tulang?" tanya Arga yang melihat perban di lengan kiri Evan.
"Ya." Chelsea datang membawa minuman dan makanan ringan dalam dua toples kecil. Meletakkan di meja kecil dekat sofa, dimana Arga dan istrinya duduk. Evan tahu Chelsea tidak akan banyak bicara. Maka dari itu dia berinisiatif mencari topik agar suasana tidak kaku.
Evan cukup banyak energi meskipun baru saja di operasi. Pria ini seperti tidak mengalami kecelakaan apapun. Hatinya sedang berbunga-bunga mendapati perempuan yang di cintainya mulai peduli padanya. Kebahagiaannya berlipat ganda. Evan sangat sangat sangat bahagia sekarang.
***
"Sepertinya keadaan rumah tangga mereka lebih baik daripada sebelumnya." Asha mulai berkomentar saat sudah berada di dalam mobil.
"Aku rasa iya. Seharusnya mereka memang seperti itu."
"Memangnya siapa yang membuat mereka tidak akur dan saling bersikap dingin." Asha mengatakannya dengan nada menuduh.
"Jadi kamu pikir itu di karenakan aku?"
"Orang yang paling di cintai Chelsea adalah kamu. Tidak ada orang lain."
"Aku tidak peduli itu. Aku hanya peduli dengan orang yang paling di cintai perempuan di sebelahku." Bola mata Arga menatap menggoda ke arah Asha.
"Memangnya kamu tahu siapa yang paling aku cintai?"
"Ya."
"Siapa?"
"Aku. Suamimu. Arga Hendarto." Arga menunjuk ke arah dirinya sendiri membuat Asha tergelak.
"Kamu salah."
"Benarkah? Mengapa bukan aku orang yang paling kamu cintai? Itu sangat mustahil." Arga tidak suka. Dia seperti bocah kecil yang cemberut saat ibunya sedang menggodanya dengan bilang bahwa, ibunya tidak menyayanginya. Bibir Asha tersenyum tipis sengaja menggoda. "Apakah Reksa?" Tiba-tiba saja Arga menyebut nama cinta pertamanya itu.
"Kenapa menyebut nama itu," gumam Asha sambil berusaha tenang. Bibirnya menipis tidak setuju.
"Aku tidak tahu. Bisa jadi." Arga mengedikkan bahu. Mereka berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Jalanan ini terlihat sepi.
__ADS_1
"Tentu saja bukan. Karena ... bapak dan ibu adalah orang pertama yang aku cintai. Lalu... " Asha mencondongkan tubuhnya ke arah Arga. Berbisik di telinga, "Pria yang ada di sampingku ini adalah orang yang sangat sangat sangat aku cintai." Arga tersenyum puas. Menolehkan kepala ke arah istrinya yang dekat dengannya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu." Arga melepas pegangan pada kemudi dan memeluk tubuh istrinya. Lalu mereka menautkan lagi dua bibir mereka. Masih belum puas sampai-sampai mendadak merasa sekujur tubuh panas. "Aku ingin menyatu denganmu. Disini. Saat ini juga," pinta Arga. Asha membelalak.
Lampu lalu lintas berganti warna hijau. "Waktunya jalan," ujar Asha memberi tahu. Untung saja tidak ada pengendara lain, jadi mereka tidak perlu membunyikan klakson untuk mengingatkan pasangan pengantin baru ini.
Arga menjauh dari tubuh istrinya dan menyalakan mesin mobil.
"Tawaranku di terima?" tanya Arga ternyata masih ingat akan keinginannya menyatu dengan istrinya.
"Tidak. Meskipun ini mobilmu pribadi, tapi ini tempat umum." Walaupun suasana jalanan memang sepi, Asha merasa tidak harus menuruti permintaan suaminya. Bercinta di dalam mobil? Asha menggeleng kuat. Tidak senonoh.
"Kita harus menyewa kamar hotel saat ini juga."
"Tidak. Kita pulang kerumah. Tidak ada hotel disini." Dan memang malam ini sangat berpihak pada pria yang tidak mampu menahan hasratnya itu. Di depan mereka ada hotel bintang lima.
"Anggap saja kita bulan madu."
"Tidak," bantah Asha. Roda mobil membelok ke arah pelataran parkir hotel. "Kita tidak harus kesini." Asha tetap saja tidak setuju meskipun mobil sudah parkir.
"Mobil sudah berhenti di sini." Wajah Arga menunjukkan keputusan bulat yang tidak bisa di ganggu gugat. Asha terdiam. Berpikir.
"Sebegitu inginnyakah, sampai tidak bisa di tahan?" tanya Asha lambat-lambat. Arga tersenyum dalam hati saat keteguhan Asha mulai memudar.
"Bisa di bilang seperti itu." Arga memasang wajah tegas. Asha menghela napas panjang. Padahal mereka bisa saja langsung pulang, tapi Arga justru hendak memesan kamar untuk menjamah tubuhnya. Tubuh Arga sudah bersiap keluar.
Arga terkejut. Sangat. Dia menoleh dengan cepat ke arah istrinya. Menyenangkannya? Nanti malam? Wow. Imajinasi liar Arga bermunculan.
Setelah mengucapkan janji seperti itu, Asha langsung melihat ke jendela di sampingnya. Wajahnya merah padam karena malu. Arga tahu istrinya serius saat mengatakannya. Asha sendiri juga tidak menyangka harus mengatakan itu untuk menahan suaminya agar tidak menginap di hotel.
"Baiklah...." Arga setuju. Tidak mungkin dia menolak. Tangannya memegang kemudi lagi. Mengarahkan mobil, untuk keluar pelataran parkir hotel dan segera pulang. Keisengannya menjahili istrinya membuahkan hasil. Bahkan akan mendapatkan pelayanan spesial nanti malam.
***
Disana, di dalam kamar.
"Aku tidak lupa janjimu...," bisik Arga mengingatkan saat melintasi istrinya yang berdiri di depan lemari pakaian. Arga benar-benar berniat menyatu dengan tubuh istrinya malam ini. Pusat dirinya terasa menggeliat di bawah sana. Asha mengerjap tidak percaya bahwa suaminya sangat berhasrat hingga tidak bisa menunggu sampai di rumah untuk menyalurkan hasratnya tadi.
Karena gugup, Asha yang sudah memutar tubuhnya, hanya diam memperhatikan tubuh tegap suaminya yang sudah nampak polos itu, terbaring indah di atas ranjang. Siap menerima pelayanan istrinya sesuai dengan janji yang tadi di ucapkan.
"Kemarilah, aku akan menuntunmu." Asha menurut dan mendekati tubuh suaminya dengan degup jantung yang berdebar kencang. Arga membimbing tangan istrinya untuk menjelajahi setiap inci tubuhnya. Setelah dapat menguasai gugup, perempuan ini mulai menggunakan bibirnya menggantikan tangannya untuk menjelajahi tubuh suaminya yang bagus.
Suaminya meminta, sebagai istri, Asha harus memberinya. Mereka melakukan penyatuan dengan nikmat dan indah.
"Pembukaan mall baru itu, yang ada di kampungku, ya?" tanya Asha yang tengah di peluk oleh tubuh telanjang suaminya. Mereka berdua masih telanjang. Setelah penyatuan tubuh mereka yang menyebabkan peluh muncul, mereka masih malas memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Iya."
"Apakah kita bisa menginap di rumah ibu di kampung?"
"Karena acara itu adalah hari sabtu, kita bisa menginap satu hari di sana. Bagaimana?" tawar Arga masih dengan mata menutup. Lengannya semakin erat memeluk tubuh Asha.
"Tidak apa-apa walaupun hanya sehari. Terima kasih." Bibir Asha tersenyum senang. Tanpa melihat, Arga tahu istrinya sedang senang. Tangan perempuan itu juga semakin erat memeluk tubuhnya.
"Tidak perlu berterima kasih, aku sepantasnya melakukan itu."
"Bagaimana caranya bilang pada Bunda?"
"Bagaimana apanya? Ya langsung saja bilang saja kita akan menginap disana."
"Aku tidak bisa mengajak mereka menginap juga walaupun sekedar basa-basi. Karena kalau mereka benar-benar menyetujui ajakanku, ibu dan bapak pasti bingung. Rumahku tidak muat. Tidak ada tempat lagi."
"Jangan di pikirkan. Mereka tidak perlu basa-basimu. Mereka paham. Ayo kita tidur. Aku mulai lelah." Asha menguap. Lalu membenamkan kepalanya dalam kehangatan dada suaminya. Mereka tertidur dengan cepat.
***
Pagi hari, Asha bangun dan dapur masih kosong. Bik Sumi belum kembali. Biasanya nyonya Wardah akan muncul. Namun ternyata yang ditunggu tidak ada, Tuan Hendarto justru yang muncul.
"Bunda sedikit tidak enak badan. Sebaiknya kamu meminta bantuan Paris atau siapa saja yang bisa membantumu untuk menyiapkan semua," ujar Tuan Hendarto yang melintas.
Asha mengangguk. Nyonya Wardah tidak ada dan bik Sumi belum juga kembali dari rumah saudaranya. Asha sendirian. Ini menakutkan. Setelah mengambil napas panjang, Asha menuju dapur. Membuka kulkas dan memeriksa isinya. Bahan apa saja yang ada di sana. Ada wortel, kentang dan telur puyuh.
Yang ada di dalam otak Asha adalah sup. Itu juga masakan mudah bukan? Juga ada kuahnya. Untuk lauknya hanya ada tahu putih dan telur. Untuk tahu masih ada banyak hingga bisa di buat tumis dengan telur puyuh. Asha mengocok beberapa telur di tambah dengan tahu yang di iris kotak-kotak kecil. Itu akan jadi lauk.
Lalu menyiapkan tahu yang sudah dihaluskan. Di tambah dengan tepung bumbu. Jadilah tahu bulat. Karena sangat menyukai tahu bulat, Asha menambahkan remahan mie instan dan jadilah mie rambutan.
Sebenarnya ini masakan yang di buatnya sehari-hari di rumah kost. Sangat sederhana, tapi dia harus memasak pagi ini. Harus ada masakan pagi ini! Paris yang datang ke meja makan terkejut.
"Kakak memasak hari ini?" tanya Paris takjub. Ukuran dia yang bernilai nol dalam soal memasak, ini spektakuler.
"Iya. Semua orang di rumah ini harus sarapan seperti biasa. Meskipun tidak sesuai standart, tapi aku coba membuat masakan. Cobalah memakannya." Asha mengatakan dengan beban pada pundaknya.
"Ini lebih dari cukup untuk Kak Asha yang katanya pemula. Aku saja tidak bisa kalau harus memasak ini semua." Paris mencomot tahu bulat.
"Semoga Ayah kamu menyukainya."
"Yang aku tahu sih Ayah tidak menolak masakan apapun." Walaupun begitu ini pertama kalinya dia memasak untuk keluarga ini. Kalau biasanya sudah banyak resep rumit di atas meja, kini hanya ada masakan anak kost yang di bawah standart.
Arga! Cepatlah datang! Cepatlah turun sebelum Ayah turuuun!! Aku ingin pendapatmu soal masakanku.
Keinginan Asha tidak terkabul. Ayah mertua justru muncul terlebih dahulu. Sambil membuat jus buah, Asha menatap cemas kearah masakannya. Sepertinya Tuan Hendarto terkejut dengan adanya semua masakan di meja. Mungkin beliau tidak berharap banyak mendengar reputasi menantunya yang kurang bisa memasak.
__ADS_1