Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Menemukan hal baru


__ADS_3




"Tuan Evan sudah menunggu anda di dalam ruangan saya," Rendra memberitahu Arga. Kepala Arga mengangguk.


"Rupanya kamu ada di sana?" tegur Evan yang sebenarnya di tujukan untuk Asha. Namun semua menoleh ke arah Evan yang sudah berdiri di luar ruangan Rendra. Asha nanap sejenak melihat Evan muncul di hadapannya. Dia lupa bahwa tadi sempat bertemu dengan lelaki ini. Arga hanya menarik ujung ekor matanya tanpa bereaksi.


Bibir Evan melengkung, melukis senyum senang. Entah senang karena dia tidak perlu lagi menunggu Arga, atau senang telah mendapatkan suatu hal baru. Rendra juga melirik tajam ke arah Evan. Dia merasakan firasat tidak enak.


"Saya pulang," pamit Asha dengan membungkuk sopan, layaknya bawahan kepada atasannya. Namun Arga menahan tubuh Asha dengan kedua tangannya. Menahan lengan Asha agar tubuhnya tidak membungkuk. Kedua alis Asha terangkat. Kali ini Rendra melirik mereka berdua.


"Kau tidak perlu membungkuk seperti itu," tolak Arga. Bola mata Asha melebar memberi kode bahwa dia perlu membiarkan dirinya seperti itu karena ada Evan. "Aku tidak perlu menyembunyikanmu darinya," jawab Arga lugas dan tegas, hingga membuat bibir Asha yang tadi bergerak-gerak memberi kode, akhirnya diam.


"Oh... jadi dia gadismu?" ujar Evan yang bisa membaca gerak tubuh mereka. Awalnya Evan ragu saat mengatakannya, tapi saat tidak ada yang membantah -bahkan gadis yang ditemuinya tadi malam diam- dia yakin mereka adalah pasangan kekasih.


Manik mata Evan mulai melihat Asha. Memindainya dengan menyeluruh. Walaupun dia sudah pernah bertemu dengan Asha malam itu, dia merasa perlu menelisik lagi bagaimana perempuan ini.


Sangat berbeda dengan Chelsea. Dari tubuhnya, cara berpakaian, tingkahnya... Sangat jauh dan bertolak belakang dengan Chelsea. Ada apa dengan selera Arga kali ini? Dia pindah haluan karena sangat terpukul atas keputusan Chelsea?


"Hentikan bola matamu memindainya!" hardik Arga keras. Mata Evan mengerjap dan menyeringai. Asha yang membelakangi Evan akhirnya ikut menoleh dengan mata sebal. Rendra membuang napas pelan. Dia menjadi tegang melihat mereka bertiga.

__ADS_1


Memindaiku? Sialan, lelaki ini, umpat Asha dalam hati.


"Aku terkejut dengan seleramu kali ini. Aku terheran-heran. Dia dan Chelsea sangat jauh berbeda. Kamu pasti tahu maksudku.." Seringaian nakal terlintas barusan di bibir Evan. Telinga Asha panas dengar suara yang seperti sedang meremehkannya.


"Aku tidak perlu mendengarkanmu," seru Arga dingin.


"Kau sedang membicarakan aku?" tanya Asha tiba-tiba. Asha melepas pegangan Arga pada lengannya. Lalu memutar tubuhnya dan menghadap ke Evan. Bola mata Evan terkejut dan memindah pandangan ke arah Asha.


"Aku rasa selera Arga kali ini lebih baik dari seseorang yang hanya bisa mencuri pasangan orang lain. Aku tidak tahu apa alasan kau melakukannya. Mungkin memang itu yang terbaik, tapi aku rasa itu sangat tidak kreatif. Gunakanlah kepintaranmu dan ketampananmu dengan tidak mencuri apa yang sudah di perjuangkan oleh orang lain," kata Asha dengan senyum menawan dan rasa geram yang di tahan.


Arga melihat gadis di depannya tertegun. Begitu juga Evan.


Dia tahu lelaki ini adalah Evan? Dia tahu soal semuanya?


Suasana disini masih lengang, Rendra perlu merasa lega akan itu. Jika tidak, karyawan kantor akan mendengar tentang ini. Itu merepotkannya nanti. Rendra mendengarkan seksama lagi pembicaraan mereka. Walaupun tubuhnya juga ikut menegang, dia tetap harus menyaksikan ini.


Sejenak Evan diam, lalu tergelak kemudian. Arga yang tidak menduga Asha mengenal Evan bahkan mengucapkan rentetan kalimat hinaan untuk Evan, kini heran dengan Evan yang justru menanggapi cemoohan Asha. Bukan marah, justru Evan tertawa.


"Kau menghinaku, juga mencoba mengerti pilihanku mencuri Chelsea? Itu hal baru yang aku dengar. Aku terkejut. Biasanya orang langsung memberiku hinaan tanpa ampun karena aku berani mencuri Chelsea yang menjadi tunangannya. Aku akui kamu lebih kreatif dariku," kata Evan tanpa merasa tersinggung. Dia tidak canggung mengukapkan bahwa dia telah merebut Chelsea dari Arga.


Bibir Arga masih kelu untuk ikut membuka suara. Dia masih tergemap dengan Asha yang sudah bisa mengenali Evan. Arga diam sambil menatap tajam ke arah Evan.


"Semua orang punya alasan di balik setiap tindakan mereka. Meskipun itu kadang tidak masuk akal dan bodoh. Maaf," imbuh Asha sedikit tenang. Tubuhnya juga membungkuk sopan dan meminta maaf. Dia sadar harus menekan rasa sebalnya. Mata Arga melihat tidak suka. Namun Asha segera menegakkan punggung lagi sebelum Arga menghentikan gerakan tubuh Asha.

__ADS_1


Lagi-lagi Rendra melihat pelayan rumah keluarga Hendarto yang jadi kekasih tuannya heran. Setelah meledak-ledak, sekarang bertingkah tenang bahkan meminta maaf.


"Aku baru tahu kau juga bisa bersikap sopan," ujar Evan menarik kedua alisnya, di ikuti dengan senyum penuh arti pada bibirnya. Asha menatap Evan lurus. "Melihat bagaimana kau sudah mencengkeram kemejaku malam itu, aku tidak menduga bisa melihatmu dalam mode perempuan yang bisa bersikap sopan," tunjuk Evan ke Asha.


Bibir Asha berdecak. Evan terus saja membahas itu. Namun untuk melupakan cerita semacam itu sangat tidak mungkin.


Kali ini langsung membuat Rendra tidak bisa lagi menyamarkan keterkejutannya. Dia benar-benar sangat terkejut.


Mencengkeram kemeja Evan? Sebenarnya apa yang sedang ada dalam benak perempuan ini? Dia sedang syuting adegan action? Rendra membetulkan lagi letak kacamatanya. Dia menjadi gusar mendengar cerita Evan.


Sementara Arga membeliak dan menoleh cepat ke arah Asha yang masih membelakanginya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kau pernah bertemu dengannya?" desis Arga tertahan. Dia seperti bom atom yang akan meledak. Asha melihat Arga di belakangnya dan menghela napas lelah. Lelaki ini sedang menahan marah.


"Tanganmu tidak mengepal lagi dan ingin menghajarku saat aku membicarakanmu tadi. Apa karena ada Arga di sini?" Evan sengaja memancing emosi Asha. Namun Asha tidak menggubrisnya. Dia perlu menenangkan Arga. Justru Rendra yang memejamkan mata sebentar karena terguncang mendengar informasi-informasi baru.


Asha itu preman? tebak Rendra sendiri. Lalu membuang napas pelan. Menyingkirkan semua rasa ingin tahunya.


Asha memutar tubuhnya untuk menatap Arga, "Aku tak sengaja bertemu dengannya saat bersama Paris tadi malam. Aku tahu dari Paris," ungkap Asha dengan memiringkan kepala, mencoba menelisik raut wajah Arga, "Jangan berpikiran macam-macam," imbuh Asha mengingatkan. Arga berusaha menenangkan diri.


Evan melihat ini. Bagaimana Arga membeliak seperti marah mendengar gadisnya bertemu dengannya. Arga bukan orang yang dengan mudah menunjukkan emosinya, Evan sangat paham itu. Namun kali ini dengan mudah Arga memperlihatkannya.


"Kau gadis yang menarik," ucap Evan yang membuat Arga mendorong tubuh Asha ke dadanya dan mendekapnya. Menjauhkan dan melindungi tubuh Asha dari Evan. Asha terkejut. Begitu juga Rendra. Arga mulai berani memeluk Asha di area kantor. Bibir Evan tersenyum melihat sikap posesif Arga yang lucu. Akhirnya terkekeh.

__ADS_1



__ADS_2