
"Aku disini, Sha." Sebuah suara terdengar dari balik sofa panjang. Kaki Asha mendekat dan menemukan lelaki itu berbaring di sana.
"Kenapa berbaring di sini?"
"Aku lelah."
"Kalau lelah seharusnya pulang, bukan tinggal disini. Bahkan sengaja menyuruhku kesini ...," Asha duduk disofa. Arga mengangkat kepalanya dan berangsur menjadikan pangkuan Asha sebagai bantal.
"Di rumah aku harus menjauh darimu. Aku sedang ingin bersamamu malam ini," jelas Arga. Tangan Asha mengusap rambut laki-laki itu.
"Kenapa tidak menyuruh Rendra pulang?"
"Sudah. Dia sendiri tidak mau pulang dan menemaniku. Aku tidak memaksanya tinggal."
"Rendra itu tidak punya kekasih?" tanya Asha yang tiba-tiba penasaran.
"Kenapa tiba-tiba bertanya itu? Juga kenapa tiba-tiba menyebut nama Rendra dengan akrab?" tanya Arga masih dengan menutup matanya.
"Hanya bertanya. Tentu saja harus akrab. Aku kan jadi sering bertemu dengannya karena dia adalah bayanganmu. Bukan sengaja akrab, tapi tidak sengaja akrab," Asha jadi perlu menjelaskan hal yang sudah semestinya.
"Rendra tidak punya kekasih. Aku tidak tahu kenapa."
"Pasti karena harus selalu menemanimu bekerja, dia tidak punya waktu sendiri untuk dirinya."
Arga mendengkus mendengarnya. Lalu membuka mata, "Dia tidak bersamaku dalam 24 jam penuh. Berlebihan, jika dia tidak punya kekasih karena aku ...."
Asha tersenyum mendengar kalimat Arga.
"Ya ..., dia tidak mungkin bersamamu dalam satu hari penuh." Asha tergelak. Matanya melihat ada kotak cantik di atas meja. "Itu apa?" tunjuk Asha. Arga menolehkan kepala ke arah kotak yang di tunjuk Asha.
"Itu kotak kue. Aku lupa. Sengaja aku membelikannya untukmu setelah perjamuan makan dengan orang-orang dari kantor pajak tadi," Arga bangkit dari rebahannya.
"Biar aku yang mengambilnya. Bersandarlah pada sofa. Kau seperti tidak mampu menggerakkan anggota tubuhmu," ujar Asha seraya menepuk bahu Arga pelan. Arga mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.
"Waw ... kue keju. Kamu membelinya di outlet kue di depan itu?" tanya Asha sambil tertawa senang karena menemukan kesukaannya.
"Ya." Arga tersenyum saat melihat Asha gembira menerima pemberian darinya.
"Aku makan ya?" Arga mengangguk. "Mau?" tawar Asha sambil menunjukkan kuenya. Arga menggeleng.
Asha yang pusing masih memikirkan bagaimana caranya agar Bapak tidak datang ke Mall, merasa resah dan gelisah. Walaupun sudah berusaha menutupinya, keresahan ini membuat Arga mampu merasakannya.
"Sejak tadi aku melihatmu gelisah. Ada apa?" tanya Arga yang bisa menemukan kegelisahan di wajah Asha.
"Enggak apa-apa," kilah Asha sambil tersenyum. Lalu meminum minuman dalam kemasan yang ada di sebelah kotak kue. Arga diam.
__ADS_1
"Berbagilah soal rasa resahmu ke aku ... Jadi aku bisa membantumu menangani masalah apa yang sedang kamu hadapi atau bahkan bisa menyelesaikan masalahmu," ucap Arga dengan sedikit memohon.
"Ini masalah yang aku buat sendiri, Ga. Jadi aku harus menanganinya sendiri," bantah Asha masih menolak menceritakan apa yang sedang di pikirkannya.
"Kalau kau bukan kekasihku, kau bisa mengatakan itu. Saat ini kau adalah kekasihku, jadi cobalah untuk terbuka dengan apa yang kau pikirkan ...," desak Arga dengan sabar. Asha membuang napas lelah. Mata Arga masih menunggu Asha bersedia menceritakan masalah.
"Bapak akan datang berkunjung besok," ucap Asha akhirnya. Wajah Arga berubah senang. Matanya berbinar. "Bukan ingin bertemu denganmu, tetapi ingin menemuiku," jelas Asha, agar Arga tidak salah paham. Kemarin Arga mengutarakan keinginannya untuk bertemu orangtuanya, sekarang Bapak malah sengaja mengunjungi, itu terlalu kebetulan. Asha tidak mau Arga menganggap ini adalah rencananya.
"Terserah siapa yang akan beliau temui. Kalau beliau kesini berarti aku bisa menemuinya," ujarnya yakin.
"Masalahnya adalah, Bapak berpikir kalau aku kerja sebagai karyawan di Mall milikmu ini. Tidak mungkin aku dapat uang banyak jika hanya bekerja di toko kecil, jadi aku bilang ke bapak aku kerja di sini," cerita Asha sedikit tidak nyaman.
"Kau sengaja mengatakannya karena tahu aku akan menjadi kekasihmu? Kau sengaja mengincar Tuan Muda ini, ya... " tebak Arga bahagia.
"Tidak mungkin! Aku tidak mengenalmu saat pertama bekerja di rumah keluarga Hendarto. Aku hanya asal ngomong, karena ini Mall terbesar di sini," protes Asha tidak setuju. Arga tertawa mendengar Asha mengerutkan jening saat mengatakannya.
"Lalu?"
"Aku kan kerja di rumahmu, Ga. Jadi tukang cuci, aku ..." Arga mengecup kening Asha. "Aku masih cerita, jangan dipotong dengan ... ," Arga juga mau mengecup pipi Asha. "Hei! Aku masih cerita nih! Katanya mau dengerin aku membicarakan resahku, heh?!" sungut Asha. Arga terkekeh.
"Jadi kamu menyembunyikan diri kalau sebenarnya kamu bekerja di rumahku, dan bilang pada orangtuamu bahwa kamu adalah karyawan Mall ini?" Walaupun Arga sepertinya sibuk menggodanya, rupanya dia sangat cerdas menangkap maksud Asha. "Lalu ternyata, justru orangtuamu ingin menemuimu di sini?" Asha mengangguk. "Aku akan pikirkan. Sepertinya aku punya rencana. Aku akan berunding dengan Rendra. Sekarang jangan berpikir lagi. Masalahmu sudah aku selesaikan jadi temani aku tanpa harus memikirkan banyak hal memusingkan malam ini, oke?" kata Arga menepuk-nepuk kepala Asha pelan. "Biarkan aku berbaring," Arga berbaring lagi dengan kepalanya diatas pangkuan Asha. Matanya terpejam lagi.
Asha ragu. Rencana apa yang akan dilakukan oleh Arga. Namun dia mencoba tidak memikirkannya dan percaya.
***
"Hari ini aku berangkat ke kantor agak siang. Kamu harus ikut denganku."
"Hah? Kenapa harus ikut denganmu? Bukankah aku harus bertemu Bapak nantinya?"
"Aku akan membantumu kalau kamu bisa ikut denganku ke kantor."
"Kalau harus ikut denganmu pada jam kerja, aku tidak bisa Ga. Biar nanti aku ijin sendiri sama Nyonya Wardah kalau harus bertemu orangtuaku."
"Serahkan padaku, hmm?"
"Benarkah?"
"Iya. Selesaikan pekerjaanmu, jadi bisa selesai saat kau ikut denganku."
"Baiklah." Perbincangan pagi ini selesai di situ. Bapak dan Ibu akan datang siang ini. Asha masih tidak punya gambaran seperti apa rencana Arga tapi dia harus segera menyelesaikan cucian.
Setibanya di tempat cuci Asha mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mempercepat pekerjaan.
"Mbak semangat sekali," seru Rike senang.
"Aku ada perlu nanti." Asha memberi penjelasan singkat.
***
__ADS_1
"Bun, aku nanti akan meminta Asha untuk membantuku di kantor," ujar Arga setelah Ayah menyelesaikan makannya. Jadi di meja makan hanya ada dia sendiri. Paris juga sudah menyelesaikan makannya dan berangkat sekolah.
"Membantu?"
"Iya," jawab Arga tenang. Nyonya Wardah mengerutkan keningnya. Beliau yang paham belakangan putranya sangat aneh mulai paham.
"Kenapa meminta bantuan Asha kalau ingin menyelesaikan pekerjaan kantor. Keahliannya bukan di sana," ujar Nyonya Wardah sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Aku tahu. Aku menyuruhnya melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya."
"Kenapa meminta Asha, bukannya karyawan sana. Karyawanmu kan banyak."
"Benar. Aku tidak hanya menyuruhnya melakukan sesuatu, aku juga ingin mengajak Asha melihat dunia perkantoran." Kalimat ini membuat Nyonya Wardah mendongak. Sedikit aneh soal itu.
"Melihat dunia perkantoran?" ulang Nyonya Wardah. Arga mengangguk. Banyak alasan tidak biasa dan aneh dalam perbincangan ini. Nyonya Wardah juga tidak bisa langsung menghakimi karena perlu memikirkan kata-kata putranya.
Nyonya Wardah diam berpikir.
"Belakangan ini kalian berdua, Paris dan kamu sering sekali mengajak Asha kemana-mana. Entah itu pagi, siang atau malam. Anak itu seperti jadi asisten kalian berdua."
"Bukankah pekerjaannya sudah selesai, Bun ...." Arga sengaja mengatakan ini untuk mengurangi pendapat buruk tentang dia.
"Dia memang selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Bahkan belakangan ini dia mengerjakan semua pekerjaan yang biasanya tidak di lakukan pekerja di rumah ini." Arga mendongak. Melihat Nyonya Wardah yang mengatakan itu dengan nada heran yang membuat Arga perlu mendengarkan apa yang akan di katakan Bundanya.
"Mengambil pakaian kalian berdua di lantai atas, yang biasanya kalian sendiri yang membawanya turun. Atau hanya Bik Sumi yang melakukannya jika kalian sedang sibuk. Membersihkan semua bagian rumah bahkan kamar kalian berdua, karena kalian berdua yang meminta. Juga karena Paris yang sedang melakukan perjanjian dengan Bunda. Lalu menemani jalan-jalan kalian. Bahkan sekarang kamu menyuruhnya melakukan pekerjaan di luar rumah ini yaitu kantormu. Benar begitu kan, Arga?" tanya Nyonya Wardah.
Semua yang di katakan Nyonya Wardah sangat benar adanya. Mereka berdua selalu mengikutkan Asha dalam kegiatan mereka. Entah pagi, siang atau malam. Sebenarnya Arga sangat takjub saat Bunda mengatakannya. Dia baru sadar selalu berada dalam lingkaran keseharian gadis itu. Seperti sedang terobsesi dengannya. Arga tersenyum tanpa sadar. Nyonya Wardah melihat itu.
"Paling aneh di sini itu kamu, Ga."
"Apa yang aneh, Bun?"
"Memang sekarang kamu mengarah ke arah yang baik. Kamu terlihat lebih bersemangat dan ceria. Seperti ada yang menyemangatimu tiap hari. Apakah putra Bunda sedang dekat seorang perempuan? Kamu sudah menemukan perempuan baru?" selidik Nyonya Wardah. Arga mengerjap.
"Tidak."
"Benarkah? Bunda berpikir kamu sedang menjalin kasih dengan seseorang. Ternyata Bunda salah. Jadi kenapa putra Bunda semakin bersemangat?" Arga tersenyum.
"Tidak ada, hanya ingin bersemangat saja. Menjadi baik tidak apa-apa kan Bun?" tanya Arga.
"Kamu ... tidak menjalin kasih dengan perempuan itu lagi bukan?" Saat mengucapkan ini, Nyonya Wardah sedikit memicingkan mata dengan serius. Arga menghela napas.
"Tidak."
"Kamu pasti tahu itu siapa bukan?"
"Ya," jawab Arga mulai pelan. "Bukankah Bunda yang membuatnya menjadi seperti orang yang jahat?"
__ADS_1