Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Memasak bersama


__ADS_3


"Iya, saya patut bersyukur mempunyai mertua seperti Nyonya Wardah." Karena merasa nyonya Rene sungguh-sungguh mengatakan hal baik itu, Asha memilih berkomentar.


"Walaupun dikenal tegas, nyonya Wardah sangat baik, bukan?" Asha tersenyum seraya mengangguk.


"Apa ini, kok menyebut-nyebut nama saya, Jeng?" tegur Nyonya Wardah yang mendekat ke arah mereka sambil tersenyum. Asha terkejut. Dia langsung gugup. Nyonya Rene hanya tertawa kecil.


"Mau tahu aja Jeng. Ini lho bahas Jeng Wardah yang baik hati. Saya kagum." Asha tersenyum tipis dan sedikit menunduk. Merasa ketahuan bahwa sedang membicarakan mertuanya.


"Kalau makannya sudah selesai, bantu bik Sumi menyiapkan makanan penutupnya." Asha mengangguk. Beliau sempat melirik ke arah piring Asha yang berisi makanan tinggal beberapa suap. Makanya beliau bisa memberi perintah karena tahu sebentar lagi makanan itu habis. Asha menyegerakan makan dan segera ke belakang.


"Kamu kagum karena saya punya menantu bekas pelayan, begitu?" tanya Nyonya Wardah setengah bercanda. Bibir Nyonya Rene tersenyum sambil menepuk lengan Nyonya Wardah pelan.


"Kenyataan tidak perlu di tutupi bukan? Tidak ada yang salah dengan itu semua. Anda sangat mengerti itu. Sikap ini patut di acungi jempol." Nyonya Rene mengacungkan jempol sambil memamerkan giginya yang rapi. Ini juga menular ke Nyonya Wardah. Beliau juga tersenyum. "Asha itu tidak jelek. Badannya juga tinggi. Pas nikahannya kapan hari, saya kaget kalau menantu Anda beneran Asha itu. Saya pikir bohong. Karena pas resepsi pernikahannya kan anak itu cantik banget. Saya jadi pangling." Nyonya Rene menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Begitu ya..." Beda orang beda pemikiran. Bagi Nyonya Rene dia takjub melihat Asha yang bisa jadi menantu keluarga Hendarto. Juga memuji. Yang buat ibu-ibu yang lain ysng punya jiwa usil yang sangat besar, rasa penasaran mereka menggunung, yaitu kenapa bisa pembantu itu menikah dengan tuan mudanya? Jurus apa yang di gunakannya?


Mungkin inilah perbedaan orang usil dan tidak. Bagi sebagian orang tidak ambil pusing dengan status Asha. Bahkan tidak membahas soal Asha yang dulunya bekerja di sini sama sekali.


"Kamu di omongin apalagi sama orang-orang usil itu?" tanya Bik Sumi geram di dapur.


"Seperti biasalah, Bi. Dimana saja pasti ada orang usil dan tidak. Nyonya Rene itu baik juga."


"Nyonya Rene yang rumahnya di pojok itu?" Asha mengangguk.


"Ya, sepertinya... Tetap jaga sikap, Sha. Kita tidak tahu hati orang bagaimana. Jangan lupa selalu bantu nyonya di dapur kalau sudah menyelesaikan cucian. Sebenarnya beliau ingin kamu membantu disana." Asha terkejut.


"Benarkah?" tanya Asha pias. Kenapa Beliau tidak meminta sendiri ya... Tidak usah bantu mencuci? Asha jadi berpikir soal kalimat Bik Sumi ini. Apa dia langsung ke dapur saja besok? Tidak perlu mencuci. Namun disana sudah ada Bik Sumi. Asha merasa bingung juga. Apa dirinya sangat tidak peka? Sebagai menantu mungkin sebaiknya memang berada di dapur, untuk memasak.


"Nyonya tidak bisa bilang sendiri. Itu karena...."


"Bik!" Suara nyonya Wardah memanggil. Itu pertanda makanan penutup berupa es manado yang segar harus keluar.


"Cepat, berikan ini pada beliau." Bik Sumi menyerahkan semangkuk besar es manado itu. Asha membawanya keluar dapur menuju ruang tengah. Nyonya Wardah melihat menantunya.


"Saya akan langsung letakkan di meja saja," kata Asha. Sebenarnya nyonya Wardah hendak menerima mangkuk besar itu, tapi melihat menantunya seperti bertekad, beliau mengangguk setuju. Asha segera melesat keluar dan meletakkan di meja makan. Lalu meletakkan di atas meja.


***

__ADS_1



"Ada hal yang tidak menyenangkan tadi?" tanya Arga yang membelai lembut surai hitam milik istrinya. Ia ingin tahu tentang istrinya saat dirinya tidak di rumah. Mereka berdua sedang berada di kamar. Asha merebahkan tubuh sambil meletakkan kepala pada paha suaminya. Bibir Asha diam sejenak.


"Tidak ada."


"Apa saja yang kamu kerjakan?" tanya Arga sambil mengusap lembut kening istrinya.


"Hanya pekerjaan rutin. Seperti biasanya." Ada nada gundah di sana.


"Kamu ... bosan berada di rumah?" tanya Arga. Asha mendongak. Dia harus menjawab dengan kalimat yang benar-benar pantas dan bijak.


"Tidak juga." Jari Arga mencubit hidung istrinya.


"Kamu ini masih tidak bisa terbuka denganku. Dari wajahmu saja aku tahu bahwa kamu sangat bosan berada di dalam rumah sepanjang hari." Asha hanya tersenyum.


"Aku tidak apa-apa. Aku masih bisa membunuh bosan dengan menyelesaikan pekerjaan rumah." Asha menepuk pipi suaminya pelan, berusaha mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


"Aku tahu itu bisa menyenangkanmu sedikit. Secepatnya aku akan menemukan cara yang lebih baik agar kamu tidak bosan." Arga mengecup kening istrinya. "Kita akan melakukannya?"


"Apa? Ini sudah malam. Kita tidak bisa bermain-main."


"Benarkah? Apa itu, ya...," Asha berpikir dengan dua alisnya menyatu. Benar-benar berpikir. Bukan sengaja membiarkan Arga merasa di goda. Tiba-tiba saja tangan Arga memindahkan kepala istrinya di atas ranjang. Lalu tubuh tegap itu berpindah menjadi berada di atasnya tanpa menindih. Mata Asha menunjukkan bahwa dia terkejut.


Jangan-jangan ....


"Kita bisa melakukan lagi. Program membuat keturunan." Arga mulai tersenyum menggoda. Matanya berkilat nakal. Arga langsung saja menyerbu istrinya yang sedang terbaring pasrah di atas ranjang. Program ini akan terus saja berlanjut hingga terwujud rupanya.


***



Pagi yang sangat dingin sebenarnya membuat tubuh malas untuk beranjak bangun. Asha tidak bisa bersantai-santai. Tangan Arga meraih pinggang istrinya dan menariknya dalam pelukan. Mendekatkan tubuh itu pada dadanya.


"Lepaskan lenganmu. Aku harus bangun." Asha memaksa lengan suaminya lepas dari pinggangnya. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu turun ke bawah sambil membawa cucian.


Di dapur sepi. Ada bahan-bahan makanan di atas meja dapur tapi tidak ada orang. Asha menuju ke tempat cuci.


"Dapur kok sepi ya, Ke?" tanya Asha ke Rike yang sudah bersiap dengan tugasnya.

__ADS_1


"Bik Sumi pulang kampung karena ada saudaranya yang sakit, Mbak."


"Kamu sendiri kok enggak ikut pulang? Bukankah kamu juga saudaranya?"


"Bik Sumi bilang tidak usah, biar bik Sumi saja." Asha mengangguk. Itu berarti di dapur hanya Nyonya Wardah. Dia harus bergegas kesana. Di dapur Nyonya Wardah barusan saja turun dan bersiap.


"Saya membantu." Asha datang langsung menuju meja dapur. Nyonya Wardah mengangguk. "Sebelumnya, apa saya boleh membuat teh hangat untuk Arga?"


"Ya." Tidak biasanya Arga ingin meminum teh hangat pada paginya. Namun Asha tahu lelaki itu saat ini tengah malas bangun karena semalam. Tubuhnya saja saat ini masih terasa lelah. Hanya saja kewajiban bangun lebih kuat untuk memaksanya.


Asha naik ke lantai dua. Setelah mengecup pelipis suaminya. Dia duduk di pinggir ranjang dan membangunkan suaminya.


"Bangun. Waktunya bangun. Aku tidak mau bangun pagi sendirian. Kamu harus bangun juga."


"Emm?" Tubuh Arga menggeliat dan perlahan membuka mata. Pelan-pelan, kabut pada matanya menghilang, hingga dia bisa melihat istrinya duduk di tepi ranjang sedang menatapnya.


"Bangunlah. Aku merasa sendiri jika suamiku tidak bangun."


"Iya... Aku akan bangun." Suara Arga masih parau. Asha menyodorkan teh hangat. Arga meminumnya lalu mengembalikan mug ke Asha. "Kenapa kamu jadi takut dan merasa sendirian? Padahal dulu kamu sangat mandiri dan cuek. Entah aku bangun atau tidak."


"Ini beda ceritanya. Kalau dulu aku bisa bersembunyi di tempat cuci, kalau sekarang tidak bisa."


"Bersembunyi? Bersembunyi dari siapa?"


"Bunda. Nyonya Wardah." Kening Arga berkerut. "Sudah cepat ke kamar mandi. Temani aku di dapur." Setelah yakin suaminya beranjak bangun, Asha segera turun sambil membawa mug teh ke dapur.


Disana mertuanya sudah memulai dengan memotong sayuran. Selalu ada sayuran karena sepertinya ayah mertua menyukai sayuran. Asha segera ke tempat cuci. Meletakkan mug di bak cuci dan menggantikan nyonya memotong sayuran.


"Biar saya yang memotong." Nyonya Wardah menyerahkan tugas itu tanpa bicara. Suasana terasa sangat kaku. Asha cemas karena Arga tidak cepat turun.


"Kamu masih belum terbiasa dengan hidup di rumah ini, ya?" tanya Nyonya Wardah tanpa menoleh. Tiba-tiba. Mendadak. Asha terkejut. Namun karena beliau tidak menoleh, beliau tidak bisa melihat raut wajah terkejut barusan.


"Maaf kalau saya seperti itu menyinggung Anda."


"Tidak. Saya tahu, karena saya juga belum terbiasa dengan ini." Nyonya Wardah tetap pada masakannya tanpa melihat menantunya. "Saya meminta maaf juga kalau berkata seperti ini. Kita ini sama-sama perlu beradaptasi dengan situasi baru dalam rumah keluarga Hendarto. Mohon di mengerti." Secara terbuka Nyonya Wardah menyatakan bahwa beliau ternyata juga masih canggung dengan perubahan Asha sebagai menantu keluarga Hendarto. Apakah beliau belum bisa sepenuhnya menerima Asha sebagai menantunya? Apakah benar begitu?


"Saya mengerti." Asha mengucapkannya dengan sopan. Lalu mereka memasak tanpa ada kata-kata yang membuat suasana di antara mereka menjadi akrab. Karena sunyi, nyonya Wardah melihat ke belakang. Menantunya hanya serius memotong. Perlahan beliau menarik pandangan untuk fokus ke arah masakannya lagi.


__ADS_1


__ADS_2