Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Perlu belajar


__ADS_3

...Di dalam kamar mandi, Arga masih tidak percaya istrinya mual karena dirinya. Air shower di biarkan mengguyur tubuhnya. Dia termangu dalam diam. Otaknya berpikir keras. Ada apa dengan istrinya?...


...Apakah ibu hamil semua begitu?...


...Arga membersihkan diri dengan pikiran tetap terarah ke kalimat istrinya tadi. Asha mual karena aroma tubuhnya. Rasanya seperti tak di inginkan oleh orang yang di cintainya. Bukankah itu agak menyakitkan?...


...Apakah ini memang bisa di anggap wajar?...


...[ Episode Sebelumnya ]...



Asha menunggu suaminya keluar dari kamar mandi dengan cemas. Dia merasa bersalah tadi. Dirinya menjadi mual karena suaminya mendekatinya. Buku bacaan yang dibacanya tadi, tidak lagi membuatnya tertarik. Tidak jadi meneruskan membaca, karena pikirannya tidak fokus lagi.


Akhirnya yang di tunggu muncul. Masih dengan handuk berwarna biru laut yang melilit pada pinggangnya, Arga keluar dari pintu kamar mandi.


Mata Asha mengikuti langkah suaminya yang mendekat menuju ke lemari pakaian. Perlahan dia turun dan mendekati suaminya. Memeluk dari belakang dan mencium punggung polos yang masih lembab karena air. Arga terkejut. Kepalanya menoleh ke samping.


"Tadi katanya mual karena bau tubuhku. Sekarang kok malah di ciumi seperti itu?" tanya Arga heran. Asha menggesekkan pipinya pada punggung suaminya dengan manja dan memeluknya erat.


"Aku mual karena tidak kuat sama aroma parfum kamu. Kalau bau sabun seperti ini, aku masih suka."


"Oh, ya?" Merasakan dari punggungnya, Arga tahu istrinya mengangguk. "Masih mau memelukku?" tanya Arga yang merasa Asha belum mau melepaskan pelukannya. Asha mengangguk sekali lagi. "Sebentar." Asha mengendorkan pelukannya.


Rupanya Arga membalikkan tubuh dan menyambut pelukan istrinya. "Puas-puasin dulu. Aku tunda dulu pakai bajunya." Asha terkikik senang.


"Maaf tadi ya..."


"Apa?"


"Aku tidak mau kamu sentuh."


"Hmmm..."


"Kamu pasti terkejut."


"Sedikit." Arga berbohong. Bukan sedikit. Dia sangat syok tadi. Asha sudah menduganya. Kelihatan sekali dari wajah Arga yang seperti kalah dari perang. Asha menengadah. Menatap suaminya. Rambutnya masih basah.


"Jangan berpikiran macam-macam ya. Hidungku memang jadi sangat sensitif. Tidak suka aroma yang menusuk." Tangan Asha terulur untuk menyentuh rambut suaminya.


"Bahkan parfumku," imbuh Arga seperti geram. Dia mengatakannya sambil menundukkan pandangan ke arah istrinya.


Asha tertawa kecil. "Ya, itu juga."


"Aku akan belajar memahami. Perlu belajar banyak hal soal istriku yang hamil. Hingga tidak terjadi seperti yang tadi. Aku berusaha tidak terkejut."


"Aku mendukungmu." Asha memeluk erat tubuh lembab suaminya. Tiba-tiba handuk yang Arga pakai melorot. Asha terkejut karena tonjolan milik suaminya semakin terasa nyata tanpa pembungkus. Arga sedikit berjingkat kaget lalu melepas pelukannya dan ingin mengambil handuknya yang tergeletak di lantai. "Tidak perlu di ambil," cegah Asha menggoda.


"Ha?" Arga terkejut dan membuat Asha tertawa senang. "Tidak. Aku bisa jadi obyek mainanmu," sanggah Arga yang segera merundukkan tubuh, untuk mengambil handuknya.

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak mau?" Asha menelisik memperhatikan suaminya saat mengambil handuk.


"Bukan tidak mau. Aku takut aku tidak bisa di hentikan. Bukankah kamu sedang hamil?" Arga sudah berdiri dan melilitkan kembali handuknya. Asha tersenyum.


"Perutku masih kecil."


"Jadi boleh?" tanya Arga tertarik. Hasrat menggauli istrinya naik.


"Menurutku seperti itu," jawab Asha yang sebenarnya juga tidak paham. Hanya menerka saja.


"Bukan menurutmu yang harus aku ikuti. Kita harus tanya dokter dulu." Arga menyentil hidung istrinya gemas.


"Memangnya gak malu?"


"Aku pria yang sudah beristri. Itu pertanyaan yang patut aku tanyakan. Itu penting. Kita keluar jalan-jalan malam ini?"


"Iya boleh. Sudah lama kita tidak kencan." Asha riang mendengar ajakan suaminya.


"Biarkan aku ganti baju dulu." Asha melepas tangannya dan duduk di atas ranjang. Membiarkan suaminya berganti pakaian. Menunggu giliran dirinya berganti juga.


...----------------...



Malam ini Asha membimbing suaminya agar membelok ke alun-alun kota.


"Iya. Aku tahu. Aku hanya ingin melihat." Asha memang sedang ingin lihat orang lagi main basket. Namun sebelum itu, dia sudah di hadang sama pedagang-pedagang makanan yang biasa ada di sekitar alun-alun. Mata Asha berbinar. Ada banyak makanan yang membuatnya berselera. "Aku mau makan nasi jagung," pinta Asha setengah menyeret mengajak suaminya untuk mendekat ke penjual nasi jagung.


"Baiklah kita memesan." Asha tersenyum. Akhirnya mereka sudah menghabiskan satu porsi nasi jagung. Asha sangat cepat menghabiskan nasinya. Dia seperti sangat kelaparan.


"Mungkin karena kamu berbadan dua, selera makanmu bertambah." Arga menunjuk piring Asha yang tandas. Asha mengangguk sambil tersenyum malu. "Sudah kenyang?"


"Aku ingin es buah," kata Asha yang sudah menemukan es buah di seberang penjual nasi jagung ini. Arga melihat.


"Kamu juga ingin itu?"


"Ya."


"Baiklah, ayo kesana. Bayarlah dulu." Asha menghampiri penjual nasi jagung dan membayar. Setelah itu menggandeng lengan suaminya, dan melangkahkan kaki menuju tempat jualan es buah.


"Pak. Es buah dua, ya..." kata Asha. "Saya minta buah alpukatnya yang banyak ya, Pak. Nanti saya bayar lebih," imbuh Asha.


"Siap, neng."


Mereka berdua duduk di sebuah kursi plastik yang sudah di sediakan penjualnya. Mata Asha berbinar, melihat mangkuknya berisi buah alpukat yang banyak. Bahkan buah-buah yang lain tenggelam dan tidak kelihatan karena tertutup buah berwarna hijau dan kuning itu.


Es buah yang banyak alpukatnya sungguh menggugah selera. Meskipun malam-malam, tidak membuat Asha kedinginan untuk menggigit es batu. Hingga menimbulkan bunyi yang khas.


"Eh, jangan biasa menggigit es batu. Gigimu nanti keropos." Arga melihat dengan ngeri. Mulut Asha mengkerucut dan pipinya menggembung karena es batu masih penuh di mulutnya.

__ADS_1


"Ttvvanggung..." Karena kondisi mulut penuh dan di paksa untuk bicara, kata-kata yang keluar jadi terdengar aneh. Arga mengernyit mendengar penuturan istrinya. Asha membiarkan suaminya berpikir keras soal perkataannya. Baru setelah selesai menggigit habis es batu, Asha mulai mengulang perkataannya. "Tanggung. Sudah ada di mulut." Asha memamerkan giginya. Arga hanya menipiskan bibir menanggapi.


Makan dan jajan sudah di jabani. Kaki mereka terus melangkah masuk ke dalam ke ramaiam alun-alun kota. Sebagai orang dari kampung, main kesini dulu itu wajib. Apalagi disini menyediakan lapangan basket kesukaannya.


Kakinya menjadi semangat tatkala melihat permainan yang jadi hobbi-nya itu. Apalagi itu salah satu tali untuk menyambungkan takdirnya bertemu dengan pria yang sekarang jadi suaminya. "Wahh ... kangennya." Asha mempererat pegangan tangannya.


"Jadi ingat kamu yang ketakutan di pojok saat melihatku," kenang Arga sama pertemuan mereka di lapangan basket. Asha tertawa sambil memukul lengan suaminya pelan. Malu.


"Asha?" tegur Cakra yang ternyata ada di sana. Mata Asha melebar. Tangannya langsung terlepas dari pegangan pada lengan Arga. Lalu menggoyang-goyangkan kelima jarinya untuk menyambut sapaan Cakra.


"Ingat. Tidak ada basket dan semacamnya." Arga sudah was-was. Apalagi ada orang yang satu genk sama istrinya. Temannya itu menghentikan permainan dan berjalan mendekat. Teman-teman yang main sama Cakra juga menoleh.


"Lama tak jumpa, Sha..." Asha mengangguk. Setelah bersalaman mereka memutuskan duduk di pinggir lapangan.


"Hanya duduk dan ngobrol." Arga memberikan peringatan lagi.


"Iya, hanya duduk saja, kan...," Asha berusaha memberi keyakinan pada suaminya dia tidak akan bertingkah.


"Enggak boleh main basket lagi, nih?" tanya Cakra ikut ngomong. Asha menaikkan alisnya dan mengangguk.


"Dia hamil," sahut Arga. Cakra yang tadi melihat Asha kali ini langsung melihat ke Arga lalu melihat Asha lagi dengan cepat. Wajah Cakra berubah saat mendengar kata hamil. "Jadi Asha hamil?" tanya Cakra. Asha mengangguk.


"Wah. Selamat ya. Sebentar lagi jadi wanita sesungguhnya nih ... dan kamu akan jadi ayah." Cakra menepuk lengan Arga sejenak. Arga tersenyum bangga.


"Kamunya kapan?" tanya Arga balik. Cakra tersenyum kecut. Pertanyaan tidak menyenangkan mulai di lontarkan. Baik perempuan atau laki-laki sebenarnya tidak suka pertanyaan seperti ini. Kapan menikah.


"Tiada hati untuk yang lain kecuali satu orang...," ledek Asha. Cakra nyengir saja.


"Sulit juga kalau seperti itu. Lebih baik hatimu seperti itu kalau sudah menikah. Jadi hatimu untuk istrimu saja." Cakra tergelak saat Arga berkomentar.


"Kok sama anak lain? Mana orang-orang biasanya?" Yang di maksud Asha itu adalah Andre dan Deni.


"Iya mereka pada enggak ikut. Dia ...," saat itu muncul Deni dan seorang lagi, Reksa. Asha tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu. Mata Arga sudah fokus untuk, melihatnya seksama. Sepertinya dia juga menjadi tegang karena kemunculan pria ini. Asha menggenggam tangan suaminya. Tahu bahwa suaminya sedikit menguarkan hawa gelap, karena kemunculan pria itu.


Cakra melihat sekilas. Berharap tidak ada ketegangan diantara mereka.


"Selamat malam Tuan Arga," sapa Reksa tahu diri. Dia tahu di depannya adalah tuan muda terpandang.


"Kau bisa memanggilku dengan nama saja. Kita tidak sedang dalam suasana bekerja. Bagaimanapun kau adalah teman istriku." Arga mempertegas kata-kata istriku dengan tegas. Reksa tersenyum.


"Terima kasih. Aku juga tidak keberatan kita bisa bersikap lebih luwes karena tidak sedang bekerja." Reksa tahu mereka sudah menikah. Pihak Arga juga mengundang departemennya, tapi dia tidak muncul. Kedatangannya di gantikan rekan pajak yang lain.


"Masih aktif main basket, Rek?" tanya Asha mengisi ketegangan yang ada dengan nada persahabatan.


"Ya. Karena masih ada teman yang bernasib sama denganku, jomlo." Reksa menunjuk Cakra yang tersenyum kecut. Cakra maupun Reksa memang belum punya pasangan. Lalu mereka melanjutkan obrolan yang terus mengalir. Dimana Arga berusaha menganggap Reksa bukan sebagai saingan, hanya sebagai rekan dari kantor pajak yang tidak sengaja bertemu di luar kantor.


Reksa juga berbicara layaknya seorang teman kepada Reksa. Dia sedang berusaha. Karena saat ini Asha sudah mengandung benihnya, itu menandakan perempuan ini sudah miliknya seutuhnya. Hingga Asha merasa mengantuk dan mengajak pulang.


__ADS_1


__ADS_2