Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Paris yang curiga


__ADS_3


Paris berpikir sejenak sambil memiringkan kepala melihat kakaknya. Kemarin saat di kantor mereka berdebat soal Paris yang mencemooh Chelsea. Padahal Paris sengaja melakukannya karena sayang seorang adik terhadap kakaknya. Arga justru marah dan berbalik membela Chelsea, seakan-akan tidak mau kalau harus menghindari Chelsea. Namun sekarang, Arga dengan mudah akan berhenti menemui Chelsea.


Kakak berjanji tidak akan bertemu dengan Chelsea lagi kalau aku berhenti memarahi kak Asha? Baik hati sekali dia. Ini aneh sih, karena menyangkut Chelsea mengapa dia dengan mudah berjanji tidak akan menemuinya. Bukankah dia mantan tunangan yang sangat di cintainya.


"Oke, kak Arga aku maafkan. Dan kak Asha...." Kepala Paris menoleh ke Asha yang sedang diam menanti hukumannya, "Silahkan balik kerja lagi dah. Aku juga memaafkan kak Asha, karena kak Arga akan menepati janjinya. Benar kan?" ujar Paris melirik Arga dengan peringatan keras


"Terima kasih," ujar Asha lega.


"Iyaa..." Arga mengalah dengan merendahkan nada bicaranya agar Paris tidak terus memarahi Asha. Sebenarnya Paris bukan memarahi, dia hanya perlu meminta penjelasan Asha yang sering jadi temannya kenapa malah membela Arga.


Paris beranjak pergi ke lantai dua karena sudah selesai sarapan. Asha juga hendak pergi kembali bekerja. Ini masih jam aktif para pelayan di rumah ini melakukan pekerjaannya. Biasanya jam-jam ini Asha masih berkutat dengan cucian. Hanya saja tadi Asha menyegerakan pekerjaannya karena ancaman yang tidak akan pernah usai oleh orang di sebelah dia.


Arga yang sudah siap berangkat kerja dengan memakai setelan jas menghentikannya,


"Sangat di luar dugaan kamu membantuku memberi alasan seperti itu."


"Maaf, saya tidak sedang beralasan tadi. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Anda memang sedang makan siang di dalam ruang kerja bersama saya."


"Benar juga, tapi... aku rasa ada yang keliru." Asha mengernyitkan dahi. Waduh, salah lagi nih. Tit... tit... alarm pada diri Asha berbunyi.


"Keliru?" tanya Asha enggak paham.


"Benar. Kita tidak sedang makan siang berdua, tetapi ada Chelsea juga Paris."


Oh, itu..


"Benar. Saya tadi kurang menambahkan nama nona Paris dan nona Chelsea tadi. Maaf, saya lupa," Asha mengatakannya dengan kelegaan yang luar biasa.


"Benarkah?" Asha yang tersenyum dalam hati karena kekeliruan sepele tadi di koreksi oleh tuannya, jadi berubah serius lagi. Ada yang sedang melancarkan aksi isengnya nih..


Pertanyaan apa itu? Ceritanya memang seperti itu...


"Benarkah, hanya lupa tidak menyebut mereka berdua atau kamu memang ingin makan siang denganku?" tanya Arga dengan mata jahil yang terpancar.

__ADS_1


Bukaaaannnnn!! Nih orang ngaco deh.


"Tidak. Bukan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Maaf." Asha gugup.


"Kamu ini selalu minta maaf padaku ya...,"


Jelas! Kamu majikan aneh yang punya beribu alasan enggak masuk akal untuk memecatku.


Asha diam.


"Walaupun kamu memang memintaku makan siang berdua denganmu, aku tidak keberatan," Ajakan makan siang nih.. Namun ini Asha. Dia sedang tidak dalam mode mudah terharu sama yang beginian. Apalagi tuan mudanya yang bilang. Ajakan itu terasa biasa saja di telinganya.


Aku yang keberatannnnn... Sudah ah berangkat kerja gih, bikin gerah pagi ni.. Usil terus orang ini. Keusilannya tiada matinya.


Tapi tuan muda ini tetap saja berdiri disitu.


"Belum berangkat, Ga?" tanya Ayah yang melintas. Ternyata beliau akan berangkat ke kantor juga.


"Belum. Ayah mau ke kantor juga?" tanya Arga yang melihat Ayah sudah rapi.


"Apakah Ayah mau bareng Arga?"


"Tidak, tidak. Ayah akan berangkat dengan Pak Sanjaya saja. Bukankah nanti sore kamu berangkat ke kota x untuk meninjau pembangunan Mall baru di sana?" tanya Ayah.


"Ya." Asyiikkkk... teriak Asha dalam hati. Dia sungguh bahagia mendengar pembicaraan barusan.


"Ya sudah Ayah berangkat dulu." Tuan Hendarto tersenyum ke Asha dan pelayan ini membungkuk hormat.


"Iya, Ayah..." Hendarto menuju pintu di temani Sanjaya orang kepercayaanya. Arga merogoh sesuatu dari saku jasnya.


"Ini, kunci kamarmu." Arga menyerahkan kunci kamar yang lernah terjatuh di bawah rak buku. Kemarin Rendra menyuruh office boy untuk mengambil kunci itu setelah Arga bercerita kalau Asha menghilangkan kunci kamarnya disana.


"Terima kasih tuan," ucap Asha semakin bergembira. Namun kegembiraan itu sengaja dia tahan karena sedang berdiri di depan tuan muda Arga. Kebahagiaan Asha dobel hari ini. Horeee. Selain orang di depannya ini nanti akan keluar kota, kunci kamarnya juga ketemu. Kalau tuan muda keluar kota, Asha akan merasa lebih aman dan tentram. Arga melihat gelagat bahagia di raut wajah Asha yang menunduk melihat kuncinya.


"Lebih baik kalau hanya berdua denganku kamu memanggilku cukup dengan nama saja...," Tit, tit, tit... Alarm Asha berbunyi lebih keras dari pada yang tadi. Mendengar perkataan Arga, reflek Asha mundur.

__ADS_1


Arga heran. Kenapa tubuh itu mendadak menjauhkan tubuhnya dan menarik wajahnya, lalu bola matanya melihat ke arah lain dengan ragu-ragu. Mata Arga berusaha menyelidiki. Kemudian senyumannya mengembang.


Dia sedang melindungi dirinya dariku.


Tubuh Asha memasang dua alarm untuk dirinya saat bersama yang mulia Arga Hendarto ini. Pertama, alarm untuk mengingatkan pada semua hal yang mengganggu mood baik tuan muda. Kedua, alarm untuk melindungi diri dari rasa haus dan lapar binatang buas yang siap menerkam dirinya kapan saja.


Asha menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Arga. Terutama wajahnya. Bukan! Terutama bibirnya! Dia tidak mau lagi bibirnya tercuri dengan mudah oleh tuan muda. Cukup waktu itu. Titik!


"Kamu pikir aku akan melakukannya lagi?" Arga paham maksud perempuan itu.


Iya!!


Asha geram sambil melihat tuannya dengan tatapan kesal yang di sembunyikan. Asha masih ingat rapalan tuan mudanya soal mencium dan menggigit. Itu sangat mengerikan baginya.


"Aku pikir terlalu lama aku bermain-main denganmu," Arga meliht ke jam tangan berwarna chrome di pergelangan tangan kirinya.


"Baiklah aku pergi dan terima kasih sudah membantuku tadi. Jangan lupa panggil namaku saja saat kita berdua seperti ini." Arga tersenyum dan bergegas ke kantor. Hhh... Asha bernapas lega sambil memegangi dadanya. Dia merasa berdebar saat alarm berbunyi tadi. Helaannya barusan menunjukkan kalau dia ternyata bisa lepas dari buruan hewan buas. Dia sudah berpikiran kemana-kemana tadi.


Tangannya melihat ke arah kunci kamar yang di pegangnya. Namun ada yang janggal. Mainan itu hilang. Mainan kunci yang ada bersama kunci itu tidak ada. Kemana? Apakah jatuh?


Asha melihat kebawah mungkin saja dugaannya benar. Ternyata di bawah tidak ada. Apakah mainan itu ada pada tangan tuan muda? Asha berniat menanyakannya nanti. Sebenarnya Asha sangat malas harus berurusan lagi dengan tuan muda tapi itu harus di lakukan. Itu bukan hanya mainan biasa, kotak bening berbentuk segi enam kecil itu pemberian seseorang.


Bukan kebahagiaan sebenarnya yang bisa di ingat dari kotak itu. Hanya rasa menyebalkan. Namun Asha masih ingin bertemu dengan dia. Itu sungguh lucu.


Sedang apa kakak itu? Sedang bermain-main? Melepaskan penat dan lelah karena Chelsea?


Ternyata ada Paris yang sedang bersandar di balkon lantai dua yang menghadap ruang tengah. Dengan kedua matanya, gadis itu melihat interaksi barusan. Tadi, saat kakinya melangkah dengan lambat menaiki anak tangga, gendang telinganya menangkap suara-suara yang tak biasa di bawah sana. Suara yang sungguh aneh dan tidak pernah terdengar sebelumnya. Dan itu suara Arga.


Hingga dia memutuskan tidak ingin meneruskan langkah menuju kamarnya. Paris terlampau penasaran. Tubuhnya berhenti dan bersandar di balkon yang menghadap ruang tengah ini. Dua orang itu tidak menyadari keberadaannya di atas sini, terutama Arga. Lelaki itu tidak sadar ada yang sedang menyaksikan percakapan aneh barusan. Dia terlalu memfokuskan diri pada buruannya, Asha.


Ajakan makan siang? Dia bukan hanya pandai menyempurnakan pekerjaannya, tapi dia juga pandai memanfaatkan situasi. Maka dari itu, dia sering terlihat cerah, ceria dan bahagia sentosa belakangan ini?


Dasar kakak. Apa yang sedang di pikirkannya? Bermain-main dengan kak Asha? Dia tidak tahu kalau bisa saja kak Asha menghajarnya dengan tendangan waktu itu? Kakak menjadi gila karena wanita yang dicintainya itu.


Namun, aku tidak mengira ternyata kakakku selucu ini. Mereka berdua jadi seperti anak kecil. Hhh... aku tidak tahu soal yang satu ini. Tidak tahu.

__ADS_1



__ADS_2