Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Di balik pintu


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!



Pagi ini Arga melihat Asha melintas di bawah sana. Tangannya langsung menyambar handphone dan menekan panggilan nomor satu di panggilan cepatnya.


"Lihat ke atas," pinta Arga dengan nada memaksa yang kental. Asha mendongakkan wajah seketika. Melihat wajah Arga di balik jendela kamarnya. "Cantik," puji Arga.


"Jangan mengada-ngada. Dari tempatmu berdiri mana bisa tahu kalau kalau ternyata wajahku membengkak?"


"Benarkah? Kenapa? Kau ada masalah? Kau menangis tadi malam?" Arga memberondong Asha dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Tidak mungkin," bantah Asha.


"Kenapa? Untuk seorang perempuan, wajar kalau sedang menghadapi masalah dengan tangisan. Aku tidak masalah dengan itu," Arga mengucapkannya dengan rasa wajar bila perempuan seperti itu juga dengan perhatian penuh.


"Kamu menginginkan aku menangis?"


"Yang benar saja. Aku adalah orang yang paling tidak menginginkanmu menangis di dunia ini, selain keluargamu," Asha mendengar Arga mendengkus merasa lucu, juga kesal Asha menuduhnya seperti itu. "Kenapa juga kau harus menangis? Bukankah kau sudah punya kekasih tampan dan sayang padamu?" Sedikit narsis tapi memang iya.


"Jangan menggombal saja. Aku banyak pekerjaan."


"Kau ini tidak ada manis-manisnya sama sekali kepada kekasihmu ini," ucap Arga sambil menggeram.


"Aku memang tidak manis," sanggah Asha tidak peduli.


"Benar. Dirimu yang tidak manis itulah yang membuatmu tampak manis. Karena dirimu yang tidak berusaha tampil manis di depanku dan membiarkan dirimu apa adanya itu yang membuatku tertarik." Nada suara lembut ini sangat mengusik Asha dan membuat rona merah senang terlukis pada wajahnya.


"Kau memang lelaki yang pandai memakai kata-kata seperti itu." Asha mendengar kekehan pelan di seberang sana, "Tidak berangkat ke kantor?"


"Ini masih pagi. Aku masih punya banyak waktu untuk bisa membuatmu merona lebih lama lagi," kata Arga seakan bisa melihat rona merah yang menyebar di permukaan kulit Asha. Dia hanya menebak dan mengira. Asha masih saja melihat ke arah dia, lelaki yang menjadi kekasihnya.


"Lalu pekerjaanku?"


"Benar juga. Kau harus melakukan pekerjaanmu. Kemarilah," kali ini bibir Arga benar-benar tersenyum senang.


"Kemari? Kemana?" tanya Asha was-was.


"Ke kamarku. Aku menunggumu," bisik Arga serak karena berusaha menciptakan nada sensual, membuat telinga Asha geli. Kalau saja Arga tidak melakukannya lewat telepon, Asha pasti tidak akan hanya merasa geli. Lalu Asha menggeleng-gelengkan kepala membuang pikiran-pikiran tercela pada otaknya yang tidak sengaja bersarang disana.


Asha melangkah menuju tempat Rike dulu untuk memberitahu, dia tidak ingin Rike bingung mencarinya.

__ADS_1


***


Benar juga, ini masih pagi. Ruang makan masih sepi. Meja makan masih kosong tanpa ada makanan yang tersedia di atasnya. Nyonya Wardah masih baru memulai membuat masakan.


Sungguh aneh jika tuan muda itu sudah bersiap sepagi ini. Asha membungkuk memberi salam pada Nyonya Wardah saat melintas.


"Mau kemana, Sha?" tanya Nyonya Wardah.


"Ke lantai dua nyonya ambil cucian."


"Sekalian ke kamar Arga ya ambil cucian. Belakangan ini dia meminta untuk pelayan yang mengambilnya. Kamar Arga ada di ujung lorong lantai dua. Tepat di atas area penjemuran itu," ujar Nyonya Wardah memberi tahu. Padahal dia menuju ke sana memang mau ke kamar Arga. Asha jadi merasa malu sendiri. Sebelum di beritahu beliau, Asha sudah tahu lebih dulu letak kamar tuan muda. Bahkan pernah masuk ke dalam kamar putra sulungnya.


Saat Asha hendak menuju lantai dua, dia bisa melihat Tuan Hendarto sedang berbincang dengan orang-orang di halaman depan.


"Kak Asha!" panggil Paris yang berada di depan pintu kamarnya. Lalu segera menghampiri Asha dan menunggu Asha di sana. Menunggu Asha menaiki tangga dan berjalan ke arahnya. Setelah Asha sudah sampai di lantai dua, Paris menggamit lengannya. Menggiring Asha ke ruang bersantai di lantai dua.


"Ada apa? Ceria sekali.." kata Asha curiga melihat wajah nona mudanya cerah ceria. Paris tersenyum gemes. " Seperti lagi jatuh cinta," Paris smakin mesem gemas sambil memukul-mukul lengan Asha dengan pelan. Walaupun pelan karena bertubi-tubi, Asha meringis sambil menghalau tangan Paris agar tidak terus saja memukulnya.


"Eh? Apa yang sedang aku lakukan? Aku jadi seperti Sandra. Ihhh..." Tiba-tiba Paris sadar diri dan bergidik. Asha enggak paham dengan perubahan Nona mudanya. "Abaikan. Ini yang serius, aku..." Handphone Asha berdering. Telinga Asha mendengar deringan itu tapi berusaha mengabaikan. Paris mengambil napas ingin melanjutkan kalimatnya.


"Aku..." Handphone berdering lagi memotong kalimat Paris. Asha mengangkat alisnya tidak menduga handphone itu berdering memaksa. "Siapa sih kak. Ganggu orang mau ngobrol aja," getutu Paris. Asha tersenyum masam mendengar gerutuan nona mudanya. Dia mencoba melihat ke layar handphone.


Sebenarnya dia tidak perlu menunjukkan siapa yang sudah meneleponnya, tapi kali ini Asha berbaik hati menunjukkan hal privasinya buat nona muda.


"Kak Arga?" sebut Paris terkejut. Dia bisa membacanya dengan gamblang karena nama yang tersimpan dalam kontak telepon itu tidak menggunakan nama panggilan nyeleneh yang membuat Paris susah mengartikannya. Asha hanya menggunakan nama panggilan Arga itu untuk memberi nama pada nomor telepon lelaki yang jadi kekasihnya.


Asha mengangguk.


"Aihhh... itu orang ganggu aja. Sudah deh ceritanya lain kali kalau kak Asha senggang. Senggang dari buruan kak Arga maksudnya.." ujar Paris sambil melebarkan mata seakan itu sulit.


Sejak mereka menjalin kasih, waktu senggang Asha selalu di isi oleh Arga. Bukan Asha sengaja menyisakan waktu buat Arga. Sebagai tuan muda di dalam rumah megah ini, Arga tahu kapan Asha sudah menyelesaikan tugasnya. Kapan Asha punya waktu luang karena pekerjaan pada hari itu sedikit. Arga hampir tahu jam-jam Asha bisa di dekati atau tidak.


Bahkan jika Asha tidak punya waktu, Arga akan mengubahnya menjadi bisa. Arga melakukan segalanya untuk bisa bersama Asha.


"Aku pergi dulu," pamit Asha.


"Ya, ya, ya pergilah kak. Kalau tidak kak Arga akan uring-uringan terus." Akhirnya Paris merelakan Asha demi membuat kakaknya senang. Dia harus bisa menahan diri untuk tidak cerita lagi hari ini. Lalu dia masuk lagi ke kamar mengambil cucian untuk Asha dan meletakkan di depan pintu dengan keranjangnya.


Asha berjalan dengan kaki telanjang. Dia tidak punya sandal untuk di pakai di dalam rumah karena pekerjaan utamanya di luar. Akhirnya sampailah dia di depan pintu. Tangan kanannya terangkat untuk mengetuk pintu. Ternyata sebelum berhasil mengetuk pintu, Arga sudah membuka pintu kamar dan langsung menarik tubuh Asha masuk ke dalam kamarnya.


Asha mendelik dan hampir memekik. Namun karena Arga segera menutup pintu dan memeluknya. Asha bisa juga langsung menutup mulutnya.


"Menyenangkan sekali bisa memelukmu lagi seperti ini," ujar Arga yang belum memakai pakaian kerjanya. Dia masih memakai kaos berwarna merah menyala. Dari jarak sedekat ini tercium aroma khas Arga yang mulai dikenal dan di hapal Asha. Tipe parfum Eau de toilette yang memiliki aroma yang lebih ringan dan menyegarkan. Asha suka aroma ini. Juga semakin menyukainya karena lelaki ini yang memakainya. Asha menatap takut ke arah pintu. Seakan-akan seseorang akan membuka pintu tiba-tiba saat Arga masih memeluknya.

__ADS_1


"Sudah. Lepaskan. Apa kau hanya ingin memelukku hingga menyuruhku datang ke sini?"


"Kalu aku bilang iya kamu tidak akan setuju. Atau kau ingin menciumku?"Asha memutar matanya malas. Seseorang sedang membuka pintu. Ini mengejutkan bagi mereka berdua. Dengan terburu-buru Arga mendorong tubuh Asha kearah balik pintu.


"Ga," panggil Bunda. Membuat Asha mendelik. Deru napasnya cepat karena takut dan cemas. Kekhawatirannya terwujud.


Tiba-tiba pintu terbuka saat Arga masih memeluknya. Arga meringis menahan sakit saat pintu sengaja di dorong keras ke arah dinding agar terbuka dengan lebar. Handle pintu mengenai pinggang Arga. Asha menggigit bibir melihat Arga meringis.


Itu pasti sakit.


"Kemana anak itu?" Nyonya Wardah melihat sekeliling kamar yang nampak kosong. "Lihat kakakmu Paris?!" teriak nyonya Wardah nyaring pada Paris yang muncul dari pintu kamarnya.


"Ada di dalam kamarnya," kata Paris. Nyonya melongok kedalam kamar lagi." Kamarnya kosong," ucap Nyonya Wardah ketika sudah memastikan bahwa dirinya benar.


"Oh, ya? Aku tidak melihat kak Arga keluar."


"Apakah kamu terus berada di depan kamar?"


"Tidak, tapi aku yakin kak Arga masih di dalam bersama... " Mata Paris membeliak. Mulunya menganga karena tidak jadi meneruskan kalimatnya. Dia teringat sesuatu.


"Kenapa pintu kamar ini tidak bisa terbuka penuh sih. Ada apa di balik pintu ini..." Nyonya Wardah heran dan ingin melihat ada apa di balik pintu.


"Bun!" teriak Paris nyaring dan mengagetkan. Nyonya Wardah yang hendak mengintip di balik pintu tidak jadi karena mendengar teriakan Paris. "Kenapa berteriak seperti itu, Paris?" tanya Nyonya Wardah yang sempat berjingkat kaget.


"Aku tahu. Kakak sepertinya keluar dari kamar tadi," ujar Paris dengan pupil mata melebar yang menunjukkan bahwa dia sedang berbohong. Namun Paris berakting lumayan bagus.


"Kau bilang kakakmu masih di dalam kamar Paris?"


"Tidak. Tidak. Aku yakin kakak keluar kamar tadi."


"Dan Asha?" Paris semakin yakin mereka berdua masih di dalam kamar entah dimana itu.


"Mungkin juga sudah pergi?" ujar Paris dengan kedua matanya mengerjap panik. Entah ini jawaban atau pertanyaan. Di balik pintu. Di balik kepanikan Paris dan juga Asha, Arga tersenyum senang dengan kedekatan mereka yang tidak terbantahkan. Tubuh mereka menyatu tanpa bisa berbuat banyak.


Tangan Arga yang tadi memeluk Asha kini harus perlu menipiskan tubuh hingga membuat tangannya merapat ke dinding. di mana itu artinya Arga memerangkap tubuh Asha. Membuat Asha yang tadi bisa luput dari tatapan mata Arga karena kepalanya masuk dalam dekapan tubuh lelaki itu, sekarang harus mendongak karena keterkejutan dengan kedatangan nyonya Wardah.


Arga masih saja menyempatkan diri menggoda Asha. Mendekatkan bibirnya perlahan. Asha yang terpaksa mengangkat kedua tangannya pada dinding seakan-akan sengaja di jebak untuk berpose menyerah kali ini diam saja.


Arga berhasil mendaratkan bibirnya yang masih segar karena baru saja selesai mandi. Asha tidak bisa protes. Saat ini dia tidak bisa berkutik. Tubuhnya terperangkap oleh tubuh Arga. Hanya kepala Arga yang bisa bergerak bebas karena masih ada ruang sedikit di belakang kepalnya. Arga punya kendali penuh kali ini.


"Rupanya begitu ya... Padahal bunda akan memberitahu dia soal seorang perempuan yang akan Bunda kenalkan padanya," ujar Nyonya Wardah kecewa tidak bisa menemukan putranya. Raut wajah Paris juga berubah. Ada rasa gelisah dan juga takut.


Paris yakin ada mereka berdua di sana. Di dalam kamar yang di anggap kosong oleh bundanya.

__ADS_1



__ADS_2