Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Pelajaran baru bagi Paris


__ADS_3

Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Selamat membaca💚



Akhirnya Asha dan Paris sampai di halaman depan rumah. Sengaja Paris tidak meminta bantuan Pak Yus di depan tadi untuk membawakan belanjaannya karena dia ingin kelihatan benar-benar sedang pulang dari pasar. Karena Paris menolak, jelas Asha juga tidak bisa meminta bantuan. Mana mungkin dia meminta bantuan Pak Yus sementara majikan berupaya membawa belanjaannya sendiri. Ini menyusahkan bagi Asha karena dia membawa belanjaan lebih berat dari Paris.


Nona iniiiii....


Kedatangan mereka berdua di sambut dengan kepanikan Bik Sumi dari dapur melihat belanjaan yang banyak. Beliau datang tergopoh-gopoh melihat Nona Muda yang membawa tas belanjaan yang berat. Nyonya Wardah sedang tidak berada di dapur.


"Aduh Nona, kenapa bawa yang berat.." kata Bik Sumi langsung membantu Paris membawa belanjaan. Mata Asha melihat interaksi ini dengan menghela napas. Ya ampun, Bik sumi tidak pengertian. Yang bawa belanjaan berat itu saya Bi... Saya..


Asha menipiskan bibir dan geleng-geleng kepala. Bahwa dia juga sedang mengalami sakit pinggang karena membawa belanjaan yang lebih banyak daripada Paris, tapi terabaikan tanpa di toleh sedikitpun oleh Bik Sumi. Karena dia nona muda, jelas Bik Sumi langsung membantunya. Bukankah mereka adalah pelayan. Asha meletakkan dua tas kresek besar berisi belanjaan di atas meja dapur.


"Wah Asha pintar berbelanja rupanya," puji Nyonya Wardah yang muncul di pintu dapur membuat hati Asha adem juga karena terabaikan oleh Bik Sumi. Asha tersenyum malu dan senang saat di puji. Kaki Nyonya Wardah melangkah menuju meja dapur.


"Paris tadi ada jagung muda gak? Beli berapa?" tanya Nyonya Wardah sambil melongok ke tas kresek belanjaan di atas meja dapur. Paris yang tadi sama sekali tidak ikut memilah sayuran di pasar jadi bingung. Dia kan sibuk nelpon sama Arga, juga sibuk menghindari laki-laki berkaos merah itu. Lalu noleh ke Asha dengan pandangan bertanya. Ingin mendapat jawaban dari sana. Mata Nyonya Wardah melihat gerakan Paris yang minta bantuan jawaban dari Asha.


Nyonya melangkah menghampiri putrinya lalu mengulurkan tangan mendekat ke telinga Paris.


"Dasar ini anakk..." Nyonya Wardah menjewer daun telinga Paris sambil geregetan.


"Aduhhh..." Paris meringis dan merintih. Lalu menggosok-gosok daun telinganya.


"Kamu itu ke pasar dapat apa memangnya? Di suruh belajar belanja kok malah gak di laksanakan. Pasti ini Asha semua yang belanja. Kamu kemana?" omel Nyonya Wardah. Asha diam sambil menyatukan tangannya. Paris mencebik karena ketahuan.


Paris ke pasar itu dapat pelajaran baru selain berbelanja, yaitu... ternyata dia bisa menemukan laki-laki keren di sana. Laki-laki keren enggak cuma ada di tempat bagus semacam mall dan cafe. Di tempat kayak pasar tradisional juga ada laki-laki keren. Pelajaran baru buat Paris.


"Ya sudah. Asha boleh kembali ke belakang.  Saya mau duet masak sana Bik Sumi. Kalau menyuruh kalian berdua yang masak, bisa-bisa arisan nanti gak matang semua masakannya." Asha mengangguk. Kakinya segera menuju ke belakang menghampiri Rike. Sementara Paris memilih leyeh-leyeh di ruang tengah sambil nonton tv.


"Mbak Asha habis dari pasar ya..." Rike yang melihat kedatangan Asha bertanya. Asha mengangguk lemas.


"Ini jajan lopis sama ketan hitam kesukaanmu," kata Asha menyerahkan kresek hitam kecil ke Rike. Raut wajah Rike langsung ceria dan senyumnya sumringah. Walaupun Asha irit tapi kalau hanya jajan murah seperti ini dia suka membelikan Rike.


"Makasih mbak. Kok sepertinya mbak Asha capek banget?" kata Rike lihat Asha lesu lunglai.

__ADS_1


"Iya. Sangat. Aku duduk dulu ya, capek." Rike mengangguk. Asha duduk bersandar dinding tempat pencucian sambil meluruskan kaki. Badan jadi pegel semua. Rike juga duduk sambil membuka bungkusan yang masih menggunakan daun pelepah pisang itu. Di bandingkan pembungkus semacam kertas minyak, biasanya daun ini bisa menyimpan cita rasa dari makanan itu sendiri. Jadi tetap terasa enak seperti awal membuat makanan itu. Menurut orang-orang begitu.


Kalau Asha sih pokok di lidah enak, apapun itu masuk saja ke dalam perut. Karena dia sendiri belum pernah membuat jajanan. Masak saja masih yang sederhana apalagi bermacam kue.


.


.


.


.


Di kota 'S' tempat Arga berada,


.


.


.


Arga membuang pikiran soal itu dan memasukkan lagi handphone ke dalam saku jas-nya. Kakinya melangkah bersama Rendra mengikuti langkah Gilang yang berada di sampingnya. Lalu bola matanya melihat ke arah pembangunan Mall keempat milik keluarganya. Gilang menjelaskan semua hal yang menyangkut pembangunan ini. Rancangan dan rencana ke depan tentang isi mall itu juga di jabarkan. Namun hanya garis besarnya saja.


Ayah menyuruh meninjau ke Mall ini agar mereka yang bekerja tanpa ada bos di sana tahu, kalau atasan mereka juga peduli.


"Tenant yang ada di Mall kota tempat tinggal anda tuan, sudah ada beberapa yang memesan tempat. Outlet-outlet kecil tapi berpotensi itu juga ingin menjadi bagian dari Mall ini.." terang Gilang sambil tersenyum senang.


"Bagus. Pembangunan ini juga di buat persis dengan Mall Kota 'J' bukan?" tanya Arga. Gilang mengangguk.


"Antusias orang-orang di sini tentang berdirinya Mall ini saya rasa sangat tinggi. Kabar tentang Mall ini sudah melebar luas bahkan saat belum jadi tuan," jelas Gilang.


"Benarkah?" tanya Arga dengan raut wajah biasa. Dia masih sedang memikirkan hal lain.


"Ya. Mungkin karena keberadaan Mall di kota 'J' membuat mereka juga membayangkan tempat yang sama yang akan berpindah ke kota 'S' ini." Gilang menyimpulkan.


Kemungkinan memang iya. Arga yang berada di mall kota 'J' paham akan hal itu. Mall kedua di kota 'J' sangat menginspirasi pembangunan mall baru ini. Karena sangat menguntungkan. Dari awal orang-orang di suguhkan sebuah model Mall yang ternama di kota 'J', hingga membayangkan hal itu sama persis dengan mall yang sedang di bangun ini. Karena mereka sudah punya gambaran sebuah Mall yang megah berada di kota mereka, antusiasme mereka semakin besar. Celah ini sangat bermanfaat bagi perkembangan mall jika sudah selesai nantinya.

__ADS_1


Handphone Arga berdering. Sambil mendengarkan pembicaraan Gilang, Arga merogoh handphone dari saku jas. Ada nama seseorang disana. Mata laki-laki ini membulat seperti mendapat kejutan. Bibirnya tersenyum.


"Maaf Gilang, kita hentikan dulu. Aku ada telepon penting," ucap Arga memotong penjelasan Gilang. Ujung mata Rendra melihat cepat ke arah Direkturnya.


Telepon penting? Apakah ada hubungannya dengan pekerjaan? Kalau begitu seharusnya aku mengetahui dulu tentang apa itu.


Karena biasanya telepon penting soal pekerjaan melewati dia dulu yang bertugas sebagai sekretaris Direktur Arga.


"Silahkan berbicara dengan Rendra. Kamu tahu dia orang yang sangat mengerti bukan?" Arga menunjuk Sekretarisnya dengan bangga. Gilang mengerti siapa Rendra. Dia juga terkenal di kalangan pekerja di semua Mall milik keluarga Hendarto.


Karena selain cara bekerjanya yang akurat, juga karena visual Rendra yang tampan. Lelaki yang memakai kacamata bening ini juga punya aura yang kuat sebagai seorang sekretaris yang sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Rendra sangat populer di kalangan para pekerja wanita. Tubuhnya yang tegap seperti direktur Arga juga karakternya yang dingin menambah nilai plus bagi Rendra sebagai pegawai populer.


"Ada apa, Sha?" Rendra mendengar obrolan Arga sekilas lalu pergi menjauh untuk mengobrol lebih nyaman.


Sha? Pasti perempuan itu. Aku lupa kalau sekarang ada hal lain yang menjadi prioritas utama selain pekerjaan. Itu soal dia. Perempuan yang menjadi pelayan rumah keluarga Hendarto. Rendra teringat lagi kejadian di ruangan direktur.


Sepertinya aku harus menyimpan satu nama itu dalam otakku. Karena pasti aku akan selalu berurusan dengan perempuan itu ke depannya. Aku harus mengerti soal ini.


Rendra kemudian mengikuti dan mendengarkan Gilang lagi.


Arga masih mendengarkan suara pelayannya yang ada di seberang sana.


"Ada apa menghubungiku?" tanya Arga terdengar riang.


"Anu... Saya menelpon karena saya melihat sembilan panggilan tidak terjawab dari anda, saya rasa anda ada perlu dengan saya dan sepertinya ini penting," kata Asha yang tadi perlu berpikir panjang lagi saat akan menelepon Tuan muda.


Sebenarnya dia ingin mengabaikan, tapi melihat daftar panggilan tidak terjawab dari tuannya itu menambah empat angka menjadi sembilan, panggilan itu di anggap penting. Makanya Asha dengan rasa keterpaksaan yang tinggi mau menghubungi tuan muda ini.


Menekan tombol panggil saja membutuhkan beberapa menit. Asha mengalami dilema. Mau di diamkan pasti pulangnya kena damprat. Kalau di telepon lagi pasti ada saja perintah tuan muda.


Namun Asha akhirnya mau menelepon duluan.



Terima kasih yang sudah vote, like, favorit dan kasih komentar 💚

__ADS_1


__ADS_2