Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Air mata


__ADS_3


"Ya!" Nyonya Wardah segera keluar kamar dan mendekati Bik Sumi yang menemani Asha.


Ibu hamil ini tengah menahan diri dari rasa sakit yang menyerang perut bagian perut bawah dan punggungnya.


"Barusan nona dari kamar mandi, ada bercak darah Nyonya." Bik Sumi memberitahu. Nyonya Wardah mengangguk.


"Kita ke rumah sakit sekarang, Asha."


"Ya," jawab Asha lemah.


"Panggil Angga untuk menyiapkan mobil, Bik." Bik Sumi mengangguk dan segera keluar.


"Aku dataaang!" Paris sudah pulang dari sekolahnya, di sambut dengan Bik Sumi yang tergopoh-gopoh melewatinya. Juga perintah bundanya yang begitu mendadak.


"Paris, cepat ambil tas warna cokelat berisi perlengkapan bayi di kamar kakakmu."


"Ha?" tanya Paris bingung.


"Cepaaaat!"


"I-iya. Oke." Paris segera melesat ke lantai atas. Rasa sakit Asha mulai berkurang. "Bunda akan bersiap. Rasa sakitnya sudah hilang?" tanya nyonya Wardah yang melihat Asha mulai tenang lagi.


"Enggak. Hanya mengurangi. Bunda bisa bersiap dulu. Aku duduk disini."


"Bunda akan cepat." Saat itu Paris muncul dengan menenteng tas cokelat bermotif cheetah. Gadis ini mendekat sambil melihat ke arah kakak iparnya yang bersandar.


"Kakak akan melahirkan?" tanya Paris. Asha hanya bisa mengangguk. "Sakit?" Sekali lagi Asha mengangguk. Bik Sumi muncul memberitahu bahwa Angga sudah siap. Kemudian muncul juga nyonya Wardah.


"Ayo Sha, kita berangkat. Paris, tolong bawa tasnya kakakmu."


"Ha? Paris belum ganti baju, bun..."


"Aduh... itu tidak penting. Sekarang lebih penting membawa kakakmu ke rumah sakit. Ayo." Paris terpaksa ikut dengan masih memakai seragam sekolahnya.


Sepanjang perjalanan Asha terdiam. Selain menahan rasa sakit, Asha juga sedang memikirkan suaminya. Dia ingin suaminya sekarang ada disini menemaninya.


Asha ingin bertanya apa suaminya sudah di beritahu, tapi dia merasa tidak enak. Kehadiran bunda akan terasa terabaikan jika dia hanya menanyakan suaminya. Dia tidak ingin terlihat manja.


Pikiran Asha soal Arga kembali teralihkan oleh rasa sakit.


......................


Meski jadwal melahirkan Asha maju beberapa hari, bidan dan dokter sudah siap karena nyonya Wardah memberitahu terlebih dahulu. Karena tidak ada Arga, nyonya Wardah menemani Asha di dalam.

__ADS_1


Asha sudah berbaring di atas ranjang khusus ibu bersalin. Setelah bertanya sebentar pada nyonya Wardah untuk memulai penanganan, seorang bidan mulai melakukan pemeriksaan dalam.


Setengah telapak tangan bidan dimasukkan ke alat kelamin Asha hingga jarinya dapat menyentuh mulut rahim untuk memeriksa besar bukaan yang sudah tercapai.


Tubuh Asha berjingkat sedikit karena terkejut. Kemudian meringis saat pemeriksaan dalam ini. Rasanya sakit dan tidak nyaman di bawah sana.


"Masih bukaan tiga, nyonya," ujar bidan itu. "Silahkan menunggu sampai pemeriksaan lagi yah?" Nyonya Wardah menyeka keringat di kening menantunya.


"Arga sudah di beritahu, bunda?" tanya Asha lemah pada akhirnya. Dia sangat ingin ada suaminya.


"Iya."


"Kenapa belum datang?" tanya Asha sambil menahan sakit.


"Sabarlah. Sebentar lagi juga datang. Sekarang fokus dulu pada bayimu ya." Asha mengangguk. Kemudian mengerang pelan saat kontraksi yang menyakitkan datang lagi. Tangan Asha menggenggam telapak tangan bunda dengan erat.


Nyonya Wardah tidak berani mengatakan bahwa putranya ada di luar kota. Itu bisa membuat Asha stress.


"Arga masih belum datang, bunda?" tanya Asha lagi. Padahal pertanyaan itu baru saja terlontar.


"Belum... Sebentar lagi. Pasti sudah dekat." Nyonya Wardah mencoba menenangkan menantunya dengan berbohong. Meski sudah menyuruh Rendra untuk memberitahu Arga, tidak ada jaminan pasti putranya akan segera datang.


......................



......................


Nyonya Wardah kebingungan sendiri karena tidak ada yang bisa di ajak berpikir. Sangat tidak mungkin menelepon Arga yang masih mengurusi masalah kebakaran itu.


"Nyonya ... ada seseorang yang datang," ujar bidan memberitahu. Asha masih merintih kesakitan saat mendengar kalimat bidan. Kepalanya ingin melongok tapi tidak bisa. Dia disibukkan oleh rasa sakit.


Nyonya Wardah menoleh ke arah pintu. Dengan wajah lega, nyonya Wardah berbisik pada Asha, "Suamimu sudah datang, Sha. Bunda keluar dulu ya ... di ganti sama Arga." Asha melepas genggamannya dan membiarkan mertuanya pergi keluar.


Lalu berganti dengan kedatangan suaminya yang sangat di tunggu. "Hai, sayang ... aku datang. Aku menepati janji untuk menemanimu saat melahirkan. Maaf, aku sedikit terlambat. Tidak apa-apa kan?" Tangan Arga langsung menggenggam jari-jari istrinya.


Melihat wajah yang sangat di sayanginya ada di sampingnya, Asha tak kuasa menahan air mata. Asha hanya mengangguk menerima permintaan maaf suaminya.


Arga mengusap air mata yang meleleh barusan. "Sekarang kamu bisa tenang. Ada aku disini." Sambil menunggui istrinya, Arga bertanya tentang perkembangan istrinya. Bidan dengan ramah memberikan penjelasan.


Tiba-tiba Asha merasakan kontraksi yang begitu hebat. Arga sempat terkejut, tapi segera bisa mengatasinya. Genggaman tangan Asha semakin ketat. Bidan segera melakukan pemeriksaan dalam lagi.


"Sudah buka tujuh," seru bidan.


Sepertinya bayi dalam kandungan Asha memang sedang menanti ayahnya. Padahal sejak satu jam, jalan lahir hanya sampai pada bukaan dua. Itu sempat membuat uti Wardah frustasi dan ingin ambil jalan pintas, yaitu operasi caesar.

__ADS_1


Namun di detik-detik memusingkan itu, sang ayah datang. Jalan lahir terbuka hingga bukaan tujuh. Sungguh ajaib. Beberapa bidan bersiap di depan ranjang Asha.


"Tuan, sungguh ingin menemani istri Anda melahirkan?" tanya dokter yang mengepalai tim ini.


"Ya."


"Baik. Siapkan diri Anda. Proses persalinan akan di mulai."


Asha kesakitan dengan kontraksi pada perutnya yang semakin kuat. Arga yang sudah bersiap menemani istrinya melahirkan, berada di sampingnya sambil menggenggam erat jari Asha.


"Nggg... " Asha mengerang saat kontraksi menyerangnya lagi. Tidak ada hal lain lagi yang bisa di lakukan Arga selain menerima genggaman erat istrinya yang menahan sakit sambil terus berdoa dalam hati.


Jangan membuat bundamu kesakitan anakku. Lihatlah... Lihatlah rasa sakit yang di rasakan olehnya. Aku sebagai ayah juga tidak bisa membantu selain mencoba menemaninya dan berdoa. Hanya kamu yang ada di dalam rahim yang bisa meredakan rasa sakit itu. "Cepatlah keluar anakku..."


"Sudah mulai kelihatan kepalanya, nyonya. Ayo mengejan lagi. Ayo. Jangan membuat anak anda berada di tengah jalan."


"Arga...," sebut Asha saat rasa sakit semakin menyulitkannya.


"Iya, aku disini. Aku menemanimu."


Napasnya mulai tersengal-sengal. Keringat bercucuran membasahi wajah, rambut dan lehernya. Asha berjuang keras demi bayi yang sekarang ada di dalam rahim.


"Ambil napas dulu. Lalu mengejan lagi. Iya. Terus nyonya. Mengejan lebih keras." Bidan itu mengambil gunting untuk memotong bibir jalan lahir demi membantu ibu yang melahirkan lebih mudah.


"Apa yang Anda lakukan?" tanya Arga dengan kerutan samar di dahinya. Dua alisnya menyatu. Raut wajah Arga menunjukkan ketidaksukaannya.


"Saya akan membantu membuka jalan lahir untuk lebih mudah melahirkan," jelas bidan itu. Arga tetap melihat tidak suka.


"Jangan seenaknya. Anda harus meminta ijin saya dulu sebagai suaminya."


"Ini prosedur ibu melahirkan Tuan. Jika mereka tidak mampu, kita bantu. Ini tidak sakit Tuan." Bidan bermaksud melakukan prosedur episiotomi atau gunting ****** untuk mempercepat jalannya proses kelahiran.


(Episiotomi adalah bedah kecil di mana kulit dan otot perineum disayat untuk memperlebar ****** sehingga memudahkan jalan keluarnya bayi saat lahir.)


Dengan di bantu bidan lain, Asha masih mengejan saat Arga berdebat dengan bidan itu.


"Tidak. Istri saya bisa. Letakkan gunting itu dan kembali lakukan penanganan seperti tadi pada istri saya."


"B-baik." Bidan itu menjadi ketakutan saat sorot mata Arga terlihat sangat marah.


"Istriku... ayo. Berjuanglah sekali lagi. Aku disini masih menemanimu. Jangan menyerah. Aku tahu kamu pasti bisa," bisik Arga di telinga Asha. Gendang telinga perempuan ini mendengar bisikan lembut suaminya. Sambil menggemeretakkan gigi, Asha mengejan lagi dan....


"Oek, oek!" Jeritan bayi terdengar menggema di ruang bersalin ini. Asha merasakan lega yang luar biasa. Rasa sakit yang ia rasakan lenyap. Hanya tersisa lelah dan peluh. Bayi mereka terlahir dengan selamat. Saat melihat bayi itu diangkat, Asha merasakan keharuan yang begitu pekat.


"Bayi kita sudah lahir, sayang... Kamu hebat." Arga memeluk istrinya dan mengecup pucuk kepala dengan sayang. Tak terasa airmata Arga juga mengalir karena terharu melihat kelahiran bayi mereka.

__ADS_1


Punggung tangan Arga mengusap airmatanya. Bayi itu masih memperdengarkan tangisannya dengan lantang di tangan bidan yang menggendongnya. Hingga Arga ingin sekali memeluk bayi itu sekarang.



__ADS_2