Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Memulai


__ADS_3


"Aku berangkat kerja ya ...." Arga menghadiahi ciuman di dahi saat berpamitan berangkat ke kantor. Asha mengangguk.


Tidak banyak kegiatan yang berbeda di dalam rumah keluarga Hendarto walaupun sudah menjadi menantu mereka. Asha yang tidak punya pekerjaan lain tentu saja harus tetap rajin di dalam rumah yang berisi mertuanya.


Dia tidak harus bermalas-malasan karena sudah menjadi nyonya Arga Hendarto. Bangun tetap pagi. Kadang di dapur, kadang juga tidak. Karena Nyonya Wardah masih saja memasakkan semua keluarga. Beliau membiarkan Asha mengerjakan tugas mencuci dan tetap melibatkan Bik Sumi untuk membantunya di dapur. Itu juga karena Arga meminta beliau tidak melarang Asha melakukan pekerjaannya seperti biasa.


Entah ada angin apa, Nyonya Remi yang tinggal di depan rumah, pagi ini singgah di rumah keluarga Hendarto. Berdalih membawakan oleh-oleh, beliau duduk di kursi ruang tengah dan berbincang dengan Nyonya Wardah.


"Masih rajin masak ya, Jeng?"


"Benar. Aku memang hobi memasak." Nyonya Wardah dengan bangga mengatakan hobi yang sangat di cintainya. Bik Sumi membuatkan teh untuk Nyonya Remi. Bola mata nyonya ini mengedar ke seluruh ruangan. Sepertinya beliau sedang mencari sesuatu.


"Tumben nih, pagi begini sudah kesini?" tanya Nyonya Wardah yang menemani beliau berbincang.


"Mumpung ada oleh-oleh dari suami yang dinas di luar kota." Mata nyonya Remi masih melihat ke seluruh penjuru.


"Seperti sedang mencari sesuatu nih. Nyari apa, sih?" tanya nyonya Warda penasaran. Bibir nyonya Remi tersenyum tertangkap basah.


"Anu, Jeng ... Menantunya kemana ya, kok tidak kelihatan?" Ternyata orang ini ingin melihat Asha. Karena tinggal di depan rumah, beliau tahu kalau Asha dulunya adalah pelayan di rumah keluarga Hendarto ini.


"Ada. Di belakang."


"Di belakang? Sedang apa ya, Jeng?" Saat itu Asha muncul dari pintu belakang dengan membawa keranjang cucian yang ada di kamarnya. Mata kepo nyonya Remi melihat penasaran. Melihat ada tetangga bertamu, Asha menunduk sopan. "Darimana, Sha? Kok bawa keranjang cucian?"


"Dari mencuci di belakang." Asha bicara apa adanya. Dia tidak bicara yang di buat-buat. Dirinya memang dari luar mencuci pakaian.


"Mencuci? Asha masih mencuci toh, Jeng?" tanya nyonya Remi melihat ke nyonya Wardah. Banyak pertanyaan yang terselip di antara pertanyaannya.


"Iya," jawab nyonya Wardah sambil tersenyum.


"Dia rajin juga ya. Masih seperti dulu, sebelum menjadi menantu keluarga Jeng Wardah." Nyonya Wardah tersenyum. Nyonya Remi memuji. Bik Sumi yang muncul membawakan teh ikut tersenyum mendengar Asha di puji.


"Saya permisi." Asha meminta ijin meninggalkan perbincangan beliau.

__ADS_1


"Oh, iya ... iya." Nyonya Remi mepersilakan Asha pergi. "Memangnya dia itu bisanya hanya mencuci, ya?" tanya nyonya Remi mengejutkan. Bik Sumi masih di depan pintu yang menghubungkan ruang tengah dan ruang makan. Manik mata nyonya Wardah melebar mendengar pertanyaan yang penuh dengan hinaan atau nada meremehkan. Asha juga masih ada di anak tangga. Belum menghilang di lorong menuju kamarnya. Dia pasti masih mendengar perkataan nyonya Remi barusan.


"Kenapa?" tanya nyonya Wardah tidak langsung menjawab.


"Tidak. Sudah menjadi menantu keluarga Hendarto kok masih saja mencuci. Apa Jeng ini masih merasa, dia itu pe ...." Nyonya Wardah menatap tetangganya lurus. Merasa tidak senang dengan pertanyaan lawan bicaranya. Nyonya Remi membetulkan duduknya. Lalu meminum teh yang di sediakan Bik Sumi tadi. Beliau tidak jadi meneruskan kalimatnya.


Nyonya Wardah tahu kedatangan tetangganya ini. Dia ingin memata-matai menantunya yang dulu pernah bekerja jadi pelayan dirumahnya. Ingin tahu dari dekat bagaimana kelanjutan dongeng cinderella yang terjadi di dalam rumah ini.


"Sudah ya, Jeng. Saya mau melihat pelayan saya masak." Nyonya Remi pamit pergi. Nyonya Wardah menipiskan bibir. Geleng-geleng kepala melihat kelakuan tetangganya.


Di dapur Bik Sumi jadi kepikiran sama omongan nyonya Remi. Asha berjalan di lorong sempat kepikiran juga. Dengan munculnya nyonya Remi ini, esok hari akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan seputar dirinya yang dulu bekas seorang pelayan, meroket menjadi menantu majikannya yang tidak hanya bisa di sebut kaya, tapi sangat kaya. Tanpa di katakan, Asha adalah nyonya juga di rumah ini.


Asha masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang kini mrnjadi tempatnya bernaung juga sebagai atap tempat peraduannya dengan Arga, suaminya.


Di mulai, dimana cerita dongeng cinderella mulai luntur. Tidak seperti cerita cinderella di dalam dongeng yang menikah dan bahagia selama-lamanya. Dalam kehidupan nyata, cinderella masih harus berjuang lagi.


Asha menghela napas. Dia tidak lelah dengan pekerjaan mencuci baju, menjemur atau mencuci piring. Sebagai mantan pelayan, dia sanggup mengatasi masalah itu. Dia hanya lelah dengan pembicaraan tetangga. Ah, sudahlah... Terserah.


***


Sambil memijit dahinya, Chelsea merasakan penat dan lelah. Tiba-tiba muncul Evan dari balik pintu. Chelsea terkejut. Pria ini muncul.


"Ada apa siang ini muncul di pintu kantorku?" tanya Chelsea mencoba bertanya. Evan menyunggingkan senyum seraya mendekat ke arah istrinya.


"Aku tahu kamu pasti belum makan siang. Aku sengaja mengajakmu makan siang bersama," ujar Evan membuat Chelsea terpana.


"Maaf, aku masih harus menyelesaikan ...." Tangan Evan menyentuh bahu Chelsea. Tiba-tiba membungkuk.


"Tidak ada kata 'tidak'. Kamu harus makan siang denganku," bisik Evan di dekat telinga Chelsea. Ini tidak di sangkanya. Evan memang selalu mengikuti apa yang di perintahkan padanya. Lelaki itu tidak pernah menolak, apapun itu. Namun kali ini pria yang jadi suaminya hanya di atas kertas itu membantah. Bantahan yang sepertinya jadi yang pertama kali.


"Tapi, aku sedang ...." Tangan Evan memaksa tubuh itu untuk berdiri. Chelsea beranjak berdiri yang di ikuti bolpoint yang ada pada sela jarinya terlepas.


"Aku memaksa," kata Evan sambil berbicara dekat sekali pada telinganya. Chelsea menyipitkan mata menahan rasa menggelitik pada telinganya.


"Baiklah ...." Dengan enggan tangannya merapikan buku dan kertas-kertas di meja. Mematikan komputer dan ikut Evan keluar untuk makan siang.

__ADS_1


Mungkin ini juga pertama kalinya Evan mengajaknya makan siang. Bukan, ini pertama kalinya Chelsea mau di ajak makan siang bersama. Masih dengan rasa canggung yang ada, Chelsea berusaha memakan makanannya dengan diam.


Manik mata Evan memantau gerak-gerik istrinya. Bagaimanapun Evan sangat mencintai perempuan ini. Meskipun pernikahan ini adalah tempat pelarian Chelsea karena merasa di tekan keluarga Arga.


"Aku tidak suka di lihat olehmu terus menerus. Aku sedang makan." Chelsea melayangkan suara protesnya untuk Evan.


"Tidak ada yang salah dengan itu. Aku sedang memandangi istriku yang cantik sedang makan. Aku mutlak berhak akan itu."


"Aku tidak terbiasa."


"Mulai sekarang biasakan dengan itu. Aku akan sering memindaimu dengan terbuka seperti ini. Aku berhak melakukannya Chelsea." Mata Evan menunjukkan keseriusannya saat mengatakannya. Chelsea mendesah kesal. Dia tetap makan, tidak menghiraukan Evan yang terus saja menatapnya.


Selama ini, meskipun mereka hidup bersama dalam satu atap sebagai suami istri, tapi kehidupan mereka sesungguhnya hanyalah seperti dua orang tak dikenal yang tiba-tiba saja terpaksa harus tinggal dalam satu rumah. Hanya seperti itu. Makan tidak pernah satu meja. Tidur juga dalam kamar yang terpisah.


Mereka memilih tinggal di rumah Chelsea bukan hanya ingin terlihat mandiri, tapi juga demi keegoisan Chelsea. Perempuan ini tetap menganggap Evan seperti bukan suaminya. Perjanjian awal pernikahan ini adalah tidak meminta lebih selain status suami istri yang ada dalam kantor sipil.


Evan adalah pria gila yang menyanggupinya karena cintanya sangat besar kepada Chelsea. Tangan Evan terulur untuk menghapus noda makanan pada pipi Chelsea yang chubby menggemaskan. Perempuan ini terkejut.


"Makanlah dengan tenang. Noda ini mengotori pipimu." Chelsea memilih tidak mengindahkan kalimat Evan. "Tapi tidak apa-apa meskipun kamu melakukannya. Aku akan bersedia membersihkan noda itu. Kamu terlihat imut seperti anak kecil yang lahap saat menyantap makanan kesukaannya." Mendengar ini Chelsea mendongak.


"Apa yang sedang kau rencanakan, Evan?" tanya Chelsea curiga.


"Aku hanya melayani istriku. Tidak ada hal lain." Jawaban Evan benar. Namun Chelsea merasa terusik dengan itu. Perempuan ini belum bisa menerima Evan sepenuhnya itulah penyebabnya. Dia tidak nyaman dengan perhatian Evan.


Evan menuntaskan makannya dan meminum segelas air putih. Begitupun juga Chelsea. Karena jam istirahat Evan sudah habis, dia langsung mengantar Chelsea kembali ke butik. Mereka memakai mobil milik Evan tadi.


"Nanti sore pulang kantor aku akan ke sini menjemputmu."


"Aku bawa mobil. Kamu tidak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri," tolak Chelsea. Evan tahu perempuan ini akan menolaknya. Itu sudah menjadi langganannya ditolak Chelsea.


"Kita lihat saja nanti. Apa aku keras kepala atau tidak," ujar Evan sambil membukakan pintu mobil bagi Chelsea. Tubuh sintal Chelsea masuk ke dalam butik dengan menggelengkan kepala. "Jangan membuat dirimu sangat lelah Chelsea. Aku tidak ingin kamu sakit." Kalimat Evan yang di ucapkan sedikit keras karena tubuh sintal Chelsea perlahan menjauh dan hilang melewati pintu butik.


P E L A Y A N K U , A S H A


.

__ADS_1



__ADS_2