Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Bayi laki-laki


__ADS_3


Setelah hampir dua bulan setelah proses persalinan.


.


.


.


Bayi laki-laki yang lahir dari rahim Asha di beri nama Arash Hendarto. Bayi montok dengan kulit putih kemerahan dan mata sipit. Mungkin menurun dari Arga yang sedikit sipit.


Asha sendiri tidak banyak berubah. Tubuh perempuan ini tidak melebar dan melar setelah melahirkan. Rupanya dia tidak perlu jamu galian singset atau pelangsing. Tubuhnya tetap tampak seperti sedia kala. Meskipun ada beberapa bagian yang nampak menonjol. Seperti dua gundukan kenyal miliknya yang montok berisi. Juga pantat dan pinggulnya yang juga sedikit lebar akibat proses melahirkan.


"Aku akan berangkat ke kota sebelah untuk melihat lagi bagaimana keadaan di sana setelah kebakaran itu." Arga yang sedang berganti pakaian memberitahu.


"Ya," jawab Asha tanpa mendongak. Dia sedang menyusui si bayi. Arash menutup matanya sambil terus menyesap ASI. Memang benar kata orangtua, kalau bayi laki-laki minumnya cepat dan kuat.


"Arash begitu semangat menyusu." Arga mendekat dan menowel dengan gemas pipi putranya yang montok.


"Mirip siapa kalau begini?" tanya Asha sambil menunjukkan wajah putra mereka ke arah suaminya.


"Mmm ... mirip aku, tapi kadang mirip kamu juga."


"Lebih mirip kamu," tuduh Asha sambil kini menowel pipi suaminya.


"Untuk soal menyusu memang sangat mirip denganku," ujar Arga sambil menyeringai. Tak ayal sebuah pukulan dari Asha mendarat di lengannya.


"Ih, ada anak kok ngomong gitu."


"Dia masih belum paham," jawab Arga enteng. Kemudian menjauhkan tubuhnya dari mereka berdua. "Jika ada apa-apa segera telepon aku. Karena agak jauh, aku tidak bisa cepat sampai." Arga meneruskan memakai dasi dengan benar dengan melihat ke cermin.


"Berharap saja tidak ada apa-apa. Lagipula di rumah ada bunda dan masih banyak lagi."


"Iya, tapi wajib memberitahu aku. Mengerti?" tanya Arga sambil menolehkan kepalanya ke arah istrinya.


"He-eh. Mengerti, Tuan," canda Asha seraya menipiskan bibir kemudian. Berpakaian Arga sudah selesai.


"Sebentar, aku antar kamu keluar." Asha menggendong bayinya yang masih tetap menyusu. "Ini bayi belum selesai-selesai nyusunya." Asha geleng-geleng kepala. Namun karena sudah sejak tadi, Asha melepaskan ASI-nya. Arga tersenyum melihat interaksi keduanya.


Awalnya Arash merengek, tapi setelah di tepuk pantatnya dan di sayang-sayang oleh tangan ayahnya, bayi itu mulai tenang. Langkah kaki Asha mengantar Arga menuju pintu luar.


"Aku berangkat, ya ... Baik-baik Arash sayang ..." Setelah mengecup putranya, Arga mengecup kening istrinya. Rendra mengangguk memberi salam kepadanya. Asha ikut mengangguk menerima salam Rendra.


Setelah kepergian Arga, Asha kembali masuk kedalam. Kali ini dia menuju dapur. Dimana Bik Sumi masih membersihkan perabot bersama bunda yang memotong buah.

__ADS_1


"Hei ... cucu uti sudah selesai mengantar ayahnya berangkat, ya ...," ujar Bunda ceria sambil beranjak berdiri. Menyambut kedatangan cucunya. "Sebentar, uti cuci tangan dulu."


Beliau langsung ke bak cuci di belakang, dan menyerobot di sela-sela bik Sumi mencuci piring karena ingin segera menggendong cucunya. Lalu mengeringkan tangannya dengan lap.


"Ayo, sini uti yang gendong. Biar bundamu bisa makan dengan tenang." Tangan nyonya Wardah terulur meminta bayi ini agar di serahkan padanya.


"Sama Uti, ya Arash ...," ujar Asha. Sekali lagi bayi ini berontak menolak di pindahtangankan. Arash merengek dan mengeluarkan tangisan pelan karena akan di lepas bundanya. Asha tidak jadi memberikan bayinya pada mertuanya.


"Ih, cucu gak boleh jahat sama uti. Uti ini mau gendong bukan mau apa. Ayo, sayang ... kasihan bundamu belum sarapan. Hanya menyusui dan gendong kamu saja sejak tadi. Nanti bundamu pingsan lagi," rayu ibu mertua tidak mau menyerah.


Pelan-pelan tangan nyonya Wardah menyelusup di pantat bayi ini, kemudian dengan lembut memindahkannya pada pelukannya. Karena sangat lembut, Arash hanya merengek tidak mengeluarkan tangisan.


Tangan ibu mertua mengayun-ayunkan pelan tubuh Arash agar nyaman, hingga rengekannya lenyap. Dagu beliau bergerak menyuruh Asha untuk segera sarapan. Kepala Asha mengangguk-angguk setuju. Lalu meletakkan pantat di atas kursi makan.


Bik Sumi yang melihat mertua dan menantunya bekerja sama tersenyum.


"Mau di buatin jus juga?" tawar bik Sumi.


"Bik Sumi masih repot."


"Bisa di tinggal sebentar. Mau jus apa?" tanya Bi Sumi mencuci tangannya dengan bersih kemudian mengelap tangannya hingga kering.


"Jus alpukat, deh."


"Baiklah."


Suara blender mulai terdengar.


"Bagaimana jadi ibu?" tanya Bik Sumi sambil membawakan jus buah alpukat yang sudah siap minum.


"Bahagia, bangga, dan ... capek." Asha mengatakannya sambil tergelak.


"Benar. Memang melelahkan, tapi jadi menyenangkan kalau kamunya menikmati."


"Aku menikmati kok, Bik. Apalagi Arga tetap bersikap seperti saat kita belum punya anak dulu. Jadi saat ada Arash, hubungan kita tidak berubah," papar Asha sambil bersuara pelan.


"Tuan muda Arga memang pria yang baik," ujar Bik Sumi juga berbisik. Asha tertawa. Bik Sumi tersenyum.


...----------------...


Arga menjalani pekerjaannya dengan memikirkan istri dan putranya, Arash.


"Ada hal yang menyenangkan Tuan?" tanya Rendra.


"Banyak, Rendra. Jika biasanya aku menantikan pulang untuk bertemu Asha. Kali ini aku juga ingin bertemu si kecil Arash."

__ADS_1


"Bayi sehat anda, Tuan?"


"Benar. Dia bayiku yang begitu montok. Padahal kamu tahu sendiri istriku kurus, tapi bayiku besar dan bulat." Arga tersenyum geli.


Pulang kerja, Arga selalu langsung mencari putranya.


"Aku pulang. Dimana Arash? Dimana bayiku yang menggemaskan itu?" tanya Arga saat baru masuk ke dalam rumah.


Rupanya bayi itu tengah di gendong kakeknya. Arash tengah di ajak berbicara oleh ayah mertua. Asha dan nyonya Wardah menemani disana.


"Perkembangan ekonomi sekarang begitu maju, kamu harus pintar menggerakkan perusahaan dengan baik cucuku ..."


Nyonya Wardah dan Asha terkejut dengan tema perbincangan tuan Hendarto dengan cucunya.


"Apa tidak terlalu berat tema obrolannya, Yah?" tanya nyonya Wardah langsung menegur.


"Berat? Tidak. Ini pembicaraan ringan. Benar kan cucuku? Berbincang soal perusahaan itu hal biasa dan ringan," kilah ayah mertua.


Apa?


"Bayi kecil itu lebih baik di beri pertanyaan seperti ... Siapa bundanya? Siapa ayahnya? Siapa kakek neneknya? Hal seperti itu, ayah..." Nyonya Wardah memberi contoh.


"Soal itu kalian bisa mengajarinya. Aku tidak perlu ikut membelajari cucuku soal itu. Ayo Arash, kita belajar cara memajukan pemasaran," lanjut ayah membuat nyonya Wardah geleng-geleng kepala. Asha hanya tersenyum melihat ayah mertuanya.


"Arash ... ayah datang," ujar Arga langsung ingin memeluk putranya.


"Ganti dulu pakaian kerjamu Arga. Minimal cuci tanganlah dulu. Bayi mudah terserang penyakit. Jangan sembarang menggendong saat kamu baru pulang kerja." Ayah menjauhkan cucunya dari tangan ayahnya.


Nyonya Wardah dan Asha terkejut lagi dengan keseriusan tuan Hendarto memberi nasehat. Lebih terkejut saat mendengar bayi itu tertawa melihat Arga yang kecewa tidak bisa menggendong putranya.


"Lihatlah. Kamu di tertawakan putramu karena ceroboh." Ayah mertua senang dan mengambil kesimpulan sendiri atas makna tertawa lucu si kecil Arash.


Asha segera beranjak berdiri dan mendorong suaminya pelan menuju kamar.


"Ayah Arga, bisa ganti baju dulu di atas. Ayo aku antar." Asha langsung membuat Arga menjauh dari sana.


"Ya, Arga harus mandi dulu sebelum menggendong Arash," kata Bunda.


...----------------...


...T A M A T...


Ini sudah di penghujung cerita ya... Maaf jika ada yang tidak berkenan di hati kalian.


Terima kasih sudah menemani cerita PELAYANKU, ASHA sampai bab terakhir ini.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan semuanya. Apapun dukungan kalian, itu sangat berharga bagi cerita yang aku buat ❤❤❤


Salam sayang, salam hangat, dan sehat selalu untuk kalian semua 😘😘😘


__ADS_2