
Beberapa jam sebelum kedatangan Asha. Arga dan Evan masih di dalam ruang kerja Arga, untuk menandatangani kerjasama dalam pembangunan mall baru selanjutnya, yang akan di bangun di daerah lain yang masih dalam satu kota. Setelah pembangunan Mall di kota 'S' sukses, Hendarto terpacu lagi ingin membangun Mall baru.
Ini sedikit ada tantangan baru, karena di bangun dalam kota yang sama hanya berbeda daerah. Walaupun masih lama, semuanya di atur jauh-jauh sebelumnya.
Handphone Evan berdering. Nama Chelsea muncul di sana. Perempuan itu menginginkan Evan berada pada pameran busananya yang saat ini sedang berlangsung di sebuah acara pada sebuah Mall lain di kota ini. Chelsea ingin Evan suaminya datang saat pemotretan untuk artikel pada sebuah majalah.
Evan menghela napas gelisah. Arga melihat gelagat aneh ini. Mata Arga juga melihat ke arah jam tangan pada pergelangan tangannya.
"Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini nanti," kata Arga yang langsung bersedekap. Sengaja melakukannya karena melihat Evan gelisah. Rupanya Arga ingin memberi kesempatan Evan pergi.
"Benarkah?" Mata Evan melihat Arga tidak percaya.
"Waktu kita panjang, karena aku tidak ada pertemuan lainnya," ungkap Arga masih dengan menyilakan tangannya. Evan melihat handphone-nya.
"Baiklah... Kita bisa melanjutkan nanti. Terima kasih," ujar Evan merasa sangat lega dan bersyukur. Dia ingin segera menuju ke tempat istrinya berada.
"Simpan rasa terima kasihmu. Aku tidak memerlukannya," ujar Arga dingin. Evan hanya tersenyum. Dia merasa Arga sengaja memberikan waktu untuknya menuntaskan urusannya. Arga sangat baik.
***
Saat pintu ruang kerja terbuka, Arga mendongak dan tersenyum melihat Asha datang. Lalu segera beranjak berdiri dan menyambut kekasihnya. Setelah kemarahannya tadi malam, Arga ingin memeluk tubuh itu lagi dan lagi.
Asha itu sulit di hadapi. Banyak pemikirannya yang berbeda dengan perempuan kebanyakan. Arga perlu berpikir lebih untuk memahami isi benaknya. Walaupun begitu, Arga tidak putus asa dan lelah. Meskipun sempat salah paham tadi malam.
Asha tidak pernah meminta Arga untuk mengerti dirinya. Gadis itu berusaha mencari sendiri ketenangannya dan kenyamanannya. Hingga Arga perlu menekankan pada gadis itu untuk berbagi keresahan padanya. Asha hanya tersenyum ringan yang justru membuat Arga gelisah.
Saat Arga satu persatu memahami cara berpikir Asha, itu menjadi kemenangan tersendiri baginya. Rasa kepuasan yang jarang di rasakannya saat bersama Chelsea. Perempuan itu selalu meminta ingin di mengerti. Saat bersama Asha, Arga justru ingin mengerti dan membuka lapisan-lapisan pola pikir gadis itu tanpa diminta terus menerus. Arga menikmatinya.
"Aku rindu gadis bebal ini," kata Arga sambil memeluk Asha. Tangan Asha masih memegang tas bekal yang di bawanya.
"Setidaknya biarkan aku meletakkan ini dulu di meja," pinta Asha. Arga tersenyum geli.
__ADS_1
"Baiklah..." Arga melepaskan pelukannya. Menghela tubuh Asha untuk duduk di sofa. Lalu Asha membuka satu persatu tempat bekal seperti biasanya.
"Jadi ingat saat ke ruangan ini pertama kali," mata Asha mengedarkan pandangan ke sekitar. Arga yang sedang mencomot satu udang tepung melihat juga ke ruang kerjanya. "Pertama kali aku di tindas olehmu," kata Asha mengkerucutkan bibirnya.
"Aku bukan menindasmu," kilah Arga.
"Iya bukan menindas, tetapi kamu mengancam akan memecatku. Selalu..." ujar Asha melebarkan mata. Mulut Asha mengunyah buah alpukat itu.
"Tidakkah kamu berpikir aku sudah menyukaimu saat itu?" tanya Arga. Asha mengambil buah alpukat yang dipotong dadu dan ditaburi bubuk susu cokelat memakai garpu. Dia sengaja membawa itu untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak pernah terpikir akan disukai oleh Tuan Muda. Itu tidak masuk akal bagiku. Jadi aku menjawab tidak," jawab Asha jujur.
"Apa itu?" tanya Arga melihat Asha memakan alpukat.
"Salah satu favoritku juga. Alpukat. Mau?" tawar Asha. Arga mengangguk. Asha menyuapkannya ke mulut Arga. "Aku tidak sangka harus di tunjuk ke kantor ini untuk membawakanmu bekal. Aku jadi kesal ketenanganku terusik oleh seorang Tuan Muda," Asha melebarkan matanya dengan gemas. Dia masih terus teringat kejadian saat itu.
"Kamu yang seperti itulah yang membuatku sangat tertarik. Bukannya merasa beruntung di dekati olehku, kamu justru merasa kesal seperti mendapat sebuah teror. Kamu itu unik, aneh dan sangat menggemaskan." Arga mendekatkan wajahnya ke Asha. Menempelkan bibirnya di permukaan bibir Asha dan mengecup pelan. Asha tidak menolak. Dia hanya mengerjapkan mata. "Aku tidak menyangka kamu memaksaku untuk menutup mulut saat aku sudah ingin mengatakan hubungan kita kepada Bunda," ujar Arga parau. Nada sedih terdengar sangat jelas di sana. Raut wajah Asha langsung berubah.
"Maaf," jawab Asha pelan.
"Sampai kapan kau akan terus menolakku memberitahu Bunda soal kita?"
"Jika kau takut di tolak, aku siap memperjuangkanmu. Aku serius, Sha." Arga mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Aku yakin itu, tapi..." Asha menghela napas. Arga menarik bahu Asha dan mendekatkan pada tubuhnya. Mengusap punggung Asha.
"Baiklah, baik. Aku yakin bisa menunggu. Karena hatimu masih untukku. Singkirkan wajah murammu itu. Itu membuatku tidak tenang. Kita jalani seperti biasa. Oke?" Arga mengalah dan mencoba bersabar. "Kamu perempuan aneh, yang memilih menjalin hubungan seperti ini daripada hubungan yang terbuka."
Asha diam tidak merespon ini. Ketakutannya semakin menjadi saat Arga membicarakan ini. Desakan Arga tentang itu membuatnya merasa akan semakin jauh darinya, Asha takut akan itu.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Arga setelah melepaskan tubuh Asha.
"Sudah." Kepala Asha mengangguk yakin.
"Kenapa tidak membalas?" tanya Arga tanpa menatap wajah Asha. Dia hanya melihat tangan Asha yang sedang menyiapkan makanannya agar siap di santap.
__ADS_1
"Membalas apa?" tanya Asha bingung.
"Bukankah kau punya tenaga untuk membalas ciumanku barusan. Kenapa diam saja? Aku jadi tidak berani melakukannya dalam waktu yang lama," kata Arga tanpa malu. Asha membeliak. Bibir Arga menyeringai nakal. Lalu terkekeh senang.
***
Karena penasaran, Evan menanyakan pada Maya. Tentu saja perempuan itu memberitahu dengan gamblang tentang Asha yang kerap kali datang bersama Paris di gedung ini.
Pelayan kediaman keluarga Hendarto?
Evan mengangguk paham, hubungan antara Paris dan gedung ini dengan perempuan itu.
Walaupun bukan karyawan gedung ini, perempuan itu bebas berkeliaran disini.
Rasa penasaran Evan semakin meningkat dengan hilangnya perempuan itu tadi. Kemana sebenarnya dia menghilang.
Siang ini ruang kantor agak lengang karena ini adalah jam istirahat para karyawan. Karena Maya meminta ijin makan siang, Evan masuk dalam ruangan Rendra untuk menunggu.
Agak lama memang, tapi Evan tidak mempermasalahkannya karena Arga sudah berbaik hati memberinya waktu untuk menuntaskan masalah tadi. Jika bukan teman, mungkin tidak akan ada kesempatan Evan bertingkah seperti ini.
Menganggap dirinya teman juga terasa tidak tepat. Setelah Arga tidak bisa bertunangan dengan Chelsea karena justru dia yang menikahi perempuan itu, kata teman jadi sangat asing bagi mereka berdua.
Dia juga tidak memberitahu soal kerjasamanya dengan perusahaan Arga dengan Chelsea. Evan tidak mau membahas itu.
Pintu ruang Arga terbuka. Rendra yang saat ini di dalam ruangannya bersama Evan, berdiri dan keluar.
Sepertinya Direktur sudah selesai makan siang.
"Saya akan melihat Direktur dulu," ijin Rendra. Evan mengangguk. Dia masih terpikir soal perempuan tadi yang sangat mengganjal di hatinya.
Tiba-tiba matanya melebar melihat sosok perempuan yang di carinya muncul. Rendra keluar tanpa menutup pintu ruangannya, hingga memungkinkan Evan dapat melihat keluar. Dari ruangan Rendra, Evan bisa menemukan perempuan itu. Semakin terkejut karena perempuan keluar dari ruang kerja Arga.
Evan berdiri dan keluar ruangan.
Jadi dia menghilang karena masuk ke dalam ruangan itu?
__ADS_1