Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Terima kasih, istriku...


__ADS_3


Setelah di perkenankan melihat bayinya, Arga di persilakan keluar. Memberi mereka waktu membersihkan sisa proses persalinan. Saat melihat Arga keluar, nyonya Wardah langsung mendekat.


"Bagaimana Arga? Bagaimana bayi kalian? Bagaimana Asha?" tanya beliau runtun dengan tidak sabar. Paris yang ikut datang mendekati bunda dengan wajah ingin tahunya.


"Semua baik-baik saja, Kak?" tanya Paris yang melihat wajah kakaknya seperti syok. Proses kelahiran tadi masih terlintas di pikirannya. Arga masih ingat.


"Semuanya ... selamat. Bayi kita, Asha, semuanya baik-baik saja," ujar Arga setelah berhasil menguasai keterkejutannya. Bruk! Pria ini terduduk di kursi stainless di luar pintu kamar bersalin.


"Oh, syukurlah ..." Nyonya Wardah dan Paris mengucapkannya hampir bersamaan. Mereka bersama-sama duduk di samping Arga.


Tiba-tiba Arga memeluk bundanya. Karena mendadak, nyonya Wardah mengerjapkan mata bingung. Tangannya tidak serta merta ikut memeluk putranya. Beliau kebingungan. Dagu nyonya Wardah terangkat ke Paris untuk menanyakan ada apa dengan kakaknya.


Kepala Paris menggeleng tidak tahu. Namun saat melihat tubuh Arga sedikit gemetaran, beliau langsung membalas pelukan putranya. Paris juga bisa melihat kakaknya masih gemetaran.


"Ada apa, Arga?" tanya bunda lirih. Arga memejamkan mata sebentar.


"Aku tadi takut, Bunda ...," bisik Arga.Tangan nyonya Wardah menepuk punggung putranya. "Aku takut bayiku, juga istriku. Aku takut mereka ...." Suara Arga parau dan terbata. Tercekat disana karena tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Tidak apa-apa, sayang. Bukankah kamu bilang bayi dan istrimu sehat ... Tenanglah, tenanglah. Persalinan sudah selesai." Rupanya bocah besar ini berusaha tampak kuat menemani istrinya melahirkan. Arga tidak benar-benar bisa bertahan di dalam ruangan bersalin itu. Dia miris dan sempat tidak sanggup melihat perjuangan istrinya. Itu menakutkan.


"Mereka tidak apa-apa," ulang nyonya Wardah.


"Aku berpikir banyak hal buruk tadi, Bun ... Aku begitu ketakutan."


"Itu wajar. Kamu baru pertama kali menemani istrimu melahirkan." Masih mengelus punggung putranya, nyonya Wardah memberikan kalimat penenang.


"Aku tidak menyangka melahirkan begitu menakutkan. Perjuangan seorang ibu saat melahirkan itu begitu sulit. Aku teringat Bunda."


"Idihhh ... kamu menemani istrimu kok jadi ingat bunda." Nyonya Wardah menepuk punggung putranya dengan tersenyum geli. Arga melepas pelukannya.


"Aku jadi merasa tidak berarti sekali jika di bandingkan perjuangan bunda yang melahirkan ku. Aku jadi merasa sangat kecil. Aku juga merasa bersalah pada bunda karena sempat berdebat, membantah, dan protes saat bunda memberi nasehat." Mendengar ini nyonya Wardah jadi terharu.


Paris yang ada di sebelah mereka ikut terbawa suasana juga. Tak terasa mata mereka berdua berkaca-kaca. Paris yang terlihat tahan banting juga merasa gugup saat matanya basah. Dia merasa ikut bersalah juga. Kalimat kakaknya membuatnya berpikir juga bahwa dia pasti pernah melakukan banyak kesalahan pada bundanya.


"Iya, iya. Bunda maafkan."


"Maafin putramu ini bunda, jika sempat mengecewakan dan bikin sakit hati."

__ADS_1


"Eleh, eleh... kamu jadi kayak bayi. Jangan nangis." Kemudian Arga mengecup kening nyonya Wardah. Beliau memejamkan mata seraya meringis saat itu.


"Arga sayang bunda."


"Iya. Bunda juga sayang kamu. Makanya... jangan sekali-kali menyakiti hati seorang perempuan Arga. Terutama istrimu. Bagaimanapun lemahnya seorang perempuan, saat melahirkan seperti ini, perjuangannya sangat berat. Namun jangan khawatir dia akan menjadi kuat. Seorang ibu tidak mempedulikan dirinya sendiri demi bayinya."


"Ya. Aku semakin mengerti soal itu." Paris berpindah tempat duduk untuk lebih dekat dengan bundanya dan memeluk beliau.


"Aduh. Ni anak kenapa juga ikutan jadi begini?" tanya nyonya Wardah geli.


"Maafin Paris, Bun. Sepertinya Paris banyak salah juga."


"Kamu mah banyaaaaakkkk, Paris," tukas bunda.


"Eh, jadi Bunda juga hitungin salahnya Paris?" Bunda memukul kepala putrinya pelan.


"Dasar kamu...."


Tak lama kemudian keluarga Asha juga datang dengan jemputan sopir rumah. Arga berdiri terlebih dahulu. Kemudian di ikuti nyonya Wardah dan Paris.


"Bagaimana keadaan Asha dan bayinya, Arga?" tanya ibu Asha.


"Oh, syukurlah."


"Duduk dulu, Bu. Asha masih di dalam. Bayinya juga mungkin masih di mandikan." Nyonya Wardah memberitahu.


"Ibu, maafkan Arga jika ada salah," ucap Arga sambil membungkuk sebelum Ibu Asha mulai duduk. Beliau tampak terkejut. Bola mata beliau mengkerjap-kerjap karena kebingungan. Berusaha melihat ke arah nyonya Wardah, ingin tahu ada apa dengan menantunya.


Nyonya Wardah memberi kode untuk mengiyakan pada besannya, sambil mengkedip-kedipkan mata. Akhirnya ibu Asha mengangguk dengan lambat-lambat.


"Maaf, bila saya belum menjadi menantu baik bagi ibu. Saya berjanji akan memperlakukan Asha lebih baik," lanjut Arga. Alis ibu Asha terangkat.


"Kalau kamu di anggap menantu kurang baik, bagaimana lagi menantu yang baik itu. Kamu itu sudah sangat baik bagi anak ibu. Bahkan sempurna. Jadi ibu juga patut bilang terima kasih sama kamu yang sudah menjadi suami Asha." Ibu Asha menepuk bahu menantunya.


Nyonya Wardah menyadari sesuatu. Putranya mungkin begitu tergugah melihat persalinan yang menakjubkan itu. Ternyata menemani istri melahirkan punya dampak sangat baik bagi Arga.


...----------------...


__ADS_1


...----------------...


Setelah membersihkan sisa proses kelahiran tadi, Asha bisa berbaring tenang. Bahkan karena Asha terlihat sehat, dia di pindahkan ke kamar pasien. Arga dan keluarga juga sudah di perbolehkan masuk. Tak lama bayi mereka datang di gendong oleh salah satu bidan. Nyonya Wardah memberi kesempatan ibu Asha untuk menggendong cucunya.


"Selamat, Tuan. Bayi anda lahir dengan selamat. Berjenis kelamin laki-laki dengan berat 4, 25 gram. Bayi yang sehat dan besar," ujar dokter dengan jenaka.


"Empat kilo?" tanya Paris takjub. Bunda juga sempat melebarkan mata saat mendengarnya. Mereka memperhatikan bayi besar dalam artian sesungguhnya itu. Bayi Arga dan Asha benar-benar besar. Walaupun warna kulitnya sedikit kemerahan, tapi dengan ukuran besar seperti itu, bayi ini mirip balita.


"Kamu jelas hebat, Sha. Pantesan Arga tadi begitu tertekan setelah keluar dari ruang bersalin. Dia merasa sangat bersalah," ujar nyonya Wardah saat mendekat ke arah bayi yang tertidur dalam gendongan besannya.


"Merasa bersalah? Kenapa?" tanya Asha sambil mendongak. Menatap Arga yang berada di sampingnya.


"Tidak ada apa-apa." Arga tersenyum untuk segera menghentikan pertanyaan istrinya sambil mengusap kepalanya dengan sayang.


"Dulu Asha lahir memang besar begini juga, Bu?" tanya nyonya Wardah pada besannya. Karena beliau sendiri tidak pernah melahirkan dengan bobot berat badan bayi di atas 4.00 gram.


"Iya. Dua anak saya lahir tidak ada yang kecil. Semua berbobot besar."


"Wahh... jadi Asha ikut ibunya ya. Bayinya besar." Perlahan bayi itu mengecap-ngecap. 


"Asinya lancar, Sha?" tanya ibu.


"Tidak seberapa, tapi sudah keluar bu," ujar Asha menjawab pertanyaan ibunya.


"Sepertinya bayi ini lapar dan haus. Coba susui dulu," kata nyonya Wardah. Asha mengangguk. Untung saja dia sudah memakai bra menyusui. Hingga memudahkannya menyusui.


Ibu Asha memberikan bayi itu untuk di susui. Asha menempelkan ****** susu pada putranya. Bayi laki-laki itu segera menyesap dengan kuat.


"Kalau anak laki memang seperti itu. Sangat semangat menyusu. Beda sama perempuan." Nyonya Wardah tersenyum sambil melihat putranya yang berdiri di samping Asha. Itu pengalaman nyonya Wardah sendiri saat melahirkan putra pertamanya. Arga hendarto.


Meskipun para ayah belum muncul, rasa bahagia tetap menyelimuti keluarga ini. Bayi dengan bobot besar lahir meramaikan suasana yang awalnya sudah ramai.


Bayi yang menyesap ASI itu terlahir dengan sehat dan tidak kekurangan apapun. Semua persalinan berjalan lancar meski sempat tersendat di awalnya. Arga melihat semuanya dengan haru.


Melihat perjuanganmu, aku merasa harus meminta maaf. Seorang perjuangan ibu itu sangat berat. Mulai dari seonggok janin sampai berkembang dalam rahim hingga proses melahirkan yang menakjubkan tadi.


Tidak terbayangkan bahwa kalian para perempuan berjuang seperti itu. Aku takjub. Terima kasih bunda, istriku dan ibu... Kalian perempuan luar biasa.


"Aku sayang kamu, istriku...," bisik Arga. Asha tersenyum sambil melihat ke arah putranya yang menyusu. "Aku sayang kalian berdua." Arga mengusap kepala putranya yang punya rambut lebat.

__ADS_1


__ADS_2