Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Seseorang


__ADS_3



Mulut Paris menganga dengan bola mata membuntang, menanggapi kalimat penuh amarah tak terbantahkan dari bibir Arga. Mereka bertiga, trio sobat Asha yang awal mulanya tidak mengerti duduk perkara diantara mereka berdua, kini semakin tidak mengerti. Dengan keheningan dan kesunyian yang tercipta dari marah yang timbul dari diri Arga, membuat mereka mendengar dengan sangat jelas satu persatu kata yang terucap, tapi mereka belum bisa merangkum dengan pasti ada apa.


Paris menutup mulutnya sendiri. Lalu melepaskan tangan kemudian, setelah berhasil tenang dan memindahkan pandangan ke arah Asha yang masih berdiri di lapangan. Mata Asha tidak menyiratkan rasa apapun. Dia datar seperti sudah menduga hal ini. Bukan. Mata Asha sempat nanap sepintas tadi. Namun dia dengan mudah segera menata reaksinya dengan cepat.


"Sebenarnya yang salah ini siapa, Ca? Peran antagonisnya siapa? Yang nyebelin disini siapa sih?" tanya Andre bertubi-tubi tidak paham. Rasa marahnya tadi hilang dengan sendirinya. Berganti rasa penasaran yang kini menderanya.


"Kedua-duanya. Arga terlalu khawatir,


Ashanya terlalu cuek," terang Cakra seperti sesepuh yang bijak. Ternyata dia bisa mengambil kesimpulan. Mungkin karena mengenal kedua orang itu lebih lama dari Andre dan Deni.


"Asha kan memang cuek gak ketulungan, Ca. Itu kan hal biasa yang sering kita lihat. Kalau dia enggak cuek, mana berani dia tiba-tiba mengajak Deni main basket padahal enggak kenal sama sekali waktu itu," kata Andre seraya menunjuk Deni dengan dagunya. Dia jadi ingat tingkah Asha sebelum kenal Deni dulu. Deni mengangguk setuju.


"Perbedaan kita dengan perbedaan Arga dan Asha itu sebenarnya sangat tipis. Sama-sama ingin melindungi dan menjaga. Menjadi berbeda karena kita teman dan dia kekasih. Mungkin dengan teman kita hanya bisa menasehati tanpa membatasi. Dia merasa tidak harus menuruti kata temannya, karena kita tidak punya hak penuh atas itu. Menurut hukum cinta yang tidak tertulis, kalau statusnya kekasih, dia punya porsi membatasi dengan presentase lebih banyak daripada hanya sebagai seorang teman. Mungkin seperti itu," jelas Cakra. Andre noleh dengan heran. Enggak nyambung sama pertanyaannya tapi ada benarnya juga.


"Memang yang beginian juga sudah ada pasalnya, Ca?" kening Andre berkerut.


"Hukum cinta di dunia orang pacaran, Dre?" tanya Deni sambil berbisik sengaja melucu. Andre manggut-manggut, juga sengaja melucu. Cakra tidak menjawab, dia sedang memperhatikan kedua orang terdekatnya dengan seksama.


Mereka justru jadi punya pikiran lebih ringan setelah mendengarkan kalimat Arga yang tidak terduga, daripada saat pertama dia datang. Aura di sekitar mereka mulai terlihat santai. Beda dengan Arga dan Asha. Mereka berdua masih terselubung dengan banyak emosi.

__ADS_1


Saat ini hati Arga sendiri merasa sangat sakit seperti di remas-remas. Kalimat yang di ucapkannya adalah hal yang sangat di takutinya. Dia merasa harus mengatakan ini karena melihat gadis di depannya seperti tidak cemas akan hal buruk yang bisa saja terjadi. Asha seperti tidak mengerti akan kecemasan Arga pada dirinya. Asha meremehkan kekhawatirannya.


Sejak pertama masuk dalam ruang tamu yang berisi mereka -orang-orang yang ingin mengatur jalan cintanya dengan perlahan- Arga sudah membayangkan bagaimana tertekannya Asha dalam menghadapi ini.


Menanti dengan sakit yang di tahan dan  menunggu dengan cemas Arga dapat menyelesaikan tugasnya. Namun yang di lihatnya Asha tidak sedang tertekan atau sedih. Asha tidak sedang berusaha memikirkannya. Asha nampak tidak peduli dan membiarkan Arga membuat pergulatan tunggal di hatinya, antara kepatuhan kepada orang tua dengan perasaan Asha sebagai kekasihnya.


Asha berjalan menjauhi mereka bertiga agar lebih dekat dengan Arga. Paris mengawasi keduanya dari tempat dia berdiri yang tak jauh dari Arga.


"Kau harus tahu itu, Sha. Ini bisa terjadi saat ini," ucap Arga dengan nada rendah yang dalam dan menekan, juga dengan raut wajah marah menggelegak. Bukan mengintimidasi Asha, kalimat itu justru membuat Arga sendiri merasa sakit. Asha menghela napas dan membuangnya. Keterkejutan yang menyerangnya sudah hilang sebelum dia mengambil langkah untuk mendekati. Namun tubuhnya berhenti saat ada sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Arga..." sebut seseorang dari belakang Arga. Semua kepala melongok ke balik tubuh Arga. Mencari tahu siapa yang tengah memanggil nama itu. Paris yang memang berdiri di dekat Arga dapat mengetahui lebih dulu siapa dia. Mata Paris tak berhenti melihat perempuan itu.


Siapa dia? Perempuan yang di kenalkan bunda untuk Kak Arga? Paris mencoba memindai perempuan feminin di belakang Arga.


Perempuan cantik yang menunjukkan perempuan dalam artian sesungguhnya. Rambut sebahu dengan gerakan tubuh berjalan halus selayaknya perempuan seharusnya.


"Kenapa kamu ikut masuk ke sini?" tanya Arga yang tidak memaksa tubuhnya memutar untuk menyambut kedatangan Hanny.  Dia hanya menolehkan kepala sedikit, hanya untuk menunjukkan dia tahu keberadaan Hanny di belakangnya.


Jantung Asha berdetak lebih cepat persekian detik daripada seharusnya. Di depannya ada Arga dan perempuan yang secara resmi di kenalkan oleh orangtua mereka. Mereka berdua muncul di hadapannya. Ini pengumuman bahwa mereka menjadi pasangan resmi?


"Maaf, aku sedikit merasa takut dalam mobil sendirian, jadi aku memutuskan untuk masuk juga," jawabnya dengan nada halus dan penuh dengan kehati-hatian. Paris yang semula berdiri karena kaget dengan kedatangan Arga yang membuat situasi panas, kini semakin terkejut dengan adanya perempuan baru bersama kakaknya.


Semua mata mencari tahu siapa wanita itu. Andre dan Deni sudah mengambil banyak kesimpulan dengan tambahan seseorang baru di lapangan basket ini. Cakra tidak ikut berkasak-kusuk. Dia hanya diam. Ada yang sedang membuatnya gelisah.

__ADS_1


"Bukankah aku menyuruhmu tinggal di dalam mobil dan menungguku menyelesaikan ini?" tanya Arga masih tidak memutar tubuhnya.


"Maafkan aku Arga. Aku bisa kembali ke mobil lagi, kalau ini membuatmu tidak nyaman," ujar Hanny menunduk. Walaupun Hanny tidak bisa melihat karena Arga tidak sedang menghadapnya, Hanny tahu Arga tengah memasang mata tajamnya. "Tapi... bisakah aku sebentar saja berada di sini? Aku juga ingin mengenal teman-temanmu," ujar Hanny memohon.


Mata Arga yang menoleh ke samping, kini menghadap ke depan. Menatap Asha dengan tegas dan tajam. Seperti meminta pendapat Asha soal perempuan itu. Seperti menunjukkan pada Asha siapa perempuan ini. Asha hanya diam tidak bereaksi. Matanya masih saja menatap Arga dengan tenang. Walaupun dadanya bergemuruh tidak sabar.


"Baiklah... Kau boleh di sini," ujar Arga mempersilahkan.


Gadis itu tersenyum senang dan bergerak perlahan mendekati tubuh Arga. Lalu berdiri di samping Arga dengan mata bening. Seperti anak kecil yang bahagia karena di beri permen.


Tubuhnya membungkuk ke arah Paris yang berdiri di sebelah kiri, tak jauh dari mereka. Paris mengangguk menyambut sapaan perempuan itu.


"Dia Hanny...," ujar Arga dengan mata kelam dan tajam memperkenalkan. Ini sangat tidak terduga. Arga dengan lantang memperkenalkan seorang perempuan kepada Asha yang tak lain adalah kekasihnya. Miris. Hanny mengulurkan tangan seraya membungkukkan tubuhnya melihat Asha yang berdiri di depannya dan tersenyum. Sangat anggun.


Semua mata menatap tertegun dengan perkenalan ini. Netra mereka lebih nyalang saat ternyata Asha masih sanggup menyambut sapaan itu, meski dengan perasaan yang campur aduk. Lalu mengangguk dan menyebut nama, "Asha..." Indra penglihatan Arga tak berjeda melihat interaksi ini. Matanya menyipit dengan geraham mengetat, menahan geram.


Setelah dia di perbolehkan tinggal dan berdiri di samping Arga, akhirnya Hanny bisa mengangkat wajahnya dan bisa dengan jelas melihat ke seluruh penjuru lapangan basket.


Hanny mengedarkan netranya dan menemukan tiga orang berdiri di bawah ring. Tubuhnya juga akan membungkuk memberi salam, tapi gerakannya terhenti karena dirinya tergemap. Matanya membuntang mendapati seseorang sedang berdiri dengan mata nanar disana. Mata pria itu menatapnya dengan nyalang dan penuh dengan banyak pertanyaan.



__ADS_1


__ADS_2