Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Arga vs Reksa


__ADS_3


Anggukan kepala Rendra yang pelan mengantarnya berpamitan untuk memisahkan diri dari rombongan. Kaki Rendra menggiring tubuhnya sendiri untuk menjauh dari orang-orang itu.


"Iya, ibu. Maaf Rendra tidak mengunjungi ibu minggu kemarin." Rendra terdiam mendengarkan ibunya di seberang berbicara. "Iya. Rendra akan mengunjungi ibu nanti sepulang kerja. Iya. Maaf." Rendra mengangguk-anggukkan kepala. Memang minggu kemarin dia tidak pulang mengunjungi ibunya.


Setelah selesai menutup ponsel, dia menghela napas sejenak. Memasukkan ponsel dalam saku jas dan bersiap menyusul tuannya yang berada di depan.


Kakinya melangkah, dengan kepala yang melihat ke arah dinding kaca di sebelahnya. Bola matanya tak sengaja menemukan sosok yang dirasa di kenalnya.


Alis Rendra bertaut. Mencoba melihat lagi apa benar perempuan itu benar seperti apa yang ada di dalam benaknya. Setelah mencoba memfokuskan pandangan ke arah perempuan itu, akhirnya Rendra yakin. Bola matanya tidak salah.


Asha. Disana. Perempuan itu tengah duduk di sana. Di dalam sebuah outlet makanan bersama seseorang. Mata Rendra jelas membulat terkejut karena perkiraannya benar. Karena saat ini istri direkturnya sedang bersama dengan lelaki lain selain suaminya saat ini.


Apa yang di lakukan perempuan itu disini?


"Ada hal penting Rendra?" tanya Arga tiba-tiba muncul. Membuat Rendra sangat terkejut. Pria ini juga terlepas dari rombongan. Rendra langsung bersikap siap. Dia mengalihkan pandangan dari dalam outlet ke arah tuannya. Bersikap tidak mencurigakan agar direkturnya tidak tahu ada istrinya di sana.


"Tidak ada Tuan. Ibu saya menelepon. Maaf saya memisahkan diri dari rombongan tadi." Rendra menunduk.


"Saya mengerti."


"Kenapa Anda sendirian, Tuan?" Dilihatnya direktur Arga tidak bersama rombongan tadi.


"Mereka sudah keluar gedung mall barusan. Aku tidak melihatmu dalam rombongan, jadi aku kembali. Ternyata kamu berhenti disini."


"Maaf." Rendra mengulang kata maaf lagi. Arga tersenyum dan menepuk bahu sekretarisnya. Dalam hati, Rendra berharap tuannya tidak menolehkan kepala ke dalam outlet di sebelah mereka. Sangat berharap. Sampai Rendra merapal doa banyak-banyak.

__ADS_1


"Ayo. Kita makan siang dulu. Aku..."


Namun takdir tidak sedang ingin berkompromi dengan Rendra. Bagaimanapun, karena dekat sekali dengan dinding kaca yang ada di sebelah mereka, kepala Arga juga sempat menoleh sebentar ke dalam outlet makanan.


Bukan tanpa tujuan atau sekedar ingin melihat-lihat. Karena saat ini bertepatan dengan jam makan siang, Arga bermaksud mengajak Rendra untuk masuk ke dalam outlet yang berada di dekat mereka.


Jantung Rendra berdetak kencang. Bukan jatuh cinta atau apa. Dia merasa sedang cemas apabila tuannya menemukan sosok yang amat sangat di kenalnya. Awalnya Arga yang hanya menoleh tidak terlalu memperhatikan apa dan siapa di dalamnya karena dia hanya sekedar menoleh bukan untuk memata-matai. Namun saat kepalanya sudah melihat ke arah Rendra, tubuhnya tegang. Alisnya bertaut menampakkan kerutan halus pada keningnya.


Rendra menelan ludah. Ini bukan tentang dirinya, tapi entah kenapa dia juga menjadi cemas.


Merasa ada yang janggal dan aneh, Arga kembali menolehkan kepala ke dalam outlet saat kakinya berjalan menyusuri dinding kaca.


Dia melihatnya, pekik Rendra sambil menghela napas berat.


Wajah Arga menjadi dingin dan keruh. Bisa di pastikan gemuruh didadanya sangatlah kencang.


...----------------...


"Baik," jawab mereka segera karena melihat perempuan yang ada di sebelah Reksa tampak pucat. Reksa masih saja memegangi bahu Asha karena tubuh wanita itu menjadi lemas. Membantunya duduk dan tiba-tiba saja seseorang menarik bahunya keras hingga membuat tangannya terlepas dari bahu Asha. Untung saja tubuh Asha sudah terlihat duduk di sofa gerai ini. Bola mata Rendra membulat dan langsung mendekati Asha.


Karena dorongan dari Arga yang agak keras, tubuh Reksa terdorong ke belakang beberapa langkah.


"Kau bisa lepaskan tanganmu dari bahu istriku," ucap Arga menahan geram. Reksa menatap pria di depannya sambil mengerjapkan mata. Mungkin dia sangat terkejut karena dorongan yang tiba-tiba. Kepalanya langsung menoleh ke arah Asha. Dia masih khawatir.


Dua teman Reksa yang melihat itu langsung berdiri. Kaki mereka hendak berjalan mendekati Reksa. Namun karena Reksa memberi kode bahwa dia baik-baik saja, mereka berhenti. Apalagi mereka juga tahu bahwa pria yang mendorong Reksa adalah direktur mall ini, mereka terdiam. Asha melihat ini dengan mata yang samar-samar. Karena dia terlalu sibuk menahan sakit di dinding perut dan kepalanya.


"Tuan, istri Anda nampak lemas." Rendra memberitahu dengan cemas. Arga langsung menghampiri dan menyangga tubuh Asha. Reksa berdiri dan memperhatikan dari tempatnya terdorong tadi.

__ADS_1


"Rendra, bawa mobil ke tempat terdekat disini. Aku akan menggendong Asha masuk ke dalam mobil. Cepat!" perintah Arga panik.


"Baik, Tuan!" Setengah berlari Rendra keluar.


"Sejak tadi, dia berjalan dengan lunglai dan tiba-tiba saja mulai mual dan muntah. Aku hanya membantunya. Tidak lebih." Reksa memberitahu keadaan Asha tadi. Dia tahu. Dia sadar. Pria ini akan berpikir jauh tentang dia dan Asha yang berdua di tempat ini. Arga hanya menoleh sekilas. Lalu melihat ke arah istrinya lagi dengan wajah cemas.


Seorang pelayan datang membawa pesanan Reksa. Pria ini menghampiri dan menahan pelayan itu untuk mendekat ke Arga.


"Ada teh hangat. Hanya sekedar membuatnya menghilangkan rasa tidak nyaman karena muntah walaupun sebentar." Reksa ingin memberikan teh itu untuk meredakan sedikit rasa tidak nyaman pada Asha. Arga menoleh lagi. Masih dengan raut wajah tidak suka. "Aku hanya menyarankan." Reksa mengatakannya dengan hati-hati. Dia tahu disini dia tidak berhak berkata apa-apa di depan Arga yang mungkin saja berpikir banyak hal.


Sangat jelas, Arga tidak menginginkan bantuan apapun dari pesaingnya dulu. Namun dia harus berpikir bijak. Saat ini yang terpenting adalah Asha.


"Berikan," jawab Arga yang sebenarnya lebih mirip memerintah daripada meminta. Reksa paham. Dia mengikuti kemauan Arga. Baginya juga yang terpenting perempuan itu. Reksa meminta teh itu dari tangan pelayan dan membawanya mendekat ke Arga. Meletakkan gelas teh hangat pada tangan Arga.


Setelah mendapat sodoran teh dari Reksa, Arga mencoba meminumkan teh manis hangat perlahan.


"Sha. Cobalah minum teh manis ini." Asha yang masih bisa mendengar walaupun kadang matanya memejam membuka mulut dan matanya perlahan. Dengan bimbingan dari Arga, Asha bisa meminum teh beberapa teguk.


...----------------...


Aroma obat-obatan menyeruak di hidungnya. Bukan pingsan. Asha hanya baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya menoleh dan melihat tangannya sedang di infus. Akhirnya tiba juga dia di rumah sakit.


"Kamu sudah bangun, Sha?" tanya ibu mertua yang ternyata berada di sampingnya. Bibir Asha tersenyum. "Kamu ini bikin cemas dan panik semuanya. Berangkat dari rumah sehat. Lha... kok tiba-tiba Arga kasih tahu kalau kamu ada di rumah sakit."


"Maaf bikin bunda khawatir."


"Bukan itu. Lain kali kalau sudah enggak sehat jangan kemana-mana, ya.. tapi kamu enggak salah juga. Kan berangkatnya juga sehat. Bunda saja sudah lihat sendiri. Bahkan bunda sudah kasih ijin kamu." Asha tersenyum lagi.

__ADS_1



__ADS_2