
Seiring dengan bertambahnya umur kandungan, Sebagian besar keluhan hamil 8 bulan mencakup keluhan-keluhan yang bumil rasakan saat di awal dan pertengahan masa kehamilan, yakni kelelahan, heartburn (nyeri ulu hati), dan sesak napas. Hanya saja, gejalanya akan lebih sering dan lebih berat, mengingat sudah semakin dekat dengan waktu persalinan.
Asha juga mulai merasakan itu. Salah satu keluhan hamil 8 bulan yang sering dialami bumil adalah sakit punggung. Pertumbuhan janin yang membuat ukuran rahim semakin membesar, bisa menekan pembuluh darah serta saraf di area panggul dan punggung, yang kemudian memicu nyeri punggung.
Selain itu, nyeri juga dapat terjadi di lutut dan leher. Sebagian ibu hamil juga mungkin lebih sering mengalami sakit kepala. Namun bagi Asha tidak. Ini sebuah anugerah baginya.
"Mau bibi pijitin?" Bik Sumi menawarkan pijatan bagi istri tuan mudanya. Melihat Asha yang melintas berkali-kali memegangi leher dan memijatnya sendiri, bik Sumi kasihan.
"Tidak usah, Bi. Asha enggak apa-apa." Asha menghentikan jari-jarinya memijat. Berpura-pura baik-baik saja.
"Bibi tahu leher kamu sakit sejak tadi. Sini, bibi pijitin." Bik Sumi yang sudah menyelesaikan cuci piring mendekat.
"Enggak apa-apa, Bi? Mungkin bibi masih ada pekerjaan atau kecapekan." Asha sungkan harus menyuruh bik Sumi memijat.
"Enggak apa-apa. Kamu bisa meminta tolong pada bibi."
"Kan enggak enak sama bibi. Masa harus bibi yang mijitin aku."
"Kamu ini belum berubah. Tidak sadar apa, kalau kamu ini sudah jadi nyonya di rumah ini. Kamu kan istri tuan muda Arga. Kenapa harus sungkan minta tolong bibi....?" Bik Sumi menggiring Asha untuk duduk di kursi makan. Memang sedikit ada paksaan karena Asha masih saja merasa tidak enak.
Sesaat setelah menurut, pijatan bik Sumi begitu nyaman.
"Hamil tua, memang bikin badan pegal semua. Harus lebih banyak minum air putih, Sha... Biar nanti tidak pendarahan saat melahirkan." Asha mengangguk. "Rencananya melahirkan normal apa cesar?"
"Kalau aku sih inginnya normal, Bi. Doakan aja supaya bisa lahiran normal ya, Bi."
"Iya. Bibi doakan juga. Kalau tidak ada kendala apa-apa memang lebih baik melahirkan dengan normal."
"Bi, bi ... sudah. Asha kebelet pipis." Tiba-tiba saja Asha ingin ke toilet.
"Hati-hat jalannya. Ke kamar mandi si bawah saja biar dekat," pesan Bik Sumi was-was melihat istri tuan mudanya. Hingga akhirnya beliau mengikuti Asha sampai di depan kamar mandi di lantai satu.
Makin mendekati persalinan, janin akan bergerak turun ke area panggul dan hal ini bisa memberi tekanan ekstra pada kandung kemih. Kondisi tersebut bisa membuat ibu hamil merasa ingin lebih sering pipis alias beser.
Yang bisa Bumil lakukan adalah melakukan senam kegel, tetap penuhi kebutuhan cairan dengan minum 8 gelas air sehari, dan hindari minum air terlalu banyak di malam hari.
Asha membuka pintu kamar mandi dengan raut wajah lega.
"Aduh, kamu ini. Jangan tergesa-gesa seperti itu. Bibi jantungan lihat kamu. Bagaimana kalau jatuh, bibi tidak tahu harus bilang apa sama tuan muda dan nyonya..." Bik Sumi mengelus dadanya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Bi. Aku pingin pipis tadi, jadi keburu-buru." Asha jadi merasa bersalah melihat Bik Sumi was-was melihat dia yang melesat dengan cepat ke kamar mandi.
"Lain kali enggak boleh begitu. Bahaya."
"Iya, Bi."
"Mijitnya sudah? Atau masih mau di pijitin lagi?"
"Enggak bi, siang ini Asha mau tidur saja sambil nunggu Arga pulang."
"Ya sudah. Istirahat."
...****************...
"Bangun, tukang tidur...," bisik Arga sambil mengecup pelipis istrinya. Asha menggeliat dan membuka mata perlahan.
"Sudah pulang, sayang?" tanya Asha sambil mengucek mata.
"Ya."
"Kok sudah wangi?" tanya Asha saat mencium aroma shampo dari rambut suaminya.
"Sudah mandi tadi. Trus ingin bangunin kamu. Ingin makan di temani kamu. Aku yakin kamu juga belum makan. Bunda bilang sejak siang tadi berada di kamar."
"Sekarang masih capek? Aku pijitin lagi." Arga langsung bersiap di belakang punggung istrinya.
"Jangan ... kamu baru pulang kerja. Kamu juga belum makan." Asha menangkap tangan suaminya untuk tidak memijit tubuhnya.
"Kamu juga capek karena kandunganmu. Aku bisa jadi enggak capek kalau bisa membuat istriku nyaman."
"Baiklah, baik. Tapi aku inginnya mandi saja. Tubuhku lengket."
"Lalu pijitnya kapan?"
"Nanti. Aku mau mandi sayang...." Asha berusaha membujuk suaminya. "Bisa minta tolong pemanas airnya?" pinta Asha.
"Kamu memang bisa mengendalikanku. Padahal aku ingin memanjakanmu. Baiklah kalau begitu," ujar Arga sambil mencubit pipi istrinya gemas dan menuju ke kamar mandi.
Setelah Asha selesai mandi, mereka berdua makan malam bersama.
"Pasti kamu kelaparan ya, bundamu enggak segera makan malam soalnya. Bundamu masih menunggu ayah datang. Maaf yaa...," ujar Arga sambil mengelus perut istrinya. Asha hanya tersenyum sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.
__ADS_1
"Aduh," keluh Asha.
"Sayang, kenapa?" tanya Arga terkejut.
"Tidak. Aku hanya ingin pipis. Aku mau ke kamar mandi. Enggak perlu ikut," cegah Asha saat suaminya ikut berdiri. "Aku segera kembali!"
...****************...
Pada tengah malam, Asha menggeliat kesakitan.
"Engg... enggg...," erang Asha. Arga yang tidur di sampingnya terbangun. Mendengar erangan istrinya, Arga mengucek mata dan mulai duduk.
"Sayang... kamu kenapa?" tanya Arga cemas. Istrinya berkeringat. Perlahan Asha membuka mata. "Kamu kenapa? Sakit perutnya?" Asha mengangguk.
"Aku ingin duduk. Punggung dan perutku sakit," rintih Asha.
"Baik, baik. Ayo duduk." Arga membantu istrinya duduk. Lalu mengambil bantal buat sandaran punggung istrinya. Arga mulai merasa kantuknya menghilang seketika. "Sudah nyaman?" tanya Arga.
Asha mengangguk. Sambil bersandar matanya menutup lagi. "Aku gerah. Udaranya panas."
"Aku nyalain AC ya..."
"Jangan... aku enggak kuat sama dinginnya. Aku ingin di kipasin saja," pinta Asha yang menghentikan Arga mengambil remote Ac. Lalu Arga mencoba mencari kipas kertas di laci. Arga mulai mengipasi istrinya yang tertidur dengan duduk di atas ranjang. Tangannya memegangi perut buncitnya sendiri. Arga ikut mengelus perut itu.
"Ganti baju ya. Dastermu basah keringat," kata Arga.
Rupanya meskipun terpejam, Asha masih bisa mendengar suaminya berbicara. "Enggak.... Aku capek... Enggak sanggup ganti baju," sahut Asha masih dengan mata tertutup dan suara lambat-lambat.
"Aku saja yang gantiin daster."
"Emmm..." Asha setuju tanpa membuka matanya. Dengan susah payah, Arga mencoba melepas daster pendek yang di pakai istrinya dan menggantinya dengan baru.
Laju metabolisme bumil yang meningkat, perubahan hormon, dan peningkatan jumlah darah dapat membuat suhu tubuh naik. Janin di kandungan yang turut mengeluarkan hawa panas tubuh juga menjadi penyebab ibu hamil kepanasan. Untuk membantu Bumil merasa lebih sejuk, coba kenakan pakaian yang longgar dan berbahan katun yang mudah menyerap keringat, dan perbanyak minum air putih.
Akhirnya pergantian daster itu berhasil meskipun agak lama. Arga sampai ikut berkeringat.
"Minum air putih dulu, biar enggak dehidrasi." Setelah mengganti daster istrinya, pria ini segera mengambil air putih. "Sayang...," panggil Arga lembut karena istrinya tidak merespon. Mata Asha terbuka sedikit. "Minum air, biar enggak dehidrasi."
Asha menurut. Dengan bantuan Arga, Asha meminum air putih hingga setengah gelas. Rasa panas membuat tenggorokannya butuh air. Setelah selesai, Arga meletakkan gelas di nakas.
"Panas..."
__ADS_1
"Iya ... sebentar." Arga mengambil kipas kertas dan mengipasi istrinya hingga tidak ada lagi erangan yang terdengar. Asha mulai terlelap dengan posisi tidur. Akhirnya Arga bisa terlelap juga pada akhirnya.