Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Telepon yang mengejutkan


__ADS_3



Sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan, Asha rebahan di atas kasurnya. Memejamkan mata. Terasa sangat nyaman. Ponsel yang ada di sebelahnya berdering. Tangannya menjulur ke samping untuk meraih ponsel. Ternyata Ibu yang sedang meneleponnya.


"Halo, Bu," sapa Asha ceria.


"Halo. Bagaimana kabarmu, Sha?" tanya Ibu dengan suara khas seperti biasa.


"Baik, Bu."


"Ibu mau memberitahu, uangnya yang dikirim kamu itu sudah dipakai buat benahin rumah sama warung Ibu. Jadi sudah habis. Takutnya nanti kamu tanya-tanya kemana uangnya."


"Aku sudah tahu. Ah, Ibu. Masa aku nanya begitu. Ya enggaklah ... Aku kirim uang itu memang buat itu. Jadi ya enggak apa-apa kalau memang sudah habis. Syukur kalau uang yang aku kirim itu bermanfaat," ujar Asha dengan bangga, bisa merenovasi rumah dan warung sudah sangat melegakan.


"Sepeda motor yang kamu beli buat Juna juga sudah datang. Bapak kurang suka sebenarnya kalau kamu membelikan itu buat adikmu. Bapak ingin kamu menabung bisa buat ambil kredit rumah." Asha tahu itu. Bukan Asha tidak ingin memenuhi keinginan Bapak, tapi Asha masih belum merasa butuh untuk melakukan itu.


"Bagaimana keadaan di warung, Bu?" tanya Asha mencari pembahasan lain..


"Sekarang warungnya tambah rame. Karena tempatnya tambah bagus, yang makan di sini juga tambah banyak," jelas Ibu terdengar senang.


"Waa... bagus itu, Bu."


"Jangan malas lho, Sha. Di tempat kerja itu harus rajin," pesan Ibu.


"Iya ...." Memang beda kalau yang ngomong itu Ibu. Meskipun isi pembicaraannya benar, tapi cara ngomongnya beda sama Bapak. Kalau Ibu itu ya ngomongnya dengan nada cerewet dan berapi-api.


"Harus masak sendiri. Anggap saja belajar masak dan juga hemat. Mengerti, Sha?"


"Iyaaa ...."


"Jangan iya saja. Harus di laksanakan. Karena Ibu tahu kamu itu anaknya gimana.  Dulu saat waktunya bantu-bantu Ibu, kamu malah ngilang. Ternyata kata tetangga sebelah kamu lagi latihan karate," ujar Ibu masih ingat Asha sering sembunyi-sembunyi latihan karate dan malah ketahuan sama tetangga yang nyinyir. Mereka melihat dengan aneh seorang gadis yang selalu latihan karate tiap malam.


"Iya..." rasa senang dan haru malah tenggelam saat mendengar nasehat panjang Ibu. Yang ada justru kesal karena di beri wejangan dengan terus menerus. Namun kita memang harus mendengarkan semua nasehat orangtua, karena tidak ada orangtua yang memberi nasehat buruk pada anak-anaknya.


"Bapak mau ke kota. Sekalian lihat kamu juga. Mau berkunjung dan lihat-lihat tempat putrinya bekeja. Kan kamu sering kirim uang ke Ibu sampai bisa benahi rumah dan warung. Jadi Bapak Ingin ketemu kamu di tempat kerja," kata Ibu yang langsung membuat Asha melotot panik. Dia langsung bangkit dari tidurnya.


"Ke-ke tempat kerja, Bu?" tanya Asha mengulangi kata-kata Ibunya. Mungkin saja dia salah dengar.


"Iya. Bapak ingin kesana. Kamu kan kerja di toko yang besar itu kan. Toko yang sangat terkenal, karena banyak di datangi orang-orang sini. Mereka pernah bilang tidak pernah bertemu denganmu di sana, Nduk... Padahal kan kamu kerja di sana ..." kata Ibu semakin membuat Asha pias.


Asha melotot mendengar berita ini. Datang ke tempat kerja? Bagaimana ini? Bukankah Asha sedang menyembunyikan diri dari pekerjaanya yang sesungguhnya. Pasti Juna yang memberitahu Bapak.


"I-iya ...," jawab Asha gugup.

__ADS_1


"Kamu gak libur kan? Kalau memang libur Ibu sama Bapak ke tempat kostmu saja." Kost? Bukankah Asha tinggal di rumah keluarga Hendarto? Bagaimana ini?


"I-ya ...," jawab Asha semakin kalang kabut.


"Iya ini iya apa, Sha? Iya libur atau kerja?" tanya Ibu kebingungan.


"Ya, aku kerja kok." Bibir Asha meringis menahan kepanikan yang mendera.


"Ya sudah. Jangan telat makan. Nanti sakit-sakitan," ujar Ibu menyelesaikan pembicaraan. Asha yang sudah merubah posisi tidurnya menjadi duduk, memejamkan mata dan berdecak kesal.


Tangan Asha menekan tombol panggil pada nomor kontak Juna. Tidak lama menunggu akhirnya Juna menerima telepon.


"Halo, apa?" tanya Juna enggan seperti biasanya.


"Hei, bilang apa sama Bapak?" tegur Asha langsung saat Juna menerima panggilan teleponnya.


"Bilang apaan, Mbak?"


"Kamu enggak bilang kalau aku kerja jadi pelayan, kan?"


"Enggak. Kan aku sudah di sogok sama sepeda motor baru. Sogokan itu sangat berhasil. Aku tutup mulut." Beberapa hari yang lalu Asha juga mengirimkan uang untuk mengambil kredit sepeda motor baru buat adiknya. Juna tidak meminta, tapi Asha memang berniat memberikannya.


"Lalu bapak kok ingin ke tempat kerjaku, sih?!"


"Ini membahayakan, Jun. Jangan sampai bapak tahu aku jadi tukang cuci ...," rengek Asha.


"Bapak mau memastikan mungkin. Tempat kerja Mbak gimana, karena Mbak bisa kirim uang terus," ujar Juna


"Terus gimana dong? Kan aku harus menutupi kalau kerja jadi tukang cuci di rumah majikan."


"Ya di pikir dong."


"Mikir gimana?! Bapak mau ke toko. Sementara aku juga enggak kost lagi kalau memang mau bohong lagi libur," tanya Asha panik.


"Lho kok tanya aku? Kan bisa tanya pacar gantengmu itu," ujar Juna yang membuat Asha mengerutkan dahi.


"Pacar?"


"Pria yang semangat ingin menghajarku itu. Majikanmu. Om yang ternyata masih muda. Dia pacarmu, kan?"


"Eh, lihat darimananya aku pacaran sama dia? Dia itu majikan, Jun. Putra keluarga Hendarto yang jadi direktur perusahaan tempat kita bertemu," jelas Asha bohong.


"Aku ngerti wahai kakakku yang sok pintar. Perilaku dan sikap kalian itu aneh. Jika memang hanya majikan, enggak mungkin seperti itu. Dia melihatmu dengan hangat dan penuh cinta. Walaupun dia mungkin adalah majikan yang baik, tidak mungkin dia bersikap seperti itu padamu."


"Oh, ya? Bukannya banyak majikan yang baik yang memperlakukan pekerjanya seperti saudaranya?" Nada suara Asha jadi terdengar  aneh karena gugup.

__ADS_1


"Benar. Tapi sebaik-baiknya majikan baik, dia tidak akan mengusap kepala pelayannya dengan perhatian dan lembut. Yang paling penting disini adalah Mbak," ujar Juna mengemukakan pendapatnya. Asha menelan ludah.


"Apaan, Jun?" tanya Asha penasaran.


"Itu jadi semakin aneh karena Mbak membiarkannya. Tidak ada yang berani melakukan itu pada Mbak, kecuali Mbak sendiri yang mengijinkannya. Jadi sebenarnya Mbak juga menyukainya. Kesimpulannya adalah kalian berdua itu pacaran."


"Haaha ... kamu memang suka menghayal," ujar Asha berusaha terdengar wajar.


"Terserah. Mbak sendiri yang tahu gimana sebenarnya. Aku bisa tutup mulut kok," ujar Juna tenang. Asha tidak mengatakan apa-apa seraya menggertakkan giginya.


"Pokoknya tanya saja pada dia. Dia pasti tahu apa yang harus di lakukan. Dia pasti akan membantumu. Sudah aku mau main game nih. Gara-gara Mbak aku kena hukuman ni ...," ujar Juna kesal lihat permainannya.


"Membantu gimana ... Ih, teleponnya sudah mati. Arggg ... ini tidak menyenangkan." Suara Juna sudah hilang. Adiknya itu sudah mematikan telepon. Handphone itu di lemparkan di atas tempat tidur. Lalu Asha memegang kepalanya dengan kedua tangan dan menutup matanya seraya meringis.


Bagaimana ini? keluh Asha.


Kalau mengatakan yang sebenarnya pasti Bapak akan terluka. Pasti beliau tidak menyangka putrinya memilih menjadi tukang cuci daripada pekerjaan lainnya.


***


Malam ini, Arga mengundang Asha untuk singgah di kantornya. Sepulang kerja tadi, Arga dan Rendra harus menemani tamu dari kantor pajak dan makan malam bersama. Arga menelepon Asha, memintanya datang. Dengan menaiki taksi online yang di pesan Arga, Asha datang ke kantor sendirian.


Rendra menjemputnya di pintu lift. Karena sudah malam, bagian lorong menuju ruang kerja Arga sepi karena semua sudah pulang. Hanya kantor Depstore milik keluarga Hendarto yang masih menyala. Karena staff Depstore punya jam kerja malam sampai tutup Mall nanti.


Setelah mengantarkan sampai depan pintu ruang kerja Arga, Rendra segera ke ruang kerjanya.


"Terima kasih, sekre ...,"


"Panggil Rendra saja. Biasakan saja seperti itu," potong Rendra yang mulai terlihat menerima Asha lebih baik daripada sebelumnya. Sejak kejadian dia debat dengan Evan, Rendra mulai mengakui Asha itu perempuan unik yang mampu membuat Tuannya tertarik.


"Ah ... ya. Senior. Terima kasih," ujar Asha tidak mengatakan seperti apa yang di katakan Rendra. Namun Rendra paham. Sungguh konyol meminta Asha memanggilnya dengan nama saja, bukankah itu nanti menimbulkan pikiran aneh pada tuannya?


Asha masuk ke ruangan Arga setelah mengetuk pintu. Dia tidak mendapati lelaki itu di dalam sana.



.


.


Buat yang minta visual anggap saja seperti ini😆.


.


__ADS_1


__ADS_2