Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Sarapan


__ADS_3


"Ternyata Ayah masih bisa sarapan pagi ini...," kata tuan Hendarto dengan wajah senang seperti mendapat kejutan yang sangat kelihatan.


"Kak Asha yang memasak." Paris mengatakannya dengan bangga. Namun Asha tidak mengharapkan itu. Dalam hati dia ketakutan membayangkan respon tuan Hendarto akan masakannya.


Suaminya turun dan muncul di meja makan kemudian. Bibir Asha sedikit di tekuk karena kesal dengannya. Senyuman lembut yang di jadikan sapaan pagi oleh Arga, di sambut cemberut oleh istrinya. Arga bingung dengan respon itu. Padahal tadi malam mereka sudah menghabiskan malam yang panas.


Apakah karena itu?


Istrinya itu memang sangat tidak setuju jika harus menyewa kamar hotel untuk meluapkan hasrat pusat dirinya yang tidak tertahan. Arga menyadari itu kemudian. Lalu langsung duduk begitu saja tanpa menghampiri istrinya terlebih dahulu.


Ada yang lain di meja makan. Kepala Arga menoleh ke belakang. Di dapur tidak ada Bunda. Hanya ada istrinya saja di sana. Lalu Arga kembali melihat ke arah meja makan.


"Bunda, kemana?" tanya Arga yang baru sadar bahwa bunda tidak ada.


"Bundamu tidak enak badan. Mungkin lelah." Ayah memberitahu.


"Kenapa sudah ada masakan? Bik Sumi sudah datang?" tanya Arga ke adiknya.


"Belum." Jawaban Paris tidak memuaskan Arga. "Kenapa? Ini semua Kak Asha yang memasak, lho...." Paris memberikan penjelasan tanpa di minta. Dia tahu kakaknya bingung soal makanan yang sudah tersedia. Arga terkejut.


"Benarkah?" Lalu Arga lihat ke arah dapur lagi. Ke arah istrinya yang berjalan mendekat ke meja makan sambil membawakan jus buah kesukaan Paris. Masih menatap tajam ke arah Arga.


"Terima kasih, Kak." Paris mengucapkannya dengan tersenyum.


"Saya buatkan teh juga, Tu...." Semua mata menoleh cepat. Asha hendak menyebut mertuanya dengan sebutan 'tuan'. Asha memang jarang berkomunikasi dengan beliau secara langsung. Suasana jadi canggung.


"Ayah, mau Asha membuatkan teh seperti biasanya?" tanya Arga meneruskan kalimat Asha.


"Ya. Tolong," pinta tuan Hendarto.


Bodoh! Kenapa mulut ini masih saja salah sebut. Seperti anak kecil saja.


Selama menjalin hubungan dengan Arga, dia tidak pernah belajar memanggil Tuan Hendarto sebagai Ayah. Saat akan menikahpun sangat singkat waktunya hingga membuat Asha tidak terbiasa dengan sebutan itu.


"Ayah juga akan berangkat ke kantor pagi ini. Untung saja kamu memasak dengan cepat. Jadi ayah bisa sarapan pagi di rumah."


"Maaf, di dalam kulkas hanya ada bahan-bahan ini. Saya tidak berangkat kepasar. Itu akan memakan waktu untuk memasak buat sarapan. Juga maaf, hanya ini yang bisa saya masak." Asha sudah lebih dulu meminta maaf. Sangat tidak sopan menurutnya memberi makan menu anak kost kepada tuan Hendarto. Namun apa daya, itulah kemampuannya.


Bola mata Tuan Hendarto melihat Asha yang membungkuk di depan meja. Paris dan Arga memperhatikan.

__ADS_1


"Terima kasih, sudah memasak untuk kami," ujar beliau sangat baik. Asha terharu.


"Ayo duduk dan makan bersama." Tangan Asha ditarik pelan oleh Arga.


"Tidak. Aku harus membawa makanan untuk bunda. Bukankah beliau belum sarapan?"


"Baiklah..." Arga melepas tangan istrinya. Ada jeda disana. Di saat mengatakan bunda. Dia sudah menyisihkan sendiri makanan untuk ibu mertuanya.


Lalu kakinya melangkah menuju kamar utama yang bersebelahan dengan ruang baca.


Dengan hati-hati Asha mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.


Apakah beliau tidur?


Setelah menunggu, pintu itu tetap tertutup. Asha kembali ke dapur dengan tetap membawa nampan.


"Kenapa nampan makanan itu di bawa kembali?" tanya Arga sambil melihat ke arah nampan yang di bawa istrinya. Ayah dan Paris ikut menoleh. "Bunda tidak mau memakannya?" Lagi. Arga sengaja terus bertanya. Dia cemas. Dia tahu hubungan bunda dan istrinya belum bisa santai.


"Bukan. Beliau mungkin belum bangun, jadi pintu tidak terbuka walaupun sudah di ketuk." Asha memberi penjelasan. Lalu membelokkan kaki menuju meja dapur.


"Ya. Biarkan saja. Mungkin bunda masih terlelap. Dia nampak pucat tadi karena merasa lemas." Tuan Hendarto mencoba menenangkan. "Makanlah dulu...." Asha mengangguk.


Akhirnya Asha meletakkan pantatnya di atas kursi meja makan. Walaupun tuan Hendarto sudah berterima kasih dan bersikap menerima, tapi Asha masih cemas. Karena beliau belum mengatakan apapun yang membahas soal rasa masakannya.


Namun tidak ada komentar apapun dari mulut beliau. Asha sampai menelantarkan makanannya sendiri. Dia lebih fokus memperhatikan ayah mertua. Paris juga melihat kecemasan kakak iparnya.


Tiba-tiba Arga menyuapkan nasi. Mata Asha terkejut. Wajahnya merah karena malu.


"Kamu tidak bisa makan dengan tenang, jadi aku harus menyuapimu." Arga mengatakannya pelan. Di hadapan keluarganya, Arga dengan bebas memamerkan kemesraan. Ini sangat tidak nyaman. Ayah tidak melihat. Mungkin bukan tidak melihat, tapi tidak ingin lihat. Tangan Asha langsung menyendok nasinya. Menyuapkan dengan cepat sambil mendelik ke arah suaminya. Arga langsung membelokkan sendoknya ke dalam mulutnya sendiri.


***



Asha menghela napas dan kecewa. Dia tidak bisa mendengar langsung respon dari ayah mertua.


"Apa yang perlu di khawatirkan? Ayah itu bukan pemilih makanan," ucap Arga saat Asha membenarkan letak dasinya.


"Tetap saja aku cemas."


"Kalau memang tidak suka, beliau tidak akan sengaja memakan dengan lahap." Asha ingat tadi memang ayah mertuanya menghabiskan makannya dengan bersih. Yah... dia bisa berharap itu merupakan hal baik bagi rasa masakannya. "Juga ... Terima kasih sudah memasak hari ini." Arga mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Itu hanya seujung kuku. Itu bukan masakan yang sebenarnya. Aku hanya mempraktekkan hal yang aku tahu," bantah Asha. Wajahnya menunjukkan usahanya tidak seberapa.


"Itu bagus. Menandakan kamu tidak memanipulasi hatimu sendiri untuk sengaja tampil bagus di depan orangtuaku. Itu berarti kamu tulus, sayang...." Arga menciumi wangi rambut Asha karena baru tadi pagi berkeramas. Asha terkejut.


"Sayang? Panggilan baru?" Asha mencibir karena sepertinya ini pertama kalinya pria ini memanggilnya seperti itu. Arga hanya tersenyum. Istrinya memang sulit untuk di puji.


"Sudah memberitahu ibu bahwa sabtu besok kita akan menginap? Juga bisa memberitahu bahwa bapak, ibu dan Juna bisa juga datang ke acara pembukaan." Asha menggeleng.


"Tidak. Mereka tidak perlu datang ke acara itu. Mereka pasti sibuk."


"Ya sudah. Kamu undang saja mereka ke acara pembukaan itu. Kalau seandainya mereka berkenan, mereka bisa datang. Aku berangkat dulu yah... Baik-baik di rumah. Juga ... tolong jaga bunda." Asha mengangguk.


Rumah menjadi sepi lagi. Asha mulai mencuci perabot yang sudah di pakai tadi. Saat itu terdengar langkah kaki. Asha memutar tubuh. Ada ibu mertua. Dia segera mencuci busa sabun yang tersisa di tangannya dengan air.


"Semua sudah berangkat rupanya," gumam beliau.


"Saya dengar Anda sakit. Apakah sudah lebih baik sekarang?" tanya Asha penuh dengan kehati-hatian. Nyonya Wardah tersenyum.


"Sedikit. Aku mencemaskan tentang sarapan pagi." Ya. Keluarga ini memang tidak pernah melewatkan sarapan pagi. Terutama tuan Hendarto. Asha diam sejenak. Memilah kata untuk mengatakan dia sudah membuat sarapan singkat tadi.


Bola mata nyonya Wardah tertuju pada tudung saji di atas meja makan. Tangan beliau berusaha mengangkatnya. Tidakz bermaksud ingin tahu di balik tudung saji itu. Beliau hanya ingin meletakkan tudung saji di atas bak cuci piring. Saat itu beliau menemukan beberapa masakan.


Mata nyonya Wardah menyipit. Asha menelan salivanya sendiri karena tegang. Matanya terus menatap ke arah meja makan.


"Kamu sudah menyiapkan sarapan rupanya."


"I-iya." Mata nyonya Wardah terus mengamati masakan sederhana milik menantunya. Tiba-tiba beliau mengambil sendok di atas meja dan menyendok tumis tahu dan telur puyuh. Asha terperanjat kaget. Jantungnya berdetak kencang. Merapal doa seketika. Berharap hal baik datang.


"Kamu menyukai masakan yang banyak bumbu dan minyak seperti ini rupanya," ujar beliau seperti tengah menilai peserta kontes memasak amatir. "Lain kali, kurangi minyaknya. Tidak baik untuk orang yang sudah tua." Asha menggigit bibir bawahnya kecewa. Merasa gagal.


"Maaf." Asha menunduk merasa salah. Nyonya Wardah menutup kembali tudung saji tadi dan melihat ke arah menantunya.


"Jangan merasa kecil. Percobaan ini lumayan," puji nyonya Wardah membuat Asha mendongak dan melebarkan mata.


"Terima kasih," ucap Asha sedikit lega. Tiba-tiba nyonya Wardah memegang kepalanya. Terlihat kesakitan. Asha segera mendekat. "Sebaiknya saya antar Anda ke kamar." Nyonya Wardah mengangguk. Tangan Asha memegangi bahu dan lengan ibu mertua dan membimbing ke kamar tidur.



...Jika berkenan, sudilah untuk singgah di beberapa ceritaku yang lain [ slow update ]...


__ADS_1



__ADS_2