Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Keheningan yang panjang


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!



Nyonya Wardah mengedikkan bahu. Merasa tidak apa-apa tidak bisa bertemu Arga karena sebentar lagi waktunya sarapan, jadi beliau bisa bertemu dengan putranya di meja makan.


Paris masih memandang dengan cemas dan tegang ke arah kamar kakaknya. Dia berharap Bundanya segera pergi dari sana dan membuat dua anak manusia di dalam kamar itu bisa bernapas lega.


Paris yakin Asha pasti sedang merasa takut dengan kehadiran bundanya. Kalau mereka bukan sepasang kekasih, Paris tidak akan setakut ini. Dia tidak perlu berbohong dan bersandiwara kepada Nyonya Wardah.


Mendengar pintu kamar Arga yang ditutup dengan cepat, pikirannya melayang ke negeri antah berantah yang indah. Yang mungkin tidak boleh di bayangkan oleh dia yang masih kecil. Mungkin begitu.


Paris masih mengawasi Nyonya Wardah yang masih belum beranjak pergi.


"Kalau kakak kembali, aku akan beritahukan bahwa dia di cari oleh bunda," imbuh Paris dengan tujuan mengusir bundanya.


Kakaaaakk! Kamu berhutang padaku!


"Oh, Bunda mau ke dapur? Ya. Aku akan ke ruang makan, kalau sudah waktunya sarapan!" Sengaja Paris meninggikan suaranya agar dua manusia di dalam kamar -entah di sisi mana- bisa mendengar dan menjadi lebih tenang kalau bunda sudah pergi.


Masih di balik pintu, Arga dan Asha terdiam. Ciuman yang mendarat di bibir Asha barusan jadi batas terakhir wajah Arga cerah dan terlihat bahagia. Saat ini keduanya tertegun sendiri dengan kalimat terakhir Nyonya Wardah yang berada di depan kamar ini.


Arga tidak bisa mengatakan apa-apa. Yang barusan di dengar dari bibir bundanya, adalah hal sensitif bagi mereka yang jadi pasangan. Mereka berdua sudah menjalin kasih, tapi dengan gamblang Nyonya Wardah akan mengenalkan seorang perempuan bagi putranya.


Bila saat ini hubungan mereka adalah majikan dan pelayan, kalimat seperti ini tidak akan menciptakan keheningan yang membentang panjang saat ini. Walaupun terkejut dengan penuturan Bunda Arga barusan, Asha masih bisa tetap  terlihat tenang.


Dia masih bisa menengadah sebentar untuk melihat respon Arga. Berbeda dengan dirinya, Arga menangkap kata-kata bundanya dengan mata nanar. Dia seperti tidak bisa menerima kata-kata itu dengan Asha yang berada bersamanya.


Arga menundukkan pandangan. Melihat Asha dengan wajah takut. Dia tahu pasti, gadis di depannya sakit hati, marah mendengar Bundanya membahas perempuan lain. Walaupun yakin bahwa bundanya sudah tidak lagi ada di sana, mereka masih tetap di tempat. Lebih tepatnya mereka tidak bisa bergerak. Tubuh mereka serasa beku dan menancap dengan kuat di balik pintu kamar.


Mata Asha yang awalnya melihat ke Arga, kali ini menatap lurus. Masih dengan menundukkan pandangannya, Arga menatap Asha dan melepaskan tangannya yang memerangkap tubuh gadis itu di dinding.


"Seharusnya aku tadi menutup telingamu seperti ini," kata Arga mulai bisa mengeluarkan suara sambil menutup telinga Asha dengan kedua tangannya, "Atau bahkan keluar dan mengatakan bahwa aku tidak perlu di kenalkan pada perempuan lain karena aku sudah mempunyaimu di sini," Kali ini Arga memaksa mendongakkan kepala Asha untuk melihat ke arahnya.


"Aku tidak tahu soal ini dan aku tidak mau mendengar soal ini," ujar Arga mengucapkannya dengan mata bersalah. Dia berusaha menekankan kalimat itu untuk menunjukkan bahwa kalimat bundanya tidak ada hubungan sama sekali dengannya. Kecuali itu ide Bundanya sendiri.

__ADS_1


Asha hanya diam sambil menatap Arga yang gusar dan cemas Asha akan berpikiran lain.


"Kau akan mempercayaiku kan?" desak Arga karena gadis ini hanya diam tak berkomentar dengan penjelasannya.


"Sweet...," tukas Asha pendek. Mendengar itu Arga bereaksi aneh.


"Ada apa dengan mu? Kau mengejekku?" Arga melepaskan kedua tangannya dari pipi Asha.


"Tidak. Aku terharu," ucap Asha memelankan suara dan menunduk. Asha merasa senang Arga langsung panik dan bersusah payah menjelaskan dengan berbagai kalimat pembantahan kalau itu terucap tanpa keterlibatannya.


Sebenarnya Asha tidak butuh penjelasan panjang soal ini. Dia paham tentang orangtua kaya yang sering mengenalkan anaknya pada putri keluarga kaya lainnya.


Asha sangat memahami itu. Jadi dia tidak perlu bereskpresi berlebihan saat itu keluar dari bibir Nyonya Wardah. Karena dari pertama dia menyetujui ajakan Arga untuk masuk ke dalam dunia dongeng, Asha tahu akan ada hal seperti ini akan muncul.


Arga memeluk Asha lagi. Kali ini bukan pelukan ingin menggoda atau berhasrat. Arga memeluk Asha untuk meleburkan rasa tidak tenangnya karena akan ada hal-hal yang merepotkan mereka berdua, yang mulai terbaca dari kalimat Bundanya barusan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Arga seraya mengusap rambut Asha dengan sayang.


"Soal perkataan Bundamu?" tanya Asha menarik tubuhnya agak menjauh, tapi dengan lengan Arga masih melingkar pada panggulnya. Arga mengangguk.


"Aku akan mencoba tenang demi menyenangkanmu. Tapi sebenarnya aku tidak bisa tenang memikirkanmu,"


"Pikirkan saja pekerjaanmu. Otakmu berharga untuk perusahaanmu,"


"Apakah aku mendengar ejekan lagi?" tanya Arga dengan mata menyipit. Asha melepaskan pelukan Arga.


"Kau terdengar sangat sensitif," tuduh Asha.


"Aku tidak bisa berpikir tentang hal lain selain perkataan Bunda. Itu sangat mengejutkan. Aku sangat takut kamu tersakiti," ujar Arga bersungguh-sungguh.


"Aku tangguh, kau tahu? Paris bilang aku jagoan bukan," kata Asha menunjuk pada dirinya sendiri. Akhirnya Arga mengalah dengan menganggukkan kepala dengan penuh perhatian. Mengiyakan kalimat Asha agar dia juga tenang.


"Ada perlu apa aku kesini? Ambil cucian? Berikan padaku." Asha menggerakkan jarinya meminta keranjang cucian.


"Aku sedikit bisa lega melihatmu seperti ini. Baiklah," ucap Arga mengacak rambut Asha dulu sebelum dia mengambil keranjang cuciannya. Asha merapikan rambutnya.


Kemudian Arga menyerahkan keranjang pada Asha. Tangan Asha terulur menerima sodoran itu. Tiba-tiba tangan Arga menarik lagi keranjang itu dengan panik.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" gerutu Asha.


"Sebentar, lepaskan dulu keranjang ini," pinta Arga panik dan gugup. Asha mengkerutkan keningnya heran. "Ada apa?" tanya Asha menuntut. Dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan Arga.


"Anu... Itu," Arga benar-benar gugup. Mata Arga bergerak-gerak tidak nyaman. Mata Asha melirik ke arah keranjang dan menemukan sesuatu yang menggelikan di sana. Ada pakaian dalam yang teronggok dengan sempurna di atas keranjang.


Asha mendengkus lucu. Selama ini, Arga membungkusnya dengan rapi walaupun akhirnya Asha juga yang akan mencucinya.


"Itu? Yang membuatmu gugup?" Asha menemukan akar dari rasa gugup Arga. Bibir Arga mendecak merasa ketahuan, "Tiap hari juga aku yang mencucinya untukmu. Kenapa perlu merasa canggung?" tanya Asha jelas dengan nada biasa tanpa ada rasa risih, di ganti dengan nada meremehkan yang ada pada kalimatnya. Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ujung ekor mata Asha menemukan sisi cute Arga yang canggung karena seonggok celana dalam di atas keranjang cucian. Bibir Asha menipis merasa wah, mendapat kesenangan yang jarang sekali di temukan sejak dia mengenal Arga.


Mata Asha menatap Arga bahagia. Ini sedikit bisa melupakan perkataan Nyonya Wardah soal perempuan yang akan di kenalkan ke putranya.


Asha mendekat mendekati Arga yang sedikit memerah pada tulang pipinya. Arga melihat Asha yang sudah berdiri tepat dihadapannya dengan ragu dan tersipu.


Manis, jerit Asha hati.


"Kau," telunjuk Asha menunjuk tepat di atas dada bidang Arga. "Yang hampir setiap hari berhasrat ingin menciumku, bahkan ingin menjamahku... Kenapa jadi memerah karena soal celana dalam itu?" tanya Asha -dengan lambat-lambat. Dia juga menekan agak dalam pada setiap kata-katanya agar lelaki itu paham apa yang dikatakannya.


Mata Asha menjadi dingin dan memprovokasi. Seakan sengaja mengatakannya agar Arga bereaksi. Dengan cepat Arga mendongakkan kepalanya tanpa ragu.


Tidak menyangka gadisnya tiba-tiba saja menjadi wanita dewasa yang berani. Mata Arga mengerjap. Terpukau dan takjub. Ini pertama kalinya Asha menatapnya dengan mata sensual yang kentara. Hasrat Arga bangkit lagi. Tangannya tidak tahan untuk tidak menarik tubuh itu mendekat padanya. Dalam sekejap, tubuh Asha sudah berhasil terperangkap dalam pelukannya.


"Sebuah ciuman sudah cukup kamu curi tadi, Ga.." Asha mendelik seraya menjauhkan wajah Arga. Rupanya dia ingat. Arga terkekeh pelan menanggapi tuduhan gadisnya barusan. Dia masih berhasrat ingin mencium Asha saat ini. "Aku pasti akan di cari nyonya Wardah," kalimat ini menghentikan hasratnya untuk mencium Asha.


Arga mendesah lelah. Dengan terpaksa dia melepaskan pelukannya.


"Saatnya bekerja. Saatnya mencuci itu sekarang," kata Asha dengan mata menunjuk ke keranjang cucian yang berada di dekat Arga dengan mata jahil dan nakal.


Arga mengusap wajahnya karena tidak bisa menghilangkan rasa malu tadi yang kembali muncul. Bibirnya terkekeh menertawakan dirinya sendiri. Asha menyambar keranjang cucian itu dan bersiap keluar kamar.


Satu tarikan napas panjang dan dalam diambil Arga untuk menenangkan hatinya.


Dia masih bisa bersikap tenang, bahkan menggodaku. Apa yang di pikirkannya? Omongan Bunda tidak berpengaruh padanya? Itu sungguh mustahil. Wanita mana saja pasti akan sakit hati kekasihnya akan di kenalkan perempuan lain yang akhirnya menuju pada kata perjodohan. Aku yakin Asha paham itu, tapi barusan, apa itu?


__ADS_1


__ADS_2