Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Perlengkapan bayi


__ADS_3


Masih dalam rencana seharian menemani ibu hamil, Arga mengajak istrinya terlebih dahulu untuk sarapan. Lebih tepatnya makan siang. Karena ini sudah agak siang. Tadi Asha hanya makan setangkup roti, itu pun hanya di makan sedikit karena perut sudah tidak nyaman.


"Kalau mau jalan-jalan. Makan dulu. Jangan membantah. Ini perintah." Arga mencegah bantahan Asha yang akan keluar dari bibirnya.


"Iya."


"Ingin makan apa?"


"Mmmm ... apa, ya.... Nasi soto saja."


"Oke. Kita makan soto."


"Kamu juga makan soto?"


"Iya. Sekalian menemani kamu juga." Mereka makan di depot yang sudah pernah di kunjungi Arga. Pelayan disana menyambut direktur ini dengan bahagia.


Pilihan Arga makan disini adalah tepat. Masakannya enak. Walaupun pelan, Asha terlihat lahap. Arga tersenyum senang. Saat itu dia melihat rambut istrinya yang panjang berjatuhan ke depan hendak mengenai mangkuk. Tangan Arga dengan cepat menangkap rambut itu dan memeganginya. Kemudian menyibakkan ke belakang.


"Rambut itu harusnya di ikat dulu. Bawa ikat rambut?" Asha hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.  Tangannya menunjuk pada dompet. "Di dalam sini?" tanya Arga. Asha mengangguk lagi. Setelah membuka dompet, Arga menemukan ikat rambut berwarna hitam.


Tubuhnya beranjak berdiri sambil dan mendekati istrinya. Mengambil rambut Asha yang berjatuhan di wajahnya lagi, kemudian menyatukan semua ke belakang. Terakhir mengikatnya dengan rapi. Walaupun tidak serapi jika seorang perempuan mengikat rambutnya sendiri, itu sudah lumayan rapi. Arga sudah mahir mengikat rambut istrinya.


"Begini lebih enak kalau makan." Arga kembali duduk.


"Terima kasih," ujar Asha. Bibir Arga tersenyum juga. Lalu dia melanjutkan makan.


"Sebentar lagi mau kemana?" tanya Arga lagi. Asha mendongak.


"Hmm... " Asha tampak berpikir. Karena ajakan suaminya begitu mendadak dan ini memang tidak ada di rencana hari ini, Asha perlu berpikir sejenak. "Sepertinya kita ke mall keluarga saja."


"Mall?" tanya Arga. Asha mengangguk.


"Eh, enggak jadi. Kamu kan enggak masuk kerja. Kenapa malah ke sana. Ke tempat lain saja."


"Memangnya mau beli apa?"


"Perlengkapan bayi. Kita belum punya persiapan apapun," ujar Asha baru ingat. Sesaat melihat iklan pampers di mobil box yang baru saja lewat, dia baru sadar.


"Benar juga. Kita belum punya perlengkapan bayi apapun." Arga ikut tersadar. Dia merasa sedikit panik karena persiapan kemunculan bayi mereka belum terlengkapi. Karena Arga seringkali khawatir soal kesehatan istrinya, soal satu ini yang juga bisa dianggap penting terlupakan. "Mungkin saja bunda sudah menyiapkan."


"Bunda itu enggak mau terlalu ikut campur soal kita berdua."


"Kenapa? Kamu kan perlu di perhatikan juga."


"Bunda itu memang sudah perhatian, tapi beliau enggak berani ikut-ikut mengatur ini itu karena takut kamu enggak setuju."

__ADS_1


"Oh itu. Jadi bunda pasti belum beli perlengkapan bayi ya?"


"Tentu saja tidak. Hal begini kan memang lebih baik di persiapan sama calon ayah sama bunda."


"Oke. Kita ke toko khusus perlengkapan bayi itu. Habiskan dulu makannya. Pelan-pelan enggak apa-apa yang penting habis." Saat Arga sudah menyelesaikan makannya, Asha masih menyuapkan makanannya.


**


Mereka sampai di toko dengan dua lantai yang menyediakan khusus perlengkapan bayi.


"Karena kita enggak tahu jenis kelamin bayi kita, sebaiknya kita pakai warna yang bisa masuk buat anak cowok atau cewek."


"Merah?" tanya Arga.


"Bukan. Kuning saja. Buat cowok bagus apalagi cewek." Asha tersenyum membayangkan. "Ambil warna merah juga boleh. Pokoknya jangan ambil biru atau pink. Itu identik sama cowok atau cewek."


Arga setuju saja. Mereka memilih milik di rak-rak. Dimana baju bayi di lipat. Tangan Arga menyentuh satu persatu pakaian bayi di rak. Matanya menatap takjub. Baju mungil itu terasa menggemaskan. Apalagi jika sudah dipakaikan pada tubuh bayi.


"Aku bisa membayangkan bayi kita akan memakai pakaian ini." Arga menerawang seraya melebarkan baju kecil itu ke udara.


"Lucu ya?"


"Benar. Bayi kita memakai ini dan menatap kita berdua. Itu terasa mengharukan." Asha tersenyum.


"Coba pilihkan beberapa. Anak kita juga pasti senang ayahnya ikut memilih."


"Eh... mana bisa begitu. Memangnya aku mau melahirkan berapa bayi, sayanggg...." Jari Asha mencubit pipi suaminya gemas.


Wajah Arga terpesona. "Sayang? Wa... panggilan baru yang manis buat aku nih...," seru Arga kegirangan. Asha terkejut. Dia tidak menduga bibirnya mengeluarkan panggilan lain untuk suaminya.


"Eh, bukan. Hanya salah sebut saja." Asha jadi salah tingkah.  Kakinya melangkah menuju rak lain. Arga mengikuti.


"Salah sebut juga enggak apa-apa istriku. Ku malah senang. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan sayang.... " Asha meringis. Entah kenapa baginya panggilan sayang ini sedikit membuatnya merinding.


"Kamu senang ya, jika aku panggil kamu dengan kata sayang?" tanya Asha tidak percaya.


"Apapun panggilanmu ke suamimu ini, aku tahu itu pasti berisi rasa cintamu. Jadi aku suka aja semua panggilanmu. Sayang itu juga manis, jika kamu yang mengatakannya," jawab Arga jujur sambil memberikan senyuman jenaka. Sengaja menggoda istrinya.


"Ih, sudah. Ayo kita lihat-lihat lagi." Arga mulai mengulurkan tangannya menyentuh pakaian bayi di rak.


"Eh, ini apa, Sha?" tanya Arga heran. Tangannya membentangkan sebuah perlengkapan bayi dengan banyak tali.


"Itu namanya gurita bayi," sahut Asha yang sudah mencari tahu soal perlengkapan bayi.


"Gurita? Gurita di lautan itu?" tanya Arga heran. Di dalam pikiran seorang pria yang tidak tahu menahu soal pakaian bayi, saat mendengar kata gurita pertama kali pasti tertuju sama hewan laut itu.


Asha tersenyum geli. "Memang agak mirip hewan itu sih, tapi namanya terlalu aneh untuk pakaian bayi.

__ADS_1


"Kata orang-orang memang namanya itu." Arga mengangguk-angguk.


"Jadi beli ini juga?" tanya Arga. Asha menggeleng.


"Enggak. Ternyata memakai itu, enggak sehat bagi bayi."


"Benarkah?"


"Menurut dokter begitu. Jadi enggak perlu beli itu." Asha mendapat pengetahuan baru saat googling.


Ternyata gurita bukanlah jenis pakaian yang disarankan untuk dipakaikan kepada bayi. IDAI dan Kemenkes sepakat bahwa memakai gurita adalah tidak perlu dan dapat mendatangkan bahaya seperti membuat bayi sesak napas, meningkatkan risiko bayi mengalami gumoh karena benda tersebut membuat lambung bayi tertekan.


"Terus kenapa di ciptakan ini?" tanya Arga heran.


"Kebiasaan ini dianggap sebagai tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya karena dinilai memiliki banyak manfaat. Menurut orang dulu begitu. Mungkin saat aku, atau kamu bayi juga memakai ini. Hanya saja karena sekarang lebih modern, aku jadi tahu soal gurita ini lebih rinci." Asha menjelaskan sambil melihat-lihat pakaian di rak.


Tangan Arga terulur mengelus kepala istrinya dengan sayang. "Istriku cerdas juga," puji Arga.


"Hanya karena di rumah lebih banyak diamnya, aku jadi iseng baca soal itu," ujar Asha beralasan. Arga masih terus mengelus kepala istrinya. Hingga pramuniaga disana menunduk dan tersenyum melihat tingkah customer-nya.


...****************...


Dengan di bantu pegawai toko ini, semua barang belanjaan masuk ke mobil bagian belakang. Ternyata lumayan banyak. Itu juga karena Arga langsung membeli semua jenis saat istrinya kebingungan memilih warna atau model.


Sedikit berlebihan, tapi Arga bilang bisa menyumbangkan barang-barang yang di beli tadi jika Asha tidak suka.


"Aku mau makan es krim," pinta Asha saat Arga sudah masuk ke dalam mobil.


"Memangnya enggak apa-apa?" tanya Arga ragu dan takut.


"Enggak masalah, asal porsinya wajar. Dokter juga menganjurkan itu, kok. Karena aku makannya bisa di bilang kurang, dokter juga menyuruhku memperbanyak gizi dengan makanan yang di suka, misal es krim ini."


"Baiklah kita pesan es krim. Kita beli dimana?"


"Di briliant gelato saja."


"Di mall kita?" Arga dengar ada cabang gerai gelato di mall milinya dengan nama yang sama.


"Bukan. Yang di sekitaran kampus."


"Oke. Kita kesana." Arga mengemudikan mobil ke arah yang di tunjuk istrinya. Setelah sampai, Arga turun terlebih dahulu dan segera membantu Asha keluar dari mobil.


"Aku masih bisa keluar sendiri," ujar Asha sambil ketawa kecil lihat suaminya memperlakukannya bak orang yang tidak bisa apa-apa.


"Aku tahu. Ini hanya servis bagi istriku yang sedang hamil. Dia pantas mendapat perlakuan seperti ini karena membawa anakku dalam rahimnya." Asha mencebik lucu mendengar penuturan suaminya.


__ADS_1


__ADS_2