
Cakra menelepon untuk menagih janji traktiran sore ini. Itu sungguh sulit bagi Asha karena dia ingin hemat. Sebenarnya Cakra tahu itu, tapi sengaja minta traktir karena ingin mengerjai temannya itu.
"Sha, nanti malam keluar yok. Belikan aku makan nanti malam." Cakra memberi ultimatum.
"Tidak. Aku lagi malas hari ini," Asha yang sudah menyelesaikan pekerjaan leyeh-leyeh di atas tempat tidurnya.
"Tidak boleh. Aku jemput kamu di rumah Arga," paksa Cakra.
"Jangan!!" pekik Asha yang langsung bangkit dari tidurnya karena perkataan Cakra. Dia lupa itu anak tahu rumah ini karena mereka berdua berteman. Rike memperhatikan Asha dengan heran. Dia yang lagi main handphone jadi penasaran.
"Kenapa?" tanya Cakra terdengar sangat polos.
"Enggak! Enggak mau. Jangan tanya kenapa! Biar aku yang ke tempatmu. Kamu nanti ada di mana?" tanya Asha akhirnya mau juga buat traktir laki itu sebuah makanan.
"Jadi aku yang menentukan tempat makannya nihh...," Cakra kegirangan. Asha mendengar suara tawa dari sana.
"Iya, tapi jangan yang mahal. Aku enggak terima," hardik Asha dengan penuh penekanan pada kata jangan mahal. Dia yang menghemat untuk menabung tentu saja sangat perhitungan soal pengeluaran.
"Paham... Nanti share loc dah. Kamu naik ojek kan?"
"Iya."
"Sekitar jam enam lebih nanti aku hubungi."
"Oke."
"Mau keluar mbak?" Asha mengangguk, "Aku boleh ikut mbak?" Ya... nambah orang artinya nambah biaya nih. Asha menggigit jari. Meringis sudah membayangkan tabungannya berkurang.
"Jangan ya... Kapan-kapan saja." tolak Asha sedih. Dia juga sebenarnya enggak tega menolak tapi apalah daya.
Sesuai jam yang di janjikan Asha sudah bersiap keluar malam ini. Jam bebas yang sangat membahagiakan. Saat Asha di dapur berpamitan sama Bik Sumi yang sedang membuat teh untuk Nyonya Wardah, dia melihat siluet tidak asing di ruang tengah. Walaupun pintu ruang makan yang menyatu dengan dapur ini tertutup, Asha masih bisa melihat seseorang di dalam ruang tamu lewat pintu yang di buat dari kaca buram itu.
"Bi, aku mau keluar dulu," pamit Asha.
__ADS_1
"Sama Rike?"
"Enggak. Rike ada di kamar main handphone,"
"Ingat jangan malam-malam pulangnya. Sesuai jam malam yang di buat sama tuan muda," inget Bik Sumi. Asha jadi teringat tuan mudanya lagi. Padahal dia sudah tidak ada disini. Sedang tugas keluar kota meninjau pembangunan Mall baru. Makanya Asha nampak riang karena tiga hari kedepan bebas dari ancaman tuan muda gila itu.
"Iya, Bi," Asha mengangguk lalu pergi lewat pintu belakang. Karena di ruang tengah ada Tuan dan Nyonya. Mungkin juga Paris. Kalau sudah enggak ada pekerjaan di dalam rumah, Asha juga tidak terlalu sering berkeliaran. Jadi kadang dia juga tidak tahu keadaan di dalam rumah inti.
Tempat yang paling sering Asha tempati adalah tempat laundry di belakang. Lalu dapur dan ruang makan ini. Untuk ruang tengah saja kalau tidak ada perlu, Asha tidak mendatangi ruangan itu.
Ada pesan masuk. Dari si tukang pecat. Asha menamai nomor Arga dengan sebutan itu.
"Ada di mana sekarang?" Asha mencebik. Kenapa juga nanya. Sudah tidak lagi di kota ini masih saja bertingkah seperti ini. Asha mau mengabaikan tapi tidak jadi. Dia segera membalas pesan dari tuan muda dengan kalimat tidak ingin melanjutkan chat tapi dengan sopan.
"Maaf, saya sedang ada di dalam kamar. Saya mau tidur, tuan." Tulis Asha bohong. Karena lelaki itu sedang tugas keluar kota, Asha yakin tuan mudanya tidak akan tahu. Itu trik mudah agar lelaki itu berhenti untuk memperpanjang chat. Kalau orang sudah bilang mau tidur masa mau maksa jangan tidur? Itu tidak mungkin.
"Oh, begitu ya...," balas Tuan muda seperti kecewa. Namun bagaimana mungkin.. itu tidak akan terjadi.
Saat Asha melewati halaman depan dia melihat mobil tuan muda masih ada di sana. Rupanya tuan muda tidak membawa mobilnya sendiri. Pasti memakai mobil kantor yang di bawa Rendra. Dia dan Arga sangat cocok dan klop.
"Masuk!" perintah Arga tanpa menjelaskan secara rinci masuk kemana. Asha di buat bingung, "Masuk ke dalam mobil," kali ini Arga menunjuk ke mobil dan menyebut dengan rinci.
Bilang gitu dari tadi dong. Tapi kok aneh suruh masuk mobil. Buat apa? Aku akan di culik gitu?
Asha masih berdiri di tempatnya buat mikir.
"Ada apa? Masuk!" seru Arga tidak sabar. Asha mengangguk lalu membuka pintu mobil di belakang.
"Masuk pintu yang depan," tegur Arga membuat Asha ribet. Menggeram kesal berkali-kali dan mencebik. Namun Asha berupaya untuk tenang. Setenang air di pegunungan. Soalnya dia sedang ketahuan berbohong tadi. Ini penebusan kesalahan yang telah di buat.
Asha membuka pintu depan dan duduk. Saat duduk itu dia ingat satu hal.
"Saya..." Arga melirik. Asha berpikir lagi soal peringatan Arga sambil menggaruk kening. Bahwa dia hanya boleh memanggil namanya saat berdua. Namun saat lihat reaksi barusan, itu bukan hanya, tetapi harus. Wajib. Asha wajib memanggil dan menyebut nama. Pasti juga harus manggil aku dan kamu lagi nih..
"E... aku sedang ada keperluan. Jadi sepertinya saya, e... aku tidak seharusnya berada dalam mobil ini," jelas Asha.
__ADS_1
"Iya aku tahu."
"Darimana anda, e... kamu tahu? Sepertinya kita tidak pernah mengobrol soal keperluanku," Arga hanya mengangkat bahunya. Bodoh! Jelas dari Cakra lah...
Tok, tok! Kaca jendela di mobil di ketuk. Asha dan Arga noleh. Paris muncul di jendela dekat Arga.
"I-kut." Paris mengatakannya dengan terpotong-potong. Arga membuang napas melihat kemunculan si biang onar, Paris.
"Paris mau ikut," seru Asha senang. Meskipun dia sempat merasa tidak enak karena membela Arga, tapi dia senang kalau ada nona muda itu. Setidaknya dia tidak hanya berdua dengan Arga di dalam mobil. Arga menoleh ke arah perempuan yang terlihat gembira adiknya mau ikut. Akhirnya dia menuruti keinginan Asha dengan membuka pintu belakang. Arga menunjuk pintu belakang supaya Paris segera menuju kesana.
"Mau kemana?" tanya Arga yang melihat Asha yang bersiap keluar mobil.
"Pindah ke belakang. Kan ada Paris....," ucap Asha seperti memang itu seharusnya.
"Aku hanya membuka pintu untuk Paris, bukan untukmu," ucap Arga membuat Asha termangu. Jadi Asha benar-benar di culik di malam kepergiannya menuju tempat perjamuan makan, nih? Paris masuk ke dalam mobil dan heran saat tidak mendapati Asha di tempat duduk belakang. Indra penglihatan Paris melihat ke depan. Dimana Asha yang masih tetap di tempat duduknya, di sebelah Arga.
Paris memiringkan kepala berpikir ada pembangkangan ini... Lalu kedua matanya melihat ke Arga yang merasa biasa saja dengan sikap Asha. Perlahan kepala Asha menengok ke belakang melihat Paris. Lalu tersenyum canggung sambil menyapa dengan tangannya yang nampak kaku.
Sikap apa itu? Dia sedang dalam keadaan tertekan? Kak Arga sedang mengancamnya?
"Sudah? Kita berangkat." Arga menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil menuju pintu gerbang. Pak Tikno yang berjaga di gerbang membungkuk sopan saat Arga menyapa.
Di dalam mobil Asha berdiam diri saja. Dia merasa tidak nyaman harus duduk di sebelah tuan mudanya dan meninggalkan nona di belakang sendirian. Paris melihat ke arah jalanan.
"Kita mau kemana?" tanya Paris kemudian. Arga menautkan alis sambil melihat ke arah kaca spion di atasnya. Asha juga heran.
"Kamu tidak tahu tujuan kita?" tanya Arga curiga.
"Tidak. Aku hanya ingin ikut karena melihat kalian berdua akan keluar," jawab Paris dengan polos. Nih anak kadang sableng juga. Asha pikir Arga yang memberitahu. Begitu juga Arga. Dia pikir Asha pernah cerita ke Paris jadi dia ikutan. Ternyata anak itu hanya ikut saja tanpa tahu tujuan mereka. Arga merasa Paris juga akan mengacau. Namun untuk menurunkan adiknya di tengah jalan tidak mungkin.
Paris tertawa dalam hati.
Apa yang sedang di rencanakan kakak? Mengajak kak Asha berdua dengan mobilnya, dia sedang syuting dalam acara reality show?
__ADS_1