
Rupanya yang di maksud instruktur untuk pijatan favorit suami adalah pijatan pada payudara. Pijat payudara selama kehamilan juga memberi banyak manfaat, seperti meningkatkan sirkulasi darah pada payudara, mengurangi ketidaknyamanan selama kehamilan, membantu meredakan pembengkakan payudara, membuka sumbatan kelenjar susu, merelaksasi, mengencangkan payudara, mengurangi bekas luka dan stretch marks, bahkan untuk mendeteksi adanya benjolan pada payudara.
"Ternyata ada saatnya bersenang-senang bagi suami," ucap Arga sambil tersenyum senang. Ini seperti sebuah bonus setelah tadi mengabdikan diri untuk istri tercinta.
"Mesum," ejek Asha sambil mengkerucutkan bibir.
"Enggak apa-apa dong, mesumnya ke istri sendiri saja. Bahkan itu wajib. Biar hubungan suami istri langgeng." Arga membela diri. Asha tersenyum karena itu benar.
Sang suami di perkenankan memijat dari belakang. Dengan gerakan memutar, suami memijat payudara sang istri dengan lembut dan perlahan.
"Memijat dengan penuh cinta, ya... Itu menyenangkan, lho..." Instruktur ini begitu hebat seperti memandu anak tk. Semua melakukan apa yang di perintahkan instruktur dengan semangat.
"Ya...!!" jawab para suami hampir bersamaan. Benar juga. Bukan hanya Arga, semua suami senyum-senyum saat memijat.
"Kelas ini menyenangkan," ujar Arga dengan arti lain. Pria ini benar-benar memijat dengan sepenuh hati. Hingga kadang membuat istrinya bergerak-gerak resah.
"Ga...," panggil Asha kesal. Sebutan sayang tidak ada lagi. Arga sedang bermain-main dengan payudaranya. "Jangan main-main," bisik Asha sambil menoleh ke samping dan melotot.
"Aku enggak pernah main-main sama gundukan ini. Dari ukuran normal hingga membesar dan tampak nikmat ini... Aku selalu serius jika menyangkut soal gundukan ini," jawab Arga pelan sambil tersenyum. Asha hanya mendengkus mendengar alasan sang suami. Tiba-tiba Arga mendekatkan wajah ke telinga istrinya.
"Kamu terlalu menempel," protes Asha.
"Aku mencintaimu...," bisik Arga Manik mata Asha membulat terkejut. Nuansa menyebalkan tadi berubah. Sekejap saja berubah menjadi indah. Sejurus kemudian bibir Asha tersenyum sambil menunduk. Menggelengkan kepala merasa takjub sendiri. Ucapan suaminya membuatnya lupa sikapnya tadi.
"Kita mungkin baru saja menikah, tapi aku harap... kehidupan rumah tangga kita terus seperti ini kedepannya. Terus saja seperti baru menikah. Jikalaupun ada suatu badai yang membuat kita beda pendapat aku berharap bisa terselesaikan dengan mudah tanpa bersitegang." Suara Arga pelan hingga tidak bisa di dengar orang lain. Hanya istrinya.
"Terima kasih," sahut Asha. "Aku sangat bersyukur, tidak hanya aku saja yang berdoa seperti itu, tapi kamu juga."
__ADS_1
"Suami istri kan berisi dua orang. Jadi lebih baik kedua-duanya berdoa. Kalau seandainya satu doa saja tidak di kabulkan, doa satunya masih ada. Apalagi dua-duanya di kabulkan... Itu anugerah buat kita."
"Aku sangat beruntung punya suami kamu. Setiap hari aku berucap syukur di beri pria sepertimu sebagai pendampingku," ujar Asha seraya menoleh ke samping. Pijatan Arga berhenti karena tatap mata istrinya berubah menjadi hangat. "Aku mencintaimu juga...," ucap Asha. Arga menatap istrinya dengan lekat.
"Aku jadi ingin menciummu di sini." Asha terperanjat kaget. Lalu kembali menoleh ke depan.
"Jangan... Itu tidak boleh. Banyak orang," cegah Asha sambil tetap menoleh kedepan. Pijatan Arga berlanjut.
"Yang di bawah sana juga ikutan tegang," bisik Arga lagi.
"Hah? Di bawah? Apaan?" tanya Asha bingung. Bola matanya mengkerjap-kerjap mencoba mengartikan sendiri kalimat suaminya. Saat itu tangan Arga berhenti memijat lagi dan menyibak rambut istrinya hingga nampak tengkuk polos itu.
Sebuah kecupan kilat pada tengkuknya, membuat Asha terkejut dan sadar. Asha mulai tahu dan paham. Suaminya ingin bercinta. Pijatan Arga juga mulai berbeda. Terasa lebih membuainya. Pria ini sengaja memancingnya. "Sadarlah sayang... kita sedang di kelas prenatal," bisik Asha mengingatkan Arga.
"Aku masih sadar, kok. Tenang saja. Jangan-jangan ... sayangku ini yang sedang tidak tenang. Apa aku berhasil mempengaruhinya?" Asha tahu suaminya tertawa kecil melihatnya yang panik. Asha memejamkan mata sebentar. Dugaan suaminya benar. Dia jadi ikut-ikutan seperti Arga.
...****************...
Arga yang juga sudah mandi segera menyusul. Dia merebahkan tubuhnya tepat di dekat perut buncit istrinya.
"Adik kecil, kamu disana? Ayah datang menyapamu." Tangan Arga mengusap perut istrinya.
Di umur kehamilan Asha yang mulai menginjak delapan bulan ini, Arga mulai belajar mengajak bayi berbicara secara rutin. Rupanya ini dapat membangun sebuah ikatan emosional antara orangtua dan janin.
Setelah lahir nanti, bayi yang sudah terbiasa mendengar suara orangtuanya akan merasa lebih tenang dan tidak mudah rewel setiap kali ayah atau ibu mengajaknya berbicara.
"Sini. Aku tunjukin gerakan anak kita." Asha meraih tangan Arga dan meletakkan telapak tangan suaminya pada perut buncitnya. "Ada gerakan?" tanya Asha yang melihat Arga tampak kebingungan. Mungkin saat telapak tangan suaminya, si bayi enggan bergerak.
Asha ikut mengusap perutnya. Tiba-tiba ada gerakan lumayan signifikan yang membuat Arga terkejut hingga tertawa kegirangan. Pergerakan bayi juga mulai aktif. Kadangkala perut Asha nampak berbentuk aneh. Karena posisi berubah-ubah hingga menyebabkan tonjolan-tonjolan pada perut.
__ADS_1
"Benar. Dia bergerak-gerak di sana. Bayiku bergerak!" Arga terlihat takjub. Asha ikut tersenyum dengan reaksi suaminya.
"Dia merespon kita."
"Anakku ... jangan bikin bundamu mual dan muntah lagi yah... Kasihan. Bundamu jadi enggak bisa makan dengan nyaman. Lalu jika saatnya tiba kamu akan keluar, cepatlah keluar. Jangan berdiam diri saja di dalam perut. Bundamu juga akan kesulitan. Jadi kamu, bunda dan ayah ... mari berjuang bersama. Aya dan bunda sayang kamu." Arga mengecup perut Asha saat usai berbincang dengan bayinya.
Tak di sangka, bayi di dalam perut Asha bergerak sangat aktif. Mungkin suara dari ayah membuatnya menerima rangsangan untuk semakin aktif.
"Jangan abaikan aku kalau bayi kita sudah lahir, ya?" Tiba-tiba Arga merajuk.
"Ehhh, kenapa jadi berpikir begitu...?"
"Mungkin saja. Saat si kecil lahir, dia pasti lebih menggemaskan dari aku. Itu akan membuat semua perhatianmu tersita untuknya."
"Bayi masih dalam kandungan juga sudah di cemburuin. Kamu ini ..." Asha menjepit hidung suaminya dengan gemas.
"Aku memang si pecemburu." Arga mengaku dengan bangga. "Bukannya kamu sudah tahu soal itu."
"Ya. Aku sangat tahu. Kamu memang lelaki pencemburu yang ulung." Asha tertawa kecil. Arga yang merebahkan kepalanya pada paha istrinya sibuk mengelus-elus perut yang membesar itu. "Aku tidak mungkin mengabaikan kamu, sayang... Meskipun memang perhatian jadi fokus ke bayi, tapi kamu ini juga perlu di perhatikan. Aku tahu, kamu juga butuh di perhatikan seperti ini karena kamu adalah bayi besarku," ujar Asha sambil mengelus rambut suaminya. Senyumannya terpatri di bibir. "Aku kan sayang sama pria ini." Asha menyelipkan rambutnya ke belakang telinga karena jatuh ke depan barusan.
Tiba-tiba pria ini bangkit dari tidurannya dan mendekatkan wajahnya pada istrinya. "Eh, apa?" tanya Asha terkejut.
"Aku semakin sayang samu kamu." Arga mencium istrinya. "Malam ini ... aku ingin menyatu," pinta Arga dengan mata berkabutnya. Sebuah keinginan yang sudah sejak tadi di rasakannya. "Boleh?" tanya Arga.
Asha mengangguk. Tidak mungkin dia menolak keinginan suaminya. "Harus hati-hati," ingat Asha. Arga manggut-manggut setuju. Dia wajib mematuhi aturan demi terpenuhi keinginannya, juga demi keamanan kandungan istrinya.
"Terima kasih..." Arga mulai menyergap istrinya dengan ciuman di leher dan pundak. Arga akan menyatu dan menuntaskan hasrat yang muncul sejak tadi.
...****************...
__ADS_1