
Dan kembali lagi ke soal pertama. Arga, kakaknya, ingin mengajak menikah pelayan itu. Bik sumi berkali-kali mendekati Asha mencari tahu. Beliau juga tidak tenang dan gelisah dengan huru-hara yang di sebabkan oleh dua bersaudara itu.
Asha dengar. Tapi tetap diam. Asha mendengar semuanya. Sejak Arga bilang ke orang tuanya ingin menikahinya. Saat Nyonya Wardah mengatakan hal tentang Chelsea mantan tunangan Arga. Juga saat Paris berteriak Arga sedang melamarnya. Semuanya terdengar dengan jelas di telinga Asha. Dia bisa mendengar.
"Arga, Bunda akan mengenalkanmu pada seseorang. Dia...," Nyonya Wardah menyela pembicaraan soal lamaran Arga dengan perbincangan baru. Yaitu soal perjodohan. Perjodohan baru yang di rencanakan beliau.
"Cukup, Bunda! Aku tidak lagi mau di jodoh-jodohkan. Berhentilah... Aku hanya ingin menikahi Asha." Nyonya Wardah menelan ludah melihat keputus asaan dalam mata putranya. Lalu menatap ke arah suaminya yang terlihat bisa tenang dengan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut. Tuan Hendarto sengaja tidak memperhatikan sepertinya.
"Arga ... kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, bukan?" Bunda bertanya lagi.
"Kita lelaki sejati tidak boleh bermain-main dengan pernikahan, Arga!" hardik
Ayah keras. Arga menghela napas.
"Aku tidak sedang bermain-main, Ayah." Raut wajah Arga lebih serius untuk menunjukkan dia memang tidak sedang bergurau. Ayah diam mendengar jawaban tegas dari putranya. Mata Ayah menatap putranya dengan seksama.
"Kamu masih ingat siapa dia, bukan? Dia Asha. Dia Asha pekerja kita," ingat Bunda lagi seperti menjelaskan lagi, kalau-kalau Arga sudah lupa siapa Asha.
"Aku tahu dia bunda. Aku sangat tahu siapa Asha lebih dari Bunda dan seluruh orang di dalam rumah ini ketahui. Aku sangat mengenalnya," ujar Arga tegas dan lugas. Matanya menatap ke seluruh keluarganya yang sedang memandangnya. Semua bibir bungkam. Diam. Terkejut.
"Apakah kamu sedang menjalani hubungan dengan Asha, Ga?" tanya Nyonya Wardah sedikit mengetatkan gerahamnya. Asha yang sedang mencuci piring membalikkan tubuhnya perlahan. Lalu menghadap majikannya dengan menyatukan kedua tangannya.
Arga sedikit merasa bersalah saat melihat raut wajah Asha pias. Dia juga belum membilas kedua tangannya dari sabun pencuci piring. Asha diam.
"Dia memang sedang menjalin hubungan denganku, Bun," Arga ambil alih untuk menjawab.
"Bunda tidak sedang bertanya padamu, Ga. Biarkan dia sendiri yang menjawabnya," ujar Nyonya Wardah dengan tegas sambil menolehkan kepala sedikit ke arah Arga karena beliau harus menghadap ke Asha.
Di tatap oleh semua orang penting dalam rumah ini membuat bibir Asha kelu. Dia tidak bisa menjawabnya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Wajahnya pucat.
Arga menatap dengan perasaan campur aduk. Cemas, takut dan iba. Kalimat lamarannya membuat perempuan itu pada posisi yang tidak menyenangkan. Dia terpojok. Asha membeku dengan kepala sedikit menunduk.
"Sudahlah Bunda...," mohon Arga.
"Tidak. Bunda ingin tahu dari bibir dia sendiri."
Bik Sumi juga iba dan cemas. Walaupun mereka tidak punya hubungan darah, Rike dan Asha sudah seperti anaknya sendiri. Akhirnya tidak ada jawaban apapun dari bibir Asha. Perempuan ini justru bungkam.
***
__ADS_1
Asha keluar dari dapur menuju ke tempat mencuci. Tempat kerja sesungguhnya bagi dirinya. Perempuan muda itu ingin segera menuntaskan pekerjaannya di belakang juga... menenangkan dirinya dari rasa gemetar pada seluruh tubuhnya. Dia takut.
Saat masih di depan pintu, Arga menarik lengan Asha.
"Arga?" pekik Asha terkejut. Arga mengikutinya dari belakang rupanya.
"Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak membuka mulut untuk ikut bicara? Kenapa?" tanya Arga setengah mendesak dan memaksa. Rike yang sedang di dalam tempat mencuci terkejut mendengar suara tuan muda yang seperti sedang marah. Dari balik jendela dia bisa melihat tuan muda dan rekannya, Asha sedang berada di dekat pintu.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku harus berlari kearahmu dan bilang aku adalah kekasihmu? Bagaimana keluargamu? Apa yang akan terjadi?" tanya Asha dengan mata tenang dan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Aku akan memperjuangkanmu, Sha. Bukankah aku terus menerus mengatakan itu? Apa kau tidak paham apa yang aku katakan?"
"Kamu tidak lihat bagaimana situasinya, Ga? Kamu tidak bisa merasakan suasana tegang yang menyesakkan dada itu? Kamu tidak bisa membaca raut wajah Bundamu? Apa kau tidak melihat semuanya?"
"Kau tidak ingin bersamaku?" tanya Arga mencoba menelisik. Dia juga seperti merasa takut jawabannya dari pertanyaannya adalah benar.
"Aku ingin bersamamu. Sangat ingin. Tapi apa kau tahu betapa sulitnya itu? Betapa sulitnya mengaku menjadi kekasihmu?"
"Jangan bersikap seperti kau sendiri yang sedang berjuang, Sha. Aku juga berjuang! Aku juga berusaha untuk dirimu dan aku! Aku juga... Yang kamu pelajari selama ini apa? Kamu tidak bisa membaca aku benar-benar tulus mencintaimu?" Arga memaksa tubuh Asha merapat ke dinding tempat mencuci, tepat di dekat pintu masuk. Asha diam saat Arga memerangkapnya dengan tangan di kedua sisi kepalanya.
"Ga, Nyonya Wardah bisa kesini sekarang."
"Aku tidak peduli. Jangan kau pikir hanya kau yang menderita, Sha. Aku juga sama. Aku tidak berbohong dengan perasaanku, tapi kau tidak pernah mencoba memahami itu. Aku juga mencoba menahan diri untuk tidak marah. Kau tidak benar-benar menganggapku ada." Arga mendecak kesal. Lalu melepas kedua tangannya dengan marah.
"Bukan itu maksudku, Ga..."
"Aku masih belum siap bicara di depan orangtuamu," kata Asha datar.
"Kita seperti berjalan sendiri-sendiri. Kau mengabaikan aku, Sha. Aku sedang berjuang dan kau sedang menolakku. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Sebenarnya apa yang kau inginkan? Aku serius ingin menikahimu, tapi justru kamu bersikap enggan bahkan menghindar. Aku sangat tidak tahu jalan pikiranmu!" Arga kesal dan marah. Lalu meninggalkan Asha yang tertunduk.
Paris yang tak sengaja berlari akan menghampiri Asha, menghentikan kakinya. Tidak jadi bersembunyi karena Arga sudah menemukannya melihat mereka berdua bertengkar. Kaki Arga melangkah pergi melewati Paris yang langsung menunduk saat mata kakaknya melihat ke arahnya.
Setelah Arga pergi, Paris mendekat.
"Kak Asha enggak apa-apa?" tanya Paris cemas. Asha tersenyum tipis.
"Tidak," jawab Asha tenang seperti biasa.
"Aku boleh membahas soal kak Asha dan kak Arga?" tanya Paris meminta ijin.
"Aku tidak tahu apalagi yang harus di bahas tapi silahkan." Bibir Asha tergelak ringan saat mengatakannya.
"Emmmm.... Kak Arga serius lho kak, mengajak Kak Asha menikah. Dia tidak pernah menggila seperti itu," jelas Paris.
__ADS_1
"Iya aku bisa membaca niat baiknya," Asha mengangguk paham.
"Lalu kenapa kakak menolak?"
"Aku tidak menolak. Aku belum siap. Sudah aku katakan padanya."
"Apa kakak takut di tolak Bunda?"
"Jelas. Ketakutanku adalah keluarga ini. Orangtua kalian," ungkap Asha.
"Aku menerima kak Asha," kata Paris tulus.
"Terima kasih. Kamu mungkin terbiasa melihatku dengan Arga karena terlalu sering bersamaku, tapi orang tuamu? Apa yang di pikirkan mereka kalau tahu calon istri putranya adalah seorang pelayan..."
"Mungkin saja mereka berubah pikiran?" Saat mengatakan ini, Paris tahu itu juga meragukan.
"Aku tahu kamu sendiri ragu dengan kata-katamu," Asha menemukan keraguan Paris. Bibir Asha tersenyum getir. "Tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya sengsara, Paris... Aku sangat menyadari itu karena aku juga masih punya orangtua. Mereka pasti juga akan selektif dalam memilih pasangan bagiku, putri mereka. Bagi mereka mungkin hanya mencari calon suami bagiku yang punya sifat baik. Tapi Itu jadi berbeda karena kalian orang terpandang. Nyonya Wardah pasti punya banyak calon menantu yang beliau seleksi sebelumnya. Beliau tidak hanya menginginkan calon yang berhati baik, tapi juga mempertimbangkan hal lain," jelas Asha yang mulai terdengar bisa di terima di telinga Paris. "Juga ... aku akan membawa suasana tidak nyaman bagi orang-orang yang terkait denganku."
"Lalu kak Asha akan menyerah? Jika menyerah bagaimana dengan kak Arga?" desak Paris. "Kak Asha berjanji akan membahagiakan kakakku, bukan?"
"Aku tidak menyerah. Belum... Aku perlu berpikir."
"Jangan terlalu banyak berpikir, Kak. Kadang lebih baik bertindak duluan daripada harus berpikir dulu," ujar Paris.
***
Malam, setelah kehebohan di dapur, Bik Sumi mendekati Asha.
"Bibik mau bertanya. Apa benar kamu itu pacaran sama tuan muda?" tanya Bik Sumi. Asha menelan ludah.
"Tidak, Bi," jawab Asha bohong. Rike merengut mendengarnya.
"Mbak Asha itu memang pacaran sama tuan muda, Bik... Tuan muda sendiri yang mendekati Mbak Asha." Lagi-lagi Rike mengadu. Mata Asha mendelik. Bik Sumi terkejut dengar pengakuan Rike.
"Itu benar, Sha?" tanya Bik Sumi sambil memegang punggung tangan Asha.
"Aku tidak tahu. Tapi bibi tenang saja. Semua aman terkendali." Tangan Asha maju ke depan. Menandakan bahwa dia bisa mengerti posisinya.
"Benar. Memang seharusnya seperti itu. Dia itu tuan muda, Sha. Jangan sembarangan... Kita hanya orang bawah," nasehat Bik Sumi.
"Paham. Siap," kata Asha berusaha tersenyum. Rike menatap iba ke rekannya. Lalu Bik Sumi pergi kekamarnya. Asha kembali menarik selimut dan meringkuk.
"Mbak Asha enggak apa-apa? Aku dengar soal tadi pagi."
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Tidurlah. Aku sangat mengantuk. Aku ingin tidur," ujar Asha membalikkan tubuhnya menghadap tembok dan memunggungi Rike. Gadis ini tahu bahwa rekannya tidak baik-baik saja.