Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Pencarian Asha


__ADS_3


Asha mengumpulkan keberanian untuk kembali ke 'sarang macan' di lantai atas. Asha masuk kedalam lift dan berdiri di pojok. Bersandar agar tubuhnya merasa nyaman. Asha mempunyai ketakutan apabila berada di ruang sempit yang membuatnya terus saja waspada. Sekilas saat Asha menaiki lift yang tembus pandang karena dindingnya transparan, matanya menemukan sesorang melintas di eskalator. Turun dari lantai atas menuju ke lantai dasar.


Saat Asha mengedipkan mata dan melihat lagi ke arah yang sama, sosok itu telah menghilang. Asha mencoba mengedarkan pandangan ke segala penjuru di sekitar eskalator, tapi sosok tubuh yang dicarinya tidak dapat di temukan.


Sungguh konyol. Mengapa aku merasa perlu untuk menemukannya.


Ting! Pintu lift terbuka pada lantai tujuan. Asha melangkah keluar dan berjalan menuju ruangan direktur yang berada di ujung. Berat rasanya harus kembali kesana apalagi sendirian. Apalagi dengan keperluan pribadi, yaitu mencari ponsel yang entah ketinggalan di sana atau tidak.


Hanya ingatan terakhir Asha menyatakan bahwa selain ruangan itu tidak ada tempat lain yang dituju. Asha tadi datang langsung ke ruangan Tuan muda dan menancap di sana sampai akhirnya pulang.


Tok! Tok!


Pintu diketuk Asha dengan pelan. Satu kali ketukan tidak ada jawaban. Asha mengetuk lagi, baru ada suara yang merespon ketukan di pintu.


"Masuk," Terdengar samar, tapi Asha yakin itu suara Rendra, sekretaris yang selalu mengikuti Arga kemana-mana. Asha membuka pintu perlahan dengan menundukkan kepala. Empat mata itu menoleh secara serempak ke arah pintu.


Ada Rendra yang berdiri di samping direktur.


"Ada apa?" tanya Rendra.


"Maaf, handphone saya hilang. Saya yakin handphone saya tertinggal di sini. Karena sejak tadi saya ada disini,"


"Silahkan mencari, tapi jangan mengganggu kami," ujar Rendra sambil melirik ke arah sofa dimana perempuan muda ini duduk lama. Asha mengangguk. Arga yang duduk di kursi kerjanya tidak berkomentar apa-apa hanya melihat saja. Asha langsung menuju sofa yang sejak tadi di pakai duduk dan makan.


Arga dan Rendra terus membahas sesuatu. Asha merogoh di sela-sela sofa, mungkin saja masuk ke dalam celah itu. Lalu menundukkan tubuhnya. Melongok ke bawah meja.


Kemana sih, itu handphone...


"Berikan ini ke Sandra bagian keuangan. Biar dia yang mengurus pembayaran. Juga jangan lupa memberikan bukti pembayaran kepada Pak Tinus setelah melakukan pembayaran." Arga memberikan dokumen yang sudah di tanda tanganinya.


"Baik." Rendra hendak keluar ruangan saat di lihat Asha masih saja mencari handphone-nya.


"Bagaimana dengan dia, tuan?" tanya Rendra.


"Biarkan saja." Rendra melangkah pergi menuju pintu. Asha yang masih mencari handphone-nya menghampiri Rendra.


"Permisi... bisa minta tolong pinjamkan handphone anda?" tanya Asha ke Rendra. Sekretaris itu memutar tubuhnya untuk melihat ke ara yang memanggil namanya.


"Untuk apa?"


"Aku ingin menelpon handphone saya. Jadi mudah menemukannya." Rendra menatap Asha dengan seksama. Dia merogoh saku hendak meraih handphone-nya, tapi mata Arga mengisyaratkan untuk segera pergi menyelesaikan perintahnya.


"Maaf, saya sedang ada tugas. Permisi.." Rendra pun pergi meninggalkan Asha yang kecewa tidak bisa meminjam handphone Sekretaris tuannya. Padahal itu bisa mudah dalam menemukan benda itu. Asha kembali mencari benda itu di bawah meja.

__ADS_1


"Belum ketemu handphone-mu?" tanya Arga.


"Belum tuan. Saya masih mencarinya." Asha berdiri dari acara jongkok di bawah.


"Paris ada dimana?"


"Nona ada di bawah menunggu saya."


"Berapa nomor mu?" tanya Arga.


"Ya?"


"Aku akan coba menelpon ke nomormu. Jadi kamu bisa menemukan handphone melalui nada deringmu," kata Arga menjelaskan. Matanya melihat Asha yang bergumam. Seperti sedang berunding dengan dirinya sendiri.


"Baik. Saya akan menuliskan nomor saya," jawab Asha akhirnya.


"Tidak. Sebutkan saja. Aku tidak mungkin dengan sengaja menyerahkan barang ini kepadamu." Benar! Aku terlalu percaya diri dalam berpikir. Asha mulai menyebutkan sebelas digit nomornya. Arga mengetikkan dan mulai mencoba menghubungi nomor itu.


Asha memicingkan mata. Berusaha menajamkan pendengarannya. Tidak ada suara nada dering terdengar. Asha yakin bahwa dia sudah menyetel pada volume yang bisa terdengar kalau ada yang menelpon.


Sambil mencoba menelpon, mata Arga melihat wanita di depannya yang menipiskan bibir cemas karena tidak ada nada dering terdengar. Dia mencoba mencari lagi di sofa, di dekat diaspenser air minum lalu di dekat rak buku tapi nihil. Tidak ada bunyi-bunyian yang terdengar.


"Kamu yakin handphone-mu tertinggal di sini?" tanya Arga menunjukkan wajah ragu bahwa ingatan Asha benar.


"Apa mungkin kamu masih mampir di tempat lain?"


"Tidak tuan. Saya langsung ke ruangan ini. Saat itu tidak ada orang di ruangan ini. Hanya saya sendiri yang menunggu nona Paris yang pergi ke toilet." jelas Asha agak panjang.


"Saat.. kamu sedang bersembunyi di bawah sana?" tanya Arga menunjuk ke tempat persembunyian Asha waktu tadi dengan dagunya. Indera penglihatan Asha membulat kaget di beri pertanyaan itu. Sontak Asha merasa gugup. Tuan muda sedang mendakwa dirinya saat ini.


"E... Maaf. Saya bukan bersembunyi. Saya itu hanya...," kilah Asha berusaha menjelaskan.


"Saat kamu hanya menguping pembicaraanku dan Chelsea? Atau saat sengaja ingin tahu apa yang sedang aku bicarakan dengan Chelsea?" desak Arga.


Bukan! Aku tidak menguping ataupun sengaja mendengarkan, kalian saja yang bicaranya terlalu keras. Asha semakin gugup.


"O.. ti-tidak. Saya tidak menguping. Ini salah paham. Sa-saya itu...," Asha menjadi terbata-bata di desak seperti itu. Asha menjadi seperti tersangka yang di interogasi dan di desak untuk mengaku. Walaupun memang dia bisa mendengarkan perbincangan mereka berdua, tapi bukan maksud Asha untuk menguping bukan? Ini salah paham


"Lalu? Kenapa kamu diam saja dan masih bersembunyi saat aku dan Chelsea bicara?" tanya Arga seperti bercanda, tapi sorot matanya menatap dengan serius ke arah Asha dari tempat duduknya. Untuk pertanyaan ini Asha seketika diam dan menatap tuan mudanya dengan kedua matanya yang mengerjap.


"Seharusnya kamu muncul dan bisa menghentikan pembicaraan kami berdua. Bukan hanya mendengarkan di tempat persembunyianmu," Ada kerutan samar di keningnya. Dia tidak paham tuan mudanya berbicara ke arah mana. Asha menggaruk keningnya yang tidak gatal dengan pelan.


Bagaimana bisa aku menyela pembicaraan kalian berdua, hei! Aku siapa... Tuan muda ini selalu berhasil membuat Asha jadi serba salah.


"Aku sungguh-sungguh," lanjut Arga lagi dengan wajah serius tapi terlihat lembut.

__ADS_1


Soal? tanya Asha dalam hati. Seandainya saja Arga bukan majikan pasti Asha dengan senang hati akan berteriak, APAAN SIH?!


"Kamu bisa menghentikan aku saat sedang bersama Chelsea. Jadi aku tidak harus berdua dengannya," Asha hanya meringis tidak paham. Apakah Arga ingin menjadikan Asha sebagai pengganggu diantara mereka berdua? Sungguh lucu.


Arga menangkap senyuman tipis yang menertawakan dirinya. Perempuan ini pasti menganggap kalimatku lelucon. Dia sungguh bebal dan tidak peka.


"Apa yang kamu dengar?" tanya Arga menghentikan penjelasannya.


"Tidak ada. Saya tidak mendengarkan apa-apa."


"Kamu juga tidak mendengar saat Paris menanyakan soal perasaanku pada Chelsea?" Tuan muda ini kenapa sih? Kenapa pula membahas itu denganku.


"Tidak, Tuan," jawab Asha dengan menunduk.


"Baiklah.. Aku akan menelfon handphonemu sekali lagi." Kali ini Asha mendengar suara dering telpon dari jarak dekat. Asha menajamkan telinga seraya mendekat ke arah suara itu. Dan... Asha berhenti karena ternyata di depannya ada tuan muda yang sudah berdiri di hadapannya.


Arga masih meletakkan handphone di dekat telinganya. Dia masih menelpon ke nomor Asha. Dan wanita ini semakin jelas bisa mendengar nada dering handphone-nya.


"Kenapa suara handphone saya terdengar seperti dari saku anda tuan?" tanya Asha memberanikan diri dan heran. Namun setelah menanyakan itu Asha menyesal. Dia lupa diri. Kenapa bicara seperti itu. Bukankah itu tidak mungkin... Asha langsung menunduk takut tuan muda marah.


"Benarkah?" respon Arga di luar dugaan. Dia tidak marah. Asha mencoba mendongak sedikit. Dia berani karena respo Arga yang santai di tuduh seperi itu oleh pelayannya. Tangannya mematikan sambungan telepon yang di hubunginya kemudian memasukkan tangan ke dalam sakunya.


"Itu handphone saya, tuan!" pekik Asha terkejut. Kenapa handphone itu ada di sana? pikir Asha.


"Benarkah?" tanya Arga sambil mengangkat salah satu alisnya. Lagak itu menunjukkan sepertinya dia sengaja.


Grr... Tuan ini sengaja mempermainkanku. Ternyata selama Asha mencari, benda itu sudah tersimpan baik di sana. Di saku tuan mudanya.


Namun Asha diam tidak berani meminta karena kali ini Arga menatapnya tajam. Ini keliru! Yang sedang mempermainkan aku itu dia, kenapa aku yang ditatap seperti itu!


"Kamu sengaja tidak menyimpan nomorku, ya?" tanya Arga mendekatkan tubuhnya ke pelayan itu. Jelas ini membuat Asha mengambil langkah mundur.


"Bukan. Hanya belum, tuan."


"Kenapa kamu mundur? Kamu takut aku menciummu?" Asha mendongak kaget. Arga tersenyum. Dia sengaja.


"Aku hanya ingin menyerahkan handphone ini kepadamu." Arga menyodorkan handphone itu ke Asha. Namun Asha masih ragu. Tidak tahu kenapa Asha takut untuk mendekat.


"Aku tidak akan menggigitmu," jelas Arga dengan senyum usilnya yang semakin membuat Asha ragu. Arga mengayunkan benda itu untuk segera di ambil dari tangannya. Asha berangsur mengulurkan tangannya dan memegang benda itu. Namun Arga tidak segera melepaskannya. Ini firasat buruk!


"Aku tidak akan menggigitmu dan menciummu. Tidak untuk hari ini," Senyum nakal terlukis lagi di bibir Arga yang menatap Asha sedang melebarkan retinanya tidak percaya.


Dia gila!!


__ADS_1


__ADS_2