Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Aura mendung Tuan Muda


__ADS_3


Asha berjalan ke pinggir lapangan dengan lambat sembari memandang Tuan muda yang berdiri di depan Paris. Nona muda itu juga sudah berdiri sambil melihat kakak laki-lakinya yang sedang meneguk minuman di tangannya. Entah kenapa Asha merasa telah membuat salah. Tangannya menggaruk dahi berkali-kali berpikir sisi mana yang telah membuat Tuan Muda seperti sedang marah padanya.


"Kakak haus?" tanya Paris ke Asha yang sudah berada di belakang mereka. Asha menggeleng. Bukan tidak haus. Setelah berusaha keras agar bisa mengalahkan tim Cakra dan Tuan Muda, kerongkongannya terasa panas dan sangat kering. Jelas sangat haus.


Namun dia merasa tidak bisa mendekati Paris. Seperti ada pagar yang membatasi jarak antara dia dan majikannya. Saat ini dia merasa tidak boleh berada dekat-dekat dengan punggung itu. Jadi Asha hanya bisa melihat Paris dan Arga dari jarak yang tidak terlalu dekat.


"Sha, tangkap!" teriak Andre melempar botol minuman ke Asha dengan tiba-tiba. Dia yang enggak siap, membuat botol minuman justru lepas dari tangkapannya dan mengarah ke tuan mudanya yang menghadap belakang. Tangannya mencoba meraih dan menyelamatkan botol itu agar tidak terjatuh. Mata Asha melotot saat botol itu sulit diraih dan malah memberi dorongan pada botol dan mengenai kepala Arga. Paris yang melihat melayangnya botol minuman ke kepala kakaknya juga ikutan melotot.


"Aduh," rintih Arga kesakitan. Botol minuman itu berhasil mengenai kepala Arga yang sangat berharga. Lalu mengusap-ngusap kepalanya sambil membalikkan tubuh ke belakang dan melihat Asha yang sudah pucat pasi.


"Maaf, aku saya lalai. Tidak sengaja...," ucap Asha membungkuk. Karena gugup dan takut Tuan muda bakal marah karena botol yang nyasar itu, kalimat Asha jadi belepotan. Paris mengintip dari balik tubuh kakaknya dan ketawa lihat Asha membungkuk minta maaf. Andre yang melempar botol mendelik kaget. Deni yang ada di situ melihat ke arah Andre sambil komat kamit kasih tahu kalau Asha bakal di marahi gara-gara Andre. Tubuh Andre berputar membelakangi Asha dan tuan mudanya sambil meringis


"Aku gak mau lihat Ca. Biar Asha yang mengurusi masalah ini. Aku yakin dia pasti lebih berpengalaman menghadapi direktur itu. Kalau teman direktur kita marah, bahaya. Aku bisa tidak selamat," racau Andre sambil meringis takut. Cakra hanya mencibir lihat Andre bersikap seperti itu. Dia tidak menyangka botol minuman itu lebih memilih kepala Arga daripada Asha yang menjadi sasaran. Botol itu juga bisa menemukan kepala yang lebih mahal rupanya.


"Maaf tangan saya itu licin. Jadi aku tak bisa menangkap botol dengan cerdas," Asha masih mengucapkan permintaan maaf dengan kalimat aku dan saya yang tidak tepat. Paris geleng-geleng kepala mendengarkan lalu cekikikan lagi. Dia tidak menyangka Kak Asha setakut itu dengan kakaknya.


Padahal menurut Paris raut wajah Arga saat ini tampak datar-datar saja melihat pelayannya merasa bersalah. Kakaknya lebih merasa marah dan mendung suasana hatinya saat melangkahkan kaki menuju pinggir lapangan. Ada yang tidak di sukainya saat berada di tengah lapangan tadi. Dan mungkin itu penyebab mengapa mendadak pertandingan berhenti. Arga berjalan menjauhi lapangan basket dan menghampiri Paris dengan muka dinginnya tadi.


Deni lihat sih, tapi tidak melihat keseluruhan saat wajah Arga seperti awan mendung yang akan menurunkan hujan beserta petir dan kilat menyambar. Dia tadi hanya melihat ke Paris yang ada di sampingnya.


"Hentikan permintaan maafmu. Aku tidak memerlukannya sebanyak itu. Kamu sadar, kalimatmu sangat berantakan? Mendengar itu sungguh tidak baik bagi telingaku." koreksi Arga membuat Asha mendongak. Kedua matanya mencoba meneliti raut wajah itu. Apakah benar tuan muda sudah tidak perlu dirinya minta maaf, "Kamu bisa mendengar apa yang aku katakan?" Asha mengangguk perlahan dan menghentikan permintaan maafnya. Kemudian menarik napas dan membuangnya perlahan. Lega.


Sementara itu Andre yang masih ketakutan belum memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Bagaimana Ca? Dia marah? Apa dia akan menuntut aku?" tanya Andre berlebihan tanpa menoleh ke belakang.


"Arga tidak lagi marah. Tenanglah..." Cakra menepuk pundak Andre. Ini juga membuat laki-laki ini menghela napas lega yang luar biasa, Dengan lambat-lambat Andre memutar tubuhnya. Dilihatnya teman direktur sudah bisa bersikap normal. Karena sepertinya dia sudah bisa berbincang.


"Ayo kumpul sama mereka," Cakra menepuk bahu Andre lagi. Masih dengan ketakutan yang mulai menipis Andre mengikuti Cakra di belakangnya.


***


Semua makan dengan bahagia di resto dengan brand internasional yang berada tepat di depan alun-alun kota. Tentu saja bukan dari dompet Asha biaya pengeluaran semua makanan ini. Arga yang membayarnya tanpa diminta. Dia langsung mengusulkan ide makan di sini.


"Kak Asha tadi keren," puji Paris yang jadi akrab sama Deni dan Andre. Asha tersenyum. "Jadi kalian berempat ini satu sekolah SMA dulu?" tanya Paris sambil gigit ayam krispi yang super lezat itu.


"Bukan. Cakra dan Asha memang satu sekolah, tapi aku dan Deni enggak," jelas Andre.


"Kok bisa?" tanya Paris penasaran.


Tangan Asha meraih sedotan di atas gelas besar yang berisi susu cokelat dengan potongan alpukat berbentuk dadu, di tutup dengan pasir cokelat bubuk di seluruh permukaan minuman. Ini langsung menjadi favorit Asha karena penuh dengan rasa cokelat yang sangat-sangat pekat. Bagi yang bukan pecinta coklat semua ini mungkin menimbulkan rasa eneg yang sangat. Namun bagi Asha ini adalah salah satu tokoh utama dalam minuman.


Karena bermain dengan sangat keras, Asha mengeluarkan banyak tenaga hingga membuatnya sangat kelaparan. Setelah dia menikmati minuman, tangannya mulai beralih ke piring berisi ayam di depannya. Makan dengan lahap. Meskipun dibalut dengan tepung, ayam itu di bumbui dengan baik, karena rasa bumbu pada ayamnya sangat terasa lezat. Tepung yang membalut ayam itu juga sedap dan kriuk.


Asha baru sadar Tuan muda memperhatikannya saat dia hendak memakan potongan terakhir. Tatapan mata yang tajam yang membuatnya tak sengaja langsung terburu-buru melahap ayam yang di mulutnya langsung di telan dengan cepat tanpa mengunyah. Alhasil dia mendelik karena makanan itu tersangkut di tenggorakan yang membuatnya terasa sakit.


Mata Asha melebar sambil menepuk dadanya karena tidak bisa menelan makanan yang tidak di kunyah tadi. Paris terkejut melihat Asha di sebelahnya dan panik. Dengan sedikit terlambat Cakra baru menyadari Asha tersedak saat Arga menyodorkan botol air mineral yang ikut di pesannya tadi dengan cepat.


"Minumlah. Paris tepuk punggungnya perlahan," Perintah Arga cepat tanggap. Paris masih menepuk pelan punggung Asha  sementara Asha terus meneguk air mineral dalam kemasan botol itu.

__ADS_1


"Asha kenapa?" tanya Andre dan Deni yang semakin telat menyadari Asha terkena musibah.


"Uhuk!" Asha terbatuk dan mengangkat tangan memberi tanda pada Paris untuk berhenti menepuk bahunya. Dia sudah tidak tersedak tapi tidak mampu bicara karena napasnya tersengal-sengal. Karena saat tersedak tadi, napasnya juga seperti tersumbat.


"Karena bekerja keras tadi kamu sangat kelaparan ya, Sha?" ledek Deni sambil ketawa, di susul Andre yang juga tertawa. Asha tidak menggubris dengan ledekan mereka.


"Makannya itu pelan saja, Sha," inget Cakra sambil tersenyum geli. Asha manggut-manggut saja menerima semua komentar kawan-kawannya.


"Apa yang ada dalam pikiranmu itu hingga menelan makanan tanpa mengunyahnya?" tanya Arga agak tajam setelah yakin Asha sudah baikan dan bisa jawab. Kepala Asha hanya mendongak dengan alis berkerut. Matanya melihat ke kanan-kiri lalu menunduk.


Sialan! Yang ada dalam pikiranku tadi adalah anda yang mulia. Karena anda terus saja memperhatikan saya makan jelas membuat saya tidak nyaman. Ini orang kok enggak sadar sih.


"Paris, kita tidak segera pulang? Jam malam sudah habis nih...," ucap Asha cemas.


"Kenapa khawatir? Bukankah pembuat aturan itu ada di sini?" Tunjuk Paris ke arah kakaknya. Eh, iya lupa.


"Aku sudah memberitahu bunda bahwa kamu sedang bersamaku dan Paris saat ini," kata Arga sambil menyelesaikan makannya tanpa mendongakkan kepala untuk melihat Asha.


Berarti tinggal Bik Sumi ini. Pasti bingung kenapa aku tidak segera pulang.


Tangan Asha segera mengambil handphone dari dalam tas.


"Bik Sumi sudah di beritahu oleh Bunda. Jadi tenang saja," kata Arga memberitahu tanpa di minta. Tuan muda ini sudah memberitahu semua jadi Asha tidak perlu cemas akan orang rumah yang khawatir.


"Terima kasih." Paris tersenyum sambil setengah bercanda.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa aku terima," jawab Paris lalu ketawa, Asha juga jadi ikut tersenyum. Tidak sopan kalau harus ikut tertawa seperti Paris. Arga tidak menjawab.



__ADS_2