
Walaupun Asha tidak bisa melihat raut wajah Arga, tapi dia merasa lega hanya mendengar langkahnya. Meskipun kepalanya menunduk, dia bisa merasakan keberadaannya. Arga ada di sini. Arga... aku rindu, teriak Asha dalam hati. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk tubuh lelaki itu untuk meminta perlindungan.
.
.
"M-maaf, saya hanya bisa memohon pada kebaikan hati A-anda, Tuan dan Nyonya," jawab Asha tersendat-sendat dengan tetap menundukkan kepala. Menekan jarinya-jarinya semakin kuat. Asha berusaha untuk tetap menjawab. Ini tanggung jawabnya untuk bisa memberikan jawaban pada setiap pertanyaan dari mereka. "Maaf, s-saya...." Arga langsung menghampiri dan memeluk tubuh Asha. Meredam ketakutan Asha yang semakin menggerogoti hatinya.
"Sudah, jangan mengatakan apa-apa lagi. Kamu tidak harus menjawab pertanyaan itu. Tenanglah, sekarang ada aku disini," bisik Arga. Pelukan Arga yang segera membalut tubuh yang tengah gemetar itu, memangkas kalimat Asha barusan.
Asha menahan dirinya kuat-kuat untuk tidak menangis. Dia hanya memejamkan mata. Memenangkan hatinya.
"Kamu pasti takut. Aku sudah di sini, Sha.... Turunkan bahumu, kamu bisa tenang," bisik Arga sambil memeluk gadisnya lebih erat.
Tuan Hendarto dan Nyonya Wardah sedang menyaksikannya. Menyaksikan putra sulung mereka sedang memeluk gadis yang di cintainya.
Arga memang langsung melangkahkan kakinya menuju tempat Asha berdiri. Dia ingin segera menopang tubuh yang nampak rapuh di matanya. Merengkuh tubuh itu, yang sengaja di paksakan untuk tetap kuat saat menerima pertanyaan demi pertanyaan dari orangtuanya. Perempuan ini memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak. Asha hanya berusaha kuat. Arga mengerti itu.
"Jika Asha sedang di beri pertanyaan tentang hubungan kita berdua, aku wajib berada di sini bersamanya. Ini bukan hanya tentang dia, tapi juga pasti melibatkan aku." Dengan lengannya yang masih memeluk tubuh Asha, juga tanpa menunggu kedua orangtuanya berbicara, Arga langsung memberi keputusan sepihak bahwa dia patut di ikutsertakan dalam perbincangan ini.
Nyonya Wardah menghela napas dan menoleh sekilas ke suaminya yang juga masih saja melihat ke arah putra mereka. Dari jarak sedekat ini Asha tahu, degup jantung lelaki ini berdetak tak beraturan dan cepat. Asha paham Arga tergesa-gesa pulang dari kantor. Lelaki ini pasti berusaha langsung pulang karena mencemaskan dirinya.
Napas Arga naik-turun. Lelaki ini berusaha mengatur napasnya.
"Jadi perjuanganmu hanya memohon, Asha? Lalu, jika semuanya tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan, kamu akan kembali pada awal tidak terjadi apa-apa antara kalian berdua?" desak Nyonya Wardah membuat Asha ingin keluar dari lengan Arga yang kokoh. Dia tidak harus menangis disini. Dia masih harus bisa berdiri tegak.
"Apa yang Bunda tanyakan?" tanya Arga tidak suka Bundanya menanyakan hal itu dengan nada seperti meremehkan. Asha berhasil menenangkan diri dan kembali menghadapi orangtua Arga.
__ADS_1
"Maaf. Hal terberat bagi saya adalah tidak diterima oleh orangtua Arga. Jika memang saya tidak di ijinkan menjalin hubungan dengan Arga, berarti itu saat dimana saya harus bersikap ikhlas." Bibirnya bergetar saat mengatakannya. Kedua tangannya menyatu dan juga mengepal karena menahan pedih di hatinya.
Jujur, Asha ingin menangis saat mengatakan ini. Airmata itu sudah berada di ujung mata. Namun Asha masih mampu menahannya.
Ikhlas? Apa yang sedang di pikirkan Asha.
Ikhlas itu bukan hal sepele. Ikhlas itu adalah sebuah perjuangan. Perjuangan berat untuk melepas hal yang berharga. Tidak seperti kita saat membuang hal yang tidak kita suka. Jika kita sudah merasa itu adalah suatu hal yang berharga, kita akan kesulitan untuk membuangnya. Jadi, jangan perah meremehkan sebuah keikhlasan sekecil apapun itu, karena itu bukan hal yang mudah.
Kepala Asha semakin menunduk. Dia ingin menangis lagi. Asha itu kuat. Asha itu mungkin bisa menendang dan meninju dengan kaki dan tangannya. Namun, jika menyangkut hal ini, Asha menjadi lemah. Walaupun begitu, dia tidak ingin kalah.
"Namun, ijinkan saya memohon sekali lagi." Tiba-tiba Asha merundukkan tubuhnya dan duduk beralaskan kakinya di lantai untuk memohon. Asha berlutut. Nyonya Wardah dan Arga membelalakkan mata. Sementara Tuan Hendarto menundukkan pandangan sambil menyipitkan mata. "Ijinkan saya dan Arga, bisa bersama. Saya mencintai putra Anda," lanjut Asha dengan bibir bergetar.
"Sha...," tegur Arga tidak tahan melihat ini. "Kalian berdua ingin membuatku terus-menerus patah hati? Benar, Bunda?" tanya Arga tidak bisa lagi menyembunyikan marahnya. Mendengar dan melihat Asha seperti itu, Arga merasa hatinya sakit. Asha memilih terus menerus memohon. Dia tidak membiarkan Arga memperjuangkannya sendiri. Asha merasa, dia juga harus memperjuangkan dirinya.
Tiba-tiba Arga juga berlutut. Asha yang tengah menguatkan hati itu menoleh dengan cepat seraya membelalakkan matanya. Raut wajah Nyonya Wardah tersentak, mulutnya terbuka sedikit karena terkejut. Kemudian menatap suaminya yang terlihat tenang. Bahkan sangat tenang.
"Kalau Ayah dan Bunda ingin menyalahkan seseorang karena jalinan cinta yang tidak sejalan dengan yang Ayah dan Bunda kehendaki, kalian patut menyalahkanku. Jangan pernah menyalahkan Asha. Aku yang mencintainya dulu. Aku yang memintanya untuk mencintaiku dan menerimaku. Aku mencintainya, Ayah." Tangan Arga terulur menggenggam tangan Asha yang duduk sambil menekuk tubuh dan menggigit bibir di sampingnya. Kepalanya menunduk seraya memejamkan mata sebentar. Berdoa dan berdoa. Tanpa terasa matanya berkabut.
"Aku mohon kepada Ayah dan Bunda. Ijinkan aku untuk menikahi Asha. Aku mencintai keluargaku juga mencintai dia. Aku tidak ingin kalian menyuruhku untuk memilih. Aku ingin hidup damai dengan keluargaku dan juga perempuan yang aku cintai," ujar Arga yakin.
Asha mengetatkan genggamannya. Matanya berkaca-kaca. Tuan Hendarto dan Nyonya Wardah diam sejenak melihat keduanya berlutut meminta persetujuan.
Asha tidak bisa berpikir lagi. Jalan terbaik adalah ikhlas. Dia sudah berupaya dengan mendatangi sendiri kedua orangtua Arga. Mencoba menarik rasa iba mereka pada perempuan dari daerah kecil yang berhasil membuat Tuan Mudanya takluk.
Nyonya Wardah terlihat membisikkan sesuatu. Tuan Hendarto hanya tersenyum tipis kebapakan.
"Berdirilah kalian berdua," ujar Tuan Hendarto tiba-tiba seraya membuka kacamatanya. Berusaha membersihkan kacamata dari debu lalu memakainya lagi. Suara beliau tidak lagi menakutkan tapi masih tegas dan menguarkan hawa kuat yang mengintimidasi.
"Ayah?" tanya Arga sambil mendongak tidak paham maksud Ayahnya. Bunda mengangguk ke arah Arga yang sedang melihat ke arah beliau, seperti meminta bantuan sebuah jawaban.
"Berdirilah. Kamu dan Asha. Ayah ingin berbicara tanpa harus melihat kalian duduk di bawah seperti ini," perintah Bunda. Kemudian tangan Nyonya Wardah terlihat menowel lengan suaminya. Tuan Hendarto mendehem dan mengangguk.
__ADS_1
"Kita berdiri?" tanya Arga ulang. Dia tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.
"Apa kamu mau duduk seperti itu, terus menerus?" Ayah justru bertanya.
"Sudah... berdiri saja kalian berdua." Nyonya Wardah memberi kode pada Arga untuk berdiri. Lalu Arga membantu Asha berdiri. Mereka berdua kemudian berdiri tegak. Di depan majikannya, Asha masih berdiri dengan kaku dan canggung. Masih menunduk karena banyak pertanyaan ada di dalam benaknya.
"Kamu ini ternyata keras kepala juga, Arga," tuduh Tuan Hendarto mengawali kalimatnya. Arga masih bingung. Masih tidak paham dengan sikap tenang kedua orangtuanya. Sebenarnya, bagaimanakah ini? "Apa kamu yakin rasa cintamu itu sanggup tidak membuat pekerjaanmu terbengkalai seperti yang sudah-sudah?!" tanya Tuan Hendarto membuat Arga mengerjap terkejut. Menatap Ayahnya tidak percaya.
Meski berteriak, Ayah bukan sedang mengintimidasi. Beliau sedang menanyakan dengan sungguh-sungguh tentang keputusan Arga.
"Aku sanggup dan mampu, Ayah!" yakin Arga segera. Tidak ingin menunggu Ayahnya berubah pikiran karena terlalu lama dia menjawab.
Ternyata beliau tahu bahwa Chelsea seringkali membuatnya melalaikan pekerjaan karena sikap manjanya. Tuan Hendarto tahu itu. Walaupun Arga seringkali menutupinya. Beliau hanya perlu diam dan mengamati. Rupanya semua bisa di kendalikan berkat istrinya. Jadi beliau tidak ikut untuk turun tangan.
"Apa kamu yakin bisa membahagiakan Asha dengan keras kepalamu, itu?!" Tuan Hendarto meninggikan suaranya dengan tegas. Bola mata Arga berbinar. Tersenyum, kemudian menghela napas lega. Namun, tubuh kurus Asha tetap menegang. Tubuhnya juga masih gemetar. Perlahan kerapuhan perempuan ini terkuak.
"Aku bisa Ayah. Aku bisa membahagiakan Asha," jawab Arga pasti seraya menolehkan kepala ke samping dengan bahagia, untuk memandang Asha yang masih tertunduk sambil menggigit bibir. Memandang perempuan itu dengan seluruh rasa sayang dan rasa cintanya.
Bola mata Arga menemukan butiran bening di ujung mata gadis itu. Sekali lagi Arga perlu memeluk tubuh itu. Tubuhnya mendekat dan mendekap Asha. Kali ini Asha tidak bisa lagi menahan. Tangisannya pecah seketika. Buliran airmata langsung melewati pipinya seiring dengan pelukan Arga. "Akhirnya kita bisa bernapas lega. Aku mencintaimu, Sha...," bisik Arga seraya mengecupi pucuk kepala Asha. Mempererat pelukannya karena perempuan ini meluapkan semua tangisannya.
Kedua orangtua Arga terdiam lagi. Kali ini mereka bukan marah. Mereka hanya terharu. Membiarkan Arga menenangkan gadis pelayan itu.
"Sudah... Mereka merestui kita, Sha. Kamu tidak harus takut lagi," bisik Arga sambil mengusap punggung Asha. Gadis ini tidak berhenti menangis. Mata Arga juga sempat berkaca-kaca karena terlalu bahagia.
"Kalian berdua, duduklah," ujar Tuan Hendarto setelah membiarkan mereka berdua berpelukan.
"Jangan menangis lagi," pinta Arga seraya menundukkan kepalanya sejajar dengan kepala Asha, agar dapat melihat ke arah wajah perempuan itu. Tangan Arga terulur membantu Asha menyeka airmatanya. Setelah itu membimbing tubuh Asha untuk mengikutinya duduk di sofa.
"Dengarkan baik-baik." Arga menajamkan indra pendengarannya. Bola mata Tuan Hendarto melihat Asha yang masih menekuk tubuhnya dengan tegang. "Duduklah dengan nyaman, Asha...," pinta Tuan Hendarto sambil merendahkan suaranya dengan lembut. Mengerti bahwa gadis itu masih merasakan ketegangan dan ketakutan karena tadi. Seperti seorang Ayah yang sedang mencoba berbicara pada putri kecilnya yang ketakutan akan kumis lebat pada wajah Ayahnya.
Tangan Arga mengusap punggung Asha berkali-kali agar perempuan ini merasa tenang. Asha mengangguk.
__ADS_1