
..."Tadi katanya mual karena bau tubuhku. Sekarang kok malah di ciumi seperti itu?" tanya Arga heran. Asha menggesekkan pipinya pada punggung suaminya dengan manja dan memeluknya erat....
..."Aku mual karena tidak kuat sama aroma parfum kamu. Kalau bau sabun seperti ini, aku masih suka."...
...[ Episode Sebelumnya ]...
Pagi hari selalu jadi hal yang menakutkan dan buruk bagi perempuan hamil. Setidaknya itu yang di alami Asha. Di pagi hari, dia selalu mual-mual dan muntah. Hawa dingin terasa menusuk permukaan kulitnya dan itu langsung membuat perutnya bergolak.
"Hoek!" Asha berdiri membungkuk di depan kloset. Memuntahkan apa yang membuat tidak nyaman. Namun ini masih pagi. Dia belum meminum atau memakan sesuatu. Jika hari ini isi perut keluar, itu berarti makanan dan minuman tadi malam.
Arga yang masih memejamkan mata akhirnya terbangun mendengar suara kesakitan istrinya. Dia segera menyingkirkan selimut dari tubuhnya, lalu menuju kamar mandi.
"Asha...." Arga melebarkan mata melihat istrinya terduduk lemas di dekat kloset. Kemudian membungkuk melihat keadaan istrinya dengan seksama. Asha memang menjadi sangat lemas karena terus saja muntah. Wajah Asha pucat dan berkeringat dingin. "Sudah selesai muntahnya?" tanya Arga cemas. Asha mengangguk. Setelah memuntahkan cairan kuning yang menyebabkan perutnya seperti di remas-remas, Asha tidak lagi ingin muntah. Mual itu perlahan lenyap. Namun meskipun begitu, tetap menyisakan rasa tidak nyaman pada perut dan langit-langit mulut.
Arga hendak mengangkat tubuh istrinya karena sepertinya Asha tidak mampu berjalan. Kepala Asha menggeleng. "Aku bisa berjalan." Asha mengucapkannya dengan lemah.
"Baiklah. Aku akan membantumu berjalan kembali ke ranjang." Arga menuruti kemauan istrinya. Dia membantu Asha berdiri dan memapahnya menuju ranjang. Asha merebah dengan nyaman disana. Arga menarik selimut dan membungkus tubuh istrinya. "Tunggu disini, aku akan mengambilkan sesuatu untuk meredakan mualmu." Asha hanya mengangguk lemah sambil memejamkan mata.
Arga segera turun ke bawah menuju dapur. Bunda yang barusan datang menoleh cepat saat melihat Arga yang berwajah panik.
"Ada apa?"
"Asha mual-mual dan muntah hingga pucat. Dia lemas," jelas Arga.
"Benarkah? Bunda akan buatkan teh jahe. Duduklah." Nyonya Wardah dengan sigap menyeduh kantong teh yang mengandung jahe. Lalu mencari sesuatu di rak dapur. Sebuah kotak biskuit. Biskuit yang tinggi karbohidrat bisa untuk mengatasi mual di pagi hari. Selain itu, juga bisa untuk mengembalikan tenaga setelah mengalami mual dan muntah. Konsumsi biskuit juga bisa membantu menyerap asam lambung sehingga mengurangi rasa mual. Bunda tahu benar itu.
Arga hanya memperhatikan bundanya. Lalu beliau meletakkan teh jahe dan biskuit di atas nampan kayu kecil. "Bawa ini. Juga, suruh Asha makan biskuit ini agar mengembalikan tenaga istrimu setelah muntah." Arga mengangguk dan membawa nampan ke kamar tidurnya.
Asha masih terbaring lemah di atas ranjang. Setelah meletakkan nampan di atas nakas, Arga menyentuh tubuh istrinya pelan. Perlahan Asha membuka mata.
"Ayo aku bantu duduk. Bunda membuatkan teh jahe untuk mengurangi mual." Asha menggerakkan badannya. Arga membantu memberi bantal pada punggung Asha agar bersandar dengan nyaman. Lalu membalikkan tubuh untuk mengambil teh. "Minumlah. Bunda bilang ini sangat manjur." Asha meminumnya dengan bantuan Arga
Saat seteguk teh hangat itu melewati kerongkongannya dan mengisi perutnya, rasa nyaman dan menenangkan terasa disana. Perutnya terasa di selimuti kehangatan yang membuang rasa tidak enak yang menyebabkan perutnya bergolak. Asha menghela napas lega.
"Makan biskuit ini. Beliau juga bilang, ini baik untuk mengembalikan tenagamu." Arga menyordorkan biskuit itu. Asha melihat biskuit kecil itu lalu memakannya. "Jangan turun jika masih lemah. Jangan melakukan apa-apa. Tidak ada yang memaksamu harus melakukannya. Juga jangan membantah." Kalimat terakhir perlu di ungkapkan dengan tegas. Mengingat Asha sedikit keras kepala.
Kepala Asha mengangguk patuh. Melihat kepatuhan ini Arga mengerjap. Jika Asha yang begitu jadi patuh, bukankah mual ini berarti begitu menyiksanya?
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Tangan Arga menyentuh kening Asha dan mengusap rambutnya. Merasa ikut merasa kesakitan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Tadi memang membuatku tidak bisa bergerak dan lemas." Arga mengangguk lalu mengecup kening istrinya.
"Apa aku harus libur saja?"
"Jangan. Sepertinya mual ini tidak hari ini saja. Jika begitu, apa kamu akan setiap hari libur hanya untuk menemaniku lemas karena mual? Itu bukan pilihan yang baik." Meski masih sedikit lemah, Asha bisa tersenyum lucu. Melihat ini Arga menghela napas lega.
"Kamu sudah bisa tersenyum. Aku lega." Arga meletakkan kepalanya di dekat istrinya. Melekatkan kepala sehingga terasa menyenangkan.
"Kamu pasti mencemaskanku tadi." Tangan Asha bergerak menyentuh kepala suaminya dan mengusap-usap dengan gemas. Gerakannya juga masih tidak kuat, tapi pucat pada wajah istrinya mulai lenyap.
"Tentu saja. Aku sudah pernah melihatmu pingsan. Aku takut melihatmu pingsan lagi." Tangan Arga menindih di atas tubuh istrinya, bermaksud untuk memeluk. Asha tersenyum lagi.
"Sudahlah. Waktunya mandi dan berangkat bekerja." Asha mengingatkan. Arga bangkit dan mengambil cangkir teh lagi.
"Ayo diminum dulu. Di habiskan. Lalu aku bisa tenang membersihkan diri." Asha menurut. Meneguk teh hingga tandas juga memakan biskuitnya. "Aku mandi dulu ya ... Lalu aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Terus kita turun untuk sarapan." Asha mengangguk senang. Merasa beruntung suaminya memperhatikannya.
...****************...
Mereka berdua turun untuk sarapan. Nyonya Wardah melihat ke arah menantunya.
"Sudah baikan, Sha?" tanya beliau ingin segera tahu keadaan menantunya.
"Kok Bunda sudah punya teh dan biskuit untuk ibu hamil?" tanya Arga.
"Untuk teh jahe memang ada di dapur. Sementara biskuitnya sengaja bunda beli, menyiapkan saat seperti ini. Asha mungkin tidak tahu hal menyiksa di pagi hari ini."
"Bundaku memang terbaik." Arga tersenyum bangga. Asha dan Bik Sumi juga tersenyum.
"Orangtua memang sudah punya banyak pengalaman, bukan?" sahut beliau. Arga mengangguk. "Biskuitnya ada di rak atas, Sha. Kamu bisa membawanya ke kamarmu. Itu bisa buat contoh jika beli biskuit pereda mual."
"Iya, Bun. Terima kasih." Asha sudah mencuci cangkirnya.
"Duduk saja. Makanan akan siap. Arga, panggil ayahmu."
"Biar Asha saja, Bun."
"Kamu tidak apa-apa?" Asha mengangguk.
"Duduklah. Aku saja memanggil Ayah. Kupaskan buah saja buatku." Arga tidak membiarkan Asha pergi. Beliau melihat putranya.
__ADS_1
"Ya sudah. Biarkan saja putra sulungnya yang memanggil. Kamu duduk saja." Asha mengangguk. Mengambil pisau dan mulai mengupas buah. Arga keluar mencari ayah.
Muncul Paris yang sudah memakai seragam. "Selamat pagi."
"Pagi," sahut Asha.
"Bagaimana pagi ini?" tanya Paris menaikkan alisnya ke arah Asha.
"Dia tadi mual dan muntah terus. Sekarang sudah baikan." Bunda menyahuti.
"Benarkah? Jadi hamil itu merepotkan?" Kening Paris mengerut sedikit ngeri.
"Ya ... tidak juga." Asha menanggapi dengan jawaban samar.
"Hamil itu ya seperti itu, Paris. Meskipun tidak semua, rata-rata ya seperti itu. Kamu juga akan mengalaminya jika sudah menikah nanti. Makanya persiapkan diri untuk menikah." Paris seperti mendapat sengatan lebah yang membuatnya menoleh cepat ke arah bundnya.
Menikah? Paris seperti mulai ketakutan saat Bundanya membahas ini lagi. Bunda bisa sangat bersemangat jika membahas pernikahan putra putrinya. Bibir Paris menipis, enggan meneruskan perbincangan.
"Kak Arga mana?" tanya Paris yang melihat Asha sendirian.
"Ada di luar, memanggil Ayah untuk sarapan." Paris mencomot buah apel yang di kupas Asha.
"Kupas sendiri jangan mencomot buah orang lain," tegur Arga dari belakang.
"Pelit." Paris mencebik.
Arga duduk di sebelah istrinya. Mengambil buah dan menyodorkan ke istrinya. "Buka mulutmu. Arga tahu istrinya sedikit tidak nyaman bila ada orangtua melakukan hal seperti ini. Namun kali ini Asha menurut. Lalu Arga menggigit juga buah yang sudah ada bekas gigitan istrinya.
"Sarapan sudah bisa di mulai, ya?" tanya Ayah yang datang.
"Ya. Ayah silakan duduk. Bunda buatkan teh."
"Bagaimana keadaan Asha?" tanya Tuan Hendarto.
"Baik, Ayah," jawab Asha.
"Benarkah? Apa tidak ada gangguan ibu hamil di pagi hari?" Sepertinya beliau paham itu. Mungkin nyonya Wardah juga mengalami hal yang sama dulunya.
"Iya, tapi bunda sudah memberikan cara penanganan dengan baik."
"Begitu... Syukurlah. Usahakan siaga di pagi hari, Ga. Rasa tidak nyaman di pagi hari lebih terasa daripada waktu-waktu yang lain." Ayah mertua begitu memahami.
__ADS_1
"Iya, Ayah."