
Untuk acara tingkeban ini, keluarga Hendarto tidak mempersiapkan sendiri. Karena mereka akan mengundang tamu dari rekan bisnis, persiapan acara tingkeban semuanya sudah di siapkan oleh EO.
EO ini sudah pernah menangani pernikahan Arga dan Asha. Saat nyonya Wardah menyampaikan keinginannya dalam melakukan prosesi tujuh bulanan, mereka setuju.
Semua dekor di persiapkan di pelataran kediaman Hendarto yang luas. Mereka tidak perlu mengadakan acara ini di sebuah gedung. Walaupun mengundang beberapa relasi, tuan Hendarto ingin acara ini terlaksana secara santai dan kekeluargaan.
Arga mendatangi istrinya yang sedang dirias dengan memakai pakaian adat jawa. Perutnya yang membulat besar terlihat menutupi dirinya. Perut Asha memang terlihat lebih besar dari tubuhnya. Tubuh Asha nampak tidak terlalu banyak menambah berat badan. Hanya perutnya saja yang membesar. Hingga membuat orang-orang heran. Kenapa tubuh Asha tidak ikut membengkak mengikuti besar pada perutnya?
Kadang ada wanita hamil yang kaki dan wajahnya membengkak. Namun bagi Asha tubuhnya tidak begitu. Semuanya tampak normal.
"Ada apa?" tanya Asha yang melihat Arga muncul. Melihat suaminya datang terburu-buru Asha sedikit panik.
"Aku ingin melihat bayiku dan bundanya," jawab Arga yang membuat rasa panik Asha langsung luruh. Berganti dengan tertawa geli.
"Kamu ini ... Aku pikir ada yang tidak beres dengan acaranya, jadi kamu tergesa-gesa kesini."
"Enggak, semua beres. Sudah bertemu ibu dan bapak, kan?" tanya Arga sambil menarik kursi dan duduk dekat dengan istrinya. Perias sampai tersenyum. Apalagi saat tangan Arga sibuk mengelus-elus perut istrinya.
"Iya sudah." Asha mencubit pelan punggung tangan Arga agar berhenti mengelus perutnya. Bibirnya memberi peringatan. Karena ada orang lain disana, Asha jadi malu.
"Enggak apa-apa. Mbaknya enggak lihat," ucap Arga malah berkilah. Senyum perias dan asistennya yang tinggal menghias rambut Asha semakin mengembang. Bibir Asha mencibir. "Kalau begini kita seperti baru menikah."
"Memang kita baru menikah. Bukannya bertahun-tahun menikahnya."
"Ya... tapi seperti sudah lama tinggal bersamamu. Mungkin karena kamu memang sudah lama berada di rumah ini." Kenyataannya Asha memang sudah lama tinggal di rumah ini sebagai pelayan. Kata Arga barusan bukan kiasan.
"Kenapa? Sudah bosan?" tanya Asha sambil melihat tatanan rambutnya di cermin.
"Sudah mbak," kata perias sambil tersenyum.
"Iya terima kasih." Mereka menjauh dari pasangan suami istri ini.
"Bicara apa itu?" Bibir Arga mencibir. Asha mulai memancingnya dengan pertanyaan yang menyebalkan. Lalu Arga mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Ih ..." Asha berusaha menghindar. "Riasanku bisa luntur nih."
"Biar aja. Nanti bisa minta tolong rapikan lagi. Kan masih ada yang merias," jawab Arga enteng. "Makanya jangan bicara sembarangan. Bosan? Memangnya kamu suka kalau aku sudah bosan?"
__ADS_1
"Tentu saja enggak." Asha mendekatkan wajahnya ke Arga. "Setenang-tenangnya aku, jika kamu bosan padaku tentu aku akan sedih."
"Aku tahu itu. Meskipun kamu terlihat cuek dan enggak peduli sebenarnya kamu itu perhatian dan rapuh. Jadi enggak mungkin aku membiarkanmu sedih. Kita juga enggak tahu rintangan apa kedepannya buat keluarga kita, tapi aku yakin kita baik-baik saja." Asha mengangguk manja. "Tumben kamu bicaranya asal seperti Paris? Jangan-jangan anak kita perempuan ... Aduh, kalau perempuan jangan seperti Paris-lah..." Arga nampak tidak setuju.
"Kenapa? Bukannya dia adikmu sendiri?"
"Justru karena Paris adikku, aku tidak mau anakku seperti dia. Aku tahu bagaimana sifatnya."
"Tapi Paris itu baik."
"Untuk baik bolehlah."
"Dia juga cantik."
"Untuk cantik lebih memilih mirip kamu daripada dia. Karena kamu lebih cantik di mataku daripada siapapun." Bibir Asha tersenyum mendengar kata-kata Arga yang melelehkan hati.
"Bisa lumer nih aku, kalau dengar beginian terus."
Perias dan asistennya berbisik mengenai dua orang di depan mereka. Mereka jadi dapat tontonan menyenangkan dari pasangan suami istri ini.
...----------------...
Entah kenapa bapak kelihatan berkaca-kaca saat sungkeman. Asha jadi ikut meneteskan airmata. Jadi suasana haru layaknya pas akad nikah. Ibu segera memberi kode untuk bapak bisa mengendalikan diri. Setelah bapak menepuk bahu keduanya, mereka berpindah sungkeman ke orang tua Arga.
"Jadi ayah yang bijak dan bisa menuju jalan baik, Ga," pesan ayah mertua.
"Iya Ayah."
Kemudian selanjutnya adalah siraman. Asha yang telah berganti pakaian dan memakai kemben berhias Rimo Melati dibimbing menuju tenda siraman.
Dimana siraman atau mandi bertujuan untuk menyucikan secara lahir dan batin sang ibu dan calon bayi. Dengan balutan kain batik, sang ibu akan duduk dan disiram dengan air siraman yang telah ditaburi kembang setaman.
Dipandu oleh seorang sesepuh atau orang yang bertugas memimpin jalannya prosesi ini, tujuh orang terpilih akan menyiram sang ibu menggunakan gayung dari batok kelapa. Air siraman bertabur kembang setaman (melati, mawar, kenanga) pertama kali disiramkan oleh bapak Asha kemudian disusul oleh ibu. Selanjutnya Tuan Hendarto dan nyonya Wardah.
Lalu di teruskan dengan urutan-urutan tingkeban hingga sampailah pada puncak acara, yaitu jualan rujak. Menghidangkan makanan kesenangan orang hamil yang dibuat terdiri dari tujuh buah-buahan segar. Arga dan Asha sebagai calon ayah dan calon ibu menjual rujak, sedangkan tamu-tamu membeli dengan uang kreweng (uang-uangan tanah liat) yang sudah di siapkan EO.
Dengan perut gendutnya Asha melayani tamu-tamu yang mendekat untuk membeli rujak. Terasa seru dan menyenangkan. Arga nampak canggung tapi menggemaskan. Berulangkali ibu-ibu menggoda Arga. Pria ini tetap tersenyum walaupun lelah. Asha mencoba menghibur dengan mengusap punggung suaminya.
"Melelahkan," keluh Arga. Asha hanya tersenyum. Bagaimanapun tingkeban dengan acara seperti ini keinginan dari keluarga Hendarto. Untuk Asha sendiri sebenarnya cukup selamatan saja. Tidak ada proses siraman dan sebagainya. Namun dia tidak bisa menolak. Semuanya di lakukan juga untuk dirinya.
__ADS_1
"Capek ya, Kak?" tanya Paris muncul bareng Juna.
"Ya," jawab Arga lemah.
"Sudah makan kalian?" tanya Asha lihat dua bocah ini di depannya.
"Sudah. Ada Paris yang jadi pemanduku, jadi aku enggak akan kelaparan." Juna menunjuk ke arah Paris di sebelahnya. Paris mengangkat kedua alisnya mengiyakan apa yang di katakan Juna. Tak lama Sandra muncul.
"Halo, kak... " Gadis ini datang langsung berdiri di dekat Juna. Karena tubuh Juna tinggi, sementara Sandra lebih pendek dari Paris, kesenjangan tinggi badan ini jadi sangat mencolok. Sandra senyum ke Juna. Sementara Juna hanya noleh sebentar.
"Jangan kemana-kemana sebelum acara usai," ingat Asha saat lihat trio ini muncul. Mata Asha melihat adiknya tajam memberi peringatan.
"Enggak. Kita enggak berencana kemana-mana," kata Juna.
"Ya... Bunda juga sudah lihatin aku terus tadi, takut aku kabur." Paris menggerakkan dagunya untuk menunjukkan bundanya yang tengah memperhatikannya. Sandra hanya mendengarkan.
Arga menghela napas. Tangan Asha terulur untuk memijit bahu suaminya.
"Tidak perlu. Kamu juga pasti kelelahan." Tangan Arga menurunkan tangan istrinya dari bahunya.
...----------------...
Acara tingkeban usai menyisakan rasa lelah di kediaman Hendarto. Pagi ini nyonya Wardah absen untuk berkecimpung di dapur. Beliau memilih bangun hanya untuk menyeduh teh.
Asha juga hanya mengambil teh hangat untuk suaminya. Suasana rumah ini terlihat lesu karena penghuninya kelelahan. Namun sebagai pekerja, bik Sumi dan yang lain tetap semangat bekerja.
"Bangun. Sudah pagi." Arga menggeliat di atas ranjang. Lalu memaksakan diri bangun. Asha menyodorkan teh hangat. Arga dengan tenaga menipis menerima itu dan meminumnya.
"Kamu enggak lelah?" tanya Arga menyerahkan mug ke istrinya.
Asha meletakkan mug di atas nakas. "Ya."
"Tidur lagi saja."
"Jangan. Tidur pagi enggak baik untuk kesehatan."
"Nanti kamu mual dan muntah lagi kalau kecapekan." Asha mengangguk. Dia juga takut jika muntah dan mual dengan hebat lagi. Tiba-tiba Asha meringis kesakitan. Tangannya memegang perutnya.
"Sha..." Arga bangkit dari ranjang dan mendekat ke Asha yang berdiri.
__ADS_1