
"Bunda kamu sering bermain basket di lapangan basket ini anakku. Dia sangat jago. Seringkali bundamu ini main basket bareng teman-teman lakinya, jadi sering bikin ayahmu ini cemburu." Arga melihat lapangan basket sambil mengelus perut istrinya. Dia menceritakan masa muda bundanya pada bayi di dalam rahim.
"Ih, cemburu di banggain."
"Tidak masalah. Cemburu itu tanda cinta, bukan?"
"Klise. Kuno," ejek Asha.
"Jangan salah ... yang kuno itu yang setia. Karena masih menganut paham, selamanya hanya satu istri."
"Kalau itu jelas aku setuju. Beli itu yah?" Tunjuk Asha ke arah buah semangka yang sudah di kupas dan di masukkan etalase dingin.
"Bukannya itu bikin anemia?"
"Sedikit saja enggak bikin aku pusing. Boleh, ya...," rayu Asha manja. Hamil tua ini, perempuan ini memang seringkali bermanja.
"Baiklah, baik... Ayo kita beli." Arga mengalah. Asha menggandeng lengan suaminya dan mendekat ke arah penjual buah itu dengan ceria.
......................
Sarapan pagi Asha dan Arga kembali di meja makan bersama dengan keluarga yang lain. Kalau biasanya Arga masih sibuk dengan masalah mual muntah istrinya, kali ini mereka terbebas dari itu.
Kesehatan Asha pulih seiring dengan bertambah umur kandungan.
"Asha sudah terlihat sangat sehat. Bagaimana kali ini kandungannya?" tanya tuan Hendarto.
"Sangat baik Ayah."
"Syukurlah. Ayah mendoakan persalinannya lancar ya..."
"Terima kasih ayah," sahut Asha sambil tersenyum.
"Semoga saja anak kakak seperti aku. Sehat, semangat dan ceria." Paris membanggakan dirinya.
"Tidak setuju," ujar nyonya Wardah dan Arga hampir bersamaan. Semua terkejut. Bahkan Arga sama bunda saja tidak menyangka. Terlebih Paris.
"K-kenapa?" Karena rasa terkejutnya, Paris sambil bertanya dengan terbata.
"Kenapa harus mirip kamu, kalau sudah ada paket lengkap disini. Yaitu istriku, Asha. Dia sudah cukup sempurna jadi role model anakku." Arga merengkuh pundak istrinya dengan tujuan pamer.
Mata Asha melebar sekejap lalu tersenyum menetralisir rasa malu kemudian menunduk. Pura-pura sibuk makan.
Ini lagi. Segitu cintanya sama istrinya. Pamer lagi. Enggak sadar kalau kak Asha itu kurang lebih mirip denganku. Kita itu sehati, tahu. Hihihi... Paris tertawa dalam hati.
Tapi enggak juga. Dia termasuk hebat bisa menata hati saat kurang percaya diri dicintai oleh kak Arga yang jadi majikannya. Dia juga enggak banyak gaya atau kecentilan. Dia memang lumayan hebat jadi kakak iparku.
"Kalau bunda kenapa enggak setuju kalau cucu kita mirip Paris?" tanya ayah yang jadi ikut terbawa suasana.
"Paris itu sulit sekali jadi perempuan kayak bunda. Susah banget di suruh jadi perempuan yang baik buat suaminya nanti. Apa kata calon suamimu nanti." Seperti biasa nyonya Wardah selalu mengaitkan sama hal itu.
Itu lagi, geram Paris dalam hati.
Ayah hanya tertawa geli melihat Arga dan bunda hampir sama.
__ADS_1
......................
......................
"Enggak ada jadwal keluar kota, kan?" tanya Asha yang membetulkan kemeja suaminya.
"Tidak."
"Aku takut kamu enggak ada di rumah saat aku melahirkan. Kamu kan janji mau menemani aku melahirkan."
"Akan melahirkan hari ini?" tanya Arga terkejut.
"Enggak. Menurut perkiraan itu empat hari lagi."
"Iya. Aku sudah bicara dengan Rendra untuk mengosongkan jadwalku empat hari ke depan. Karena aku akan berada di dekatmu saat-saat mendebarkan itu. Hati-hati di rumah ya. Jaga adik bayi dalam perut ini baik-baik." Arga mengecup dan mengelus perut istrinya. Lalu berjalan menuju pintu.
"Baik ayah..."
Kaki Arga berhenti dan memutar tubuhnya. "Ayah?" tanya Arga seraya mengerjapkan mata.
"Iya. Sebentar lagi kamu kan jadi ayahnya anak kita." Arga balik lagi menghampiri istrinya. Kemudian mendekap tubuh dengan perut buncit itu dengan erat. Tentu tanpa menekan perut ibu hamil.
"Mendengar kamu memanggilku ayah saja, aku terharu. Apalagi jika dia sudah lahir."
"Gampang terbawa perasaan nih..."
"Iya. Mungkin kamu akan bosan, tapi aku akan tetap mengatakannya. Aku mencintaimu sayang..." ujar Arga. Asha tersenyum.
"Aku berangkat kerja yah. Dadah adik bayi..."
.....................
"Kalian sudah beli perlengkapan bayi bukan?" tanya beliau saat memasuki kamar menantunya.
"Iya bunda. Saat Arga enggak berangkat ke kantor itu." Nyonya Wardah berada di dalam kamar Asha untuk membantu menyiapkan perlengkapan yang di butuhkan saat melahirkan. Entah itu kapan, yang penting persiapan sudah ada.
"Masih ingat saat Arga kecil, dia meminta bunda untuk selalu berada di sampingya."
"Takut bunda meninggalkannya sendirian, ya..." Asha tersenyum membayangkan masa kecil suaminya.
"Bukan. Dia justru takut bundanya ini yang hilang. Dia mencoba melindungi bunda maksudnya." Tangan Asha yang melipat baju bayi berhenti. "Suamimu itu ... meski masih kecil, dia punya rasa melindungi yang sangat tinggi. Tidak peduli dia adalah anak kecil. Mungkin itu didikan ayahnya yang meski keras tapi penuh perhatian."
Arga memang sangat melindunginya. Sejak jadi kekasih sampai sekarang. Asha jadi kangen sama suaminya itu.
......................
......................
Istri tuan muda semakin semangat membantu pekerjaan rumah. Dia seperti punya energi penuh untuk melakukan banyak hal.
Bunda memperbolehkan, karena melihat ada tanda-tanda menantunya akan melahirkan. Daripada harus berdiam diri, lebih baik mengerjakan sesuatu agar bayi dalam kandungan juga aktif.
__ADS_1
Asha mulai merasakan tekanan atau kram di daerah panggul dan *****. Seperti perasaan ingin buang air besar tapi bukan.
"Ada kontraksi di perut?" tanya Bunda melihat Asha yang sedang menemaninya membuat donat berhenti. "Parah?" tanya beliau lagi.
"Enggak. Hanya saja semakin sering sepertinya."
"Enggak apa-apa, itu wajar. Kalau sakit, berhenti saja dulu enggak usah bantuin." Asha mengangguk. Kemudian melanjutkan kegiatan mereka lagi karena kontraksi hilang.
Asha meringis lagi. Kali ini lebih parah. Tangannya memegang pinggiran meja, sambil menghembuskan napas.
"Sudah, sudah, jangan bantu. Ini tidak penting. Bunda ingin buat donat hanya karena iseng. Ayo bunda antar ke rumah sakit."
Asha menggeleng. "Tidak, Bun. Aku rasa masih belum." Asha tidak tahu, tapi dia hanya merasa belum waktunya saja.
"Benarkah?"
"Ya." Nyonya Wardah tahu kalau kontraksi pada perut Asha masih bisa di anggap masih wajar karena tidak terus menerus. "Apa sudah ada bercak darah dan lendir di ****** *****?" selidik beliau.
"Tidak, Bun."
"Ya, sudah. Lebih baik kamu jalan-jalan di dalam rumah. Kesana kemari, itu mengurangi rasa sakit. Jika merasa sakitnya semakin berat, kita berangkat kerumah sakit, ya..." Bik Sumi yang datang dari pintu belakang, melihat Asha yang tengah berjalan-jalan sambil sesekali berhenti dan meringis.
"Apa sudah waktunya, Nya?" tanya Bik Sumi.
"Iya. Hanya saja Asha bilang jangan berangkat ke rumah sakit dulu."
"Bukankah lebih baik, berangkat saja, Nya?"
"Enggak apa-apa. Sepertinya dia nunggu Arga datang. Saya mau nelfon Arga dulu ya, Bik. Tolong lanjutin bikin donatnya. Juga awasi Asha."
"Baik."
Saat nyonya Wardah menelepon, Arga tidak segera menjawab. Berkali-kali di telepon juga, tidak ada jawaban.
"Hh... ni anak kemana, ya..." Nyonya Wardah jadi tidak sabar. "Aku telepon Rendra saja." Nyonya Wardah ganti menghubungi sekretaris putranya itu. Dengan Rendra juga demikian, telepon tidak segera di jawab. "Ada apa sama mereka. Rapat, kah? Ada pertemuan penting, kah?" Nyonya Wardah jadi sibuk mengira-ngira sendiri.
Namun tidak lama, panggilan ke Rendra di jawab.
"Selamat siang, Nyonya."
"Rendra, kenapa Arga enggak menerima telepon dari saya? Istrinya mungkin akan melahirkan sekarang. Tolong bilang ke Arga untuk segera pulang."
"Baik Nyonya. Direktur sedang menangani masalah kebakaran di mall kota S."
"K-kebakaran?" tanya nyonya Wardah terkejut. "Kebakaran bagaimana?!" nyonya menjadi sedikit panik mendengar kata kebakaran.
Rendra menceritakan secara garis besar kebakaran yang terjadi. Karena konslet listrik, area kasir terbakar. Itu berarti Arga sedang berada di luar kota sekarang.
"Apa suamiku juga ada disana?" Sejak tadi tuan Hendarto memang keluar dengan Sanjaya.
"Iya. Tuan besar juga ada disini."
"Nya! Non Asha kesakitan!" teriak Bik Sumi dari luar kamar beliau.
__ADS_1